Natal Bersama Keluarga Inggris


 

DARI MENGHADIRI MISA DI GEREJA,

SAMPAI MAKAN MALAM KELUARGA BESAR

 

Untuk pertamakalinya dalam hidup, saya mengalami suasana perayaan Natal di tengah-tengah keluarga Kristen, berkebangsaan Inggris. Perasaan saya waktu itu harap-harap cemas. Saya memang melamar pada organisasi HOST yang mengatur kunjungan para mahasiswa asing di Inggris ke keluarga-keluarga Inggris. Tujuannya agar terjalin saling pengertian antara tamu dan tuan/nyonya rumah, baik mengenai kebudayaan, agama, tradisi, dan gaya hidup yang berbeda. Program HOST ini sangat diminati baik oleh mahasiswa asing di Inggris, maupun oleh keluarga Inggris selaku tuan/nyonya rumah. Pada saat pertikaian Israel-Palestina meruncing, seseorang menulis surat pembaca di koran terkemuka, menyatakan bahwa “Segala pertikaian ini mungkin tak perlu terjadi jika kita saling memahami dan menerima perbedaan. Saya pernah punya tamu seorang mahasiswa India bersama keluarganya, dan betapa berbedanya kami. Tapi kami menjalin hubungan baik sampai sekarang. Saya sangat mendukung program HOST”.

 

Kecemasan saya antara lain juga karena adanya paham mayoritas di kelompok pengajian yang saya ikuti, yaitu Al-Ikhlas, bahwa umat Muslim tidak seharusnya ikut merayakan Natal. Ada yang mengatakan umat Muslim tidak boleh mengucapkan ‘Selamat Hari Natal’ karena itu berarti kita turut memperingati. Ada juga yang menolak undangan makan siang dosennya, karena makan siangnya itu pas Hari Natal. Saya berargumentasi (Allah Maha Tahu), bahwa menghadiri makan siang di kediaman dosen tidak berarti kita memperingati Yesus sebagai Tuhan. Malahan, acara makan siang itu mungkin sangat berguna bagi hubungan akademik atau personal.

 

Maka, ketika HOST menjadwal saya mengisi liburan Natal di rumah keluarga Inggris, saya menyambut dengan gembira sambil meyakinkan diri sendiri bahwa ini tidak menyalahi ajaran yang saya anut.

 

Chistmas Carols

 

Kejutan pertama tentang kebiasaan, Angela Alder terdengar tidak suka ketika kereta kami (saya pergi dengan anak laki-laki saya) tiba lebih cepat dari perkiraan. Saya di telepon bilang akan tiba pukul 3, kereta tiba pukul 2. Sejam lebih majupun membuat jadwal dia terganggu. Katanya, dia sedang masak, tidak dapat menjemput. Suaminya, Ron, terpaksa ‘diperintahkannya’ menjemput kami di stasiun. Kami berada di desa Bishops Strotford, Hertfordshire, kota kecil di utara London yang jauhnya 2 jam kereta api.

 

Angela dan Ron adalah pasangan berusia 70-an, tampak tergolong kelas menengah atas. Mereka tinggal di sebuah rumah yang cukup mewah. Kami masing-masing mendapat satu kamar tidur yang dilengkapi kamar mandi (padahal malamnya anak saya pasti tidurnya bergabung d kamar saya). Ada juga kamar mandi yang punya sistem air pijat (whirl pool), kami dipersilakan menikmatinya, hmmm… nyaman juga. Kamar saya ukuran double, juga tempat tidurnya, lantai, sprei, dan gordennya bernuansa serba biru. Kamar anak saya ukuran single, bernuansa hijau kuning cerah. Manis sekali. Di laci-laci ada buku-buku dan mainan.

 

Saya memperhatikan seluruh isi rumah, tampaknya Angela sangat cermat memilih perabotan dan pernik-pernik. Semuanya serba ‘matching’. Di dapur, kursi-kursi, lemari, cangkir-cangkir, bahkan toples-toples bumbu, semuanya ‘matching’. Manis sekali. Ada seekor kucing yang gemuk dan berbulu tebal. Jadinya besar sekali, agak menakutkan. Maklum, kucing-kucing kami di Surabaya kecil-kecil.

