Sirikit Syah, Keteguhan Mengawasi Media


2008-10-12 10:32:00

Sirikit Syah, Keteguhan Mengawasi Media

 

Sirikit Syah rajin mengumpulkan tulisan yang mengupas infotainment. Ia mengeditnya untuk dijadikan buku.

Aktivitas keseharian Sirikit memang tak jauh dari dunia media massa. Sempat menjadi pemimpin redaksi Surabaya Post, setelah mengundurkan diri kini ia aktif lagi sebagai pengawas media. Aktivitasnya sehari-hari ya mengamati media. ”Kegiatan saya sehari-hari setelah urusan rumah tangga selesai adalah menonton TV sambil menulis,” jelas mantan ketua KPID Jatim itu.

Sirikit bisa menulis sambil menonton televisi. Ia menulis kolom untuk media dan mencatati hal-hal janggal yang ia temukan dalam acara televisi.

”Saya punya ‘excuse’ untuk memelototi televisi. Saya kan harus menonton semua dan terus-menerus. Sampai anak-anak saya juga suka nonton TV. Tampaknya tidak baik ya? Tetapi karena sambil nonton saya mengomentari, anak-anak saya punya kesadaran pilihan tontonan yang bagus,” tutur dia.

Ia memang suka mengajak anak-anaknya menonton televisi bersama. ”Mereka sampai bosan dan jengkel: ‘Ibu tuh kalau nonton kok banyak komentar sih?’ Tapi, lama-lama mereka menjadi sangat selektif. Mereka punya selera menonton yang baik. Bahkan satu di antaranya suka mencatati kejanggalan dan kesalahan penggunaan bahasa Indonesia oleh para presenter dan reporter televisi,” tambah Sirikit.

Sebagai pengamat media, Sirikit menilai televisi di Indonesia sudah lumayan sebagai media hiburan. ”Bahkan, jauh lebih menghibur dibanding televisi-televisi di negara-negara lain di mana saya pernah tinggal. Sebagian besar siaran hiburan televisi Indonesia yang gratis itu, di AS atau Inggris, masuk ke Cable TV. Orang harus membayar/berlangganan untuk menonton MTV atau film kartun, atau ESPN, misalnya,” jelas dia.

Saking lumayannya, kata Sirikit, ”Di Indonesia, kita bebas nonton video klip yang gambar modelnya hampir setengah telanjang.” Untuk fungsi edukasi dan pembangunan budaya, menurut Sirikit, ”Program televisi kita masih payah.”

Di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, memberi kuliah kepada mahasiswa, mengamati media, mengisi acara siaran radio, menjadi pembicara di seminar-seminar, Sirikit menerima wartawan Republika, Masduki Mohammad, September 2008. Berikut petikan wawancaranya:

Apa yang membuat anda tertarik melakukan pemantauan media?
Karena, bagaimana pun, media mesti diawasi. Apalagi saat pers sudah bebas. Di alam demokrasi, setiap orang berhak dan berkewajiban saling mengawasi. DPR diawasi oleh Parliamanet Watch, pemerintah diawasi Government Watch, semua pejabat publik diawasi oleh Corruption Watch, bahkan semua orang diawasi oleh media. Lha, masak media tidak diawasi? Enak betul?
Tetapi, siapa yang mau dan mampu mengawasi media? Bukankah pemerintah, militer, dan partai politik tak boleh mengawasi media? Karena media dikonsumsi masyarakat, maka konsumennya yang berhak mengawasi media. Apakah mereka berkemampuan? Tentu ada anggota masyarakat yang mampu: Kalangan perguruan tinggi, para jurnalis senior yang idealis, dan lain-lain.

Peran apa yang Anda ambil dalam mengawasi media?
Boleh ditelusuri dari sejarah pers di Indonesia, boleh dikata nama saya identik dengan kata media watch. Saya mengawasi media secara independen sejak 1997. Saya menerbitkan buku Media Massa di Bawah Kapitalisme tahun ini. Saya juga membangun Lembaga Konsumen Pers tahun 1999, berkembang menjadi Lembaga Konsumen Media tahun 2000. Selain mengawasi, mengkritik, dan menyemprit, kami juga mengapresiasi pencapaian-pencapaian media. Kami memberi penghargaan FAIR (fairness and accuracy in reporting) tahun 1999 dan Peace Journalism tahun 2000 kepada media di Indonesia yang terpilih berdasarkan riset. Jujur saja, Republika tergolong tidak peace dalam pemberitaan tahun 2000-an itu, saat banyak konflik Islam-Kristen di Indonesia.
Jadi, peran saya, saat pers bebas tahun 1998 (runtuhnya Orde Baru), di kala banyak orang berpesta dengan kebebasan (kebebasan berpolitik dan kebebasan pers), saya sudah berpikir tentang perlunya pengawasan media. Saya pencetus wacana media watch di Indonesia, meskipun di Barat ini bukan hal baru.

