“WARTAWAN DAN PANGLIMA”
by Sirikit Syah
“Eventhough some characters and events
are based on facts, this is not a true story”
Dedicated to:
Jendral Hartono,
who inspired me
and
my husband,
whose great love survives mine
D i l e m a
(Hari Ini)
Wanita itu turun dari taksi yang berhenti di depan gang. Sulit baginya memilih jalan, di jalanan yang penuh lobang, dengan sepatu tumit tinggi. Arloji di tangannya menunjukkan pukul 23.30. Segerombol pemuda kampung masih begadang di warung bakmi Cak Mat. Bau minuman keras murahan menerpa hidungnya.
Meskipun larut, para pemuda itu tak merasa perlu mengganggu Dewi -demikian mereka mengenalnya-, wanita muda yang dikenal sebagai wartawan. Seolah ada sesuatu yang melindungi para wartawan dari gangguan semacam itu. Dewi berpakaian rapi, tidak mahal, tapi pantas. Potongan bajunya pas dengan bentuk tubuhnya yang ramping semampai.
Dewi memasuki halaman rumah berpagar kayu rendah, tanpa pintu pagar, yang terletak hampir di ujung gang. Dikeluarkannya kunci dari tasnya, kemudian dibukanya pintu. Ruang tamu sudah gelap. Suaminya terlihat meringkuk di kursi rotan di depan teve, berselimut sarung. Rupanya dia tertidur saat menunggu Dewi kembali dari tugas malam.
Duduk di salah satu kursi makan, sampil mencopot sepatu, Dewi merenung. Dia memandangi suaminya yang tertidur dengan enak di ruang tamu. Akankah dia bangunkan suaminya? Atau lebih baik menunggu hingga esok hari? Namun, sampai hatikah dia mengutarakan persoalan itu? Bagaimana reaksi suaminya nanti?
***
Sepanjang sore tadi Dewi memeras otaknya dan memikirkan keputusan yang akan diambilnya. Tak dipedulikannya teman-temannya yang sibuk berwawancara dan mencari informasi terbaru. Sang Panglima mengakhiri masa jabatannya, dan dalam dua pekan akan menduduki posisi lebih penting di pusat, di Mabes ABRI. Betul-betul berita hangat. Namun Dewi tampak kurang bersemangat. Pukul 20.00 tadi dia meninggalkan resepsi di Hyatt Regency dan menyelinap keluar. Dibuatnya berita singkat –hasil wawancaranya siang tadi seusai upacara serah terima jabatan–di kantor. Dan dalam satu jam dia telah kembali di tempat resepsi. Meskipun singkat, dia yakin beritanya lebih eksklusif, sebab Panglima sendiri yang memungkinkannya membuat berita-berita eksklusif tentang dia. Tadi siang memang hanya dia yang ditemui Panglima seusai upacara.
Resepsi hampir usai. Para tamu –Muspida Tk I dan tokoh masyarakat berbagai kalangan—mulai mengundurkan diri. Para wartawan pun mulai buru-buru kembali ke pos, berusaha membuat berita terbaik. Pak Jusuf, sang ajudan, seperti biasa, menghampirinya. “Bapak akan menemui Anda di Hugo’s kira-kira setengah jam lagi,” katanya, kemudian bergegas mengantarkan Nyonya Panglima kembali ke kediaman. Panglima, seperti biasa, akan dijemputnya kira-kira 2 jam lagi.
Perlahan-lahan Dewi menuju tempat yang disebut ajudan. Para pelayan sudah hafal padanya dan dia langsung menuju ke tempat biasa. Segelas lemon tea hangat datang sebelum dipesan. Bahkan minuman kesukaannya pun, para pelayan sudah hafal. Semuanya telah menjadi kebiasaan (berapa puluh kali dalam dua tahun ini dia berkunjung ke restoran paling eksklusif di Surabaya ini?).
Semuanya amat ramah padanya. Apakah karena dia seorang wartawan? Atau karena dia “orang dekat” Panglima? Dewi selalu skeptis pada sikap orang-orang yang baik kepadanya. Kalau ada orang baik kepadanya, dia selalu berpikir, “Ya, karena aku wartawan. Orang-orang ini selalu punya kepentingan dengan wartawan. Apakah meerka akan tetap ramah padaku, kalau aku bukan wartawan?” Dewi selalu menerima undangan makan di restoran baru, menonton film yang baru diimpor, mendapat hadiah kosmetik Yves St. Laurent ketika butiknya buka di Tunjungan Plaza, atau dompet Aigner, atau sebotol kecil parfum Givenchi. Demikian juga layanan di restoran ini. Dewi lupa bahwa restoran di hotel bintang lima ini memang harus memperlakukan tamunya begitu, apakah dia seorang wartawan, wisatawan domestik, atau pacar Panglima.
Tepat setengah jam kemudian, Panglima datang. Sosoknya yang tinggi tegap, gagah –tubuhnya benar-benar amat proporsional –, masih saja menimbulkan desiran kekaguman di hati Dewi. Tanpa seragam tentaranya, berbusana batik, beliau tampai sedikit lebih luwes (meskipun sebenarnya Dewi lebih suka melihat Panglima dalam seragam tentaranya).
Ketika makanan tiba, tanpa banyak basa basi mereka segera menyantap hidangan. Kelihatan bahwa Panglima belum makan dengan selayaknya, meskipun di resepsi tadi makanan melimpah ruah.
“Saya sengaja tidak makan banyak. Menunggu kamu. Sudah dibikin beritanya?” Panglima memecah kebisuan. Suaranya berat berwibawa.
“Sudah,” Dewi menjawab pendek.
“Mengapa? Kamu kelihatan tidak seperti biasanya. Tampak kurang bersemangat.”
“Tentu saja, Pak, saya sedih ditinggal Bapak, seperti semua rakyat Jawa Timur lainnya.”
Panglima menghentikan makannya. Keningnya berkerut.
“Kamu belum menerima pesan terakhirku lewat Pak Jusuf kemarin?”
Dewi terdiam. Pembicaraan menginjak topik yang sangat sensitif.
“Sebenarnya sudah, Pak.”
“Nah, engkau mengerti bahwa engkau tak akan ditinggal bukan?”
“Maaf, saya kurang begitu paham.”
“Dewi. Mari kita hentikan segala basa basi ini. Aku melamarmu menjadi istri kedua. Kamu ikut aku. Tentu saja tidak sekarang. Kau urus dulu segala sesuatunya, dengan suamimu, dengan pekerjaanmu.”
Dewi terdiam. Tak kuasa ia mengangkat mukanya. Wajah suaminya terpatri dalam benaknya. Bagaimana mungkin dia dapat meninggalkan Ben? Namun sebuah suara lain menyela, bukankah tak ada lagi ikatan yang mengikatnya dengan Ben? Dulu ada cinta. Kini bila cinta telah beralih, tak ada lagi yang dapat dipertahankan, bukan? Kecuali engkau mau berbasa-basi dan menipu diri sendiri dan orang lain seumur hidupmu.
Ketika Dewi mengangkat mukanya, matanya bertatapan dengan mata Panglima. Meskipun tidak banyak basa basi –sebagaimana tentara pada umumnya–Dewi dapat membaca, Panglima sangat mencintai dan mengharapkannya. Dia merasa tersanjung, sekaligus terharu. Tiba-tiba kedua mata coklat yang dalam itu bagaikan sebuah film, menayangkan kilas balik hubungan mereka berdua.
***
Sang Wartawan
(Kira-kira dua tahun yang lalu)
Ketika memilih profesi wartawan 10 tahun yang lalu, Dewi sudah siap menghadapi segala risikonya. Antara lain, bekerja ekstra keras, namun tak akan bisa kaya. Baru tiga bulan menjadi wartawan, dia dipanggil Rektor perguruan tinggi tempatnya berkuliah. Dia sarjana Hubungan Internasional lulusan Universitas Airlangga.
“Universitas menawari Anda untuk bergabung dengan kami,” ujar Rektor di ruang kerjanya. Rektor mengenalnya dengan baik karena dia pernah menjadi Mahasiswa Teladan.
“Maaf, Pak, saya sudah bekerja sebagai wartawan.”
“Kami tahu. Tetapi Anda tahu sendiri, di Jurusan HI sangat kekurangan tenaga pengajar. Anda terpilih di antara para alumni. Lagipula, Anda mantan mahasiswa Ikatan Dinas, bukan? Anda wajib membayar kembali dengan pengabdian pada negara.”
Dewi menyatakan minta waktu untuk pikir-pikir. Dia tidak ingin menjadi dosen. Tadinya dia ingin menjadi diplomat. Namun karena keseringan menulis artikel di koran semasa menjadi mahasiswa, dia ‘dilamar’ oleh koran tempatnya bekerja sekarang. Tampaknya, dalam tiba bulan ini, pekerjaan menjadi wartawan dirasanya cukup mengasyikkan.
Ketika Dewi menemui Rektor untuk memutuskan tidak bersedia bergabung dan siap membayar kembali utangnya (bea siswa Ikatan Dinas), Rektor menepuk pundaknya:
“Lupakan utang itu. Anda boleh terus menjadi wartawan, karena saya suka membaca tulisan-tulisan Anda. Saya percaya Anda dapat mengabdi kepada negara dengan menjadi wartawan.” Dewi sangat berterimakasih pada Rektor yang begitu pengertian.
Maka, Dewi melanjutkan pekerjaannya sebagai wartawan, yang dia tahu dia tak akan bisa kaya darinya dan dia harus mencurahkan banyak waktu dan enerji. Tahun-tahun pertama, ditempatkan di bidang budaya, dia sangat menikmatinya. Segera dia dikenal sebagai wartawan yang bukan saja produktif, tetapi juga berbobot. Tulisan-tulisannya bernuansa, menunjukkan penggalian yang sungguh-sungguh, kedalaman pikiran, dan kemahiran menggunakan bahasa. Dia dan wartawan semasanya belum mengenal ‘literary journalism’, tetapi mungkin itulah gaya yang dipilihnya. Yang jelas, tulisannya senantiasa ditunggu para pembaca. Bila dia hadir di sebuah acara kesenian, penyelenggara acara akan merasa mendapat kehormatan, sekalipun tulisan yang keluar esok harinya adalah kritikan. Bagi Dewi sendiri, yang paling mengesankan dalam pengalamannya menjadi wartawan kesenian adalah: dia menemukan jodohnya di kalangan sumber berita.
Ben, pelukis yang juga guru seni di sebuah SMP itu, seusia dia dan tampan. Namun bila diingat-ingatnya, yang membuat dia takluk adalah keberanian Ben. Mereka berkenalan di sebuah acara pameran lukisan. Pertemuan itu terulang dalam forum-forum yang sama, juga dalam acara kebudayaan lainnya. Mereka menemukan kecocokan. Ben tidak sendirian dalam mengincar Dewi saat itu, namun dia nekad bersaing dengan semua kandidat yang lebih darinya, baik dari segi keuangan, pangkat, jabatan. “Saya punya cinta,” katanya penuh percaya diri. Ben, di antara lelaki-lelaki lain yang mengitari Dewi, lebih dulu datang ke orangtuanya dan melamar. Sikapnya betul-betul mengesankan. Dewi langsung menerima lamaran itu. Menurut Dewi, banyak lelaki mendekatinya tetapi tidak jelas maunya dan tak berani mengambil keputusan. Dewi dan Ben menikah dan perkawinan mereka berjalan dengan baik. Itu sebelum Dewi mengenal Panglima.
