MEMBERITAKAN PERISTIWA DUNIA


Terjemahan Reporting the World

 

MEMBERITAKAN PERISTIWA DUNIA

 

Introduction

 

Reporting the World (Memberitakan Peristiwa Dunia) merupakan layanan bagi para wartawan dalam menegakkan nilai-nilai keseimbangan (balance), keadilan (fairness), dan tanggungjawab (responsibility) dalam pemberitaan mereka atas peristiwa internasional. Lebih dari 200 editor, penulis, produser, dan wartawan bergabung dengan para profesional bidang lain yang berkaitan, membahas bagaimana berita dapat memberikan informasi yang berorientasi pada pembaca dan pemirsa/pendengar di dunia, di mana negara-negara semakin tergantung satu sama lain.

 

Dalam serangkaian seminar malam hari di Freedom Forum, kantor pusat Eropah di London, para peserta membahas pemberitaan-pemberitaan tentang konflik yang melibatkan Israel dan Palestina (seminar 1), Macedonia (seminar 2), Afrika (seminar 3) dengan referensi atau rujukan khusus pada perang di Republik Demokrasi Kongo, Irak (seminar 4),  dan Indonesia (seminar 5).

 

Para wartawan senior, analis, dan para pengambil keputusan berkumpul di Toplow Court, Bucks, dalam sebuah seminar meja bundar selama tiga hari, untuk merumuskan sebuah agenda reformasi pemberitaan, berdasarkan wawasan yang luas. Ini ditujukan untuk membantu para wartawan dalam menerapkan etika dan nilai-nilai tradisional terbaik pada pekerjaan mereka dalam latar (setting) modern.

 

Tentang buku ini

 

Buku ini menampilkan intisari berbagai tema utama dalam diskusi-diskusi yang telah dilakukan. Kutipan-kutipan dari para jurnalis diambil dari transkrip seminar dan diskusi. Versi utuhnya dapat ditemukan di website, lengkap dengan pandangan dari para peserta; nama-nama pembicara, ringkasan-ringkasan dari isu yang dimunculkan, video klip sebagian seminar, diskusi online, dan hubungan dengan situs serta artikel-artikel terkait.

 

Bagian Pertama. Berita internasional setelah 9/11 adalah mengantarkan pembaca pada konsep-konsep utama dari dokumen ini (Memberitakan Peristiwa Dunia), yang diterjemahkan dalam dan untuk situasi yang berubah setelah terjadinya serangan pada WTC di AS.

 

Bagian Kedua. Peranan dan tanggungjawab wartawan konflik didasarkan pada diskusi-diskusi di seminar-seminar dan meja bundar. Ini juga memberikan sebuah panduan ringkas tentang prinsip-prinsip Analisa Konflik dalam format yang berguna bagi wartawan.

 

Bagian Ketiga. Implikasi praktis dan etis dari butir-butir checklist, menguji empat pertanyaan kunci –diajukan di sini sebagai sebuah dasar bagi pemberitaan konflik secara etis- dalam konteks berita-berita yang penting dalam agenda berita internasional.

 

Bagian Keempat. Sebelum dan sesudah adalah satu paket berita yang disiapkan seolah-olah untuk koran terbitan London mengenai perkembangan utama dalam satu berita atau atau berita lainnya. Di setiap kasus, sebuah episode diberitakan dalam dua cara yang berbeda, untuk menunjukkan bagaimana penerapan butir-butir checklist dapat berpengaruh pada hasil akhir (pemberitaan)nya.

 

Bagian Kelima. Memberitakan Peristiwa Dunia dan agenda reformasi dalam pemberitaan mengaitkan latihan ini dengan suatu agenda reformasi yang besar, yaitu perpaduan etika jurnalis dan minat publik.

 

Empat butir kode etik untuk pemberitaan internasional

 

Reporting the World menggarisbawahi beberapa pertanyaan praktis yang penting –tentang apa yang akan diliput, bagaimana meliputnya-  yang sering muncul dalam diskusi tentang kode etik pemberitaan internasional pada umumnya, khususnya pemberitaan tentang konflik.