Apa yang sudah Anda lakukan dalam pemberdayaan pemirsa agar tidak jadi korban tayangan televisi atau menjadi korban media massa pada umumnya?
Sebelum KPI dan MUI mengimbaukan program layak tonton atau tidak layak tonton, kami (LKM) sudah melakukannya sejak 1999. Hanya karena kami tidak didukung dana sebesar KPI, MUI, atau Dewan Pers, gaungnya hanya bersifat lokal (Surabaya/Jatim), meskipun yang kami soroti adalah media nasional. Jadi, sosialisasi dan edukasi pada masyarakat rutin kami lakukan, melalui berbagai seminar, diskusi, buletin bulanan, bahkan siaran radio interaktif setiap minggu di radio Suara Surabaya.
Saya melihat dampaknya cukup signifikan. Kualitas pers meningkat, kesadaran akan hak dan tanggung jawab konsumen media juga meningkat. Kami terus mengampanyekan: Rakyat berhak memilih konsumsi medianya, dan sebaiknya memilih sesuai kebutuhan, hindari program yang dirasa akan menyesatkan atau merugikan diri sendiri.
Kini masyarakat lebih dewasa menyikapi pers yang keliru, misalnya. Penyerbuan Banser ke Jawa Pos, itu mungkin terakhir kali masyarakat melakukan tindakan anarki kepada media. Itu sudah delapan tahun yang lalu. Belakangan, Surabaya dan Jatim relatif terhindar dari isu sengketa media, terutama yang diwarnai kekerasan/kebrutalan.

Sudah mendapat pengalaman apa selama aktif di LSM pemantau media, ketika berhadapan dengan pemilik televisi maupun masyarakat yang 24 jam menyetel televisi?
Kalau dari pihak media, yang paling berkesan ketika tahun 1999 itu ada wartawan yang mengkonfrontasi saya. “Kau kurang kerjaan ya? Ngapain sih usil pakai ngawasi media?” Saya jawab, “Lha, kalau pers ngawasi orang, apakah itu juga tidak usil namanya?” Dia nyerang lagi: “Apa jaminan bahwa penilaianmu tidak subjektif? Siapa percaya?” Saya jawab: “Kami pakai ukuran Anda juga, yaitu kode etik jurnalistik dan hukum media. Itu ukurannya. Semua penilaian kami terukur. Siapa mau membantah kode etik dan hukum media?”
Di televisi juga, ketika saya menjadi ketua KPID Jatim (tahun 2004), kami didatangi 20-an anggota tim produksi Pojok Kampung-nya JTV, yang mendebat imbauan kami. Kami mengimbau mereka agar jangan menggunakan kata-kata saru (tak patut), bahkan cenderung vulgar dan jorok, dalam program mereka yang berbahasa Jawa Suroboyoan. Menurut penilaian kami, bahasanya cenderung kasar. Kami berdebat keras. Meskipun tampak bersikukuh pada pediriannya, saya melihat Pojok Kampung JTV berkembang ke arah yang baik: Tak ada lagi kata-kata kasar/jorok yang tadinya diklaim sebagai bahasa sehari-harinya arek Suroboyo itu. Saya ini arek Suroboyo, tidak begitu cara berkomunikasi kami selama ini.
Kalau dari masyarakat, terpantau dengan rapi dan jelas dari siaran-siaran interaktif kami di radio Suara Surabaya. Pada umumnya, hampir 80 persen masyarakat setuju dengan gerakan kami dan mulai menerapkan di keluarganya. Yaitu, memilih program yang sesuai kebutuhan, hindari program yang tak berguna.

Pengalaman yang paling mengesankan dalam memberdayakan pemirsa agar melek media?
Kebanyakan masyarakat kita sudah melek media. Namun, wacana atau gerakan media watch memang masih asing. Saya, misalnya, berseberangan dengan Saudara Hinca Panjaitan (mantan anggota Dewan Pers) dan Dewan Pers pada umumnya dalam hal sengketa media. Menurut saya korban pers berhak melakukan proses hukum, dengan atau tanpa melalui mekanisme Hak Jawab. Pandangan Hinca dan Dewan Pers, juga AJI, Hak Jawab itu sebagai sebuah Kewajiban. Orang yang mengadu ke polisi karena dirugikan media, dianggap mengkriminalkan pers, mereka dituntut gunakan Hak Jawab.
Menurut saya, lebih baik orang memproses lewat jalur hukum agar kedua belah pihak belajar dari kasusnya. Saya tidak setuju kekerasan fisik terhadap media. Saya juga tak setuju kekerasan verbal oleh media.