Pada tahun-tahun berikutnya, dia dipindah pos; dari budaya ke pariwisata, terus ke ekonomi, kepolisian, pengadilan, bahkan sempat juga di olahraga. Terakhir, dia meliput bidang politik dan pemerintahan. Di saat itulah dia bertemu Panglima. Dia tidak mengerti kebijaksanaan redaksional suratkabar, yang selalu menaruh wartawan terbaiknya di pos politik dan pemerintahan. Mereka juga terkesan meremehkan bidang budaya dengan selalu menaruh wartawan-wartawan baru di situ. Dewi sendiri, meskipun kini sudah senior dan menjabat pula sebagai asisten editor, paling suka –dan masih suka- membuat berita kebudayaan. Namun dia tak dapat menolak tugas di bidang politik dan pemerintahan.
Setelah mendalami dunia kewartawanan kira-kira 5 tahun, dia menyadari ada sesuatu yang kurang baik dari dunianya. Teman-temannya sering tidak menyadari bahwa dunia kewartawanan cuma fatamorgana. Malam ini kita duduk satu meja dengan gubernur atau menteri, besok pagi diterpa debu dan panas matahari memburu berita di lapangan. Siang ini menyantap hidangan lezat di hotel bintang lima, malam nanti di rumah cuma tersedia sayur lodeh dan tempe goreng yang sudah dingin. Bertemu artis-artis cantik dan seksi di hotel, di rumah menjumpai istri berdaster lusuh. Apalagi tak jarang artis-artis itu berganti pakaian di kamar hotel di hadapan wartawan dan fotografer, tanpa risih atau sungkan. Membandingkan wajah dan tubuh istri kita dengan artis, memang tidak fair. Tapi bagaimana mencegahnya?
Dewi melihat betapa berbahaya dunia yang ditekuninya, terutama bagi mereka yang mudah tergoda. Dia mengamati satu per satu rekannya. Mas Yanto, koresponden koran ibu kota, tergila-gila pada bintang film Nurul Arifin dan seperti terobsesi olehnya. Setiap kali Nurul Arifin datang ke Surabaya untuk mempromosikan filmnya, Mas Yanto pasti ada di samping artis itu. Kemanapun Nurul melangkah, di situ ada Mas Yanto. Di dompetnya, ada foto Nurul Arifin dalam bikini seksi; katanya itu hasil jepretannya sendiri, di tepi kolam renang hotel Garden Palace. Syaiful, fotografer bertubuh bak bodyguard itu, menjalin affair dengan seorang tokoh pengusaha wanita, yang meskipun setengah baya, tetapi cantik dan banyak duit. Teman-teman bilang, dia cuma jadi ‘gigolo’nya. Mbak Sari, reporter TV yang manis, meninggalkan suaminya untuk menikah dengan Mas Dadan, kameraman, yang juga meninggalkan istrinya. Mereka terlalu sering bertugas berdua. Untung keduanya langsung menikah, tidak main ‘simpen-simpenan’.
Yang lebih gila lagi, teman dekat Dewi, Titin yang berjilbab, ternyata simpanan seorang Kepala Humas.
“Dia terus-terusan mengejarku, Wi. Aku sudah berusaha menghindarinya. Terakhir, ketika kami, rombongan wartawan Jatim, mengikuti kunjungan perbandingan kerja DPRD ke Jakarta, suatu pagi buta, kujumpai dia duduk di lantai di depan pintu kamar hotelku. Katanya dia datang semalam tapi tak berani mengetuk pintu. Saat itu Wi, aku tersentuh oleh kesungguh-sungguhannya.”
“Tapi bukankah dia sudah berkeluarga?”
“Ya. Katanya istrinya tidak berkeberatan. Kami sempat dikenalkan,” ujar Titin sambil menunduk. Tak terucap olehnya bahwa skandal itu telah berjalan hampir 2 tahun dan dia belum juga dinikahi secara resmi.
Dewi sendiri seringkali memuji diri sendiri. Sampai saat ini dia tidak tergoda atau tergoyahkan. Bukannya tak ada godaan. Seorang pejabat sebuah bank –saat dia menekuni bidang perekonomian–tak henti-hentinya mencobanya. Untuk pandangan umum, godaan itu hampir-hampir sulit dihindari (sebagian rekan Dewi bahkan menduga Dewi telah tergoda dan pandai menyimpai rahasia). Pria setengah baya itu cukup menarik, masih bujangan, berpengaruh, dan kaya. Dewi memajang suvenir pemberiannya di meja riasnya; miniatur Big Ben dari London, kincir angin dari Belanda, kipas dari Spanyol, parfum Paloma Picasso dari Perancis, dan banyak lagi. Apa salahnya menerima hadiah? Toh dia sudah dengan tegas memberi signal bahwa ‘I am married. Case closed.”
Dewi tak dapat mencegah perasaan bangga pada dirinya bahwa dia masih mempertahankan cintanya pada Ben, suaminya. Ben sangat percaya padanya. Kemanapun Dewi pergi, berapa lamapun, dia yakin istrinya akan kembali padanya. Dewi selalu membuktikan perkiraan Ben benar. Keduanya tidak pernah menduga bahwa cinta yang begitu kuat dapat beralih. Dewi tak menduga dia akan bertemu Panglima.
Dengan sesama rekan seprofesi, Dewi senantiasa akrab, meskipun ia tak dapat sepenuhnya mengikuti gaya hidup mereka. Dia tidak dapat menerima uang. Apalagi meminta. Itu tabu baginya. Meskipun dia tidak kaya –gajinya sebagai wartawan ditambah gaji suaminya sebagai guru seni, amat pas-pasan–dia tidak ingin merusak dirinya dengan mencicipi uang hadiah dari sumber berita. (Pernah juga sih, dia ngiler melihat rekannya menenteng tas kresek berisi uang pemberian seorang ketua DPR. ”Berapa ya jumlahnya?” tanyanya dalam hati sambil bertahan terhadap godaan). Dia tak suka terlalu akrab dengan pejabat, pengusaha, tokoh politik, dan nara sumber lainnya. Namun prinsip dan sikapnya itu dijaganya agar tak mencolok dan dia tetap menghargai cara-cara yang ditempuh rekannya. Setiap orang punya alasan sendiri untuk melakukan sesuatu, katanya. Itu sebabnya rekan-rekannya menyayanginya.
Dewi mengamati, wartawan adalah makhluk yang paling patut dikasihani. Makhluk kesepian. Kalau ada yang ramah dan baik pada mereka, pasti itu karena profesi mereka. Tak jarang pula yang ‘benci’ dan ‘berusaha menghindari’. Dia seringkali melihat pejabat atau nara sumber berwajah ‘ketakutan’, ‘cemas’, ‘muak’, ‘jengkel’, ketika didatangi wartawan. Ada yang takut skandalnya diungkap. Ada yang cemas rahasianya bocor, ada yang benci karena ditulis tidak sesuai kenyataan, ada yang sebel karena sering dimintai uang tapi beritanya tidak pernah dimuat, dan seterusnya. Bahkan ada yang belum ketemu wartawan yang bertamu, sudah buru-buru bilang pada sekretaris, “Katakan saya tidak ada, dan beri saja uang dalam amplop.” Dalam pandangan Dewi, tak pelak lagi, orang-orang itu cuma ‘menjilat’ wartawan atau ‘memusuhi’ mereka. Sebagai wartawan, jangan harap ada orang yang tulus ingin menjadi temanmu. Menyedihkan.
Sebuah peristiwa membuktikan besarnya godaan pada profesi wartawan, sekaligus menunjukkan betapa rekan-rekannya masih menaruh hormat padanya. Suatu malam di sebuah kota, Dewi terpaksa tidur satu kamar dengan Kresno, wartawan ganteng yang dikenal playboy. Alasan panitia, kamar terbatas dan dia satu-satunya wartawan cewek yang ikut. Tak ada prioritas kamar pribadi. Di kalangan wartawan, tidur sekamar lelaki perempuan, bukanlah berita baru atau peristiwa yang perlu dibahas khusus. Tengah malam, tidurnya terganggu sentuhan jari Kresno pada pipinya. Dia terkejut namun tak bisa bangkit karena Kresno telah begitu dekat, hampir menindih tubuhnya.
“Dewi, aku ingin sekali menciummu. Boleh?”
Dewi menarik nafas lega. Kalau Kresno mau jahat, dia bisa memaksanya melakukan lebih dari sekedar cium, tanpa perlu minta ijinnya.
“Bisa saja Kres, tapi besok pagi pasti hubungan kita tak akan sebaik sekarang. Akan terganggu. Mungkin aku akan membencimu.” Kresno terdiam, menatap wajahnya. Kemudian, setelah mencium punggung tangan Dewi cukup lama, dia bangkit dan kembali ke tempat tidurnya sendiri.
“Kau benar, Wi. Aku tak mau pertemanan kita rusak. Thanks,” katanya sebelum menutup tubuhnya dengan sarung.
Dewi masih gemetar, namun menganggap peristiwa itu penting. Godaan itu mengintai di mana-mana –dan Kresno itu bukan main menariknya. Dia ganteng seperti Mayong laksono, wartawan Intisari yang sedang mengincar Nurul Arifin itu. Bersyukur dia dapat mengatasinya. Dewi juga merasa Kresno menghormati dia. Siapa tak kenal Kresno? Si penakluk hati wanita? Sejak itu mereka bagai kawan dekat. Kresno membuka semua rahasianya pada Dewi. Seringkali ketika Dewi mengalami kesulitan dalam liputan, Kresno datang bagai dewa penolong. Foto-foto, dokumen, data penting, diberikan dengan senang hati.
Dewi jadi tahu bahwa Maria, wartawati pemula di tabloid ibukota yang bertugas di Surabaya itu adalah gendhakannya. Kresno juga telah memacari hampir separuh dari wartawati seangkatannya di Surabaya. Selain itu, dia juga punya hubungan khusus dengan seorang model senior. Menatap wajah Kresno saat bercerita, Dewi percaya saja. Kresno tampan, smart, berpembawaan menarik. Dewi sudah mendengar banyak gosip, kini ada pengakuan. Untung Kresno memperlakukannya sebagai sahabat, bahkan adik. Kalau terpaksa menyebutkan nama seorang kawan, Dewi pasti menyebut nama Kresno.
