Bila bercerita mengenai Amerika Serikat, nama yang kuingat pertamakali adalah Janet. Aku tiba di bandara San Fransisco yang luar biasa besar dan hiruk pikuk pada suatu siang hari di bulan Juli 1994. Itulah pertamakalinya aku menginjakkan kaki di Tanah Impian. Dari situ, aku naik pesawat kecil ke Sacramento, ibu kota negara bagian California. Amerika Serikat memang unik, ibukota negara bagian bukan kota terkenal. California, misalnya, bukan Los Angeles atau San Fransisco, melainkan kota tua Sacramento. Pesawatnya sangat kecil, penumpangnya hanya 11. Waktu itu aku memang tercengang, karena di Indonesia terbiasa dengan pesawat-pesawat besar. Tetapi dengan berjalannya waktu, aku mengetahui bahwa pesawat kecil merupakan transportasi umum antar kota dan negara bagian di AS, seperti orang Indonesia naik bus antar kota/propinsi.
Penerbangan dari San Fransisco ke Sacramento memakan waktu 1 jam. Di Sacramento, aku sudah ditunggu oleh petugas dari UCLA Davis, Extension Center. Kami kemudian menunggu beberapa mahasiswa asing lain yang diharapkan tiba pada waktu yang relatif bersamaan dengan pesawat yang berlain-lainan. California luar biasa panas di musim panas itu. Dari bandara, kami meluncur ke kota kecil, Davis, tepatnya menuju ke Extension Center, di kawasan kampus UCLA. Setelah mengurus beberapa urusan administrasi, kami siap menuju tempat tinggal kami masing-masing. Ada yang pesan untuk tinggal di asrama mahasiswa. Sejak masih di Indonesia, aku telah berpesan untuk dapat tinggal dengan keluarga Amerika, bukan di asrama mahasiswa. Aku memang ingin bergaul dengan keluarga Amerika agar benar-benar dapat menghayati kebudayaan mereka. Dalam sebulan ini, di kelas Summer Program, aku akan belajar American Culture and Communication. Tak ada yang lebih mendukung perkuliahan itu daripada tinggal bersama keluarga Amerika, bukan?
Janet tiba dengan mobil tuanya. Tanpa basa-basi berlebihan, dia memperkenalkan diri sebagai hostess bagiku untuk sebulan ke depan. Dia seorang wanita kulit putih biasa saja, kira-kira usianya 40 tahun lebih sedikit, agak gemuk, tidak banyak bicara. Di mobil, dalam perjalanan menuju rumahnya, dia bercerita tentang dirinya. “Saya hidup sendiri. Ada satu anak laki-laki saya, tetapi sekarang dia sedang berada di Perancis,” katanya.
Setibanya di rumah, dia mempersilakan aku masuk dan memperkenalkan Terry, anjingnya yang hitam, besar, dan kelihatan agresif. Aku takut dan jijik pada anjing, tetapi sebagai orang Jawa, aku telah terlatih untuk tidak memperlihatkan perasaanku yang sebenarnya. Apalagi pada pertemuan pertama. Dalam hati aku jengkel pada panitia yang menempatkanku di rumah orang yang memiliki anjing! Kukira dengan mencantumkan agama islam dalam setiap dokumen resmi, aku terhindar dari kerumitan kecil seperti ini. Tadinya aku membayangkan keluarga Amerika adalah suami istri dan dua anak yang masih kecil atau remaja. Tetapi kelak dalam perkuliahan akan aku pelajari bahwa keluarga Amerika tidak sesederhana itu. Di tahun 90-an ini, bila Anda berbicara tentang “keluarga Amerika”, itu bisa saja single parent, pasangan samen leven (bukan suami istri), pasangan gay (lesbian atau homo), nenek dengan cucu, dll. Kurang dari 50% anak Amerika hidup dalam keluarga normal seperti konsep keluarga Indonesia; bapak, ibu, anak-anak, pembantu. Janet adalah salah satu di antara keluarga single parent itu..