 

Acara kami sore pertama itu adalah datang ke alun-alun desa menjelang tengah malam, untuk menyanyikan lagu-lagu Natal (Christmas carols). Tentu saja saya dan Bintang tidak ikut menyanyi. Tapi kami menikmati suasananya. Malam yang gelap gulita menjadi terang karena masing-masing membawa lilin. Juga kesyahduan lagu-lagu yang dikumandangkan secara sederhana menambah khidmad suasana malam itu. Angela bangga sekali karena Ron ikut sebagai anggota paduan suara, menyanyi di panggung. Sesampaidi rumah, saya dan Bintang beristirahat, sementara Ron dan Angela bersiap-siap lagi untuk misa tengah malam.

 

Dapat kado Natal pertama

 

Keesokan harinya, saya dan Bintang diajak ke gereja di desa tersebut. Karena hari Natal, maka suasanaya cukup meriah, meskipun gerejanya sedang dalam proses perbaikan. Gerejanya kecil, di belakang halaman tampak berderet-deret makam. Persis seperti yang biasanya saya saksikan di film-film barat. Orang-orang tampak keheranan melihat kedatangan kami. Apalagi itu bulan Desember 2001, hanya 3 bulan setelah peristiwa 9/11, oang masih sering curiga kepada umat Islam. Karena saya mengenakan jilbab, identitas saya jelas. Ada juga tamu-tamu dari luar desa, beberapa mahasiswa asing yang ikut atau indekos di keluarga Inggris di desa ini (ada yang dari China, tetapi dia Kristen juga). Yang tampak sebagai Muslim hanya kami berdua.

 

Anehnya, keheranan mereka bernuansa ‘senang dan ramah’, bukannya ‘cemas dan tidak ramah’. Mereka tersenyum hangat menyambut kami, mengajak ngobrol, banyak bertanya dan ingin tahu tentang Indonesia dan Islam, dan akhirnya mempersilakan kami duduk di tempat yang kami pilih sendiri. Kami memilih duduk di deretan paling belakang. Kami terkesan pada ceramah bapak pendeta yang isinya sangat baik dan tak jauh beda dengan ceramah-ceramah agama Islam yang sering saya dengar, yaitu tentang pentingnya perdamaian dan saling menghargai sesama umat di seluruh dunia. Pendeta juga menyinggung-nyinggung penderitaan rakyat di Bosnia, Palestina, dan tempat-tempat lain yang sedang mengalami krisis.

 

Seusai misa, kami menyalami bapak pendeta dan orang-orang aktivis gereja dan beramah tamah dengan mereka. Setelah itu Angela mengajak kami ke rumah sahabatnya, Sheila, di sebuah perumahan sederhana. Rumahnya kecil sekali, apalagi dibanding rumah Angela. Selain sahabat Angela, Sheila yang usianya lebih muda dari Angela ini kabarnya adalah mantan anak buahnya di tempat kerja sebelum Angela pensiun. Sheila memiliki dua anak, lelaki dan perempuan, dan keduanya sudah meniti karir dengan bekerja di London. Di sini saya dan Bintang mendapatkan hadiah Natal berupa satu pak permen coklat. Enak sekali.

 

Setelah beristirahat siang sejenak, sorenya kami menuju rumah anak bungsu Angela & Ron. Rumahnya agak keluar kota. Di sana saya menemukan sebuah komunitas yang ‘asyik’. Seorang perempuan yang cukup muda saya kira istri John, ternyata dia ibu mertua John. Ada perempuan yang saya kira ibu Michelle, ternyata neneknya. Di situ ada Michelle, istri John, ibunya, neneknya anaknya, Scarlet, dan beberapa tamu kerabat dan kawan-kawan pihak Michelle. Jadi, dari pihak Michelle, hadir 4 generasi. Scarlet, gadis 5 tahun, menjadi pusat perhatian karena dengan busana panggung, dia terus menerus menghibur kami: menyanyi, menari, akting, membanyol, menyuruh-nyuruh kami ikut ambil bagian, dll. Betul-betul gadis kecil yang sangat berbakat dan menggemaskan.  Ruang tamu John & Michelle merupakan ruang berpohon natal terindah yang pernah saya saksikan dan alami. Rumahnya sederhana tetapi cara menata pohon Natal, hiasan pernik-pernik, cahaya, dan kado-kado, sangat artistik dan berkesan akrab.

