Katakan Pada Suatu Hari Minggu
Aku sudah merasakan apa yang hendak kamu katakan hari-hari terakhir ini. Kamu tampak gelisah, uring-uringan, dan marah-marah tanpa sebab. Yang aku lakukan hanya bertanya: “Mengapa kamu pulang malam?”, atau “Tidak bisakah kamu menolak lembur pada hari Minggu?”, atau “Kemarin baru datang, kok sekarang keluar kota lagi?”, dan itu sudah cukup membuatmu membanting pintu. Apakah seorang istri tak berhak lagi bertanya hal-hal mendasar itu kepada suaminya? Apakah seorang istri tak boleh tahu siapa yang menelpon suaminya selama berjam-jam sambil tertawa-tawa? Hak apa lagi yang tersisa buatku selain uang belanja bulananmu?
Aku sudah merasakannya belakangan ini. Ada sesuatu yang sangat ingin kau katakan padaku. Kamu merasa sulit mengatakannya, bukan? Kamu sangat ingin meninggalkan aku, dan anak kita. Kamu sibuk mencari cara bagaimana mengatakannya dan kapan saat yang tepat. Aku sudah lama merasa dan aku sudah menunggu. Setiap hari aku hidup dengan pikiran itu, bahwa kamu bisa mengatakannya saat itu juga, hari itu juga. Setiap hari aku meletakkan kepalaku di tiang pancung. Menunggu saat-saat ‘mengerikan’ itu tiba. Mungkin ada baiknya kamu katakan secepatnya, daripada aku tersiksa dari hari ke hari, seperti seorang tawanan yang diculik berhari-hari atau berminggu-minggu dan tahu persis pada akhirnya toh dia akan dibunuh.
Sembilan tahun yang lalu aku sudah ragu-ragu ketika kamu melamarku. Kamu masih terlalu muda, dan aku tiga tahun lebih tua. Menurutku kamu terburu-buru. Seharusnya kita memberi diri kita sendiri waktu. Tapi kamu sangat meyakinkanku. Dalam usia 24 tahun kamu menikahiku. Sampai sekarang aku tidak mengerti mengapa kamu memilihku.
“Aku tidak memerlukan perempuan yang luar biasa cantik sebagai istri. Nanti dia sibuk berdandan, dan berdandan untuk orang lain lagi,” katamu.
“Aku juga tidak pintar…”
“Aku tak memerlukan perempuan pandai. Lagipula, aku bisa dan akan mengajari kamu. Kepandaian bisa diraih kan? Tapi kebaikan hati tidak bisa. Kamu memiliki hati yang baik. Itu yang membuatku memilihmu,” katamu sambil mengelus-elus rambutku, sambil aku berbaring di dadamu yang bidang. Saat itu aku merasa akulah perempuan paling bahagia di dunia.
Setelah anak kita lahir, kamu mulai berubah. Mamang aku sering lelah dan tidak seagresif harapanmu di tempat tidur. Aku bahkan sudah berkonsultasi dengan para ahli dan kata mereka memang libidoku rendah. Hal itu sulit diubah, kecuali ada stimulasi dari luar, misalnya dari suami. Kamu jarang menstimulasi aku, kamu berharap akulah yang menstimualsi kamu. Dan itu susah buatku. Bukannya aku tidak mau melayanimu, aku selalu bersedia. Aku percaya dan ikhlas bahwa salah satu tugas istri adalah melayani suami di tempat tidur. Tetapi kamu tidak puas dengan itu. Menurutmu aku sangat pasif, kurang variasi, kurang kreatif, kurang responsif, kurang agresif, entah kurang apa lagi. Dan setiap kali kamu berbalik membelakangiku, aku bertahan dari kehancuran dengan mengingat bahwa setidaknya kamu pernah memelukku erat-erat setelah puas meniduriku. Itu di malam pertama kita menikah. Kenangan itu membuatku bertahan dari kehancuran.
Kamu juga menyesali kegagalanku menyelesaikan skripsi S1. Kamu lupa bahwa aku berhenti menulis skripsi karena aku hamil, lalu melahirkan, lalu mengasuh bayi. Sementara itu kamu terus maju, menyelesaikan S2 sekaligus meraih karir yang bagus di bidang pekerjaanmu. Kamu tampak malu bila membawa aku ke lingkungan teman-temanmu.
“Istri-istri mereka itu minimal S1 lo. Bahkan banyak yang sudah S2,” katamu suatu malam ketika kita pulang dari pertemuan dengan teman-teman kantormu.
“Apakah kamu ingin aku meneruskan S1 yang terbengkalai itu?”