Hubungannya dengan Sang Panglima dimulai ketika Panglima pertama kali menginjakkan kaki ke Surabaya, dalam rangka penugasannya di Jawa Timur. Dewilah wartawan pertama yang berhasil menguntitnya dari Bandara Juanda ke kediaman dan mendapatkan wawancara eksklusif pada hari pertama. Wawancara itu begitu bagus dan amat berkenan di hati Panglima. Dewi dipanggil beberapa hari setelah pemuatan. Setelah berbasa basi sebentar, istri Panglima keluar membawa sebuah amplop besar dan tebal. Dewi tak berani menolaknya, takut menyalahi protokol atau menyinggung perasaan. Namun setiba di kantor, dia menyerahkan amplop tebal itu pada redaksi dan minta agar dikembalikan. Kesan pertamanya pada Sang Panglima menjadi kurang baik. Kelak Dewi menandai bahwa memang merupakan kebiasaan Panglima dan Nyonya untuk memberi hadiah pada wartawan yang berkenan di hati mereka. Tak heran banyak wartawan kemudian semakin mendekatkan diri pada Panglima dan seolah berlomba-lomba membuat berita bagus tentangnya.
Mereka bertemu lagi di beberapa event. Kadang-kadang Dewi mewawancarainya. Di kali lain, bila tidak merasa perlu, Dewi tak akan memaksakan diri. Kemudian dia mulai mendengar suara-suara, bahwa Panglima adalah pribadi yang sangat misterius. Kau bisa melihatnya tersenyum ramah, namun tiba-tiba staf intelnya mencidukmu. Beberapa aktivis mahasiswa sempat mendekam di “kamar interogasi” di kediaman Panglima yang terkesan seram. Beberapa hari kemudian mereka dilepas dengan kondisi mental yang merapuh. Setidaknya untuk beberapa lama, mereka tak lagi bersuara. Sebuah koran sore yang prestisius pernah dibuat sengsara gara-gara sebuah kalimat salah dalam berita tentangnya. Redakturnya dijemput oleh intel di rumahnya pukul 9 malam dan “dimintai keterangan” (mereka menolak istilah “interogasi”) selama 12 jam. Wartawan senior berpengalaman yang kini menjabat redaktur pelaksana itu diizinkan pulang pukul 9 keesokan harinya. Setelah itu wartawan yang menulis salah diskors selama 1 bulan. Ketika Dewi menanyakan hal itu pada sang redaktur, sang redaktur menjawab: “Panglima menghendaki anak buah saya itu dipecat. Kami berhasil menawarnya dengan skorsing.” Dewi yang bermaksud protes, menjadi simpati dan kasihan pada redaktur itu.
Di acara-acara sosial, Panglima mungkin bertemu redaktur pelaksana bersangkutan, tersenyum ramah sambil mengulurkan tangan, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Seolah tak ada hubungan antara sosoknya yang begitu anggun mempesona dengan tindakannya yang keras dan cenderung sewenang-wenang. Dia betul-betul berdarah dingin.
Di kali lain, Dewi mendengar Panglima suka bertemu dengan “gadis-gadis yang dikehendakinya” di sebuah tempat rahasia. Panglima juga kerap kedengaran tidak sependapat dengan pimpinan daerah lainnya. Kalangan budayawan menyebut Panglima “tak berbudaya” karena seringnya melarang pertunjukan atau kegiatan budaya yang dikuatirkan dapat memancing keributan. Seorang ketua organisasi kesenian yang bermaksud mengundang penyair Rendra untuk membaca puisi di Surabaya, dipanggil dan “dimintai keterangan”. Setelah kira-kira setengah hari, dia dilepas. Niatnya runtuh. Secara resmi memang tidak ada larangan. Namun sang calon penyelenggara telah dibuat ketakutan dan mengurungkan niatnya.
Bagi orang-orang TV, berita pemogokan buruh dan kasus pertanahan/penggusuran, haram hukumnya, bila tak ingin pimpinan station mengalami kesulitan. Berbagai kisah “menakutkan” tentang Sang Panglima sulit dipercaya Dewi setiap kali dia bertemu pria setengah baya yang berpenampilan amat menarik itu. Sosoknya yang tinggi tegap, kulitnya yang kuning bersih, wajahnya yang tampan berwibawa, senyumnya yang hangat dan kharismatik, memberi kesan jauh dari hal-hal buruk yang pernah didengar Dewi. Konon Panglima adalah keturunan bangsawan dari Madura, yang seluruh keluarganya mengenyam pendidikan tinggi. Selain dia sebagai perwira tinggi di ABRI, saudaranya ada yang menjadi menteri muda, duta besar, bahkan rektor perguruan tinggi yang cukup ternama. Kualitas intelektual dan kebangsawanan itulah yang sedikit demi sedikit menumbuhkan rasa kagum dan simpati di hati Dewi.
Yang lebih membuat Dewi simpati, Panglima sangat mesra pada istrinya. Nyonya Panglima seperti Barbara Bush, kelihatan lebih tua dari suaminya, tidak cantik dan berpenampilan kurang menarik. Namun Sang Nyonya diperlakukan oleh Panglima dengan penuh kelemebutan dan penghormatan, terutama di depan publik. Mereka dikenal sebagai pasangan yang harmonis, saling mencintai, meskipun agak tak serasi. Nyonya Panglima –menyadari penampilannya bisa disalahartikan sebagai ibu atau kakak, bukannya istri –pandai menjaga diri. Dia tak banyak tampil di publik.
Perasaan simpati Dewi semakin lama semakin tumbuh berkembang. Seringkali dalam pesta atau acara-acara tertentu, mereka bertemu tanpa harus bertatapmuka. Dewi tahu diri, bahwa tanpa keperluan berwawancara, tidak seharusnya dia mendekati Panglima. Sikapnya ini tentu berlainan dengan sikap kebanyakan rekannya. Tak ada isu penting pun, yang penting nempel. Siapa tahu dapat berita 1-2 kolom dari 1-2 kalimat komentar Panglima tentang sesuatu? Nggak ada berita pun, menempel pejabat sangat dinikmati sebagian besar wartawan. Beda dengan Dewi yang lebih suka menjaga jarak. Namun tak dapat dihindarinya, pandangan matanya senantiasa mencari-cari di mana pria itu berada. Anehnya, setiap kali matanya menemukan Sang Panglima, laki-laki itu juga sedang mengawasinya.
Dalam sebuah pesta yang diselenggarakan di sebuah kapal Angkatan Laut negeri asing yang sedang berlabuh di pelabuhan Tanjung Perak, kembali mereka bertemu. Karena mahir berbahasa Inggris, Dewi segera terlibat dalam pembicaraan dengan diplomat dan tamu asing. Ketika tiba acara dansa, Dewi tak dapat mencegah keinginannya untuk berdansa di suasana yang amat romantis itu –di dek sebuah kapal, beratapkan langit berbintang. Seorang konsul mengajaknya dan mereka berdansa. Selama mereka berdansa, Dewi sempat menangkap tatapan Panglima yang terus mengawasi gerak-geriknya. Setelah dua lagu, Dewi mohon berhenti. Dengan keberanian seorang wartawan, dia mendatangi Panglima yang tengah berdiri memegang gelas sampanye bersama petinggi lainnya. Dewi merasa kecil di hadapannya. Nyalinya hampir ciut ketika Panglima menatap wajahnya lekat-lekat, seolah bertanya ‘What are you doing?’
Dewi nekad.
“Maaf Pak, saya ingin sekali mengajak Bapak berdansa. Akan malu sekali saya kalau Bapak menolak,” katanya dengan penuh kesopanan.
Panglima sangat terkejut. Sebagai seorang gentleman, dia segera mengendalikan situasi. Dia tidak boleh marah. Ini di depan umum, banyak tamu asing pula. Apalagi rekan-rekannya mendorongnya untuk menerima ajakan nekad itu. Maka, ditaruhnya gelas sampanye di meja, dan digandengnya tangan Dewi. Dibawanya wanita itu ke tengah lantai dansa. Dewi merasa seperti kakinya tidak menginjak bumi. Dia seperti melayang.
Rekan-rekan Dewi, para wartawan, menyoraki mereka. Panglima berdansa dengan seorang wartawan? Bayangkan! Betul-betul suatu kehormatan. Dengan tenang Panglima mengayun langkah, sementara Dewi malah tersipu-sipu dan bergetar seluruh tubuhnya. Panglima dapat merasakannya.
“Berani benar kamu. Tahukah kamu, bisa-bisa kau dianggap lancang atau kurang ajar, dan besok pimpinan redaksimu akan memberi tegoran keras padamu,” ujar Panglima di telinga Dewi. Dewi menangkap sindiran di balik kalimat itu. Panglima tahu benar bahwa gosip tentang dirinya yang “suka main panggil dan main turun tangan” begitu gencar di kalangan wartawan. Tentu saja Dewi tak perlu mengatakan bahwa tubuhnya gemetaran dalam pelukan Panglima, bukan karena ketakutan. Ada suasana dan rasa tertentu yang membuatnya gemetaran begitu. Tubuh Panglima begitu tinggi sehingga Dewi harus menengadahkan kepalanya tinggi-tinggi bila ingin menatap matanya.
“Kamu mahir berdansa,” kata Panglima, nadanya melunak.
“Saya suka sekali berdansa. Sayang suami saya tidak,” kata Dewi, berusaha keras untuk tidak kelihatan canggung.
“Mengapa engkau ceritakan kalau engkau telah bersuami? Aku tidak bertanya.”
Nada bicara Panglima setengah menggoda. Dewi semakin merasakan magnit daya tarik Panglima. Matanya seperti sebuah telaga yang menjanjikan kedamaian di kedalamannya.
“Bukan maksud saya begitu. Saya mengatakan, saya senang berdansa dengan Bapak,” kata Dewi. Dan itu bukan basa basi. Dewi pernah mendengar bahwa tentara harus bisa apa saja, berperang maupun berdansa. Ia teringat Al Pacino yang berdansa tango di film “Scent of A Woman”. Kini ia merasakan berada dalam pelukan seorang tentara dan diayun sesuai irama musik. Dia betul-betul menikmatinya. Sekilas dia terkenang Ben. Bila mereka ke diskotek bersama teman-teman, Ben akan mengizinkannya turun ke lantai dansa bersama teman-temannya. Ben sendiri tidak suka berdansa.
Malam itu ia mulai membanding-bandingkan pembawaan seniman dan tentara. Bila ia istri tentara, tentu tak diperbolehkan orang lain memeluk pinggangnya seperti ini. Gaya hidup seniman dan tentara memang beda. Gaya hidupnya sebagai wartawan juga beda. Dia tak tahu, wartawan lebih cocok dengan tentara atau seniman?
Sejak malam itu Dewi kerap memikirkan Sang Panglima. Dia mabuk kepayang. Perasaan yang memalukan ini dicobanya dipendam sendiri, dan ia berusaha keras untuk melupakan Panglima. Namun lama-lama ia tak tahan. Ia ingin berbagi rasa. Didatanginya Kresno. Kresno sudah banyak mencurahkan isi hatinya padanya, dan kini gilirannya. Dia merasa Kresno orang yang aman. Kresno tertawa ngakak mendengar kisah Dewi.
“Kenapa kamu tertawa?” Dewi sewot.
“It sounds silly to me. Seorang wartawan jatuh cinta pada seorang jendral? He doesn’t even remember your name!”