 

Di sini diajukan sebuah cheklist (daftar) butir-butir penting di bawah 4 judul utama, yang muncul dari rangkaian seminar dan diskusi, dan melibatkan pandangan-pandangan Analis Konflik. Chekclist ini ditujukan bagi para wartawan agar mereka memiliki pertimbangan setiap kali melaksanakan tugasnya, seperti menyunting, memproduksi, atau menulis sebuah cerita kehidupan, dan membantu mereka berpikir mendalam serta mengikat mereka dengan implikasi etis dari pekerjaan mereka.

 

Bagaimana kekerasan dijelaskan?

 

-          Bagaimana penjelasan tentang konflik muncul dari cara kekerasan diberitakan?

-          Apakah sebuah berita harus selalu patuh pada pedoman klasik  hitungan ‘ledakan demi ledakan’ yang muncul dari kekerasan langsung?

-          Atau, apakah berita juga menunjukkan dampak kekerasan struktural dan kekerasan kultural pada kehidupan banyak orang yang terlibat?

-          Apakah berita itu menggambarkan proses-proses yang jelas –jika tidak disfungsional- yang mungkin malah menciptakan kondisi bagi kekerasan?

-          Kita dibawa kemana atau mendapatkan informasi apa tentang apa yang seharusnya atau mungkin terjadi selanjutnya?

 

Bagaimana ukuran konfliknya?

 

-          Apakah konfliknya dibingkai sebagai ‘tug-of-war’ atau permainan nol-angka dari dua pihak yang bersaing memperebutkan sesuatu, sehingga bila yang satu kalah, pihak lainnya pasti kalah?

-          Atau sebagai ‘cat’s cradle’ –suatu pola ketergantungan banyak pihak yang kebutuhan dan minatnya mungkin bersinggungan (overlap), atau menyediakan ruang bagi solusi bersama?

 

Apakah ada pemberitaan tentang usaha atau gagasan bagi penyelesaian konflik?

 

-          Apakah ada sesuatu dalam pemberitaan tentang rencana-rencana perdamaian, ide-ide alternatif atau bayangan jalan keluar?

-          Apakah aspek cerita semacam itu harus menunggu hingga para pemimpin memutuskan sebuah ‘kesepakatan’?

-          Apakah pemberitaan atas kesepakatan membantu para pembaca atau pemirsa/pendengar untuk memutuskan apakah sudah sepantasnya menangani atau mengambil tindakan pada penyebab kekerasan?

-          Apakah ada informasi tentang atau dari orang lain yang bekerja untuk memecahkan persoalan atau mengubah konflik, selain dari para pemimpin, tokoh, dan staf mereka?

 

Apa peran ‘kita’ dalam sejarah?

 

-          Apakah pesan yang tersirat bahwa ‘orang-orang ini tak akan selamat sampai kita campur tangan’, kini menjadi prospek?

-          Atau apakah berita menyiratkan bahwa ‘mereka akan baik-baik saja, dan itu berkat catatan campur tangan kita’?

-          Apakah ada berita tentang campur tangan yang telah berjalan, meskipun mungkin belum dinyatakan?

-          Apakah berita itu melengkapi dan membekali kita untuk mengetahui bahwa lebih banyak (atau lebih sedikit) campur tangan (intervensi) dapat memberikan solusi? Atau berita hanya mendiskriminasi jenis-jenis campur tangan yang berbeda?

 

Checklist tersebut menawarkan kriteria yang jelas dan khusus untuk memahami berita internasional.

 

Checklist ini dimaksudkan untuk memperkuat/membentengi para wartawan, produser dan editor dalam mengatasi self-censorship dan hambatan-hambatan konsensus dan kelambanan. Ini juga lebih membuat mereka berpikir mendalam tentang konflik itu dari seperangkat ‘prinsip-prinsip utama’ yang dapat dipercaya/dipertanggungjawabkan.

 

Buku ini juga memberi perhatian pada kebutuhan untuk mempromosikan pengetahuan emosional wartawan sendiri dan keadaan psikologisnya, terutama ketika meliput konflik, jika mereka ingin terus melaksanakan pelayanan ini secara efektif.