“Kalau kamu mau dan bisa, aku carikan biayanya,” katamu.
Meski berat bagiku berkuliah lagi sambil mengurus anak balita, aku menghargai kesediaanmu membiayai aku kuliah. Sekali lagi, demi kamu, aku kuliah lagi. Aku ingin kamu juga bangga padaku sebagaimana aku selalu bangga padamu.
Aku menyelesaikan S1 dengan susah payah dan hasil pas-pasan. Setahun setelah itu… “Carilah kesibukan Ani, bekerja, atau ikut organisasi. Perluaslah wawasanmu supaya kita bisa berdiskusi di meja makan. Supaya ada topik lain yang bisa kita bicarakan selain uang belanja bulan ini, kontrak rumah tahun depan, bayar rekening, anak sakit, segala tetek bengek yang memusingkan itu.”
Mendengar nada bicaramu dan ekspresi wajahmu, aku menangis dalam hati. Saat itulah aku menyadari bahwa kamu lelah hidup bersamaku. Kamu bosan. Kamu memerlukan lebih dari sekedar ‘hati yang baik’. Kamu memerlukan ‘pelacur’ di tempat tidur, ‘wanita cerdas’ di meja makan. Aku menjadi kerap menangis. Aku sudah berusaha mencari pekerjaan, tapi kamu tahu sendiri, di Jakarta tidak mudah mendapatkan pekerjaan dengan ijasah S1. Aku pernah ikut organisasi, tetapi ongkos transportnya lebih tinggi dan membuatku harus mengorbankan keperluan rumah tangga yang lain. Aku terpaksa mundur dan kembali ke rumah.
Seringkali aku menyesali peruntunganku, menjadi wanita yang pas-pasan, tidak punya bakat, tidak cerdas, tidak pandai bergaul, tidak mahir di tempat tidur. Lebih parah lagi, aku mempunyai suami yang lebih muda, sangat aktif berkarir dan berorganisasi, berjumpa banyak perempuan lain yang melayaninya berdiskusi tentang apa saja, dan mungkin juga melakukan apa saja. Tak kurasakan lagi kebanggaan dan keberuntunganku ketika kamu melamarku sembilan tahun yang lalu. Aku merasa hidupku menjadi berat dan aku semakin kurang perhatian pada diri sendiri. Aku menjadi gemuk, libido terus menurun, rumah tidak lagi rapi. Kalau kamu pulang malam, aku tak lagi memanaskan makanan, dan aku membuka pintu dalam daster yang sudah tiga hari tidak dicuci dan rambut awut-awutan. Aku juga capek, sayang.
Perkawinan kita sudah gagal, dan sebaiknya katakan saja apa yang hendak kamu katakan. Tapi tolong, katakan padaku pada suatu hari minggu, di sebuah taman. Jangan ungkapkan perpisahan itu sambil menggebrak meja, atau membanting pintu. Jangan berteriak saat kita makan di meja makan bersama anak kita. Jangan saat kita hendak tidur di malam hari, atau saat kita baru saja bangun pagi. Terutama, jangan katakan itu beberapa menit sebelum kamu berangkat ke kantor dengan tergesa-gesa. Aku juga tak ingin kamu menuliskannya di secarik kertas yang kau tinggalkan di meja rias, atau kau tempelkan di pintu kulkas. Jangan.
Aku tahu pada akhirnya kamu akan mengatakannya, tapi tolong sampaikan itu pada suatu hari Minggu. Bawalah aku ke sebuah taman di mana aku bisa melihat rerumputan, pohon-pohon, dan langit biru. Katakan pada saat kita duduk di bangku atau tikar, sambil kamu memegangi tanganku atau mengelus rambutku, dan aku dapat memandangi wajahmu lama-lama dengan tenang, untuk terakhir kali. Tolonglah, suamiku, bawalah aku ke taman, dimana aku bisa menarik napas panjang dan menghirup udara segar, serta mendengar suara burung. Katakan dan yakinkan aku sebagaimana kau meyakinkan aku untuk menikahimu dulu. Aku akan mengerti dan aku akan menerima perpisahan ini. Aku akan menyetujui bila engkau ingin kita bercerai, aku tidak akan memberati langkahmu. Asal jangan kau katakan itu sambil membanting pintu, berlari ke garasi karena terlambat menuju kantor, sambil berteriak atau memaki, atau setelah kita gagal lagi di tempat tidur. Tolong, sampaikan kabar itu di suatu hari Minggu, pada sebuah taman…..
Sirikit Syah
Maret 2002