LONDON TERNYATA TIDAK MAHAL


 

LONDON: Sebelum saya berangkat untuk tinggal dan belajar di London, banyak orang mengingatkan saya akan mahalnya biaya hidup di London. Tak heran, banyak penerima bea siswa The British Chievening Award memilih berkuliah di luar kota London. Selain agar bea siswanya cukup, ada harapan dapat menabung untuk membawa ‘oleh-oleh’ poundsterling saat pulang. Sebetulnya saya tergoda juga untuk belajar dan tinggal di kota lain seperti Edinburg yang terkenal indah, atau Manchester, Glasgow, Birmingham, Sheffield, Leeds, dll, seperti banyak mahasiswa Indonesia lainnya. Tetapi ada satu hal yang membuat saya memutuskan London: saya ingin tinggal di kota yang menjadi pusat peradaban dunia dan merupakan ‘the capital of European mass media’. Soal mahal? Akan saya atasi dengan bekerja part-time kalau perlu.

 

Setelah sebulan hidup di London, saya menemukan kenyataan bahwa London sama sekali tidak mahal. Tentu, ini kalau Anda tidak repot-repot meng-kurs-kan setiap  pembayaran dengan poundsterling ke dalam rupiah. Itu sama sekali tidak fair. Yah, mula-mula saya juga begitu. Segala sesuatu diterjemahkan ke dalam rupiah. Hasilnya benar-benar membuat stress. Tetapi setelah hidup satu bulan, dan mungkin untuk waktu lebih panjang, baru terasa bahwa hidup di London jauh lebih murah daripada di Surabaya, dengan kerangka penghasilan dalam poundsterling. Bukankah setiap orang yang tinggal di London menerima gaji, honor, bea siswa, upah kerja, sumbangan, apapun, dalam poundsterling dan dalam standar hidup London?

 

Saya menyadari murahnya London ketika saya pertamakali membeli buku untuk kuliah. Sebuah buku terbitan tahun 2000, baru (bukan bekas), saya beli seharga antara 16-17 poundsterling. Dalam rupiah mungkin nilainya sekitar Rp 240 ribu. Tetapi dalam ‘kerangka’ income saya yang 700 pound per bulan, itu hanya bernilai ‘satuan’ atau ‘belasan’. Di Indonesia, dengan income Rp 700 ribu sebulan (honor sebagai dosen perguruan tinggi, dan mungkin boleh dianggap sebagai pendapatan rata-rata pegawai negeri di Indonesia kelas menengah), tak ada buku bagus yang harganya satuan atau belasan ribu (misalnya Rp 16-17 ribu) karena rata-rata buku bagus harganya di atas Rp 25 ribu. Novel baru terbit di Inggris harganya sekitar 10 pound (paper back) atau 20 pound (hard cover). Dengan pendapatan standar poundsterling, itu jauh lebih murah daripada buku- novel yang sama di Indonesia, yang mencapai harga Rp 80 – Rp 120 ribu. (Bayangkan kalau gaji Rp 700 ribu, beli buku saja Rp 100 ribu!).

 

 

Makanan Paling Murah

 

Sebuah roti tawar ukuran besar yang cukup untuk sarapan setiap pagi selama 1 minggu (untuk satu orang) hanya 60-90 pence (pence atau penny = sen dalam perbandingan dengan rupiah). Nilai itu sangat kecil dibanding income saya yang 700 pound. Di Surabaya, dengan income Rp 700 ribu, saya tak akan menemukan roti tawar seukuran itu seharga Rp 600 – Rp 900. Roti langganan saya setiap pagi di kawasan Rungkut (Frans atau Tjwan Bo) rata-rata harganya di atas Rp 3000. Satu liter susu harganya kurang dari 1 pound, 1 liter jus jeruk juga 1 pound. Saya tidak dapat membayangkan membeli sekotak susu segar atau sebotol jus jeruk di Sinar Supermarket dengan harga Rp 1000.