 

 

1.       Berita Dunia setelah 9/11

 

Penerbitan ini baru akan selesai ketika dunia dikejutkan oleh serangan terhadap Amerika pada tanggal 11 September 2001.

 

                Banyak pertanyaan yang kerap diulang akhirnya mendapatkan relevansi segar dan penting dalam hal pemberitaan mengenai serangan, kejadian sesudahnya, dan awal ‘perang terhadap terorisme’. Cerita besar ini juga merupakan ujian awal bagi daftar etika Reporting the World (Memberitakan Peristiwa Dunia). Bagian ini merupakan pandangan pribadi, diambil dari konsep-konsep yang didiskusikan dalam berbagai seminar dan diskusi meja bundar, dengan mempertimbangkan:

 

-          Pentingnya organisasi pemberitaan yang sepakat dalam pemberitaan etis atas perkembangan dunia yang signifikan;

-          Pengaruh pemberitaan pada perkembangan-perkembangan tersebut, dan tanggungjawab wartawan atas pengaruh yang ditimbulkannya;

-          Empat butir checklist, seperti diaplikasikan pada berita 9/11 dan perkembangan selanjutnya.

 

Hal-hal di atas menggambarkan pilihan nyata yang dihadapi para wartawan –pilihan-pilihan yang tak dapat dihilangkan atau dikaburkan oleh ‘obyektivitas’ atau pengakuan bahwa para wartawan ‘hanya melaporkan fakta’.

 

                Argumentasinya adalah, bahwa berita selalu sudah terlibat sebagai suatu faktor yang mempengaruhi perilaku pihak-pihak yang bertikai. Ini terlepas dari apakah para praktisi (pers) menerimanya atau tidak. Pilihannya adalah bagaimana etika keterlibatan tersebut.

 

                Bahwa dunia tak akan sama lagi, seketika menjadi suatu klise dalam pemberitaan tentang serangan terhadap Amerika. Mungkin sebagian cuma sekadar pengandaian. Banyak wartawan yang committed terhadap berita internasional merasa dikepung. Berita-berita mereka harus selalu dijustifikasi dan dibela/dipertahankan dari berita gosip selebrities yang semakin meningkat, the ‘animal-du-jour’, berita-berita kecil dan berita-yang-dapat-kau-pergunakan.

 

                Ini bukan suatu kecelakaan atau kejadian tak disengaja, melainkan merupakan bagian dari kalkulus sinis di belakang kataklisme, bahwa peristiwa itu menyerang langsung ke jantung ibu kota media dunia. Setiap hari terjadi perang untuk menentukan agenda pemberitaan, perdebatan yang terjadi di menara-menara yang hanya beberapa mil jauhnya dari pencakar langit yang kini menjadi Ground Zero.

 

                Kini, banyak orang yang telah mendesak industri media untuk terus menyediakan layanan berita internasional yang kuat, untuk membimbing dan mengorientasikan masyarakat ke dalam dunia yang semakin saling tergantung, merasa dibenarkan oleh peristiwa tersebut.

 

                Kira-kira sebulan setelah 9/11, ketika keterkejutan awal mulai memudar, orang-orang New York dihadapkan pada sebuah perdebatan yang sehat tentang peran dan tanggungjawab media. New York Magazine melihat pada ‘beberapa alasan kuat mengapa kita ‘kecolongan’ berita dunia terhebat di jaman kita ini’. Penulis media Michael Wolff berfokus pada Globalvision, yang dipersempit ke sebuah kantor kecil di Broadway yang cuma sejangkauan tangan jaraknya dari para raksasa Times Square –News Corp, CBS, Disney, General Electric, dan AOL Time Warner.

 

                Ketahuan bahwa rumah produksi kecil ini, yang mengkhususkan diri pada isu-isu HAM internasional, di luar penampilannya, merupakan milik orang-orang tingkat tinggi di kota itu: orang-orang yang sama yang memberi Anda www.medichannel.org –website analisis media yang paling banyak dikunjungi di dunia, dengan jangkauan global. Namun Globalvision, dengan agenda internasionalnya yang serius, harus menghadapi zeitgeist., Komentar Wolff, “Sebelum 9 September, Anda tak dapat merancang sebuah konsep media yang kurang menjanjikan (kurang masuk akal) dibandingkan rencana serangan itu.”

