Kira-kira setahun yang lalu, Indonesia dihebohkan oleh goyang ngebor Inul dan para pengikutnya (goyang patah-patah, goyang ngecor, goyang maut, goyang kayang, dll). Perdebatan sengit pro-kontra Inulpun mewarnai pemberitaan di media massa cetak maupun eletkronik. Emha Ainun Najib sampai tega-teganya menulis: “Wajah Kita, Pantat Inul” di harian Kompas. Sebagian orang mengatakan goyang Inul itu seni, sebagian lain mengatakan, itu pornoaksi dan pornografi, sebagian lain mengatakan itu kebebasan berekspresi dan HAM yang harus dilindungi.
Saya sendiri setuju HAM Inul dan kebebasannya berekspresi dengan goyang sesuka hati dibela mati-matian, kalau saja itu dilakukan di ruang terbatas dengan audience terseleksi, bukan di layar kaca, dan diputar selepas Maghrib. Persoalannya sederhana, bukankah layar kaca, medium yang diakses massa, memiliki kaidah-kaidahnya sendiri, yang berbeda dengan kaidah pertunjukan bebas di kelab-kelab malam?
Menurut catatan Lembaga Konsumen Media, ada beberapa kejadian kriminal di Jawa Timur yang diilhami (tidak dalam tanda petik) oleh goyang Inul. Anak-anak belasan tahun memperkosa anak tetangganya karena terangsang seusai menonton goyang Inul. Seorang istri bunuh diri karena suaminya tergila-gila pada Inul.[1] Para ahli memang berkilah bahwa “Itu tidak merepresentasikan pengaruh televisi pada masyarakat. Angkanya terlalu kecil.” Ya, tetapi, kita menunggu angka berapa untuk dianggap serius?
Di Amerika Serikat juga ada setumpuk catatan bagaimana karya seni berdampak pada masyarakat saat ditampilkan melalui media massa:
- Film The War of The Worlds membuat masyarakat betul-betul mengiranya sebagai peringatan pemerintah, dan mereka mensikapinya dengan mengungsi secara massal dengan berjalan kaki atau mengendari mobil mereka.
- Setelah The Deer Hunter diputar di bioskop-bioskop, setidaknya ada 25 penonton yang mempraktekkan Rusiian Roulette itu dengan menembak kepala mereka sendiri.
- Sebuah talk show yang dipandu Jenny Jones berakhir dengan seorang tamu menembak tamu lainnya karena tersinggung.
- Di LA, anak usia 7 tahun kedapatan menyebarkan pecahan kaca ke dalam makan malam keluarganya, meniru “yang ditontonnya di televisi”.
- Meskipun demikian, dampak positif dicatat saat para penonton film Gandhi di New York mendadak berperilaku sopan saat menonton, saat break, dan saat anti beli pop-corn; di luar kebiasaan orang-orang New York yang suka suka main serobot di loket bioskop dan kedai pop corn. Pengaruh Gandhi?
Berbicara masalah “pengaruh” dan “dampak” media massa, seringkali hal ini lebih ditekankan pada metode: bagaimana prosedurnya dan apa ukuran-ukurannya. Perhatian berlebihan di wilayah ini mengaburkan aspek “apa” yang tengah diteliti: apa mempengaruhi siapa, atau siapa terkena efek apa. Meskipun pendekatan “Uses and Gratification”, yang dikembangkan sejak 1940 dan banyak digunakan dalam penelitian komunikasi, telah menekankan pentingnya “what the audience do to the media” dibanding “what the media do to the audience”, tetap saja berbagai penelitian komunikasi, khususnya mengenai pengaruh dan dampak, masih berkutat pada metodologi.[2]
Lebih menyedihkan lagi bila kita menginjak pada penelitian tentang audience yang dijadikan “dewa” oleh para penyelenggara siaran televisi dan radio. Mitos tentang rating (bahwa rating adalah cermin selera audience) yang dibentuk oleh satu-sua lembaga riset ini, menjadi satu-satunya pegangan bagi para programmer televisi dan radio. Semua penonton televisi tahu –yang suka maupun (apalagi!) yang tidak suka- bahwa Tersanjung adalah sinetron yang berselera rendah, membodohkan, membosankan. Namun bila ratingnya masih tinggi (dengan ukuran yang kurang sahih karena hanya di beberapa kota besar), biro iklan masih mensponsori tayangannya, maka stasiun televisi terus saja menayangkan. Siapa bilang televisi peduli pada audience? Televisi lebih peduli pada pemasang iklan!