Setibanya kami di rumahnya itu, Janet memberi tahu ini itu yang perlu, antara lain menunjukkan tempat makanan instan. Ada tumpukan kaleng bubur kacang merah, mi instan, dan berbagai makanan yang masih asing bagiku.
“Apa yang biasa Anda makan di Indonesia?” tanyanya sambil lalu.
“Hmm .. ikan, daging sapi …,” jawabku dengan nada biasa. Bukankah itu makanan yang umum di Indonesia? Tetapi agaknya bagi Janet, itu jenis makanan yang tak pernah ada dalam daftar belanjaannya.
“ Wah, maaf, saya orang Yahudi, dan saya vegetarian.”
Aku terkejut. Setelah “kejutan tak menyenangkan” soal ‘hidup bersama anjing’, kini kejutan berikutnya: dia seorang Yahudi dan vegetarian. Panitia tak pernah mengkonfirmasi padaku bahwa aku akan “dititipkan” pada seorang Yahudi vegetarian yang memelihara anjing!
Dengan wajah berusaha tetap semanis mungkin aku menjawab, “Tidak apa-apa. Anda makan apa? Saya akan makan apa saja yang Anda sediakan.”
Namun jawabannya lebih tidak menyenangkan lagi. “Saya cuma makan sayur-sayuran dan kacang merah. Lagipula, saya tidak akan menyediakan masakan untuk Anda. Silakan Anda mengurusi makanan Anda sendiri dengan bahan-bahan yang ada di sini.”
My God! Untuk itu aku harus membayar $500 sebulan? Aku teringat orangtuaku yang meskipun tidak kaya, tetapi senang saja menerima kawan-kawanku dari luar negeri (ketika aku masih mahasiswa di IKIP Negeri Surabaya). Mereka boleh menginap dan setiap hari makan masakan ibuku yang lezat-lezat dan bergizi, agak mewah dari hari-hari biasa, semuanya gratis. (Terimakasih, ibu!). Waktu saya tinggal di Jepang, ibu kawan saya juga memasakkan masakan istimewa selama saya menginap di situ. Mungkin bagi bangsa Indonesia dan Jepang, tamu harus dijamu. Tetapi di sini, aku bukan tamu, aku mahasiswa yang hendak indekost di rumah Janet. Tidak ada istilah menumpang gratis. Kita harus membayar! Buatku saat itu, sial benar. Sudah bayar, aku harus mengikuti selera makan nyonya rumah yang menurutku “payah” itu.
Tak lebih dari 20 menit, Janet meninggalkanku. “Saya harus kembali ke kantor,” katanya singkat. Saya menjadi bengong. Tidak ada masakan tersedia bagiku, padahal aku lapar sekali, setelah perjalanan 20 jam dari Indonesia. Tentu, ada makanan di pesawat, tetapi itu kan “makanan pesawat”, aku rindu “makanan rumah”.
Aku belum akrab dengan peralatan dapur Janet dan jenis-jenis makanannya, dan aku terlalu lelah untuk memasak di dapur yang masih asing bagiku. Untung di tasku ada beberapa potong roti sisa bekal di perjalanan. Aku menyantap bekal itu sambil membongkar kopor, lalu mulai belajar mengenali rumah. Rumah Janet tidak bagus atau mewah. Tetapi terutama, rumah itu tidak bersih. Bukan bayangan rumah Amerika yang selama ini ada dalam benakku. Kelak, aku menemukan kemiripan “ketidakbersihan rumah” yang sama di rumah perempuan Yahudi lainnya di New York. Aku berhati-hati untuk tidak melakukan stereotyping di sini. Tetapi yang kuungkapkan adalah fakta yang perlu diketahui untuk bahan perbandingan.