                Kini terbukti bahwa para pendiri Globalvision benar dan ‘semua yang lain salah’. Orang-orang Amerika melewati tahun 90-an dininabobokkan oleh media mereka yang semakin parokial ke arah pentingnya keamanan, suatu rasa yang menyesatkan. Para desk editor yang berkeliling mencari wartawan untuk dikirim ke garis depan akhirnya menemukan banyak wartawan yang “tak pernah bepergian sebelumnya kecuali saat liburan”. Di antara yang dikirim ke Islamabad adalah “wartawan bidang kesehatan dan diet dari NBC, Dr. Bob Arnot”.

 

                Yang dipertaruhkan adalah pemahaman kolektif dari konteks 9/11. Tanpa dasar peliputan internasional yang solid dan konsisten di media mainstream, kata Wolff, “Berita ini jatuh begitu saja ke pangkuan kita, dan nyaris tak ada yang membuatnya masuk akal …”.

 

                “Ketidakpekaan kita, jarak budaya kita, telah menjadi cerita tersendiri,” lanjut Wolff. “Ini yang melindungi musuh. Ketidakmungkinan untuk mengetahui kemana harus menyerang, atau mendapatkan uang, atau mengidentifikasi orang-orang. Hampir tak tahu apa-apa, kita sudah merasa cukup mapan dengan mengidentifikasi musuh sebagai orang gila yang hanya haus kekuasaan.”

 

Mengapa?

Para wartawan menginformasikan tentang siapa, apa, dimana, kapan, dan bagaimana, semua dalam keterangan panjang lebar. Bagaimana dengan ‘mengapa’?

 

Penulis James W. Carey pernah mengeluh bahwa pertanyaan ‘why’ adalah “Benua/Wilayah Gelap dari Jurnalisme Amerika”. Kini ada desakan untuk menggambarkan wilayah yang separuh terlupakan ini. Cover depan Newsweek, edisi 15 Oktober, menjanjikan akan menjawab pertanyaan kita semua ‘mengapa mereka membenci kita’ (Why They Hate Us). Di dalamnya, redaktur internasional Fareed Zakaria menulis dengan gagah suatu pengamatan tentang ‘akar kemarahan’ (the roots of rage). Tulisan ini mencakup masa lalu intervensi AS di Timur Tengah dan stagnasi politik di dunia Arab sendiri.

 

                Majalah Time mengangkat ‘Pandangan’ Hazem Saghiyeh, yang menyesalkan “bias yang ditunjukkan oleh AS kepada Israel dan kejahatan AS meneruskan sanksi terhadap Irak”. “Ditambah, karena alasan-alasan historis, kaum Mulim dan Arab dapat selalu merasakan kepahitan/kebencian terhadap Amerika” karena memasang Shah di Iran, tulisnya, dan karena meninggalkan Afghanistan dalam keadaan kacau setelah menolong Mujahidin memenangkan perang yang menentukan dalam Perang Dingin.

 

                Namun Shagiyeh, seorang kolumnis suratkabar berbahasa Arab, al-Hayat, yang berbasis di London, juga menyalahkan gagalnya gerakan reformasi politik dan agama dalam masyarakat Islam karena mengabadikan ketidakmampuan dan kelemahan mereka. Kedua tulisan tersebut di atas merupakan upaya untuk memproyeksikan suatu penjelasan yang canggih dan multi-faceted atas serangan 9/11, menantang alasan ‘ketidaktahuan’ yang didiagnosa oleh Wolff dan penjelasan atas kekerasan sebagai autistik –tak masuk akal dan bernuansa kewahyuan.