 

Michelle yang ternyata sorang penyanyi profesional didaulat menyanyi, tapi dia memilih menyetel CD-nya. Suaranya bagus sekali dan ketika pulang saya mendapat sebuah suvenir CD. Ibu Michelle (yang tadinya saya kira istri John) ternyata berdarah Spanyol (dari ayahnya) dan seorang penari. Dia dan Michele kemudian memperagakan beberapa gerak tari seperti flamengo, tango, dll. Kelihatan sekali kalau Angela & Ron adalah keluarga Inggris yang ‘dingin’, sedangkan Michelle dan ibunya dari keluarga mediteranian yang ‘hangat’. Meskipun demikian, Ron dan Angela yang berbudaya agak ‘lain’ tak tampak canggung dengan suasana itu. Mereka benar-benar orangtua yang baik.

 

Setelah lama penasaran menunggu munculnya John, si bungsu kesayangan Angela (seperti diakui Angela kalau sedang bercerita di dapur), akhirnya lelaki itu muncul juga. Lelaki 40-an itu sangat ‘Inggris’. Kalimat pertamanya adalah “Oh, ini toh yang disebut-sebut Mum beberapa hari terakhir ini. Selamat datang, sister,” sambil menjabat tanganku dengan hangat. Ya, tidak sedingin umumnya laki-laki Inggris.

 

Pelajaran dari keluarga Alder

 

Christmas dinner yang paling ‘heboh’ kami alami keesokan malamnya. Sejak siang saya dan Angela mempersiapkan hidangan: salad, salmon, lasagna, kalkun dan sausnya, dll. Malam itu Angela hanya mengundang kerabat dekatnya, yaitu anak-anak dan menantu, cucu-cucu, besan, dan kami berdua. Jumlahnya 22 orang. Bintang dan Ron sibuk menata ruang makan. Kami meminjam meja dan kursi-kursi dari gereja. Saya dan Angela menyiapkan peralatan makan dan hidangan.

 

Sore hari, tamu-tamu, anak cucu Ron & Angela berdatangan. Masing-masing membawa makanan, berbagai jenis kue. Makanan menjadi bertumpah ruah. Lezat dan mewah. Angela sangat bangga pada menantu pertamanya: “Dia cantik, ya?” katanya kepadaku. Semua ribut di bawah pohon natal membukai kado masing-masing. Saya mendapat syal dan sarung tangan, Bintang mendapat bola sepak. Kami memberi Angela & Ron oleh-oleh etnis dari Indonesia. Riuh rendah suara mereka. Yang muda remaja atau yang sudah tua sama saja ributnya. Anak perempuan Angela, anak kedua, langsung memakai sweater hadiah ibunya. Kepadaku diceriterakannya bahwa sweater itu memang sudah lama diincarnya. Lalu pada suatu acara shopping dengan ibunya, dia berhasil merayu ibunya untuk membeli sewater itu untuk hadiah natalnya.

 

John, si bungsu, bolak balik ke dapur: “I am starving Mum….., let’s eat.” Lalu dia mendekati saya yang sedang meracik salad. “Ibuku cerita apa saja tentang aku?” Tentu saja aku tidak akan buka rahasia. Angela telah banyak bercerita tentang ‘anak kesayangannya’ itu. Bahwa dia pernah sangat kecewa ditinggalkan istri pertamanya dan butuh waktu lama bagi Michelle –hampir 10 tahun- sebelum John memutuskan menikahinya. “Michelle itu perempuan yang sabar. John sangat terluka,” cerita Angela di sela-sela minum teh di dapur sejak kami datang. John juga depresi karena dua anaknya terdahulu ikut mantan istrinya yang telah menikah lagi lebih dulu. Dia merasa sangat kehilangan segala-galanya. Sampai ada Michelle, yang setia mendampinginya, dan akhirnya memberinya Scarlet.

 

Mitos tentang keluarga Inggris yang dingin, sopan, santun, menahan diri, buyar seketika melihat suasana makan di meja makan. Semua orang berteriak. Rasanya paling keras malah yang tua-tua, seperti John dan kakak perempuannya. Anak pertama Angela dan istrinya tampak agak pendiam. Makanpun, mereka tidak pakai urutan, misalnya mana hidangan pembuka, mana makanan utama, dan apa penutupnya. Semua seba langsung-langsung saja, mana yang dekat dengan dengan kita. Mirip suasana makan saat lebaran di rumah keluarga-keluarga di Surabaya (saya jadi teringat kelakuan keluarga besar saya kalau sedang berkumpul saat lebaran, tak jauh beda). Urutan menu tidak penting, ambil saja mana yang disuka dan mana yang dekat. Angela berkali-kali mengingatkan agar semua teratur dan makan pelan-pelan, tidak ada yang mengubris. Semua makan dengan cepat dan lahap. Sia-sia dia menghias dan mengurutkan segala hidangan. Dalam waktu super singkat, semua hidangan habis tandas. Tak ada seni bersantap dalam Christmas Dinner. Tapi kalau suasana hangat dan kekeluargaan, apa lagi yang lebih penting dari itu sebetulnya?

