Membaca berbagai keluhan orangtua murid saat ini, dan juga pengalaman saya sendiri sebagai orangtua murid, saya jadi teringat pengalaman menjadi orangtua murid di London selama satu tahun, tahun 2001-2002. Tentu tidak adil membandingkan kondisi di Inggris dan Indonesia, namun bila ada yang baik dan dapat ditiru untuk diterapkan di sini, mengapa tidak?
Sebagai mahasiswa penerima beasiswa British Chevening, uang stipend saya pas-pasan, yaitu sekitar 700 pound sebulan. Apalagi hidup di London bersama anak –saya membawa anak laki-laki 12 tahun, Bintang. Separuh dana untuk bayar kos-kosan (kami indekos satu kamar dengan akses ke kamar mandi dan dapur di kediaman keluarga Srilangka). Separuhnya lagi untuk transpor dan makan. Kalau ada sisa, baru beli buku, nonton film, rekreasi. Saya membawa anak dengan misi memberinya pengalaman internasional. Mumpung bisa ‘nunut’ saya makan dan tidurnya. Modal saya cuma tiket pesawat dia pulang pergi, kira-kira Rp 15 juta. Saya tahu bersekolah di Inggris tidak bayar. Yang saya tidak tahu, di Inggris tak ada bus antar jemput anak sekolah (di Amerika warnanya kuning, bus tua). Jadi, ongkos transpor bertambah dua kali lipat.
Saya cepat-cepat mendaftarkan Bintang ke kantor pendidikan setempat di North Harrow (utara London). Kalau saya sampai masuk kuliah Bintang belum sekolah, saya bisa dilaporkan ibu kos atau tetangga, saya bisa ditangkap polisi karena “meninggalkan/menterlantarkan anak di bawah umur”.
Petugas di kantor pendidikan bertanya, “Ingin sekolah di mana?”
Kami menunjuk satu sekolah yang paling dekat dengan tempat tinggal kami.
“Baik, akan kami kabari apakah tempatnya masih ada.”
“Berapa lama?” tanya saya.
“Paling lama dua minggu.”
Di kantor itu, kami tidak membayar sepeserpun.
Belum dua minggu, kami sudah mendapat pemberitahuan bahwa sekolah yang kami maksud penuh. Bintang mendapat tempat di pilihan kedua. Di sini tak ada kepala sekolah menolak siswa, meskipun siswa itu masuk di tengah-tengah tahun pelajaran. Bila ada anak usia sekolah di wilayah sekolah itu tidak sekolah karena tidak diterima di sekolah, kepala sekolah bisa dihukum! Namanya juga pendidikan wajib. Tak ada alasan anak tidak sekolah, sekalipn dia anak pendatang atau imigran seperti saya.
Bintang saya bawa ke sekolah yang ditunjuk, lalu kami berkenalan dengan kepala sekolahnya, menentukan kapan mulai, bagaimana sistem sekolah, dan lain-lain. Kami tidak dikenai biaya apapun.
“Sudah punya seragam?” tanya kepala sekolah.
“Belum,” jawab saya.
“Pakaian seragam di toko-toko tidak mahal. Ada di Mark and Spencer atau toko lain, harganya standar. Tapi kalau mau pakai bekas, di koperasi ada.”
Kami ke kantor koperasi. Di situ ada lemari penuh seragam. Rupanya sumbangan siswa-siswa yang lulus. Masih bagus-bagus. Kami mencari yang cocok untuk Bintang: celana panjang, kemeja, dasi, blazer. Ada yang kurang: sweater untuk musim dingin. Kami akan beli saja di toko. Alhamdulillah, sebagian besar sudah dapat.
“Bagaiana dengan buku-buku?” tanya saya.
“Oh, semua bukunya dari sekolah. Pinjaman di perpustakaan. Bahkan buku tulis dan buku gambarpun kami sediakan. Tak usah repot-repot. Semua ada. Ini kan sekolah negara.”
Pada hari pertama sekolah, Bintang berangkat sendiri, karena saya juga sudah mulai kuliah. Untung dia berani. Naik bus, turun di sekolah, masuk ruang kantor kepala sekolah. Duduk di situ sendiri, menunggu. Katanya, dia kemudian dijemput oleh guru kelas 8, dan dibawa ke kelas, diperkenalkan, lalu mulai menjalani kehidupan sekolahnya. Bintang belum bisa berbicara bahasa Inggris waktu itu, tapi dia cukup cerdas dalam penangkapan dan memiliki perbendaharaan kata yang lumayan serta logika bahasa yang bagus.