Adakah kompromi dalam memperjuangkan sesuatu
Tentu saja ada. Tetapi, ada batasan sesuai ukuran moral saya, apa yang bisa dikompromikan dan apa yang tidak. Ketika di KPID Jatim, seharusnya tiga tahun. Dua tahun saya sudah mundur, karena dalam dua tahun itu saya berusaha keras untuk kompromi, demi amanah yang disandangkan pada saya untuk mengatur dunia siaran di Jatim. Namun, ada batas yang tak tertembus, dan saya tahu batas kemampuan saya. Bila pilihannya adalah terlibat atau mundur, saya pilih mundur. Sebagian orang mengagumi saya, dianggap pahlawan kebenaran. Tapi, tak sedikit yang bilang saya pengecut, tak punya nyali, lemah mental, dan lain-lain. Saya ikhlas saja. Persepsi orang berbeda-beda. Namun, sebagai yang mengalami, ongkosnya terlalu mahal kalau saya tetap di dalam KPID, saya tidak sanggup menanggungnya.

Dalam menjalani kehidupan ini, apa prinsip yang Anda gunakan?
Prinsip saya, ngelmu iku kalakone kanthi laku. Ilmu itu tak ada gunanya bila tidak diamalkan. Saya punya kenalan seorang doktor yang pelit ilmu. Bukunya tak boleh dipinjam, kalau ceramah ilmu yang dikeluarkan sedikit sehingga pengundangnyapun kecewa, enggan berbagi informasi terbaru. Orang-orang heran kalau saya selesai presentasi, siapapun boleh mengunduh materi presentasi saya. Beberapa teman sesama penceramah di dunia jurnalistik saya supply materi-materi yang saya punya. Perpustakaan mini saya terbuka untuk umum dan buku boleh dipinjam. Kalau ke luar negeri, teman-teman saya bawakan buku yang sama dengan saya. Teman saya heran: “Kau tak takut tersaingi?” Saya katakan, “Itu sudah diatur oleh Allah. Lagipula, ilmu berkembang. Dengan saya berikan, ilmu saya tidak berkurang, malah bertambah. Ilmu saya akan berjalan ke mana-mana dan sampai kapan pun. Karena saya tidak pernah merasa kecurian, melainkan berbagi.”

Lahir dari Keluarga Abangan

Menilik latar belakang keluarga Sirikit Syah, memakai jilbab merupakan langkah besar dalam perjalanan hidupnya. “Saya dibesarkan di tengah keluarga abangan,” ungkapnya. Orang tuanya tidak menjalankan tuntunan Islam yang sebenarnya.

Kalau orangtuanya mengadakan kenduri, mereka masih menerapkan adat orang Jawa tradisional. Lengkap dengan sesaji bagi arwah leluhur. Tak ayal, Sirikit ‘asing’ dengan ajaran agama di rumah. Bersama 11 saudara lainnya, dia tidak pernah diajari baca Alquran atau shalat.

Pelajaran Agama Islam di sekolah menolong Sirikit remaja. Dengan bakat dan kecerdasannya saat itu, Sirikit mampu menghafalkan berbagai doa dan gerakan shalat serta mengenal huruf Arab. “Insya Allah sekarang sudah bisa dan meski masih harus banyak belajar,” jelas Sirikit.

Kesadaran beragamanya semakin menebal. Ia terus memacu dan menata kehidupannya dengan balutan spiritual. Itu ia mulai saat dirinya menikah pada 1986. Peran suaminya diakuinya sangat besar dalam mendorong keinginanya agar lebih giat belajar ilmu-ilmu agama dan mengaji. “Bersyukurlah mempunyai suami yang baik hati,” kata dia.

Meski mengaku sudah mengenal sosok Nabi Muhammad sejak sekolah, namun dirinya belum mengetahui tentang teladan kehidupan Sang Nabi. Ia mengaku tercengang melihat tuntunan dan cerita kehidupan Muhammad. “Begitu membaca buku tentang Rasulullah, sungguh saya terkesan dengan kehidupannya. Terutama ketika dia berjuang menyebarkan agama Islam,” tutur penerjemah buku History of God (Asal-usul Tuhan) karya Karen Armstrong itu.

Saat ini, Sirikit didapuk menjadi pengisi kolom di majalah Sabili, Peduli, dan Az-zikra. Otomatis, Sirikit semakin dekat dengan lingkaran pergaulan kaum religi. Tawaran kuliah program S3 gratis di Bogor atau Solo untuk mendalami Islam pernah didapat. “Tetapi saya tolak, saya cukup membaca buku-buku dari mereka saja,” ujar penerima fellowships dari Hubert H Humphrey Foundation di Amerika Serikat ini.

Ia menolak tawaran itu, dengan alasan ia tidak bermaksud menjadi pendakwah. Ia merasa cukup mendalami Islam dari forum lain.

Sikap liberal orangtuanya membuat Sirikit menjadi sosok berani untuk mengungkapkan pikiran. Keputusannya yang kerap mengundang pro dan kontra dianggapnya sebagai hal positif dalam kehidupannya.

Belajar dari masa kecilnya, ibu dua anak remaja ini mengajarkan agama kepada anak-anak melalui contoh perbuatan. Sembari mengingatkan mereka untuk terus beribadah. “Mereka juga guru saya ketika mengaji. Karena kemampuan mereka lebih baik dibanding saya,” ujar dia.

(-)
© 2008 Republika Online. Republika Company. All Rights Reserved.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s