Dewi terpaku. Dia amat tersinggung. Tapi begitulah Kresno. Kepada Dewi, dia suka bicara apa adanya. Mungkin juga dia benar. Yah, apakah dia gila? Pada saat seperti ini dia jadi mengerti mengapa Mas Yanto, Syaiful, Mbak Sari, Titin, bahkan Kresno sendiri, melampaui garis. Sooner or later, it’ll get to you. Bagi Dewi, waktunya adalah sekarang. Ah, mengapa aku jadi memahami mereka? Apakah karena aku terjebak dalam pengalaman yang sama? Namun, seperti kata Kresno, tidakkah dia akan bertepuk sebelah tangan, bagai pungguk merindukan bulan?
“Jangan diambil hati, ayo main musik,” ajak Kresno. Mereka berada di Mirama. Melihat piano, Kresno membukanya dan memainkan jari-jarinya di situ. Sekali lagi, sebagai wartawan, kau bisa berbuat apa saja. Orang-orang sudah mengenalmu. Lagipula, itu masih sore, pemain piano belum datang. Dewi duduk di sebelah Kresno, lalu mengikuti piano Kresno, Dewi melantunkan “Misty”: “Look at me, I am as helpless as a kitten up a tree …..”
Omongan Kresno ternyata keliru besar. Panglima bukan saja ingat namanya. Dia bahkan berhasil melacak alamat rumahnya. Suatu Minggu sore sehabis hujan, Dewi sedang ngobrol berdua dengan Ben di teras rumah mereka yang sederhana di ujung sebuah gang. Tiba-tiba seorang berpakaian sipil –kelak dikenalnya sebagai Pak Jusuf, sang ajudan– datang. Pesannya, Dewi ditunggu Panglima sekarang. Ada berita penting. Dewi bergegas berdandan dan mengikuti langkahnya. Di depan gang, sebuah mobil sedan mewah berplat nomor tentara menunggunya. Mereka meluncur ke pusat kota.
Ajudan mengantarnya ke Heritage Club di gedung Bapindo, persis di seberang Hyatt Regency. Di sini suasana privasi terjaga. Hanya ‘member’ yang boleh masuk.. Di ruang Cinema, Panglima telah menunggu. Sendiri. Tak ada wartawan lain. Tak ada jumpa pers, tak ada berita penting. Panglima hanya ingin bertemu. Saat itu kira-kira dua minggu setelah peristiwa dansa di atas kapal. Setelah memandangi sosok Dewi beberapa saat–gaunnya yang berpotongan sederhana itu tak dapat menyembunyikan keindahan bentuk tubuhnya– Panglima mempersilakannya duduk. Dewi tak dapat berkata apa-apa selain menurut, terpesona oleh kharisma Panglima dan suasana “aneh” yang diciptakannya.
“Maaf, menculikmu dengan cara seperti ini,” kata Panglima membuka percakapan. Dia kelihatan sportif dengan T-shirt polo warna putih dan celana training abu-abu. Tampaknya dia baru selesai berolahraga.
“Apakah ini cara tentara? Atau khas intel?” Dewi mencoba bergurau, untuk menghalau keterkejutan dan kecanggungannya.
“Bukan. Ini cara saya. Saya ingin makan malam denganmu. Belum makan, kan?” Dia bukan bertanya, tetapi setengah memaksa. Dewi ingat dia baru saja makan bersama suaminya di rumah. Namun siapa yang berani menolak permintaan Panglima?
“Maafkan pakaian saya, saya tak sempat pulang,” ujar Panglima.
“Tidak apa-apa, Pak.” Dewi membayangkan Panglima dalam pakaian tentara.
Mereka makan berdua diterangi cahaya lilin. Panglima memiliki aroma tubuh yang khas. Segar, seperti bau hutan sehabis hujan.. Amat maskulin. (Apa ya merk minyak wanginya?) Dia juga tergolong laki-laki yang tampak bersih. Usianya yang mendekati 50 tahun, rambutnya yang mulai memutih, membuatnya kelihatan lebih matang.
Mereka berbicara masalah-masalah umum. Setelah makan malam, ajudan mengantar Dewi kembali ke tangan suaminya. Malam “penculikan” yang tak terlupakan oleh Dewi seumur hidupnya itu agaknya merupakan awal dari pertemuan-pertemuan mereka selanjutnya.
Dewi tak tahu mengapa Panglima menyukainya, tapi dia tahu pasti mengapa dia menyukai Panglima. Karena perbedaan usia yang 20 tahun, pria setengah baya itu memiliki kualitas yang tak dimiliki teman-teman sebaya Dewi. Segala tindak-tanduknya mencerminkan kehormatan dan kewibawaan. Kepada Dewi dia bersikap sopan, meskipun sebetulnya dia bermaksud memaksakan kehendaknya. Dewi, yang tak memiliki ayah sejak berusia 3 tahun, juga menemukan sifat-sifat kebapakan pada Panglima, yang tak ditemukannya pada Ben.
Setelah mereka semakin akrab, Dewi semakin memahami cara berpikir Panglima. Dengan sendirinya prasangka buruk yang pernah menyinggahi benaknya, sedikit demi sedikit hilang. Tentang “wanita-wanita yang ditemui Panglima”, Panglima mengisahkan padanya, mereka adalah wanita-wanita yang punya kepentingan. Artis, penyanyi, pengusaha muda, calon politikus, semua punya maksud terselubung mendekati Panglima.
“Anda tidak memanfaatkan mereka bukan, Pak?” Dewi bertanya.
Panglima menatap matanya.
“Pertanyaanmu tak akan kujawab. Biarlah itu menjadi rahasiaku dan rahasia mereka. Namun lebih baik engkau tidak berprasangka,” jawab Panglima berdiplomasi.
Pernah di Surabaya terjadi peristiwa yang menyangkut SARA, menimbulkan keributan berlarut-larut dan menyulut kerusuhan rasial. Seorang pembantu rumah tangga disiksa hingga hampir mati oleh majikannya yang ber-ras Cina. Dia lolos karena menyelamatkan diri dibantu tukang becak. Yang membuat masyarakat Surabaya terpancing emosinya dan bereaksi keras adalah eksploitasi berita oleh media massa. Disulut berita berjudul besar-besar dan bersifat amat provokatif, massa bergerak melakukan pengrusakan segala yang berbau Cina. Puluhan mobil hancur atau terbakar. Belasan toko remuk. Orang-orang tak bersalah jadi korban. Belasan orang terluka dan dibawa ke rumah sakit.
Didampingi semua staf pentingnya, Panglima memanggil semua pemimpin redaksi dan kepala biro media massa di Jawa Timur untuk briefing di sebuah ruang rapat di Kodam. Dewi, yang jabatannya hanya wartawan dan asisten editor, ikut pemimpin redaksinya namun tak boleh masuk ruangan. Bersama seorang petugas, dia tinggal di ruang sempit tempat alat-alat yang tak terpakai, yang terletak di ujung ruang rapat. Dia mengintip dari selembar kaca di pintu, dan mendengar kata-kata Panglima lewat output audio dari ruang rapat.
“Kalian mengerti kode etik pers tidak?” kata Panglima sambil menunjukkan buku kode etik pers. “Kalian harus melaksanakan pers yang bebas dan bertanggungjawab. Yang kalian lakukan sekarang hanya pers yang bebas. Mana aspek tanggung jawabnya? Selalu saja kita yang diharap membersihkan kotoran, memadamkan kebakaran, membereskan kekacauan yang kalian timbulkan. Kalian yang menyulut, kita yang diminta bertanggung jawab. Adilkah itu?”
Bahkan di balik pintu, Dewi dapat merasakan ketajaman kata-kata Panglima. Wajah yang keras dan mata yang memerah itu–kini Dewi menangkap maknanya–adalah wajah perwira yang harus bertanggung jawab terhadap stabilitas keamanan wilayah. Perwira yang merasa tugasnya terganggu. Ekspresinya adalah gambaran keprihatinan, kemarahan, sekaligus kesedihan, tak rela melihat rakyat –yang menjadi tanggungjawabnya—menjadi korban kerusuhan.
Pada akhirnya Panglima melunak, dan mengimbau media massa untuk lebih bertanggungjawab. Artinya, dalam membuat berita bukan hanya lakunya koran yang harus diperhitungkan, tetapi juga dampak dari pemberitaan itu pada masyarakat. Bila dampaknya akan negatif dan merusak, sebaiknya berita tidak dieksploitasi.
“Apakah ini berarti kami dilarang memberitakan kasus ini, Pak? Ini mengingat sebentar lagi akan ada sidangnya,” tanya seorang pemimpin redaksi.
“Saya tidak melarang. Silakan memberitakan, tetapi jaga kata-katanya. Jangan menafsir, provokatif, apalagi menghakimi. Kalau bisa, beritanya jangan diletakkan di halaman depan, apalagi sebagai headline. Itu dapat memancing kemarahan.”
“Bagaimana pemberitaan televisi dalam sidangnya nanti, Pak?” wakil dari sebuah televisi swasta menyusul bertanya.
“Sampaikan informasi sewajarnya. Hindari gambar close up wajah tersangka. Hal ini bisa merupakan “trial by the press”. Anda semua orang terpelajar, pasti tahu, sebelum divonis, tersangka belum dianggap bersalah. Innocent until proven guilty. Ingat pula, teve paling ampuh dalam membangkitkan emosi pemirsa.”
Panglima –sebagai Ketua Bakortanasda- berkata-kata layaknya seorang dosen mata kuliah kode etik. Tentu saja para pemimpin redaksi atau redaktur pelaksana itu sudah tahu. Namun di bawah pemerintahan Soeharto, para wartawan tak pernah diberi kesempatan untuk tahu, belajar, menguji pengetahuan mereka. Sebelum terjadi apa-apa, pers sudah diperingatkan. Jangan begini, jangan begitu. Pers sudah take it for granted bahwa ‘akan ada yang mengingatkan, akan ada yang menjaga’. Peristiwa penganiayaan pembantu oleh majikan Cinanya ini merupakan sebuah ‘test case’. Pers ikut marah bersama rakyat. Kemarahan rakyat, memicu kemarahan berikutnya. Ujung-ujungnya, rakyat juga menjadi korban.
Ketika semua telah mengundurkan diri, Dewi berdiri di sudut ruangan memandangi Panglima dari kejauhan, dan mulai memahami betapa keras dunia yang harus dijalani seorang Panglima. Tugasnya adalah menjaga keamanan. Bila keamanan terganggu, dia tak dapat berkompromi. Dewi mulai mengerti, sebuah kalimat yang salah dalam berita, cukup membuat Panglima berang. Apalagi berita yang sangat memancing emosi SARA, membuat rakyat kacau balau. Dia juga mengerti, mengapa Panglima pernah mempersulit izin pagelaran Rendra, melarang pertunjukan musik rock yang baru menimbulkan kekacauan di Jakarta. Untuk semuanya itu, Panglima dianggap ‘tidak berbudaya’, ‘anti-sosial’, ‘otoriter’, dan sejumlah kata-kata pedas lain dari para budayawan dan pengamat sosial yang dikutip koran-koran. Kasus penganiayaan pembantu ini menambah julukan bagi Panglima; “pembela Cina pengusaha”, ‘antek Cina’, dll.. Panglima tidak peduli. Dia memilih menjalankan tugasnya dengan baik, bukan mencari popularitas. Mata Dewi basah. Betapa ingin dia memeluk Panglima saat itu juga, dan melunakkan ketegangan garis-garis wajahnya dengan usapan lembut jari-jarinya. Ah, betapa ingin dia. Tapi Panglima cuma memandangnya sekilas dan berlalu. Bahkan ajudan Jusuf tidak memberinya secarik kertas berisi janji pertemuan seperti biasa. Panglima agaknya tak ingin berbagi rasa. Peristiwa ini agaknya terlalu pelik untuk dibahas bersama Dewi.