Menjelang sore hari, seorang laki-laki muda dan luar biasa tampan (gabungan antara Ricky Martin dan Antonio Banderas?) memasuki rumah. Sangat kentara dia orang Amerika Latin. Kulitnya coklat, wajahnya macho, rambutnya hitam berombak. Matanya luar biasa indah. Kami sama-sama terkejut. Janet tidak bilang apa-apa sebelumnya. Ternyata dia juga mahasiswa asing (benar dugaanku, dia dari Brasilia) yang menjadi tamu sebulan di rumah Janet. Aku senang mendapat teman bicara, tetapi payahnya, lelaki bernama Marco itu juga tak banyak bicara. Bukannya dia malu atau apa, tetapi bahasa Inggrisnya buruk. Jadi, kami berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Karena aku pandai bergaul, perbincangan kami cukup seru dan dia bisa ketawa-ketawa juga, meskipun kami lebih banyak menggunakan bahasa tubuh dan ekspresi wajah. Setidaknya, dia mau menyiapkan sepeda yang akan kugunakan ke tempat kuliah mulai besok. Dia juga berjanji akan selalu berangkat bersamaku pada pagi hari dan menjemputku di Extension Centre pada siang hari, sampai aku dapat menemukan jalanku sendri. Dia baik, tetapi terkesan dingin. Padahal dalam bayanganku orang-orang Latin itu hangat.
Setelah lelah berkomunikasi dengan bahasa tubuh, aku segera masuk kamar untuk beristirahat. Rasanya hari masih siang ketika kudengar suara-suara. Kulihat arloji. Sudah pukul 7 malam. Kutengok luar jendela, masih terang benderang. Seterang pukul 3 sore di Surabaya. Aku bingung dengan kondisi ini. Ya, ini memang summer di California, tetapi kesadaran itu tak menghilangkan kebingunganku. Di meja makan, Janet dan beberapa teman perempuannya tengah asyik bercengkerama.
“Sirikit, mari saya perkenalkan teman-temanku,” undang Janet, ketika melihatku keluar. Aku kira dia mengundang orang untuk memperkenalkan aku secara khusus. Ternyata tidak. Ini hanya pertemuan antara kawan dekat. Empat perempuan separuh baya itu memiliki kesamaan, kalau tidak Yahudi, ya .. aktivis feminisme. Terlihat dari materi pembicaraan mereka. Dinner disediakan secara khusus oleh Janet, dan semua tamu tampak mengagumi sajiannya. Bagiku …. terlalu sederhana untuk disebut dinner, apalagi disuguhkan kepada para tamu. Nasi putih, bubur kacang merah, acar timun dengan yoghurt. Sudah. Aku sudah kelaparan, maka meski ogah-ogahan kusantap juga makanan itu. Seperti biasa, kultur Jawaku membekaliku dengan perilaku santun yang menenggelamkan perasaanku yang sebenarnya. Lagipula, bisik hatiku, aku harus mulai mengenali makanan di rumah ini.
Lama-lama aku asyik mengikuti pembicaraan perempuan-perempuan itu. Mereka juga tampak tertarik padaku. Kami menjadi akrab dalam sekejab. Lagipula, aku hanya lebih muda beberapa tahun dari mereka.
“Sirikit, Janet bilang kamu sudah menikah dan punya dua anak?” tanya Susan.
“Iya benar.”
“Bagaimana kamu dapat meninggalkan mereka? Yang kami dengar, di Indonesia, wanita-wanitanya terbelakang dan terkekang. Apalagi wanita Islam.”
“Tentu masih ada yang begitu, tetapi yang seperti saya juga banyak,” jawabku.
“Bagaimana kamu dapat meninggalkan keluargamu?”
“Karena aku mendapat ijin dari suami.”
Mereka terkejut. Lalu terjadi perdebatan tentang perlunya wanita minta ijin suami untuk pergi kemana-mana. Sebagai feminists, mereka memandang rendah gagasan itu.
“Kalau saya tidak akan repot-repot minta ijin. Bepergian adalah hak kita juga, kan?” kata Janet, yang disetujui kawan-kawannya.
