Balada Maryamah dan Putra Angin


Sirikit Syah

 

 

Kepada siapa lagi Maryamah hendak menuju

mencari perlindungan dari keganasan suku,

selain ke Putra Angin

lelaki yang bertahun-tahun menjadi teman bermain,

tetangga, sahabat, kekasih

sampai nasib memisahkan mereka,

ketika santri anak Kyai terpandang dari Madura

menyuntingnya menjadi pengantin

 

Bapak dan ibunya dihabisi di depan mata,

lalu dengan kehamilan 8 bulan, Maryamah menggiring suaminya

mencari perlindungan.

“Oh Putra Angin,

kepada siapa lagi hidup aku serahkan.”

 

Putra Angin dengan ikat kepala merah

dan mandau di tangan

seketika menebas kepala suaminya dan darah muncrat

ke wajah Maryamah yang terkesima.

Dengan badan menggigil dan wajah pucat pasi Maryamah berlutut

di tangan kekasihnya jualah nasibnya ditutup

 

Maryamah teringat belasan perempuan hamil

yang dibelah perutnya dan diambil jabang bayinya

“Bibit-bibit Madura harus musnah!”,

meninggalkan lusinan perempuan Dayak menjadi gila

kehilangan suami dan buah cinta mereka

 

Lima detik lewat dan Maryamah tak merasa apa-apa

dibukanya mata dan tertangkap olehnya tatapan tajam Sang Putra Angin

Putra Angin melihat sepasang mata berkaca-kaca,

di kedalamannya dilihatnya dua anak lelaki dan perempuan

berkubang di tepian sungai mencari ikan

berlarian mencari jamur di hutan.

 

Pada usia 10 tahun mereka berpegangan tangan,

usia 16 tahun mereka berciuman di dekat sumur belakang rumah

Setahun kemudian Maryamah menangis di pelukannya

pamit untuk menikah dengan anak Kyai dari Madura

meninggalkan luka hati yang teramat dalam.

 

Putra Angin menyentuh perut Maryamah

Dikalungkannya jimat nenek moyang di leher perempuan itu

Jimat batu hitam, taring babi hutan berumur puluhan tahun

“Dengan ini, darah Maduramu tak terbau oleh pemburu,” katanya,

lalu diantarnya Maryamah ke perbatasan.

 

15 tahun kemudian

Putra Angin Sang Kepala Suku

duduk termangu.

Di hadapannya, anak lelaki yang mengaku anak Maryamah

datang dari tanah Jawa mencari perlindungan padanya

“Umi bilang Bapak memberi saya nyawa

kini Umi sudah mati, kepada siapa saya kembali?”

kata anak laki-laki sebatang kara itu

sambil menyerahkan taring babi hutan yang telah membatu

bukti kesetiaan perempuan Madura

meski mereka terpisahkan oleh jarak, waktu, dan suku

 

Anak itu bahkan tidak seperti Maryamah

dia lebih mirip lelaki yang mencuri Maryamah darinya

yang menyebabkannya tidak menikah

dan tak berketurunan hingga sekarang

(cinta hanya datang sekali

bila ia pergi,

tak ada yang dapat mengganti)

 

Anak muda itu merunduk pasrah

(Umi pernah bilang, “Jangan menjadi pengemis

atau maling di tanah Jawa.

Temui Putra Angin, dia akan memberimu pendidikan dan penghidupan.”)

 

Kepala Suku memandang tengkuknya yang hitam dan kurus

dan tergoda keinginan untuk menebasnya seketika

 

Tapi tangannya mengusap kepala anak itu

“Mulai sekarang, kamu adalah anakku

yang menyentuhmu, harus berhadapan denganku”

ujarnya dengan kewibawaan seorang Kepala Suku

 

Anak itu menengadah

Tatapan wajahnya persis tatapan Maryamah

lima belas tahun lalu di hutan Waringin

Penuh rasa tak percaya, terimakasih, dan mengandung harapan

 

Beban berat berupa dendam dan kebencian

yang bertahun-tahun mendekam dalam hati Putra Angin

telah terlepas, 

dan untuk pertamakalinya

dia merasa bebas

 

 

April 2001

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s