 

                Time mendesakkan pengertian bahwa Osama Bin Laden, sang tersangka utama, memiliki ‘rencana aksi yang jelas diucapkan’ untuk mengeluarkan AS dari dunia Islam. Jauh dari ‘samar-samar’ –sebuah klise lain yang sering dikaitkan dengan teroris- dia bahkan telah seringkali membahas strateginya ini. Masalahnya, hanya sedikit yang siap mendengarkan atau menganalisa proses-proses tersebut, yang dapat menyumbang pada konteks pemikiran bahwa strategi semacam itu mungkin bisa dianggap feasible.

 

The backlash

Menanyakan ‘mengapa’ mengundang penolakan dan ketidaksetujuan

 

Kecenderungan untuk menguji-sendiri hal ini tidak terpatri pada setiap orang. Ketika dua terbitan mingguan mulai beredar di jalan-jalan, The New York Post, dalam tajuk utamanya pada 9 Oktober, menyerang kedua mingguan itu dengan tuduhan memperturutkan ‘Pemikiran Mendalam yang membingungkan’.

 

Koran itu mengecam para ‘talking heads’ yang sibuk mencari “akar persoalan ….. Betapa mereka sangat keliru, dan atas risiko Amerika.” Respons yang benar, kata tajuk itu, ketika seseorang bertanya “mengapa pembunuh dengan tangan penuh darah seperti Osama bin Laden membenci Amerika?” adalah: ‘Siapa peduli’?

 

“Tak diperlukan –atau tak mungkin- ada penjelasan atas mengapa ‘para pejuang suci’ menyerang peradaban Barat. Bahwa para ‘pejuang suci’ ada, itu sudah cukup. Dan mereka harus dihentikan.”

 

“Daripada bertanya mengapa mereka membenci kita, lebih baik berpikir tentang bagaimana mereka merasa yakin dapat lolos dengan tindakan brutalnya itu. Sebagian dari jawaban itu, setidaknya, terletak pada sifat ragu-ragu bangsa Barat yang begitu terekspos oleh pencarian-pencarian untuk ‘pengertian’”.

 

Silang pendapat ini akan terus digelorakan oleh para peserta berbagai seminar dan diskusi Reporting the World. Yang mengejutkan adalah tema yang mempersatukan –bahwa ada dimensi etis yang lebih besar tentang cara konflik diberitakan, suatu rasa tanggungjawab atas pengaruhnya terhadap peristiwa-peristiwa. Yang diuji adalah sifat alam dari pengaruh itu dan bagaimana bekerjanya.

 

Di PBB, direktur Media Peace Institute, Keith Spicer menyumbangkan sebuah kritik akan ‘Americentricity’ (keterpusatan ke Amerika) dalam industri berita (‘Apakah media AS yang umumnya dangkal itu membantu gerakan bin Laden?’). “Parokialisme yang keras” dan “berkurangnya liputan mendalam” memainkan peranan dalam “intelektual Amerika yang mencemaskan” dan merupakan “tindakan bunuh diri” bagi suatu negara superpower. Dia melanjutkan: “Keadaan sekarang dapat dianggap setara secara politis dengan gajah yang panik dan kebingungan”.

 

Andrew Stephen, koresponden the New Statesman di AS, menghubungkan turunnya jumlah liputan internasional serius bagi rakyat Amerika dengan turunnya minat dan kemampuan lembaga Amerika dalam peristiwa-peristiwa dunia – ini berlawanan dengan peristiwa-peristiwa militer. “Dengan memberi prioritas yang semakin rendah bagi kebijakan dan hubungan luar negeri … AS menarik pelajaran dari isolasi dan keterpusatannya.”

 

Gambaran-gambaran krisis yang menyerang negara-negara yang jauh dijauhkan dari siaran berita prime time karena para pemasang iklan tak menyukainya: “Dampak dari kepicikan ini adalah keputusan-keputusan kebijakan luar negeri yang seringkali dibuat berdasarkan alasan politik dalam negeri.”

 

 Di sana dan di sini
Apakah wartawan Inggris, pembaca, pemirsa dan pendengar, lebih baik?