“Karena saya masih berstatus istrinya, saya harus minta ijin. Kalau tidak, apa artinya perkawinan? Menurut saya, kalau perempuan tidak mau menjalankan komitmen keluarga, ya tidak usah menikah saja,” jawabku tegas.
“Bagaimana kalau kamu minta ijin, lalu suamimu tidak mengijinkan?”
“Ya saya tidak akan berada di sini sekarang. Atau ….. mungkin saya berada di sini dengan predikat janda. Mudah saja, kan?”
Mereka terkesima dengan pandanganku. Agaknya inilah pertamakalinya mereka mendengar seorang perempuan Asia/Timur/Islam berbicara tentang diri mereka sendiri, dan apa yang mereka dengar sangat mengejutkan mereka.
Sejak peristiwa malam itu, Janet tampak respek dan dekat denganku. Dia tak lagi memandangku sebagai “just another student”, melainkan sebagai kawan. Menurutnya, dia sudah sering menerima mahasiswa muda di rumahnya, dan dia tidak mendapat apa-apa. Apalagi anak-anak muda dari Jepang atau Amerika Latin yang bahasa Inggrisnya serba payah itu. Janet tidak pernah benar-benar mengenal mereka karena nyaris tak ada “percakapan” di antara mereka.
“Bahasa Inggrismu sangat bagus. Terlalu bagus untuk bahasa percakapan, sebetulnya. Tetapi ya, komunikatif,” pujinya.
Denganku, dia merasa mendapatkan sesuatu yang baru. Apalagi kemudian dia suka mengundang teman-temanku yang kebanyakan sudah matang, profesional di negaranya, dan enak diajak berdiskusi tentang apa saja. Maklum, aku dan kawan-kawan dari berbagai negara adalah penerima bea siswa Fulbright atau Humphrey yang bergengsi itu (sangat selektif dan kompetitif).
Janet tidak suka dan tidak pandai memasak, sehingga soal makanan aku cukup menderita. Setiap pagi aku makan roti dengan olesan sekadarnya, lalu dia membekali kami (aku dan Marco) setangkup sandwich untuk makan siang di kampus. Sandwich ini isinya cuma rajangan sayur kubis atau selada diberi mayoinaise. Kadang-kadang diselipkan ikan tuna atau daging asap iris yang dibeli khusus untuk kami berdua. Malam hari aku biasa memasak sendiri mi instan atau nasi goreng. Kadang-kadang, pada siang hari aku pergi ke restoran Jepang atau Cina di dekat kampus untuk makan sepuasnya, nasi putih beserta lauk pauknya.
Di Davis, kota berpenduduk 35 ribu orang dengan jumlah sepeda sekitar 50 ribu itu, transportasi paling mudah untuk kemana-mana ya dengan sepeda. Setiap pagi aku dan Marco bersepeda menuju kampus. Asyik sekali. Di Indonesia, rasanya aku belum pernah bersekolah naik sepeda. Tetapi pada waktu pulang, panas sekali, dan melelahkan.
“Sirikit, hari panas sekali. Kok kamu masih pakai celana panjang dan blus berlengan sih?” tanya Janet suatu hari.
“Habis, mau pakai apa? Ini sudah sangat casual untuk ukuran wanita Indonesia.”
“Ini bukan Indonesia. Kamu harus ganti celana panjangmu dengan shorts (celana pendek) dan T-shirt tanpa lengan.”
Aku tersenyum saja. Gagasannya memang masuk akal. Jangankan mahasiswa, para dosen saja –lelaki maupun perempuan– pakai bermuda, shorts, dan kaus tanpa lengan. Bukannya mereka tak “beradab”. Iklim dan cuaca mengharuskan mereka berpakaian demikian. Jadinya, orang memandangiku yang berpakaian lengkap dengan pandangan “sumuk” (bahasa Jawa : gerah).
