Empati


Sirikit Syah

 

 

Aku datangi England di musim yang buruk

Kabut membasahi London

dan dingin memaksaku terus bersembunyi di bawah tanah

di mana “tube” terus bergerak seperti ular

meluncur dari stasiun satu ke stasiun lainnya

mengangkat jutaan manusia ke permukaan,

menenggelamkan jutaan lainnya

 

“I really suffer here”,

emailku pada suami

 

“Kamu kurang bersyukur,

pikirkan sesuatu yang dapat membuatmu bersyukur,”

balasnya

 

Lalu aku teringat ribuan pengungsi Kosovo, Chechnya,

dihadang kabut, dibentur hujan salju

dengan atap langit kelabu dan pohon-pohon musim gugur,

tak ada tempat untuk bersembunyi

kecuali selimut yang dihiasi lobang-lobang peluru

 

“Ampuni aku, ya Allah,” sujudku

Airmata menghangatkan tidurku

malam itu.

 

London, 2000

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s