Kualitas Sinetron Indonesia
Sinema elektronik, salah satu produk budaya massa, ditayangkan di televisi setiap hari, bahkan sehari beberapa kali. Kemanapun Anda memencet tombol, terutama pada jam-jam sore-malam hari, pasti ketemu sinetron. Boleh dikata, sinetron merupakan primadona program pertelevisian kita.
Sayangnya, sinetron kita tampaknya tidak mencerminkan diri kita, saudara/keluarga kita, kawan-kawan kita, tetangga kita, atau orang-orang di sekitar kita. Kalau dalam ilmu jurnalistik ada syarat ‘proximity’ (kedekatan) agar sebuah informasi dapat disebut ‘layak berita’, agaknya untuk sinetron ini tidak. Semakin jauh ceritanya berjalan di awang-awang, semakin itu bukan tentang diri kita atau orang yang dekat dengan kita, semakin getol televisi menayangkannya karena semakin banyak orang menontonnya.
Sejauh pengamatan penulis, hanya ada dua-tiga sinetron yang mungkin mencerminkan diri kita dan orang-orang yang dekat dengan kita, yaitu seri Si Doel, Keluarga Cemara, dan Bajaj Bajuri. Seri Si Doel ini saat pertama ditawarkan kepada SCTV sekian tahun yll, ditolak karena tidak menjual mimpi seperti telenovela Amerika Latin yang sedang laris saat itu. Sebelum Si Doel terlunta-lunta, dia diterima dengan semangat membantu, bukan mencari untung komersial, oleh RCTI. Sekian tahun berjalan terbukti, RCTI mendapat banyak keuntungan dari Si Doel, yang menjadi sinetron terunggul selama kurun waktu tahun 90-an, baik dalam penilaian kualitas maupun penilaian komersial berdasarkan rating (yang artinya dibanjiri iklan).
Namun sikap RCTI ini tidak konsisten ketika membeli Keluarga Cemara dari TVRI/TPI dan menayangkannya di jam-jam orang tidur siang atau tidak berada di rumah. Beberapa pemirsa yang setia tak henti-henti mengatakan bahwa Keluarga Cemara adalah sinetron yang bagus, mendidik, sesuai dengan budaya kita. Di antaranya lewat LKM Media Watch. Dalam salah satu siarannya di Radio SS, LKM Media Watch mengundang tamu Pemred RCTI Dja’far Assegaff dan pada siaran interaktif itu masyarakat menyerukan protes dan masukannya. Beberapa saat kemudian, Keluarga Cemara pindah ke jam tayang di sore hari.
Bajaj Bajuri juga mengalami nasib yang sama. Ditawarkan kemana-mana tak ada yang berminat, termasuk ke Indosiar. Mungkin karena dianggap tiruan Si Doel dan tiruan tak memiliki potensi keberhasilan seperti yang diikutinya. Bajaj lalu diambil oleh Trans TV. Di luar dugaan, sukses. Si Doel, Keluarga Cemara, dan Bajaj Bajuri hanya contoh langka dari produk budaya di televisi yang ceritanya berakar di masyarakat. Kebanyakan sinetron kita tidak demikian. Ciri sinetron kita pada umumnya:
- Tidak memiliki dasar cerita yang kuat, dan alurnya tidak jelas, bahkan terkesan (memang!) diolor sedemikian rupa untuk mengantisipasi pasar (alur mengambang dan ending menggantung).
- Karakter/tokoh dalam sinetron Indonesia kebanyakan adalah orang-orang yang “tidak riil”: sangat kaya, cantik, tampan, modis, keren, seksi. Bahkan antara ibu, nenek, dan anak perempuan/cucu sama mudanya (benar-benar kebodohan tata rias yang menganggap pemirsa bodoh!). Para tokohnya juga gemar mempraktikkan cara-cara licik, curang, kurang bermoral, dsb, untuk mencapai tujuannya. Atau, in contrast, tokohnya orang-orang lemah, bernasib malang, tak berdaya..
- Selain alur ceritanya penuh intrik dan pembalasan dendam, adegan-adegannyapun melanggar norma-norma agama dan tradisi/budaya masyarakat kita. Lelaki dan perempuan yang bukan suami istri berpelukan dan berciuman dengan bebasnya. Mahasiswa hamil di luar nikah ditampilkan sebagai persoalan biasa. Anak-anak SMP dan SMA digambarkan suka berkelahi, culas, dan bergaul bebas. Seorang anak gadis remaja memaki-maki ayahnya dengan kata-kata: “Ayah meniduri istri orang…!”, suatu kondisi yang tidak dapat dibayangkan terjadi dalam keluarga Indonesia.