 

Saya dan anak saya, Bintang, terkesima ketika makan di MacDonald, dua cheese burgers harganya hanya 99 pence, demikian pula sepotong besar (ukuran paling besar) Pizza Hut, 99 pence. Di Surabaya, untuk satu saja cheese burger atau sepotong pizza kita harus mengeluarkan sedikitnya Rp 5 ribu. Tak mungkin kita menemukan harga cheese burger atau pizza Rp 990. Kalau Anda mengalikan 99 pence dengan Rp 14 ribu dan menganggap, ‘Wah, itu kan mahal juga, jatuhnya sekitar Rp 13 ribu’, maka supaya adil, saya akan minta Anda juga mengalikan income saya yang 700 pound (kali Rp 14 ribu). Dengan income sekitar Rp 11 juta sebulan, ‘njajan’ cheeseburger atau pizza setiap hari yang harganya ‘hanya’ sekitar Rp 13 ribu, masih terjangkau rasanya. Dengan Rp 700 ribu, sekali sebulan membawa anak-anak ke Pizza Hut atau MacDonald saja sudah merupakan ‘kemewahan’.

 

Makanan memang komponen pengeluaran biaya hidup yang paling murah di London, dibanding pendapatan seseorang. Artinya, kebutuhan dasar ini pasti dapat dipenuhi oleh semua orang. Saya melihat gelandangan-gelandangan (ada juga lo gelandangan di London) keluar dari supermarket seperti Saindsburry atau Tesco (misalnya Sinar kalau di Surabaya) membawa satu tas kresek berisi susu, jus jeruk, roti, mentega, dan sejenisnya, lalu kembali ke gubuk mereka yang terbuat dari karton bekas di bawah tanah (di bawah jembatan atau di wilayah stasiun-stasiun bawah tanah). Dengan uang hasil pemberian orang yang kecil jumlahnya, mereka masih bisa membeli makanan dengan layak.

 

London jelas lebih murah daripada Surabaya, karena perbandingan yang saya berikan adalah pendapatan bea siswa 700 pound. Padahal itu pendapatan yang tergolong ‘minim’ di Inggris. Dan pasti lebih banyak orang berpendapatan dengan angka ‘ribuan’ poundsterling sebulan di sini (sebagai contoh, lowongan pekerjaan sebagai petugas stasiun bawah tanah, polisi, atau asisten dosen, rata-rata menawarkan 17 – 20 ribu pound setahun pada saat awal). Sedangkan di Surabaya, pasti ada lebih banyak orang bergaji kurang dari Rp 700 ribu. Kalau saya saja menganggap ‘barang-barang super market’ mahal, apalagi bagi mereka.

 

Sebagai mahasiswa yang hidup dari uang bea siswa, saya harus berhemat. Buah-buahan dan sayur-sayuran sangat murah, demikian pula daging ayam, daging sapi, telur, dsb. Enam butir telur harganya sekitar 60 pence (kalau saya bandingkan dengan pendapatan di Surabaya, mustinya Rp 600, tetapi harga telur di Surabaya ½ kg skitar Rp 2500). Namun memasak sendiri ada risikonya. Karena belum berpengalaman mula-mula saya membeli cukup banyak sayur dan buah untuk satu minggu. Namun ternyata hingga dua minggu belum habis, karena hanya dua orang yang makan, atau karena tidak sempat memasak dan memakannya. Akhirnya buah dan sayur menjadi layu (meskipun layu dan membusuknya tak secepat di Surabaya yang beriklim panas), dan menjadi mubazir. Akhirnya saya memutuskan, lebih baik beli makanan jadi/instan saja, seminggu sekali baru masak besar. Ternyata jatuhnya tidak mahal dan tidak pernah membuang makanan lagi.

 

Harga makan siang lengkap di kampus rata-rata 2-3 pound, sama dengan Rp 2000-Rp 3000 dengan standar income Rp 700 ribu. Itu sudah berupa sepotong pizza ukuran besar (standar ukuran orang Barat), atau nasi dengan lauk (saus daging), atau spagheti, atau burger/ikan goreng dengan kentang goreng, plus minuman. Makan di restoran kelas menengah rata-rata 5-10 pound, sementara di Surabaya jarang ada restoran yang masih benilai Rp 5 – Rp 10 ribu. Sekali lagi, bila hendak dikurs-kan ke rupiah, saya tak akan keberatan makan di restoran seharga 5-10 pound (Rp 70-140 ribu) kalau income saya 700 pound (sekitar 11 juta).