***
Sang Panglima
(Pada periode yang sama, sejak 2 tahun lalu)
Panglima sendiri telah menandai Dewi sejak dia –berani-beraninya!–mengembalikan uang pemberiannya saat wawancara pertama. Tidak pernah ada wartawan yang mengembalikan uang padanya! Dia pikir aku menyuap! Aku cuma mau berterimakasih. Panglima ingin marah, tapi dia tahu dia tidak berhak marah. Dia minta ajudannya mencari informasi tentang Dewi. Dari laporan-laporan yang masuk, Panglima mengenal Dewi lebih jauh.
Dalam 10 tahun menjalani profesinya, Dewi telah merebut 4 penghargaan Prapanca, hadiah tertinggi jurnalistik di Jawa Timur. Dua di antaranya tulisan tentang budaya, suatu hal yang belum pernah terjadi sebelumnya (pemenang hadiah Prapanca biasanya mengenai pemerintahan/pembangunan fisik atau lingkungan hidup). Ketika Panglima mulai menjabat di wilayah kerja Dewi, wartawan itu tak lagi seproduktif dulu. Konon dia juga bertugas di desk sebagai asisten editor. Namun berita-beritanya masih muncul sekali-sekali, tetap selektif dan bermutu. Bila wartawan suka menulis apa saja tentangnya –satu gerakan dan satu ucapan saja darinya dapat menjadi berita di surat kabar, Dewi tidak. Tulisan Dewi tentangnya tidak pernah mengenai hal yang tak perlu. Dewi adalah tipe wartawan yang tak suka menjilat pada pejabat yang dikenalnya. Dia, tidak seperti wartawan lainnya, tidak pernah tampak akrab atau dekat dengan pejabat.
Dewi bukan wartawan dari media besar. Koran tempat Dewi bekerja adalah koran daerah yang beroplag kecil. Panglima percaya koran besar lainnya telah menawari Dewi untuk bergabung. Dedikasi Dewi untuk bertahan di koran kecilnya membuatnya kagum. Dewi menikah dengan seorang seniman dan guru seni yang dijumpainya sebagai salah seorang sumber beritanya. Kehidupan mereka tidak menonjol. Dewi dikenal amat setia pada suaminya. Bila tidak berada di lingkungan kewartawanan, Dewi senantiasa dapat dijumpai di lingkungan suaminya. Kalangan seniman. Tampaknya dia cukup menikmati dunianya.
Semakin sering Panglima bertemu Dewi, semakin kentara betapa Dewi bukan wartawan sembarangan. Dia memang bukan tipe wanita yang sekali pandang dapat membuatmu mabuk kepayang. Anda harus mengenalnya beberapa lama untuk menyadari daya tariknya. Dia terkesan “classy”. Berpakaian pantas, sederhana, namun sesuai situasi. Di lapangan Dewi suka mengenakan celana jeans dan kemeja polos warna putih atau krem, sedang pada acara resmi atau malam hari biasanya dia mengenakan celana panjang dari bahan yang agak resmi, dipadu dengan blus sutra berpotongan sederhana pula. Jarang sekali dia mengenakan gaun.
Dewi juga sopan, cerdas, dan pandai bergaul. Dia bukan hanya disegani oleh rekan-rekannya, tetapi juga kelihatan sangat disukai. Ini unik. Biasanya perempuan cantik, atau pintar, apalagi gabungan dari keduanya, akan membuat orang merasa terintimidasi. Tampaknya lebih mudah dan lebih masuk akal bagi sesama wartawan untuk merasa terintimidasi oleh Dewi, apalagi dengan prinsipnya yang kuat untuk ‘anti amplop’. Namun para wartawan, lelaki dan perempuan, ditengarai Panglima, merasa nyaman dengan kehadiran Dewi di sekitar mereka. Mereka berbagi informasi, saling menolong, bahkan tak jarang saling traktir beli teh botol pada saat mereka kepanasan di lapangan. Panglima melihat hal-hal kecil seperti itu.
Seringkali dalam jamuan makan malam, Panglima melihat banyak wartawan yang tak dapat menggunakan pisau dan garpu dengan benar. Dewi kelihatan menguasai “table manner” dengan baik. Dia memegang pisau di tangan kanan dan garpu di tangan kiri dengan meletakkan telunjuk di punggung pisau dan garpu yang menghadap ke piring, bukan sebaliknya. Dia menyantap hidangan dengan perlahan. Dia menggunakan alat-alat makan dengan benar; sendok bulat untuk sup; garpu di sebelah atas piring untuk dessert (kue-kue atau buah). Pernah Panglima berpikir, “Mungkin semua pemimpin redaksi perlu menyekolahkan wartawannya ke John Robert Power. Sedikitnya supaya tidak bersikap memalukan di acara-acara terhormat.”
Pada acara-acara yang diselenggarakan oleh perwakilan negara asing, terlihat oleh Panglima, Dewi mahir pula memilih jenis-jenis minuman. Dia senantiasa memilih yang tidak beralkohol, atau sedikit champagne (ditengarai oleh Panglima, satu gelas champagne itu tak habis semalam). Dewi juga mahir berdansa, hal yang tidak biasa di kalangan wartawan. Darimana dia berasal dan dimana dia dididik?
Satu hal lagi yang membuat Panglima terkesan. Sebagai laki-laki matang, dia tahu betul Dewi tertarik padanya. Tatapan wanita itu tak dapat berdusta. Namun sampai sejauh ini, Dewi tidak pernah mencoba-coba menarik perhatiannya atau berusaha mendekatinya. Apakah karena dia telah bersuami? Nonsens. Berapa banyak wanita bersuami yang memberinya isyarat bahwa mereka siap melakukan apa saja untuk Panglima, bahkan akan merasa mendapat kehormatan? Pasti bukan suami alasannya. Ketika Dewi menyebut-nyebut suaminya, tanpa ditanya, saat berdansa di kapal, Panglima menarik kesimpulan bahwa Dewi memberinya “warning”. Dewi ingin Panglima tahu bahwa dia telah bersuami. Tapi bukankah Dewi sendiri yang mengajaknya berdansa? Bukankah dia sendiri yang begitu berani memulai?
Pertemuan pertama yang amat pribadi di Heritage Club terjadi di tahun pertama perkenalan mereka. Sejak itu mereka lebih kerap bertemu secara pribadi. Hingga kini keakraban keduanya telah terjalin selama 2 tahun. Tak banyak perkembangan dari hubungan mereka. Dewi tampak amat menikmati hidupnya dan tak ingin melangkah lebih jauh. Panglima tahu bahwa perasaannya kepada Dewi bukan main-main. Wanita itu memberinya semangat hidup yang baru. Dewi luas pengetahuan, pembicaraan mereka selalu padat dengan hal-hal baru. Ia juga agak jenaka. Yang paling disukainya, Dewi adalah pendengar yang baik. Dia tahan mendengarnya menceritakan pengalaman hidupnya, yang bagi orang lain mungkin akan terdengar membosankan. Dewi tak hanya mendengar dengan telinganya, tetapi juga dengan matanya, yang amat reaktif dan hidup merespon setiap kata yang diucapkan Panglima. Dan bila Dewi berbicara, sepasang matanya yang kecil itupun seolah ikut berkata-kata. Sebagai laki-laki dia gemas, ingin rasanya dia kecup sepasang mata itu, tapi dia tahu dia tak boleh tergesa-gesa.
Memang, kadang-kadang dia mengalami hal-hal yang mengejutkan dan tak menyenangkan dari kedekatannya dengan Dewi. Suatu hari misalnya, Dewi menelepon di kantor dan minta bertemu. Dia sudah bilang tidak mungkin, namun Dewi bilang penting. Suaranya yang setengah memaksa membuatnya menyerah. Ketika akhirnya dia temui wanita itu, Dewi cuma bertanya apakah benar dia membekukan atau mempetieskan sebuah kasus pembunuhan. Panglima terkejut. Dia berharap dan telah berupaya agar berita itu tidak keluar ke telinga wartawan. Toh Dewi mendengar juga. Bila Dewi mendengar, pasti banyak wartawan lain yang telah mendengar. Dia hendak mengatakan “no comment”. Namun tatapan mata Dewi yang begitu polos, jujur, dan meminta, menggoyahkan niatnya.
Kepada Dewi akhirnya diceriterakannya kasus “tertutup” itu. Seorang anak buahnya, berpangkat Letkol, menembak mati seorang ketua DPRD. Polisi telah diimbau untuk menutup kasus ini dari wartawan dan masyarakat. Masalahnya, penembakan terjadi di sebuah rumah bordil kelas menengah, dan si ketua DPRD ditemukan mati dalam keadaan telanjang di ranjang. Jelas dia baru melakukan hubungan seks. Dijelaskannya kepada Dewi bahwa kasus itu ditutup bukan atas kehendaknya atau korps ABRI untuk membela sang penembak, melainkan atas permintaan istri dan keluarga korban. Istri almarhum menangis, menghiba, dan memohon agar kasus suaminya tidak dibuka. Dia sudah ikhlas.
Panglima dapat mengerti. Tentu memalukan mempunyai suami tokoh politik dan panutan masyarakat yang amat terpandang, yang meninggal dunia di tempat pelacuran gara-gara berebut perempuan. Kondisi laki-laki itu, saat ditemukan, sangat tidak pantas. Atas pengaruh dan kekuasaannya, permintaan wanita malang itu dipenuhi. Tokoh DPRD itu dimakamkan secara selayaknya namun diam-diam, pelakunya –sang letnan kolonel- dihadapkan ke persidangan militer dan sudah dihukum dengan selayaknya. Sang wanita yang jadi rebutan (konon konflik mereka telah berjalan berbulan-bulan) telah diamankan (pada masa itu, ‘diamankan’ artinya ‘dihilangkan’). Kata Panglima, itu untuk menghindari pertanyaan wartawan dan masyarakat. Panglima menjamin bahwa perempuan itu betul-betul aman, bukan ‘aman’ dalam tanda petik. Dia sudah dipulangkan ke desa asalnya, dan diminta tidak keluar dari desanya sampai waktu yang cukup panjang.
“Jadi, tidak benar gosip bahwa Bapak melindungi anak buah, dan membekukan kasus kasus ini demi kepentingan korps ABRI?”