 

Stephen adalah salah satu dari beberapa komentator yang menggarisbawahi perbedaan di antara media massa di sisi lain benua Atlantik. Banyak orang Inggris masih mendapatkan gambaran lebih lengkap tentang peristiwa dunia dibanding sebagian besar rakyat Amerika. Kegemaran mengkonsumsi koran nasional di Inggris dan kebudayaan  siaran publik yang  berkembang adalah dua perbedaan yang signifikan dari lingkungan media, seperti dikritik oleh Spicer senagai ‘Americentric’.

 

Namun diskusi-diskusi Reporting the World mengungkapkan suatu kesadaran di antara banyak wartawan Inggris bahwa perbedaan itu mungkin lebih dicirikan secara akurat sebagai perbedaan tingkatan, bukan perbedaan jenis.

 

Menanggapi halaman-halaman berita luar negeri di sebuah koran London yang terkenal karena liputan internasionalnya, seorang redaktur senior mengingat suatu peristiwa yang menggambarkan kondisi media dalam menentukan pemuatan berita. Suatu berita yang telah diliput dengan penugasan khusus tentang krisis tingkat baca di negara Afrika sub-sahara harus bersaing dengan berita kasus perceraian Tom Cruise-Nicole Kidman.

 

“Anda merasa sedang berjalan menentang aeah kebudayaan,” keluhnya, tentang  jenis liputan in-depth yang merupakan trade-mark-nya, terlepas bahwa laporan semacam itu kerap kali mendapatkan penghargaan oleh setidaknya beberapa pembaca yang menghargai usaha semacam itu.

 

Suatu kesulitan serupa menjadi bukti dalam testimoni pada pertemuan Reporting the World di kalangan para pimpinan senior BBC. Seorang di antaranya, wakil direktur pemberitaan Mark Damazer, membela komitmen perusahaannya untuk terlibat dalam kompleksitas konflik internasional –namun dia juga mengingatkan bahwa usaha-usaha semacam itu harus bersaing dalam jam siaran yang sama dengan berita olah raga dan politik dalam negeri, dan bersaing dengan saluran televisi lain dengan berita yang banyak ditawarkan untuk ‘pasar kelas bawah’.

 

Redaktur luar negeri Jonathan Baker berbagi informasi tentang hasil riset focus group yang menunjukkan bahwa pemirsa, yang ketika dilakukan polling memilih berita luar negeri pada tempat terakhir dari daftar pilihan, ternyata dalam praktiknya memilih berita luar negeri juga sebagai yang paling dikenang dan mengejutkan. Itu ketika mereka telah benar-benar duduk dan menyaksikan berita-berita itu.

 

***

 

Tujuan Reporting the World

Pekerjaan/tugas menguraikan benang kusut ini penting/utama bagi tujuan Reporting the World

 

                Pilihan-pilihan abstrak dari audience potensial, seperti ditengarai oleh tehnik riset pasar, mungkin tidak lahir dari pengalaman menyaksikan berita itu sendiri. Bangun agenda berita di sektar mereka dan anda akan berakhir dengan para wartawan diet dan kesehatan mengalahkan liputan internasional srius; perceraian di kalangan selebrities mengalahkan isu-isu kemanana dn pembangunan yang penting untuk abad mendatang. Mereka menampilkan alat/instrumen yang tumpul untuk mendapatkan bagian kedua temuan focus group BBC atau kedalaman penghargaan yang membuat orang menulis surat pada redaksi.

 

Menuju Kekhusuan

Bergerak melampaui penghakiman nilai-nilai yang samar

 

                Penilaian atas perdebatan tentang isi berita pasca 9/11 secara bebas dan sengaja telah dibubuhi penmghakiman nilai-nilai yang samar yang merupakan ciri khas diskusi-diskusi semacam itu.

 

                Tujuan utama Reporting the World adalah untuk membantu kita agar menjadi lebih specifik (khusus). Jika liputan ‘serius’ dan ‘mendalam’ yang memberikan ‘gambaran penuh’ dan membuka ‘kompleksitas’ harus dibela, tentu penting untuk mencari defenisi yang lebih tajam; agar kita dapat benar-benar memperjuangkan dan mempertahankannya.  