Murid tak mungkin ‘kluyuran’
Kadang-kadang Bintang tidak masuk sekolah karena bangun kesiangan, hawa terlalu dingin, ketinggalan bus, sakit, dan berbagai alasan lain. Untuk itu, saya harus membuat surat kepada kepala sekolah, menjelaskan bahwa Bintang tidak sekolah pada hari dan tanggal tertentu karena sesuatu hal. Pernah saya lupa memberitahu, beberapa hari kemudian saya menerima surat kepala sekolah yang melaporkan bahwa Bintang tidak masuk pada hari dan tanggal tertentu. “Apakah Ibu tahu keberadaannya atau alasannya dia tidak masuk?” begitu bunyi suratnya. Jadi, ada cross check.
Ini saya pahami lebih dalam ketika di koran-koran dan televisi terbersit berita seorang ibu diambil polisi dan dibawa ke pengadilan karena anaknya sering membolos sekolah dan dia tidak tahu. Kepala sekolah mengirim surat, tidak direspon. Si ibu diputuskan bersalah, lalai, dan dihukum 2 hari penjara! Dengan sistem seperti ini, mana mungkin anak kita kluyuran tidak karuan? Mengapa negara bisa ‘memaksa’ anak bersekolah dan orangtua mengawasi anaknya pada jam sekolah? Karena negara membayar semuanya. Anak wajib sekolah, negara wajib membiayai, orangtua wajib ikut mengawasi.
Sekolah Melapori Orangtua
Tiga bulan setelah Bintang bersekolah, saya mendapat undangan semacam rapotan. Saya kira pasti nanti seperti di sekolah Indonesia. Para orangtua duduk berama di sebuah kelas, lalu ‘diceramahi’ kepala sekolah secara umum (tak ada laporan tentang perkembangan individu anak kita), lalu raport dibagi dengan dipanggil satu persatu, ditambah tetek bengek bayar ini bayar itu (membangun masjid, menaikkan lantai agar tidak banjir, memperbarui lapangan basket, dll).
Namun saya kecele. Tidak ada kelas umum. Yang ada, para guru bidang pelajaran menempati meja-meja khusus, satu ruang kelas mungkin diisi 3-4 guru. Para orangtua masuk sesuai jam yang tertera di undangan. Jadi, orangtua duduk di depan meja guru bidang studi kira-kira 5-10 menit, lalu pindah ke meja lain, begitu seterusnya sampai semua guru bidang studi selesai bercerita tentang perkembangan putra Anda! Saya sangat terkesan, bahkan terharu.
“Anak Anda pendiam, tapi tampak matang. Dia suka volunteer memimpin kelompok, dan dia sangat disukai teman-temannya,” kata wali kelas.
“Bahasa Inggris Bintang berkembang sangat pesat,” kata guru bahasa Inggris.
“Bintang sangat berbakat menggambar. Wah, dia jadi selebriti gara-gara kepiawaiannya itu. Excellent,” kata guru gambar.
“Bintang rajin ke computer centre, dia suka tehnologi rupanya,” kata pengajar komputer.
“Anak Anda sering lupa membawa alat dan bahan memasak. Dia tidak suka memasak ya? Tapi kalau mendisain atau menggergaji kayu dia pandai sekali,” kata guru prakarya. Saya tersenyum kecut, kalau anak lupa bawa alat-alat dan bahan-bahan, pasti ibunya yang kurang perhatian, bukan?
“Pengetahuan geografinya melebihi teman-temannya,” kata guru geografi.
“Bintang itu asyik, kalau ditugasi menulis paper sejarah, pasti ada gambar komiknya tentang pahlawan-pahlawan Inggris. Dia sangat kreatif,” kata guru sejarah.
“Bahasa Perancisnya agak susah ya? Maklum, dia kan baru belajar bahasa Inggris …” kata guru bahasa Perancis. Aduh, bahasa Indonesia saja bahasa kedua, Inggris ketiga, ada Jerman dan Perancis lagi.
Begitulah. Sampai semua guru selesai melapor secara lesan, dan sama sekali tak ada pembicaraan pembayaran ini itu. Memang, pada saat liburan ada rekreasi, siswa diminta membayar 5 pound. Tapi di formulir itu ditulis nyata: “Bagi yang tidak membayarpun, tetap diperbolehkan ikut rekreasi ini.” Saking santunnya peraturan itu, saya dengan senang hati membayar 5 pound, meski tahu dengan tidak membayarpun Bintang tetap bisa pergi.
Pelaporan oleh guru pada orangtua itu berlangsung 3 kali dalam setahun. Selama bersekolah setahun di situ, Bintang meraih gelar-gelar dan penghargaan sebagai berikut: siswa paling rapi pakaiannya (katanya, siswa lain jas dan dasinya awut-awutan), siswa teladan di kelas 8, juara mendisain dengan komputer, juara menggambar, penulis esai sejarah terbaik. Wajar kalau teman-teman saya curiga (bercanda atau serius) bahwa esai Bintang ditulis oleh ibunya. Tapi anak itu sangat mandiri dan tidak bilang kalau ada lomba menulis esai, tahu-tahu pas mau berangkat ditunjukkan saya. Banyak kesalahan bahasa (grammar) tapi alurnya lumayan. Kata gurunya, contentnya bagus, banyak didukung riset perpustakaan. Apalagi covernya sebuah lukisan Henry VIII yang sangat bagus, lukisannya sendiri.