“Saya tidak membekukan kasus ini. Yang bersalah telah dihukum, saya tidak akan melindungi orang yang bersalah. Kasus itu hanya tidak diekspos –dan kami melakukan banyak cara untuk mencegah pers atau wartawan mengeksposnya. Ini atas permintaan keluarga korban,” Panglima menegaskan.
“Maafkan saya, Pak.” Dewi menunduk. Air mukanya menunjukkan betapa dia menyesal. ”Tentu dia telah berpikiran buruk lagi padaku,” pikir Panglima sambil mengembuskan nafas. Memang susah punya pacar wartawan.
“Sudahlah. Simpan cerita ini untukmu saja. Janji?”
“Ya, tapi jangan salahkan saya kalau wartawan akhirnya tahu juga. Itu pasti bukan dari saya. Gosip itu sudah beredar, pak.” Panglima tak menjawab, dia yakin para pemred sudah ’dibereskan’ untuk mencegah ekspose kasus ini.
Kemudian mereka berpisah.
Di kali lain, Dewi menanyakan padanya hal-hal yang amat peka. Meskipun dia bertanya dengan lembut dan berhati-hati, pertanyaannya amat tajam.
“Mengapa Bapak terkesan kurang akur dengan pimpinan daerah lainnya?”
Panglima memang sering beradu opini di media massa dengan Gubernur, bahkan Ketua DPR. Kepadanya Panglima berbicara. Bahwa dia dididik secara militer sejak tamat SMA. Gaya hidup dan gaya bicaranya adalah khas militer. Prinsip militer adalah: bicara apa adanya, jujur, terbuka. “Orang Jawapun, kalau dia militer, dia akan jadi pribadi yang blak-blakan, tanpa tedeng aling-aling. Kami tidak dapat berkompromi dengan kemunafikan dan tipu muslihat,” katanya. Dewi mendengarkan dengan seksama. Orang seperti Panglima tentu tak cocok menjadi gubernur, ketua DPR, ketua partai, atau duta besar, pikirnya. Panglima sendiri mengatakan sebagai prajurit dia harus siap ditempatkan di mana saja. Namun bila boleh memilih, dia lebih suka merintis kariernya di jalur militer dan ingin pensiun sebagai militer. Dia tak ingin terjun ke politik.
“Untuk menjadi seorang politikus ulung, kau harus pandai menipu, bermuka dua atau lebih. Seorang politikus dapat berbicara bagus di depan, tapi menghancurkan dari belakang. Seorang militer tidak. Kalau saya marah, akan saya lakukan face to face.”
Kelak Dewi membaca kata-kata itu dalam buku Jendral Benny Moedani. “Politicians are good liars. Military people are honest. That’s why they do not mix.”
Dewi menyimpulkan sendiri jawaban mengapa Panglima sering tidak sependapat dengan pimpinan lainnya. Sebab, dia seorang militer sejati, tak dapat kompromi dengan segala tipu dan kebohongan. Apalagi bila rakyat yang ditipu. Dewi yang sedang mabuk kepayang, tentu saja tidak memandang dari perspektif lain. Misalnya, bahwa bila Panglima bertentang dengan Gubernur, belum tentu cara pandang Panglima yang benar, dan belum tentu Gubernur menipu rakyat.
Pengalaman yang paling menegangkan adalah ketika terjadi kerusuhan Situbondo. Seorang pendeta menjelek-jelekkan Nabi Muhammad di buletin mingguannya, lalu gerejanya dibakar massa. Setelah itu pembakaran gereja berlanjut sampai meluas dari wilayah Pasuruan sampai Situbondo. Situasi sangat kacau. Banyak korban berjatuhan. Untuk mencegah meluasnya pemberitaan yang dapat memprovokasi perang agama, aparat diterjunkan ke lapangan dan diperintahkan melarang wartawan meliput. Dewi dan Zainudin, wartawan majalah berita ternama dari Jakarta, tertangkap di Situbondo. Zainudin dihajar aparat, sekalipun sudah mengaku sebagai wartawan dan menunjukkan identitas. Filmnya ditarik dan tustelnya disita. Dewi diperlakukan secara tidak sepatutnya. Setelah ‘diinapkan’ semalam di kantor Koramil setempat, keduanya dilepas. Dewi langsung mengajukan protes melalui PWI.
Sebetulnya itu persoalan kecil bagi Panglima yang juga ketua Bakortanasda. PWI bisa ditekan. Masalahnya, ini menyangkut Dewi. Panglima tahu yang diperjuangkan Dewi adalah kebenaran. Pelarangan peliputan tidak harus berarti tindak kekerasan, apalagi merusak alat liputan. Lebih dari itu, Panglima dapat merasakan kemarahan Dewi. Tak dapat dibayangkannya tubuh Dewi digerayangi anak buahnya di lapangan. Panglima dihadapkan pada pilihan yang sulit. Pada akhirnya Panglima menghukum anggotanya yang melakukan tindakan kekerasan pada Dewi dan Zainudin. Namun Dewi dan rekan-rekannya para wartawan dan PWIO juga dimintanya mengerti, bahwa pemberitaan berlebihan tak akan memecahkan persoalan, bahkan semakin memperuncingnya. Dewi masih sakit hati, dan untuk sementara mereka tidak berkomunikasi.
Dengan Dewi, Panglima merasakan sesuatu yang amat lain dan penting tengah terjadi dalam hidupnya. Memelihara affair selama 2 tahun dengan orang yang sama? Tak pernah terjadi dalam hidupnya. Apalagi affair itu hanya diisi acara makan bersama, berdiskusi, berdansa di acara tertentu. Kadang-kadang Dewi menemaninya memancing di hari libur. Mereka akan pergi ke tempat yang tak banyak dikunjungi orang, yang memungkinkan Panglima pergi secara incognito. Selama Panglima memancing, Dewi akan membaca di sampingnya.
Dewi sepenuhnya mengerti, betapa susah mendapatkan waktu berdua. Dia seorang Panglima, bukan orang sembarangan. Tidak gampang keluar mengendarai mobil sendiri. Selalu harus ada pengawal. Setidaknya ajudan. Mereka tidak bisa berhenti di restoran atau warung pinggir jalan seenaknya. Berpacaran dengan Panglima, kalau ini dapat disebut ‘pacaran’, sangat tidak nyaman. Bukan hanya karena Dewi sudah bersuami dan Panglima sudah beristri, tetapi jabatan itu. Dewi sering harus menahan keinginan; tidak bisa minum es degan dalam perjalanan ke gunung, tak dapat makan kupang lontong di Sidoarjo sepulang memancing. Mereka cuma makan di tempat-tempat eksklusif, tertutup, seperti di Heritage atau Hugo’s. Dewi sudah bosan dengan menunya.
Sampai sejauh ini, hal terjauh yang pernah dilakukan Panglima terhadap Dewi adalah memeluk pinggangnya yang ramping saat berdansa, mencium kening atau pipinya saat berpisah. Tentu saja dia ingin melakukan lebih, namun sikap Dewi membuatnya ragu-ragu. Dia takut keliru. Keadaan ini membuatnya hampir frustasi. Bagi laki-laki normal, memelihara affair 2 tahun tanpa melakukan hubungan fisik hampir mustahil. Dia tak mengerti mengapa dia bertahan. Pernah dicobanya untuk berhenti. Dua bulan dia tidak menghubungi Dewi. Ketika pada bulan ketiga Dewi tak juga menghubunginya, Panglima menyerah. Disuruhnya ajudan menghubungi Dewi. Ketika mereka bertemu, setelah sekian lama, Panglima melihat mata Dewi berkaca-kaca.
“Mengapa engkau tak mencoba hubungi aku?” tanya Panglima.
“Saya kira Bapak menghendaki hubungan kita berakhir. Saya ingin sekali menelepon. Tapi saya tak ingin mengganggu Bapak,” kata Dewi terbata-bata. Hati Panglima trenyuh. Direngkuhnya tangan wanita itu, diremas-remasnya, seolah mengungkapkan rasa hatinya.
“Maafkan aku Dewi. Saya kira hubungan kita tak ada gunanya. Saya memang ingin menghentikannya. Saya sudah mencoba. Tapi tidak bisa.”
Setengah tahun yang lalu terjadi pembicaraan yang agak serius. Mereka berada di daerah Telaga Sarangan. Kunjungan Panglima ke wilayah barat Jawa Timur. Serombongan wartawan tentu saja ikut, termasuk Dewi. Pagi-pagi buta kamar Dewi diketuk ajudan.
“Ditunggu Bapak di tepi telaga sebelah barat,” pesannya.
“Kenakan pakaian olah raga,” tambahnya. Dewi tidak membawa sepatu olahraga. Dia suka merasakan tanah dengan kakinya (di kota, di mana dapat menyentuh tanah dengan kakimu?), maka berangkatlah ia dengan kaus dan celana jeans, tanpa alas kaki.
Panglima dijumpainya dalam celana pendek dan kaus olah raga. Keringatnya di pagi buta yang dingin, menunjukkan beliau selesai berolahraga, mungkin jogging. Pagi berkabut, para pejabat lain dan wartawan lebih suka berselimut. Mereka berdua berjalan menyusuri tepi telaga.
“Dewi, bagaimana hubunganmu dengan suamimu?”
“Baik, Pak.”
“Kamu mengerti maksudku?”
Panglima mengajak Dewi berhenti, dan mereka berdiri berhadap-hadapan. Dewi menggeleng.
“Kalau begitu, pikirkan selama aku berputar lagi satu putaran.” Panglima meninggalkannya berlari mengelilingi telaga. Sambil menunggui jagung bakar yang dipesannya pada penjual di pinggir jalan, Dewi merenung. Apa selanjutnya? Ketika Panglima lewat, digigitnya jagung di tangan Dewi. “Enak,” katanya. “Satu putaran lagi, ya?” Setelah itu Dewi tak dapat lagi mengelak.
“Bagaimana?” tanya Panglima sambil terengah-engah.
“Saya bersedia melanjutkan hubungan dengan Bapak, tapi tetap dalam tahap yang seperti ini,” Dewi berupaya dengan susah payah untuk bersikap tegas.
“Maksudmu?”
“Please, jangan ajak aku ke tempat tidur, Pak.”
Panglima terkejut. Jagung bakar di tangannya terjatuh. Wajahnya mengeras –wajah tentara yang menahan marah. Dewi ketakutan. Untung Panglima–karena pengalamannya–segera dapat menguasai diri.
“Maaf, Pak. Apakah saya telah menyinggung perasaan Bapak?”
“Ya. Kata-katamu keterlaluan.” Setelah terdiam sejenak, Panglima melanjutkan, “Tapi ucapanmu memang ada benarnya. Mengapa engkau menolak bila aku mengharapkan kelanjutan?”
“Tempat tidur akan membuat hubungan kita porak poranda. Bukankah sudah indah seperti ini?” Tiba-tiba Dewi menemukan kekuatannya untuk berbicara. Panglima harus tahu sikap dan prinsipnya.