 

Nilai Penny

 

Yang paling mengesankan, kalau belanja di London, tidak pernah ada ‘susuk’ atau kembalian berupa permen. Jadi, meskipun harganya ganjil-ganjil, misalnya 99 pence, 79 pence, dst, kembaliannya pasti ada dan pas. Jadi, uang logam kecil berwarna kuning yang nilainya paling rendah dalam poundsterling itu benar-benar ‘masih laku’. Bahkan kalau kita membayar dengan uang penny itu selalu diterima, tak ada persoalan. Para pengemis di jalan juga menerima uang penny. Saya pernah melemparkan logam 20 pence dan dia terheran-heran, rupanya itu kebanyakan. Mungkin lemparan paling banyak adalah logam 5 pence atau 10 pence, dan tentu, 1 penny-an. Saya jadi teringat di Surabaya, jangankan logam Rp 25 yang merupakan satuan logam terkecil, kembalian Rp 100 saja diganti permen oleh hampir semua toko, besar maupun kecil. Saya juga pernah memberi pengemis dua logam Rp 25-an, dan itu dikembalikan (dibuang!) sambil mengomel, ‘Duwek gak payu dikekno’ (‘Uang tidak laku diberikan’).

 

Bagaimana dengan transportasi? Mula-mula kami semua –para calon mahasiswa- memang diingatkan akan mahalnya taksi di London. Dari bandara Heatrow, kalau ke pusat kota London, mungkin akan mengeluarkan biaya taksi 40-60pound. Tapi itu sama sekali tidak mahal dibanding 700 pound yang diterima para mahasiswa pada saat mendarat di Heatrow. Bandingkan kalau kita menerima Rp 700 ribu, masak keberatan sih membayar Rp 40-60 ribu untuk taksi?

 

Namun memang ternyata banyak alternatif lain selain taksi. Ada Heatrow Express (KA khusus, dapat dibandingkan dengan Bus Damri di Bandara Soekarno Hatta) yang sampai ke stasiun tengah kota Paddington. Ongkosnya hanya 12,5 pound. Keretanya sangat nyaman, cepat (hanya 15 menit), tidak penuh, ada tempat untuk barang-barang (kopor-kopor), dll. Ini bukan yang termurah. Masih ada yang lebih murah lagi, yaitu Piccadilly line. Ini kereta umum biasa, yang datang dan pergi setiap 5 menit. Ongkosnya hanya 3,5 pound ke tengah kota. Karena kereta biasa, memang agak sesak dengan orang-orang yang bekerja. Tetapi jika bukan jam kerja, kereta ini kosong juga.

 

Untuk menggunakan ‘tube’ atau kereta bawah tanah (di Paris orang menyebutnya ‘metro’, di Jepang dan AS biasa disebut ‘subway’), ongkosnya rata-rata 2 pound pulang pergi (juga tergantung zone/wilayah). Bus hanya 70 pence – 1 pound. Kalau Anda membeli kartu yang berlaku satu hari (one day travel card), harganya 4,99 pound. Anda dapat keluar masuk stasiun mana saja di seluruh London dan naik ‘tube’ mana saja, sepuasnya selama satu hari penuh. Kalau dilihat 5 poundnya tampak mahal, tetapi dibanding perjalanan keliling London, nilai itu menjadi kecil. Apalagi, untuk Sabtu dan Minggu ada potongan (weekend travel card) menjadi hanya 3,60 pound, juga untuk yang bepergian dengan keluarga (family travel card, minimal 1 dewasa dan satu anak-anak), atau bagi para orang tua (elderly), pelajar/mahasiswa (student), dan anak-anak (young people/children). Pokoknya, ada saja sistem yang membuat kita mendapatkan biaya paling murah. Para petugas akan dengan senang hati menjelaskan bila Anda minta informasi. Bahkan ketika saya dan Bintang, anak saya, membeli tiket ‘tube’ secara biasa, petugas mengingatkan sebaiknya beli ‘family card’ yang lebih murah.