 

Ruang makan sempit dan telah ditutup seluruhnya dengan meja-meja yang dijadikan satu menjadi meja besar. Di sekelilingnya ditaruh 22 kursi, semua yang duduk sulit bergerak atau berpindah. Seorang cucu Angela (gadis remaja) harus menerobos lewat bawah dari ujung meja ke ujung satunya dekat pintu –menyeberangi ruangan lewat kolong meja)- untuk pergi ke toilet. Anak perempuan Angela, umurnya kira-kira 44-45 tahun,  berdiri dan menginjak kursi-kursi di belakang punggung setiap orang untuk mencapai pintu yang sama. Sementara itu John terus-terusan mengisi piringku dengan makanan. Dia sangat penuh perhatian, sangat hangat. Tak ada bekas luka. Mungkin dia benar-benar bahagia dengan Michelle dan Scarlet, anak perempuannya yang lucu dan cerdas.

 

            Seusai bersantap, kami semua yang cewek-cewek turun tangan di dapur. Saya, dua menantu Angela dan satu anak perempuannya, mencuci piring dan membersihkan dapur. Saya jadi ingat saat lebaran di rumah ibu, kakak-kakak iparku perempuan rajin sekali membereskan dapur. Yang laki-laki menyiapkan teh atau kopi dan kue-kue.

 

Pengalaman 2,5 hari di rumah keluarga Ron dan Angela Alder sangat menyenangkan. Selain mengalami sedikit ‘kemewahan’ keluarga Inggris setelah beberapa bulan indekos di kamar sempit & sederhana (maklum mahasiswa, bawa anak pula), ada beberapa hal yang menjadi pelajaran berharga. Angela suka sekali bercerita di sela-sela kami berdua berjalan di taman belakang rumah atau duduk-duduk di dapurnya yang nyaman. Dari cerita-ceritanya, terlihat betapa agung cinta dia pada Ron, suaminya. “Dia cinta pertamaku dan terakhir,” kata Angela. Tak segan-segan, diceriterakannya saat mereka bertemu, berpacaran, menikah, dan melewati hidup berumahtangga. Angela juga melayani Ron layaknya seorang istri Jawa. Tak henti-hentinya Ron ditawari makanan, teh, kue-kue. Mereka senantiasa bertutur dengan halus dan penuh cinta. Bahkan kadang-kadang berciuman. Sudah setua itu! Saya membayangkan, kalau sudah setua itu, apa saya masih berciuman dengan suami ya? (Sekarang masih lo…). Di sini saya belajar tentang cinta sejati. Siapa bilang cinta sejati/abadi hanya ada kalau pasangannya ‘tidak jadi’, atau kalau ‘tidak resmi’ (seperti Pangeran Charles & Camilla yang berpacaran lebih dari 30 tahun). Ron dan Angela adalah bukti nyata bahwa cinta sejati dapat terjadi dalam sebuah hubungan yang baik.

 

Pelajaran lainnya adalah tentang minum teh. Betapa senangnya orang Inggris minum teh. Saya sampai capai dibuatnya. Sepanjang pagi saja, bisa 3-4 kali ditawari minum teh. Tehnya disedu langsung, masih hangat dan fresh, ditaruh di teko dan cangkir-cangkir yang bagus, disertai kue-kue yang pada umumnya buatan sendiri. Asyik juga di cuaca yang dingin begitu ngobrol sambil minum teh. Alhasil, kembali ke rumah indekos, saya jadi terbiasa minum teh berkali-kali dalam sehari.

 

Benar-benar pengalaman Natal yang menyenangkan. Kalau saja semua umat di bumi mendapatkan kesempatan seperti kami: saling memahami.

 

Sirikit Syah

Penulis

 

 

2 comments on “Natal Bersama Keluarga Inggris

    • Saya belum tahu siapa Anda…..? dan juga apa nggak salah, Anda belajar dari saya……? saya ini orang kebanyakan, yang juga masih belajar. Jika Anda memang berminat di bidang tulis-menulis, silahkan simak artikel-artikel di blog ini, mudah-mudahan ada manfaatnya, mohon maaf jika kurang berkenan dengan jawaban saya, dan terimakasih telah sudi mampir.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s