Pada akhir tahun pelajaran, selain diundang untuk mendapatkan laporan lesan, orangtua juga menerima sebundel laporan tertulis. Ada grafik perkembangan anak (anak saya naik turun di bidang studi yang berbeda), catatan pribadi guru, lalu angka terakhir. Setiap bidang studi satu lembar laporan, dan setiap guru tandatangan di lembar itu. Baru lembar teratas, menyimpulkan semua laporan guru, adalah pernyataan kepala sekolah.
Komentar Bintang
Bagaimana pengalaman Bintang bersekolah di Inggris? “Gurunya tidak pernah marah Bu. Waktu di SD dulu, guru suka marah-marah di kelas, apalagi kalau anak-anak ramai.” (Saya membayangkan, ya di Indonesia satu kelas 50 siswa, di Inggris 20). Apalagi? “Bu, setingkat SMP di sini anak laki-laki kok disuruh pakai celana panjang ya? Apa karena dingin atau kesopanan? Kalau untuk orang Islam kan memang baik, anak yang sudah sunat, akil balik, mestinya pakai celana panjang. SMP di Indonesia kan masih pendek Bu. Nanti aku pulang, pakai celana pendek lagi? Seperti anak kecil …”
Pemikiran yang cermat.
Alhasil, Bintang bersekolah satu tahun tidak membayar sepeserpun, bahkan buku juga –termasuk buku tulis- tidak pernah beli. Apakah tabungan kami Rp 15 juta yang ludes untuk beli tiket pesawatnya itu sesuai dengan yang kami dapat? Kami pikir-pikir, waktu itu Bintang baru diterima di SMPN 21, pasti ada biaya uang gedung, biaya SPP setahun, beli buku-buku teks 2-3 kali setahun, buku tulis, beli seragam (termasuk pramuka dan olahraga), tabungan rekreasi, transpor antar jemput …… . Yah, saya pikir, impaslah nilai materinya. Tapi nilai non-materinya tak dapat diukur.
Saya mengamati, pendidikan di Inggris tidak semaju di Indonesia. Matematika misalnya, mirip level SD, padahal itu materi kelas 8 (setara SMP kelas 2). Bintang selalu mendapat nilai terbaik untuk Matematika. Namun setahun setelah itu, kembali ke Indonesia, ditest di SMPN I, matematikanya bernilai 35! Geografi juga, siswa Indonesia lebih banyak pengetahuan dibanding siswa di Inggris. Namun saya amati, di sekolah menengah, siswa telah diajari untuk siap terjun ke masyarakat. Anak-anak diajari memasak (pizza, spagheti, burger), pertukangan (menggergaji), mendisain (membuat tas untuk CD), dst. Yang lebih penting dari itu, para guru dan kepala sekolah benar-benar bersikap melayani dan mengabdi. Apakah karena gaji guru di Inggris sudah besar? Tidak juga, masih ada demo para guru menuntut kenaikan gaji. Masalahnya, meskipun gaji masih dalam taraf perjuangan (sama dengan di Indonesia), guru tidak melalaikan tugas utamanya. Tak ada alasan mengajar seenaknya wong gaji kecil. Gaji kan urusan pemerintah, pendidikan yang baik adalah urusan bangsa untuk jangka panjang.
Lulus high school, anak Inggris lebih siap hidup di dunia realita dibanding sarjana S1 lulusan perguruan tinggi Indonesia. Anak Indonesia lebih pintar, tetapi tidak lebih siap/matang. Anak Inggris tidak pintar, biasanya mereka tidak langsung masuk perguruan tinggi, melainkan mencari pengalaman dulu, bekerja, lepas dari orangtua, lalu dua tahun kemudian, masuk perguruan tinggi dengan uang hasil keringat mereka sendiri. Kuliahpun sambil bekerja. Berbeda dengan anak Indonesia, yang S1 sampai S2nya masih dibantu orangtua, dan sudah luluspun dari S2, masih mengharapkan bantuan orangtua untuk mendapatkan pekerjaan.
Di London, meskipun kami hidup sangat pas-pasan, saya merasa telah memberikan pengalaman hidup terbaik bagi Bintang. Sekarang dia diterima di SMUN 20, setelah lulus dengan nilai sedang dari SMPN 35 (dia ditolak masuk SMPN I). Nilainya tidak pernah masuk ranking, tetapi melihat cara dia menghadapi dan mengatasi persoalan dalam kehidupannya sehari-hari, saya mantab dan tenang. Dia akan bisa jadi orang.
menarik sekali artikelnya, sangat menginspirasi..
boleh saya forwardkan ke beberapa teman yg mungkin membutuhkan ?
terima kasih
Silakan, senang juga tulisan bisa memberi manfaat bagi orang lain.