 

 

Akomodasi Memang Mahal

 

Yang tergolong mahal adalah akomodasi. Rata-rata mahasiswa di London mengeluarkan 50% dari incomenya untuk akomodasi. Asrama mahasiswa dianggap paling murah, tetapi ternyata tidak juga. Untuk pasangan misalnya (dengan istri atau anak atau suami) jatuhnya sebulan lebih dari 500 pound. Untuk single (bujangan) sekitar 300-350 pound. Memang dengan tinggal di asrama, tak ada ongkos transport ke kampus. Tetapi dengan income 700 pound, sisanya tinggal sedikit untuk makan dan keperluan lain selama sebulan. Lagipula, kalau mau pergi-pergi keluar wilayah kampus kan perlu transport juga?

 

Saya termasuk beruntung karena saya indekos (sewa kamar) di rumah keluarga Srilangka, yang fasilitasnya termasuk kamar mandi dan dapur terpisah dari yang punya rumah. Untuk 347 pound sebulan, uang kos itu mencakup segalanya. Saya tak perlu pusing membayar rekening listrik, air, gas, pajak, lisensi televisi, dll. Beberapa  teman yang patungan untuk menyewa rumah dan dihuni bersama-sama, harus membayar cukup mahal (antara 450-500 pound), dan mereka masih harus membayar pajak, semua rekening (kalau musim dingin pasti tagihan listrik –untuk heater- naik), dan …. lisensi televisi yang mencapai 100 pound! (Aduh, padahal tevenya beli bekas 40 pound). Mahal lisensinya daripada tevenya. Saya punya teve di kamar dan karena peraturannya setiap rumah cukup membayar satu lisensi, berapapun televisi yang ada di rumah itu, maka saya terbebas dari kewajiban membayar lisensi. Lisensi ini pengganti pajak atau iuran televisi yang ditarik setiap bulan.

 

Charity  Shop

 

Pakaian terhitung barang murah. Tentu ada toko-toko kelas atas seperti Harrods (milik pengusaha Arab Al-Fayeds), atau butik-butik seperti Wallis. Juga toko yang terkenal di seluruh dunia seperti Mark & Spencer dan GAP yang harganya cukup reasonable dan terjangkau. BHS (British Home Shopping) dan Primark lebih murah daripada Matahari Dept. Store. Lebih dari itu, ada sistem Charity Shop, yaitu toko pakaian bekas.

 

Jangan mengira pakaian bekas yang yang sudah benar-benar ‘bekas’. Barang-barang di Charity Shop yang tersebar di seluruh London ini pada umumnya milik orang kaya yang ganti baju setiap ganti musim. Pakaian, sepatu, jaket, mantel, sweater, dalam kondisi 75% baik. Karena oleh para orang kaya itu baju-baju itu hanya disumbangkan (bukan dirombeng seperti kita di Surabaya), maka pengelola Charity Shop dapat menjualnya semurah-murahnya.

 

Di toko ini saya menemukan sepatu boot (untuk persiapan musim dingin) dengan harga antara 2-5 pound, terbuat dari kulit, kualitasnya bagus, dan kondisinya bagus. Coat (mantel) Mark  Spencer atau GAP saya dapati dengan harga 4-5 pound. Ada jaket wool untuk musim dingin dari bahan yang bagus dan buatan Italy, Perancis,  atau Inggris, hanya 8 pound. Bagi saya, segala macam mantel dan jaket ini sangat berharga selama di sini dan tidak akan saya bawa pulang ke Indonesia, jadi … apa salahnya membeli di Charity Shop? Kalau saya pulang nanti, itu dapat saya tinggalkan untuk para calon mahasiswa yang memerlukan.

 

Oh ya, di Charity Shop juga tersedia barang-barang pecah belah, piring, gelas, cangkir, mangkuk, yang sangat baik kualitasnya, dengan harga sangat murah. Novel haganya antara 50 pence – 1 pound, lumayan untuk teman dalam perjalanan. Buku anak-anak, pengetahuan maupun fiksi, bekas milik anak-anak orang kaya, dan berbagai macam mainan, juga tersedia dengan harga yang ‘nyaris tak ada nilainya’ (berkisar di bawah 1 pound).