“Saya sangat menikmat berhubungan dekat dengan Bapak, saya kira Bapak juga merasa demikian. Banyak yang kita dapatkan dari hubungan yang aneh ini, ya kan, Pak? Mestinya ini sudah lebih dari cukup buat kita. Kita tak ingin menyakiti hati siapa-siapa, bukan? Kita tak ingin dunia kacau oleh ulah kita, bukan Pak?”
Mata Panglima menatapnya. Dia paham betul apa yang dimaksud Dewi. Istrinya, suami Dewi, karier mereka berdua. Tapi dia tak kuasa menahan gejolak hatinya.
“Mengapa engkau bertahan dengan suamimu? Engkau tidak mencintainya lagi,”
“Saya kira sama dengan alasan Bapak masih tetap bersama Ibu. Lagipula, dengan suami saya, saya bisa tetap bisa menjadi diri saya sendiri.”
“Denganku kau juga bisa menjadi diri sendiri.”
“Tidak, Pak. Bila maksud Bapak tidak sekadar tidur dengan saya, melainkan memperistri saya, saya akan dan harus menjadi tentara juga. Saya tidak siap begitu.”
Matahari sudah meninggi. Sosok ajudan di kejauhan menyiratkan bahwa situasi sudah tak aman lagi bagi mereka bila tetap kelihatan berdua.
“Baiklah. Untuk sementara kita sepakat terus dalam tahap begini. Kuharap besok kujumpai kau di acara Kadin di Garden Palace.”
“Siap, Pak. Saya akan datang.”
Dewi merasa bimbang. Tawaran Panglima cukup mengusik hatinya. Namun ini bukan saat yang tepat untuk memutuskan. Dia sedang dihadapkan pada persoalan lain yang tak kalah peliknya. Koran kecil tempatnya bekerja telah ‘dimasuki’ orang-orang dari Jakarta. Seorang dari Jakarta menjadi Wapemred. Dengan gayanya yang sok tahu (setiap kali Dewi ngomong begini sama Kresno, dia dibilang kena ‘sindrom orang daerah’), laki-laki asal Flores dan lama menjadi wartawan di Jakarta itu mengubah kebijakan liputan, me‘non-job’kan orang-orang yang tak disukai, dan membuat peraturan-peraturan baru. Keadaan tak tertahankan ini terpaksa dijalani, karena semua staf redaksi tahu, pemilik (yang juga pemimpin redaksi) tengah mengalami kesulitan dana. Perusahaan pers Jakarta ini akan menyuntikkan modal. Uji cobanya dengan mengirim orang sebagai ‘Wapemred’, yang diharapkan dapat mengatur arah kebijakan redaksional sehingga sejalan dengan perusahaan induknya di Jakarta.
Ketika seorang wartawan menulis berita yang menyangkut ‘keluarga Soeharto’ dan koran mendapat panggilan dari Kodam, Wapemred baru ini memerintahkan sang wartawan menghadap Kapendam. Ini ditentang keras oleh Dewi dan mereka berdebat di depan staf redaksi di meja rapat.
“Saya perintahkan wartawan bersangkutan untuk mendengarkan sendiri keluhan pihak lain dan belajar dari kesalahannya,” ujar Wapemred.
“Ini bukan pihak lain yang biasa, ini Kodam! Wartawan akan ketakutan digertak habis-habisan. Malah bisa-bisa dia dipukuli.”
“So be it!”
“Tidak bisa! Anda membunuh nyali wartawan. Dia akan kehilangan keberaniannya, dia akan menyensor dirinya sendiri, dia akan berhati-hati, dia tidak bisa menjadi ujung tombak, dia bukan lagi the hunter, dia akan hanya menjadi juru tulis.”
“Wartawan memang mesti hati-hati. Tidak bisa seenaknya menulis hal-hal yang membahayakan kita semua. Biar dia merasakan akibatnya.”
“Lalu untuk apa ada redaktur dan Wapemred seperti Anda. Kita di ruang ini harus menjadi filter. Tanggungjawab kita kalau ada yang ‘kurang hati-hati’, atau ‘kurang berkenan’, atau ‘berbau SARA’, atau ‘keluarga Soeharto’, sampai lolos di koran. Itu tugas dan tanggungjawab kita. Bukan wartawan. Tugas mereka adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya. Kita yang menyaring. Kita dibayar lebih mahal dari wartawan untuk tanggungjawab itu.”
“Ini sebagai pelajaran bagi para wartawan. Camkan: satu, jangan otak-atik urusan Pancasila termasuk penataran P4; dua, jangan singgung SARA; tiga, jangan ungkit bisnis keluarga Soeharto. Ini bukan karena kita pengecut. Ini sistem yang mesti disepakati. Salah satu dari kita berkhianat, ratusan, bahkan ribuan orang bisa tidak makan. Koran bisa dibredel.”
“Lalu, bagaimana Anda menyuruh kami menghafalkan daftar atau peta kepemilikan berbagai perusahaan oleh keluarga Soeharto? Yang paling tidak terpikirkan sekalipun, bisa mengandung saham Mbak Tutut, atau Mas Tommy, atau Mbak Mamiek. Teman saya dari SCTV kemarin meliput kasus Jembatan Merah Plaza, perseteruan antara pemilik plaza dan para penyewa. Berita itu tidak dapat ditayangkan karena di balik plaza itu ternyata ada nama Bimantara.”
“Ya, akan saya perintahkan untuk membuat daftar dan peta perusahaan yang mengandung nama keluarga Soeharto, dan harap dijadikan panduan waktu peliputan.”
“What? Saya protes keras. Ini tidak masuk akal!”
“Patuhi, atau silakan …. Pintu terbuka kalau mau keluar,” kata Wapemred dengan sombongnya (seolah perusahaan telah benar-benar menjadi miliknya).
Karena malu ditentang dalam perdebatan di ruang redaksi, Wapemred tetap bersikeras mengirim wartawan menghadap Kapendam untuk dimarah-marahi. Dewi mendapatkan Surat Peringatan I karena membangkang. Bagi Dewi, ini awal dari akhir kariernya. Apalagi dia dengar perusahaan asal Wapemred itu sudah akan membeli 90% saham surat kabarnya. Kemana dia pergi setelah ini? Dia benar-benar pusing.
Dia menceriterakan hal itu pada Panglima di sebuah kesempatan. Mereka selesai menonton ‘Schlinder’s List’ yang tidak beredar di Indonesia, di Ruang Cinema, Heritage Club. Mereka minum kopi dan membahas hal-hal kecil. Lalu Dewi menceriterakan campur tangan konglomerat surat kabar Jakarta itu, yang dirasanya mengancamnya.
“Mungkin ini awal dari akhir karir saya sebagai wartawan, Pak,” katanya, tak dapat menyembunyikan kesedihan.
“Mengapa kamu tidak pindah saja ke koran yang lebih besar di Jawa Timur ini?”
“Kalau saya pindah, saya tak akan pindah ke koran pesaing, Pak. Nggak enak, rasanya.”
“Kamu ingin pindah kemana?”
“Mungkin ke televisi, atau menjadi koresponden koran asing. Atau, saya akan di rumah saja, buka taman kanak-kanak atau membantu Ben mengajar melukis pada anak-anak”
Panglima mengelus rambutnya dan menatapnya dengan rasa cinta.
“Dimanapun kamu bekerja, kamu akan baik-baik saja. Kalau kamu mau di rumah saja, itu juga baik. Tapi berusahalah dulu. Sayang ilmu dan pengalamanmu.”
Beberapa hari kemudian, kantornya heboh. Panglima bertamu pada Pemrednya dan mereka berbincang-bincang cukup lama. Tak lama kemudian –selang dua minggu-, Wapemred ‘pendatang’ itu telah ditarik kembali ke Jakarta, dan Pemred mengumumkan pembatalan mergernya dengan konglomerat Jakarta.
“Kalau ada orang Jawa Timur yang mau membeli saham kita, mengapa mengundang orang Jakarta?” begitu katanya.
Dewi tercengang. Apakah Panglima membeli saham korannya? Masuk akal. Dia orang Jawa Timur dan dia cukup kaya, bukan? Apakah dia melakukannya untuk Dewi? Dewi terharu. Dia ingin sekali mengungkapkan apresiasinya pada Panglima. Bagaimana caranya? Lalu dia mendapatkan ide. Siang itu dia check in di sebuah kamar di Hotel Elmi dan menelpon Panglima. Panglima datang, ajudan disuruh menunggu di coffee shop.
“Saya hanya ada waktu setengah1 jam,” kata Panglima, agak tergesa-gesa. Tapi satu jam cukup bagi Dewi. Dia duduk di pangkuan Panglima, lalu diciumnya Panglima pada mulutnya. Panglima tertegun, sama sekali tidak menduga Dewi akan melakukan hal itu. Dia bahkan tidak mampu membalas ciuman itu.
“Terimakasih atas perhatian Bapak,” kata Dewi di pelukan Panglima.
“Yang penting kamu bekerja dengan rasa aman,” kata Panglima. Baru setelah memandangi wajah Dewi sesaat, Panglima menciumnya. Kali ini mereka berciuman dengan sepenuh perasaan. Sebuah tindakan yang telah ditahan selama hampir dua tahun. Tak lama kemudian Panglima melihat jam tangannya, dan buru-buru bangkit.
“Maafkan aku Dewi, tapi saya ditunggu banyak orang. Aku telah membuktikan bahwa kamu lebih penting. Kamu paling penting.”
Dewi tersenyum. Setelah mencium tangan Panglima, direlakannya Panglima pergi. Setelah sekali lagi mencium mulut Dewi, Panglima buru-buru meninggalkannya.
***
(Tadi Malam)
Lamunan Dewi buyar ketika jarinya diremas oleh tangan berjari-jari panjang itu. Film di benaknya telah berputar flash forward ke masa sekarang. Kadang-kadang Panglima sangat tidak romantis. Tindak tanduknya kaku, bahkan agak kasar. Kata-katanya lugas. Namun di kali lain, dia bisa romantis dan lembut melebihi seniman manapun juga. Upayanya menemukan alamat Dewi dan mengirim ajudan menjemputnya di kali pertama, merupakan wujud romantisme seorang perwira. Dewi sulit melupakan peristiwa itu. Keputusannya membeli mayoritas saham koran dimana Dewi bekerja, juga wujud romantisme yang lain.
“Dewi, kita tak dapat lagi menipu perasaan kita.”
“Saya bingung, Pak.”
“Seperti yang saya tulis dalam surat, saya mau mengawinimu. Tentu saja, tidak untuk publik. Sedikit diam-diam, tapi resmi, percayalah. Aku tak bisa pergi meninggalkanmu. Ya, mungkin kau harus berhenti menjadi wartawan. Jadilah ibu rumah tangga biasa. Aku, aku …”
“Ya…?”
“Aku ingin punya anak darimu. Aku ingin ngemong bayi lagi. Anak-anakku sudah besar-besar, kau tahu.”
Dewi termenung. Betapa inginnya dia punya anak. Sudah 6 tahun dia kawin dan dia belum juga punya anak. Airmata Dewi mengambang di pelupuk mata. Dia bingung. Dia tengah menerima ungkapan cinta dan lamaran seorang jenderal, betul-betul menyentuh perasaan.