 

                Proses ini, dan juga laporan ini, bersama-sama menampilkan buah dari usaha-usaha oleh sekelompok besar kaum profesional yang memiliki kesadaran yang akhirnya tiba pada definisi praktis dari petanyaan-pertanyaan etika yang terlibat dalam meliput beita internasional dalam sebuah setting modern. ‘Etis’ karena mereka didasarkan pada keterikatan yang jujur dengan pengaruh yang diexert oleh berita pada course peristiwa-peristiwa, dandengan tanggungjawab yang mungkin diemban oleh wartawan. ‘Praktis’ karena mereka diambil dari suatu sumber penting yang dishare –pengalaman kolektif wartawan dalam meliput berita-berita besar di eganda berita internasional.

 

Strategi Media

Pihak-pihak yang bertikai mendasarkan aksi-aksi mereka pada kalkulasi tentang bagaimana mereka akandiberitakan.

 

                Silang pendapat yang dikutip di sini, tentang tanggungjawab media, mencapai para pembaca pada saat bom AS ke Afghanistan dilangsungkan; sementara fokusnya tiba-tiba beralih ke sebuah perdebatan tentang apakah ini akan membuktikan suatu response yang sesuai/tepat dan efektif bagi sernagna terhadap Amerika.

 

                Ini merupakankondisi modernitas bahwa pengarang-pengarang kebijakan smacam itu –sebagaimana kebijakan apapun yang dirorong oleh pemerintahan manapun- mendasarkan aksi-aksi mereka sebagian pada suatu strategi media. Penunjukan seorang eksekutifperiklanan senior, Charlotte Beers, sebagai Sekretaris negara untuk Diplomasi Publik di AS, untuk mengkoordinasikan kontak-kontak antara pemerintah dan mass media, membuktikan pentingnya pesan tersebut.

 

                Setelah krisis Kosovo, Seketaris Pers Downing Street Alastair Campbell memberikan ceramah di London kepada Royal United Services Institute dimana dia mencirikan tugas diplomasi publik selama masa perang sebagai sebuah tantangan harian untuk “mempertahankan minat publik sesuai term kita …. Satu-satunya perang yang Nato dapat kalah adalah perang memenangkan hati dan pikiran.”

 

                Jendral MichaelShort, komandan US Air Force yang bertanggungjawab pada pengiriman pasukan setiap hari selama Operation Allied Force, berbicara sesuahnya tentang rasa frustrasi karena harus merencanakan misi perang agar sesuai dengan strategi media Allliance (Sekutu) –untuk memasok para juru bicara dengan jawaban-jawaban yang meyakinkanbagi para wartawan yang terus mendesak disediakannya bukti-bukti bahwa pengeboman itu mendapatkan efek yang dapat dihargai pada apa yang disebut Nato “the fielded forces in Kosovo”.

 

                (Tim Ripley dari Janes’ Defence Weekly, menulis di majalah NUJJ, The Journalist, pada bulan Juni 1999, tentang rasa frustrasi yang sama di pihak para perancang militer Inggris karena harus suborned keputusan operasional mereka, begitu mereka melihatnya, bagi/untuk imperatives stratagems presentasional).

 

                “Saya tak berharap menjadi impretinent,” Short berkata pada wartawan Allan Little, dalam sebuah wawancara yang mengesankan di program Panorama khusus di BBC, Moral Combat (Perang Moral), “namun saya kira banyak pemimpin sipil kita yang tidak benar-bena mengerti kekuasaan udara.” Para ahli tak akan mempertimbangkan engeboman dari ketinggian 15.000 kaki suatu taktik yang patut, kata sang jendral, untuk mengalahkan kekuatan darat yang tengah menguasai wilayah itu.

 

                Meskipun awak udaranya telah berupaya keras, oleh sebab itu, “tentara Serbialah yang mendiktekan ritme perang”, sambil terus menerus menyerang desa-desa sesuka hati mereka, dan Tentara ketiga Yugoslavia akhirnya rolled out propinsi itu dengan sebagian besar ordnancenya intact. Tekanan politik yang menyebabkan pengeboman itu 

By Sirikit Syah Posted in 2004 Tagged

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s