 

Sebetulnya sejak pulang dari AS tahun 1995, saya sudah terkesan dengan sistem Charity Shop yang saya jumpai di sana, dan ingin menerapkan hal yang sama di Indonesia. Saya punya banyak pakaian yang lumayan baik kualitasnya dan dalam kondisi yang baik, yang sudah tidak terpakai. Entah karena ukurannya sudah tidak memadai, atau sudah bosan, atau karena sekarang saya mengenakan busana muslim (tertutup). Kawan-kawan saya juga punya baju-baju lumayan yang tak dipakai lagi. Nah, kalau itu dikumpulkan di sebuah ruang (misalnya garasi rumah yang dirombak seperti butik), dipajang dengan manis setelah dicuci bersih dan harum, dijual murah, mungkin bisnis ini (yang lebih cenderung sosial sebetulnya) bisa berjalan. Setelah menutupi biaya pengelolaan, hasilnya dapat disumbangkan ke mereka yang memerlukan. Mungkin nanti, sepulang dari Inggris, saya akan memikirkan hal ini lebih jauh. Selain itu, mereka yang memerlukan pakaian bagus tapi tidak mampu beli yang baru di plaza-plaza, tentu dapat memanfaatkan toko semacam ini.

 

Meskipun saya menceriterakan bahwa London ternyata tidak mahal, saya agak iri dengan kawan-kawan yang sekolah di luar London. Jumlah bea siswa yang diberikan kepada mereka sekitar 600 pound, dan akomodasi mereka sangat murah. Misalnya yang berkuliah di Universitas Essex hanya membayar kamar asrama (single) sekitar 160 pound sebulan (itu hanya ¼ dari income). Setelah saya pelajari semua buku panduan, saya menemukan bahwa jumlah allowance yang diberikan kepada mahasiswa di London kurang dari standar biaya hidup minimal (800 pound standar hidup : 700 pound allowance), sementara untuk di luar London lebih dari standar hidup minimal (500 pound standar hidup : 600 allowance ). Saya pikir-pikir, mungkin ini karena pemerintah Inggris menghendaki para mahasiswa asing ‘tidak kuliah dan tidak ngumpul’ di London. Diharapkan para mahasiswa menyebar ke perguruan tinggi lain di luar London. Bukankah bea siswa itu kembali pada perguruan tinggi tempat kita belajar sebagai subsidi? (Harap diketahui, biaya kuliah mahasiswa asing dengan mahasiswa Inggris sangat jauh berbeda, untuk kami lebih mahal, sampai 2-3 kalinya). Jadi, tujuan bea siswa dan pembagian allowance yang agak ‘aneh’ ini menurut pikiran saya karena pemerintah Inggris ingin mengisi perguruan-perguruan tinggi yang terancam kosong di seluruh wilayah Inggris kalau tidak diisi para mahasiswa asing.

 

Bagi para calon penerima bea siswa keluar negeri, memilih perguruan tinggi di ibu kota maupun di kota kecil, tentu ada plus minusnya. Yang penting, perguruan tinggi yang dituju sesuai dengan kebutuhan/keinginan kita. Saya beruntung berkuliah di University of Westminster, karena para dosennya di sini adalah para pemikir ilmu komunikasi bertaraf internasional dan menerbitkan banyak buku. Selain itu, saya punya akses ke Freedom Forum, The Guardian, World Press Centre, dll.

 

Sirikit Syah, 2002

3 comments on “LONDON TERNYATA TIDAK MAHAL

  1. SAYA MAU TANYA, KIRA2 BERAPA KURS POUNDSTERLING DENGAN DOLAR,, OIA APAKAH DI INGGRIS ADA BANK YANG NAMANYA : Lloyds TSB Bank Plc 25 Gresham Street, London EC2V 7HN

    saya bertanya hal ini karena saya dapat e_mail bahwa saya adalah pemenang undian sebesar 250000 poundsterling, saya mohon bantuannya

    terima kasih

    Zikril Hakim

  2. This article is very helpful! Thanks!

    Saya berniat untuk melanjutkan studi pada autumn 2009 ke London. Sebelumnya Pak, bisa berikan saya estimasi living cost disana sekarang2 ini? FYI, I’m a student on a very limited budget.

    Kalau menurut artikel diatas biaya per bulan masih bs sekitar 700pounds, apakah ini masih berlaku untuk thn 2009?

    Thanks in advance!

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s