Bedah buku Otobiografi Lubna Algadrie
29 Januari 2008
Pertama-tama saya merasa mendapat kehormatan dipercaya oleh Bu Lubna untuk mengomentari atau membedah bukunya yang baru terbit ini. Sebelum membahas bukunya, mari para hadirin saya ajak ke masa-masa saya menjadi mahasiswa sastra Inggris di IKIP negeri Surabaya di awal tahun 80-an, bagaimana saya kenal dan dekat dengan Bu Lubna. Bu Lubna tak pernah mengajar saya, kalau tak salah waktu itu Bu Lubna menajar di IKIP Malang. Namun kok saya kerap bertemu beliau ‘berkeliaran’ di kampus IKIP Ketintang ya?
Meskipun tak pernah diajar Bu Lubna, entah mengapa, saya seperti ada chemistry dengan Bu Lubna. Saya merasa akrab. Belakangan saya simpulkan, mungkin pada masa remaja dan awal dewasa saya itu, saya sudah ‘mencium’ –punyainsting- bahwa saya akan menjadi perempuan seperti Bu Lubna: super aktif, pantang menyerah. Di tahun-tahun berikutnya, setelah lulus IKIP, saya seperti bertemu Bu Lubna dimana-mana: di British Council Cokro Aminoto, di ITS, di seminar-seminar dan social events. Jadi, ketika saya dipercaya sebagai orang pertama yang membaca otobiografi ini, bahkan sebelum buku ini masuk ke percetakan, saya senang sekali dan merasa mendapat kehormatan.
Dari sudut pandang perbukuan, buku ini tergolong the real autobiography, karena ditulis sendiri oleh yang empunya biografi. Ada buku biografi, yaitu riwayat hidup tokoh yang ditulis oleh orang lain. Bahkan tak sedikit otobiografi kita jumpai, yang ternyata juga ditulis oleh orang lain. Buku ini istimewa karena kepekatan rasa personalnya. Betul-betul keluar dari lubuk hati yang mengalami perjalanan panjang kehidupan, tak lebih tak kurang. Bahkan tak ada sentuhan editor/penyunting, sebagaimana layaknya buku pada umumnya. Ini bisa menjadi daya tarik (karena orisinalitasnya), namun bisa juga menjadi kelemahan (karena penyajian yang less than the real value of the story). Namun kekuatan besar buku ini adalah terpenuhinya syarat-syarat bacaan yang baik: ada drama, suspense, humour, message, and morals.
Menurut saya, buku “A Long Journey of a Single Parent Teacher” ini adalah kisah yang luar biasa –one of a kind- dalam bungkus penyajian yang agak terlalu sederhana. Buku ini terkesan ditulis secara terburu-buru. Kurang perenungan, kurang polesan, kurang sentuhan editing. Seandainya saya diperkenankan menuliskannya, saya akan menjadikannya a fictionized documentary. Bermanfaat, jelas, plus enak dibaca.
Penulis sangat taat pada urutan kronologis. Urut-urutannya sangat runtut, tak ada flash back, tak ada flash forward. Bahkan nyaris tak ada klimaks, karena tampaknya klimaks kecil-kecil tersebar dimana-mana: dari pengalaman kengerian tahun 1965, kehilangan orang-orang paling dicintai, suka duka mengasuh anak sendirian, hingga kegagalan menjadi guru besar di lembaga tempatnya mengabdi selama lebih dari 30 tahun. Ya, klimaks Bu Lubna ada dimana-mana, nyaris di sepanjang waktu hidupnya.
Ketaatan pada kronologis ini memudahkan pembaca dari kelas apapun, terutama kelas berpendidikan menengah bawah; namun bisa membosankan dan kurang ’greget’ bagi pelahap buku berpendidikan menengah ke atas. Tapi tak apa, mungkin maksud buku ini memang untuk pembaca berpendidikan sedang dan bawah, sebagai suatu motivasi dan teladan tentang ketegaran seorang orangtua tunggal dan profesionalisme perempuan karier.
Meskipun menurut saya buku ini ”could have been written much better”, saya sangat menghayati kisahnya. Jujur, kadang saya membandingkan Bu Lubna dengan ibu saya, yang pada usia 29 tahun juga menjadi janda dengan 7 anak (saya kedua terkecil). Ibu kemudian menikah lagi dan menambah anak-anak dengan anak bawaan ayah tiri dan anak ibu dan ayah tiri, menjadi tiga belas. Sering saya menyesali, mengapa ibu tak seperti ibu-ibu single parent lainnya, seperti Bu Lubna, yang teguh dan gigih berkonsentrasi pada anak-anak. Ibu saya tidak miskin, ibu saya janda kaya. Namun semua pada ahirnya saya syukuri, setiap langkah manusia sudah digaris oleh Allah. Bila ibu saya tidak menikah lagi dan kehidupan kami tak mengalami turbulence, mungkin saya tidak menjadi saya seperti sekarang. However, saya selalu angkat topi pada ibu-ibu single parent.
Saya tersenyum-senyum kecil membaca kisah-kisah cinta Bu Lubna yang dipaparkan dengan sangat polos. Asyik juga membaca kisah percintaan yang real dari gadis-gadis jadul (jaman dulu). Saya juga ikut gregetan membaca perjuangan Bu Lubna meraih gelar guru besar, yang gagal, dan merupakan satu kekecewaan dalam hidupnya. Life is not always what you want it to be. The art of it is how you face it. Bu Lubna menghadapinya dengan dignity.
Saya terkesan pada cara pendidikan orangtua Bu Lubna yang modern namun terjaga. Bahkan table manner saja diajarkan di rumah sejak usia dini. Berapa banyak orangtua masih melakukan hal itu? Pendeknya, bagian pertama buku otobiografi ini sangat menyedot emosi saya saat membaca. Bagaikan gelombang air laut, kisah Bu Lubna membuatku sedih, menangis, lega, kagum, tertawa, tegang, kecewa, marah, luapan-luapan emosi yang amat personal. Banyak sekali yang dapat kita pelajari dari buku ini: tak sekadar keteguhan seorang wanita karir dan single mom, tetapi juga wisdom orang tua-tua jaman dulu. Ketika ayah Bu Lubna melarangnya pergi ke AS pada kesempatan pertama, sang ayah mendoakan ”kelak kau akan pergi ke sana”. Doa orang tua is the best wish you can get. Seperti yang ditulis dalam buku The Secret, whatever your wish is the nature’s command. Apapun yang kau inginkan, alam semesta akan membantumu mewujudkannya.
Satu lagi yang saya kagumi dari buku ini adalah catatan-catatannya yang luar biasa lengkap. Ilustrasinya juga sangat menarik. Buku ini benar-benar menarik, dan sangat patut dibaca oleh semua perempuan di Indonesia, dan laki-lakinya juga, supaya tahu bahwa nothing is stronger than a woman’s spirit to survive, and nothings last longer than a woman’s true love.
Sirikit Syah
Surabaya 29 Januari 2008