Apa pengaruh sinetron-sinetron tersebut di masyarakat? Gaya hidup. Perhatikan perubahan masyarakat di sekitar kita. Apakah sinetron mencerminkan kehidupan kita, atau sebaliknya, kita sedang meniru apa yang disodorkan sinetron ke hadapan kita?
Bahkan film kartunpun sudah kehilangan pengaruh estetiknya. Bila anak-anak atau remaja menonton film kartun, yang tertangkap bukan “the art of drawing and filming sketches”, melainkan bagaimana kekerasan terjadi di kalangan binatang atau antara binatang dan manusia. Selain kekerasan, juga penipuan, kelicikan, yang berujung kemenangan. Seorang anak Balita di Surabaya membanting-banting kucingnya di rumah karena mengira –seperti di film kartun- kucing tidak apa-apa dibanting-banting. Seorang ibu rumah tangga juga mengadu ke Radio Kosmonita bahwa anak Balitanya mengancam “Mama saya bunuh…” bila si ibu tidak menuruti kemauan anaknya.
Entertainment
Sinetron hanya salah satu program entertainment dalam televisi kita. Masih banyak program lain, dalam lingkup yang mengandung unsur atau muatan “seni”. Dalam membicarakan entertainment, sesungguhnya terdapat dua kontras yang nyata; yang pertama mengenai ukurannya atas estetika, yaitu bahwa entertainment hanya sekedar “fun”, sesuatu yang menyenangkan, sesaat, tidak penting. Di lain pihak, masih dalam kerangka estetika, entertainment adalah bagian atau ekspresi dari “art”, sesuatu yang serius, transeden, dan agung. Kontras yang kedua terletak pada nilai politisnya: hiburan adalah sesuatu yang tidak signifikan, cuma pelarian; di lain pihak, entertainment adalah news, realitas, kebenaran.[3]
Jenis program televisi infotainment (information & entertainment) merupakan salah satu upaya awak televisi (dalam hal ini PH) untuk menggabungkan unsur berita dan hiburan, agar bisa lebih reaching out (menjangkau lebih luas) audience yang suka pada berita dan/atau hiburan. Namun yang terjadi, sebagai efek strategi jalan pintas menuju reaching out itu, adalah terjadinya dumbing down (pembodohan). Berita serius tentang selebritis digarap dengan selera terendah (isu murahan, kabar bohong, promosi artis haus popularitas, dll); dan pada saat yang sama, kualitas “art” para artis kita dikaburkan oleh isu dan gosip yang sama. Tak ada, atau sedikit sekali, pembahasan mengenai “karya cipta”, “proses kreatif”, “perjuangan menuju puncak”, “nilai seni karya musik/film”, dll. Paling “bermutu” adalah promosi (launching film, album, konser). Selebihnya gosip kawin-cerai, perselingkuhan, penipuan, perkelahian antar artis, dst.
Kesimpulan
Para seniman mestinya tidak “menjual diri” kepada kaum kapitalis dengan membuat skenario sekadarnya dan menyutradarai sinetron kejar tayang, karena selain ini merugikan masyarakat, juga menurunkan martabat kaum seniman sendiri. Sinetron dengan skenario berkualitas (digarap dengan sungguh-sungguh) dan penyutradaraan yang cermat (tidak terburu-buru) bisa juga meraih sukses komersial plus penghargaan bergengsi bagi para awaknya.
Pemerintah mestinya menerapkan proteksi atau perlindungan pada budaya nasional, antara lain dengan memberikan subsidi pada penggarapan-penggarapan karya seni yang akan ditampilkan melalui media massa (Garin Nugroho membuat film-film tentang anak-anak Nusantara dengan bagus atas biaya lembaga donor asing!). Cara lain dengan memberikan pembatasan pada invasi budaya asing melalui aturan kepemilikian radio/televisi dan standar content programming (di Perancis, semua film asing mesti didubbed dalam bahasa Perancis, demikian pula di Jepang; atau lisensi-lisensi program yang meniru –seperti Joe Millionaire, the Swan, yang tak sesuai dengan tradisi dan budaya bangsa- dibatasi).
Penulis adalah Pendiri Lembaga Konsumen Media “Media Watch”. Makalah ini disajikan dalam Kongres Kesenian Indonesia Tahun 2006