Tentang panasnya summer di California ini dapat kugambarkan kira-kira begini. Suatu ketika aku mencuci baju dan kujemur di kebun belakang. Sorenya ketika hendak kuambil, bajuku itu jadi kaku kering kepanasan. Kelak di Syracuse aku mengalami hal yang sama, tetapi dalam kondisi yang amat berbeda. Sebuah baju yang kujemur di musim dingin, ketika kuambil sudah kaku menjadi es!
Lama-lama hidup bersama Janet menyenangkan juga. Kami kerap berdiskusi tentang Yahudi dan Islam, tentang makanan halal dan kosher, tentang ilmuwan dan seniman besar Yahudi, tentang hak-hak perempuan, dll. Yang paling menyenangkan, kami sama-sama penggemar film bermutu. Dibawanya aku ke persewaan video langganannya dan aku dipersilakan menyewa film apa saja sebanyak yang aku suka. Karena di Indonesia film-film bagus/bermutu tidak diputar karena tidak laku, aku dengan antusias menyaksikan film-film yang kukehendaki di rumah Janet; The Gatsby, The Piano, Amadeus, dan hampir semua film Barbra Streissand (aku memang tergila-gila pada artis Yahudi yang satu ini).
Satu-satunya yang masih mengganggu adalah anjingnya. Anjing itu suka masuk kamarku dan bulunya menempel di mana-mana; di lantai, di meja belajar, di tempat tidur. Padahal aku harus sholat dan tempat sholatku harus suci. Sebel banget. Sering aku berdoa agar Tuhan memaafkan aku bila tempatku bersembahyang tidak suci. Aku percaya Tuhan sangat memahami kesulitan hambanya. Menjelang masa akhir tinggalku bersama Janet, pernah Janet menyuruhku mengajak Terry berjalan-jalan. Baru aku tahu bahwa anjing itu paling suka kalau diajak jalan-jalan. Dalam hati aku memberontak, tetapi aku tidak bisa menolak. Maka sore itu anjingnya kubawa berjalan keliling kompleks perumahan. Kadang-kadang dia berjalan terlalu cepat sampai aku kepayahan mengikutinya, harus berlari-lari kecil, agar tali pengekang tidak lepas dari genggamanku. Kali lain dia berhenti lama di suatu tempat. Aku merasa aneh sendiri, di sini di sebuah kota di Amerika, aku berjalan-jalan dengan seekor anjing. Yah, ini salah satu wujud kompromiku dengan situasi dimanapun aku berada. Mungkin karena itu, Janet menyukaiku. Tentu ada orang yang akan salah mengira bahwa aku –dan orang Jawa umumnya- melakukan hal-hal yang tak disukai hanya agar disukai orang. Bukan, bukan itu. Itu otomatis saja. Kami melakukan hal yang tak kami sukai karena pendidikan kami mengajarkan begitu. Itu bagian dari adaptasi dan perjuangan hidup. Jadi, bukan untuk disukai, melainkan untuk survive. Wong, begitu saja masih banyak yang tidak suka kok.
Marco yang tampan dan tak banyak bicara itu meninggalkan rumah Janet lebih dahulu. Lalu ada seorang perempuan dari Kroasia, namanya Roberta, lebih tua dari Janet dan aku, datang menggantikannya. Dia tampak jijik dengan rumah Janet yang jorok (seorang temanku, Irene dari Swiss, juga kelihatan jijik ketika kuundang makan di rumah Janet. Kelak kupelajari, orang-orang dari daratan Eropah sangat pembersih -lagi, sebuah stereotyping yang tak terelakkan). Roberta segera membersihkan rumah Janet, termasuk kebun belakangnya yang tak terawat. Dalam 3 hari, rumah Janet lebih nyaman dihuni, kebunnya rapi, ada meja dan bangku taman, dan kami menikmati sore di situ sambil ngobrol. Sebelum Roberta datang, kami hampir tidak pernah duduk-duduk di kebun itu. Jujur saja, aku tak serajin dan sepembersih Roberta. Dan aku tak terlalu keberatan dengan kondisi rumah Janet –kecuali anjingnya. Roberta perokok berat, tetapi dia selalu merokok di kebun belakang, tidak pernah di dalam rumah. Dia suka menceriterakan kehidupan sehari-harinya di tengah desing peluru di negerinya. Dia senantiasa memikirkan anak lelakinya di rumah, yang disadarinya, sangat rentan terhadap maut. Kisah tragis penduduk sipil Kroasia ini sangat menyentuh perasaan kami berdua, Janet dan aku, meskipun Roberta sendiri menceriterakan dengan ekspresi “biasa-biasa” saja, kecuali kekuatiran akan nasib anaknya.
Ibunda Janet juga sempat datang dan berkenalan dengan kami. Ibunda Janet sangat pesolek, beda dengan putrinya yang boleh dikata “terlalu biasa”. Kalau boleh kusamakan, ibu Janet berdandan seperti ibu Fran Fine (di serial The Nany). Dia bercerita tentang suami keduanya:
“Dia rapi sekali. Di lemari pakaian kami, semua hanger/gantungan harus menghadap ke arah yang sama, yaitu ke arah dalam. Katanya, kalau ada apa-apa, cepat mengambilnya, dan memang kelihatannya rapi.” (Belakangan, kebiasaan menaruh hanger kea rah yang sama, aku tiru hingga sekarag).
Namun dari semua pengalaman bersama Janet, yang paling mengesankan adalah ketika pada hari ulang tahunku, dia menyelenggarakan sebuah pesta. Padahal dia kan pelit sekali! Dia ijinkan aku mengundang teman-teman dekat. Maka aku undang Cicilia (perempuan Brasilia yang seksi, cantik, dan eksotik) dan seorang yang mengaku sebagai pangeran Benin. Keduanya teman sekelasku yang paling akrab. Kami terlibat pembicaraan intensif tentang cross cultural understanding. Kelihatan Janet berterimakasih padaku dengan pergaulan yang “lebih” dari sekadar mahasiswa-mahasiswa remaja. Padahal akulah yang seharusnya berterimakasih. Meskipun menunya cuma nasi putih, bubur kacang merah, dan acar timun yoghurt, ditambah buah semangka, yang mengharukan adalah perhatiannya itu. Bayangkan, jauh dari rumah, ada orang yang merayakan ulang tahunku! Apalagi di saat puncak dia mengeluarkan sebuah cake (beli di toko) yang diolesnya dengan whipe cream sendiri, dan ditaruhnya lilin di atasnya. Kami meniup lilin dan mendoakan aku. Kuenya enak juga, meskipun belinya asal saja.
Pada malam hari sebelum aku meninggalkan Davis, anak lelaki Janet datang dari Perancis. Hari sudah malam sehingga kami tidak bertemu. Aku sudah tidur. Keesokan harinya ketika aku berangkat, dia belum bangun. Aku tidak tahu bagaimana sosok anak lelakinya itu. Kira-kira usianya 22 tahun.
Ketika aku tinggal di Syracuse, New York, Janet kerap berkirim surat padaku. Demikian juga aku padanya. Dikisahkannya bahwa dia bersahabat dengan si Roberta, yang meskipun cerewet dalam hal kebersihan rumah, ada baiknya juga bagi Janet.
“Mulai sekarang saya tidak akan menerima mahasiswa-mahasiswa remaja lagi. Saya mau minta mahasiswa profesional seperti kalian. Saya banyak mendapat pengalaman hidup dari orang-orang seperti kalian,” tulis Janet dalam salah satu suratnya.
Saya juga, Janet. Aku tidak akan pernah lupa Janet, seorang perempuan Yahudi, vegetarian, feminist, yang bersedia menerima seorang perempuan Jawa, Islam, di rumahnya, dan memberikan kehangatan persahabatan yang tidak berlebihan.
Kenangan Davis, California, USA
Juli-Agustus 1994