“Jangan menangis. Mari kita berdansa,” ajak Panglima.
Dewi berdiri, mengikuti langkah Panglima. Panglima memeluk pinggangnya dan meraih kepalanya, direbahkannya di dadanya yang bidang. Ah, betapa lain pelukan tentara. Ada rasa aman dan terlindungi. Dewi ingin merebahkan kepalanya di situ selamanya.
“Bagaimana dengan Ibu, Pak?”
“Kau tahu aku mencintainya juga. Dia betul-betul wanita yang agung.” Dewi sudah pernah mendengar, betapa Nyonya Panglima setia mendampingi suami dari nol dan di saat-saat susah, termasuk bertugas ke pedalaman selama bertahun-tahun.
“Aku sudah menceriterakan semuanya. Dia mengerti. Hanya satu permintaannya. Dia tidak akan suka kalau aku mempermainkan kamu atau kalau kita melakukan hubungan yang terlarang.”
“Maksud Bapak, Ibu mengizinkan…?”
“Dia malah menyarankan. Aku juga, tak akan mengawini orang lain tanpa izinnya. Kalau engkau tidak berkeberatan, kalian akan bermadu. Sekali lagi, ini tidak untuk publik. Kamu tahu sendiri, saya seorang tentara. Secara agama, hubungan kita akan sah. Secara kepegawaian, tidak melanggar PP 10. Ada izin istri saya.”
Airmata Dewi jatuh. Tentu saja dia tidak akan –dan dia tak sanggup– untuk berkeberatan. Betapa luhur hati Nyonya Panglima. Tidak banyak wanita yang memiliki keikhlasan dan keluhuran seperti itu. Dewi semakin memahami mengapa Panglima amat sayang pada istrinya itu. Itu semua bukan basa basi. Mereka memiliki hubungan yang sangat istimewa.
Mereka berdansa hingga larut malam. Tak banyak kata-kata. Namun Dewi telah mengambil keputusan. Ketika pulang malam itu, dia telah bertekad mengutarakannya pada suaminya. Untung juga mereka belum dikaruniai anak. Tak ada gunanya menipu Ben terus-terusan. Secara fisik dia masih terjaga, namun batinnya telah ternoda. Dia harus mengatakannya pada Ben. Meskipun rasa cinta itu telah lama hilang, rasa sayang dan kekawanannya pada Ben tetap ada. Mungkin perpisahan ini kehendak Tuhan, dan kita tak akan tahu bila tidak mencobanya, bukan?
*****
Keputusan
(Hari Ini)
Dewi melihat suaminya menggeliat. Tepat pada saat jam berdentang dua belas kali. Ben membangkitkan badannya dan duduk menatap Dewi.
“Kau pulang larut sekali,” katanya. Biasanya Dewi akan bilang, “acara resmi baru bubar”, atau “ada tokoh yang harus saya kejar”, dan alasan semacam itu lainnya. Kini ia diam saja. Airmatanya menitik. Mengambil keputusan sudah amat berat baginya. Kini tiba saat mengutarakannya, dan itu ternyata lebih berat. Meskipun jarak mereka duduk cukup jauh dan cahaya remang-remang, Ben menangkap kilau airmata Dewi.
“Apakah ada sesuatu yang tak beres, Wi?”
Pertanyaannya menyiratkan seolah Ben merasakan sesuatu yang tak pada tempatnya. Tanpa pikir panjang lagi, kuatir dia akan mengurungkan niatnya, Dewi mengatakan apa yang hendak dia katakan.
“Aku ingin bercerai, Ben.”
Untuk beberapa saat, sunyi. Mungkin Ben tengah mencerna apa yang baru ia dengar. Dewi berusaha menatap wajahnya, namun karena cahaya di ruang tamu tempat Ben duduk lebih gelap daripada di ruang makan tempat Dewi duduk, dia tak dapat menangkap ekspresi wajah suaminya.
“Kau tak mencintaiku lagi?” tiba-tiba Ben bersuara, memecah kesunyian.
“Maafkan aku, Ben. Aku tak mencintaimu lagi sejak 2 tahun yang lalu.”
“Hm. Luar biasa. Selama dua tahun ini engkau masih melayaniku di meja makan dan di tempat tidur. Aku tak melihat ada persoalan. Apakah kau sangat arif, atau aktor yang pandai berpura-pura?” suara Ben menajam.
“Maaf Ben, aku tak dapat menipumu terus menerus. Kupikir lebih baik kita berpisah. Engkau akan lebih bahagia tanpa aku. Dan kau layak mendapatkan orang yang lebih baik dariku.”
“Apakah ini karena Panglima?”
Pertanyaan Ben mengejutkan Dewi. Apakah Ben cuma mengira-ira atau dia memang sudah tahu?
“Ya, Ben. Karena Panglima,” Dewi mengambil keputusan.
Ben tertawa keras. Tawa yang kering dan hampa.
“Akan kukatakan pada teman-temanku dan kerabat kita bahwa Panglima merebut istriku. Ternyata seleraku tinggi juga, sama dengan selera seorang jendral. Mestinya aku mendapat kehormatan ya, rela melepaskan istri untuk seorang Panglima. Engkau pasti bangga juga. Ya, engkau pasti bangga. Tak banyak terjadi seorang wartawan membuat jatuh hati seorang jendral.”
“Ben, hentikan…”
“Ya, dia memiliki segalanya. Kekuasaan, kekayaan…”
Dewi naik pitam. Dia tak suka kekasihnya dilecehkan. Terutama dia tak suka Ben berpendapat dia beralih karena terpikat kekuasaan dan kekayaan.
“Kau lupa, Ben. Dia juga tampan, dan punya banyak perhatian,” katanya dengan nada tak kalah kerasnya.
“Perhatian, katamu? Perhatian apa yang kurang dariku?”
“Engkau tak pernah mengajakku berdansa.”
Ben terkejut. Kepalanya seperti disambar halilintar. Apakah Dewi bergurau?
“Aku tak bergurau. Ya, kita tidak pernah berdansa. Aku tahu engkau tak suka berdansa. Namun kau juga tahu aku suka sekali berdansa. Kau menyuruh aku berdansa dengan siapa saja. Aku tak dapat berdansa dengan siapa saja. Aku hanya mau berdansa dengan orang yang kucintai. Engkau tak mau. Panglima mau.”
“Dewi, apakah engkau akan meninggalkan aku hanya karena aku tidak mengajakmu berdansa, sedang Panglima melakukannya?” wajah Ben dipenuhi tanda tanya besar.
“Kau boleh berpikir menyempit atau meluas. Terserah. Aku cuma ingin ingatkan padamu sebagai lelaki dan suami, jangan pernah mengabaikan hal-hal kecil dalam hubungan suami-istri. Berdansa bagimu hal kecil. Bagiku, itu bisa jadi persoalan besar.”
Keduanya terdiam.
“Jadi Ben, kumohon pengertianmu…”
“Tidak!” Ben memotong. “Jangan harapkan izinku. Engkau istriku. Aku masih mencintaimu, dan akan mempertahankanmu.”
“Tapi Ben, itu tidak memecahkan persoalan.”
Dewi teringat Nyonya Panglima. Dia merelakan suaminya menikah lagi tentu bukan karena dia tak mencintainya. Justru karena dia mencintainya, dia rela suaminya mencari kebahagiaan lain. Kini Ben menyatakan mencintainya, namun justru karena itu pula dia tak akan melepaskannya pergi. Betapa berbeda ekspresi cinta seorang dengan lainnya. Keduanya kemudian berdebat tentang cinta, perkawinan, dan masa depan. Kadang-kadang Dewi menangkap kata-kata Ben benar. Namun wajah Panglima terus menghantuinya dan membuatnya bersikeras pada tekadnya. Pukul 3 dini hari mereka kelelahan. Tak ada penyelesaian. Dewi merebahkan badannya yang penat di tempat tidur. Pikirannyapun amat letih. Dia butuh istirahat. Dia tertidur dengan cepat.
Dia terbangun ketika didengarnya suara-suara di pintu. Seseorang mengetuk-ngetuk pintu rumahnya. Ketika ia membuka mata, matanya silau oleh cahaya matahari yang menerobos lewat kisi-kisi jendela kamar tidurnya. Jam di dinding menunjukkan sekitar pukul 8 pagi. Suara di pintu tak juga berhenti. Dengan agak sempoyongan karena masih mengantuk, dia bangkit dan menuju ke ruang tamu. Ben tak ada di kamar tidur, kamar makan, atau kamar tamu. Dewi semakin terkejut ketika menyadari dirinya terkunci.
“Mbak Dewi, cepat buka pintu,” suara di luar terus terdengar, sambil sesekali diselingi ketukan di pintu yang semakin keras. Itu suara Pak Jusuf, ajudan Panglima. Dewi panik. Ben tak ada, kunci rumah dibawa. Jelas Ben sengaja menguncinya supaya ia tak pergi ke mana-mana.
“Mbak Dewi…!”
“Pak, tolong Pak. Saya terkunci,” kata Dewi dari balik pintu. Pak Jusuf yang menyadari situasi segera bertindak. Setelah menghilang sesaat, dia kembali dengan sebuah alat dan membongkar kunci pintu. Ketika pintu terbuka, Dewi ditemukan dalam keadaan buruk, dengan pakaian yang dikenakannya semalam, rambut kusut masai. Tanpa banyak bicara, ajudan membenahi baju Dewi, menyisir rambutnya, mencarikan sepatunya, kemudian membimbingnya keluar. Ajudan menyetir mobil dengan kecepatan tinggi, menuju kediaman Panglima di Jl. Raya Darmo.
Di kediaman Panglima, sebuah truk besar sibuk mengangkuti barang-barang. Hari ini keluarga Panglima pindahan, sebab rumah dinasnya akan disiapkan untuk pejabat yang baru. Orang hilir mudik, dan tak ada yang merasa perlu memperhatikan kedatangan Dewi. Dewi setengah didorong masuk ke ruang kerja Panglima oleh ajudan. Di ruangan itu, Panglima duduk di balik meja kerja. Sebuah tangannya terbalut perban putih yang di sana sini merah kena darah. Di pipinya ada goresan luka memanjang yang disapu obat merah. Beberapa bagian wajahnya memar dan kebiru-biruan.
“Pak!” Dewi terkejut. “Apa yang terjadi?”
“Duduklah,” kata Panglima. Dengan pandangan sedih Panglima menatap Dewi, wanita yang dicintainya. Baju itu baju yang dikenakannya semalam. Masih terasa oleh Panglima hangat tubuh Dewi dalam dekapannya ketika mereka berdansa. Wanita itu kini kelihatan kusut masai.
“Suamimu meninggalkanmu?”
“Kami berdebat semalam. Dia tak akan melepaskan saya, Pak.”
“Ya. Pagi tadi, subuh, dia kemari.”
“Kemari?” Dewi sangat terkejut. Tentu saja dia tak pernah berpikir Ben akan senekad itu. Reaksinya benar-benar di luar dugaan. Panglima tersenyum. Senyum sedih. Dia bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan mengelilingi meja, dan berhenti di sisi Dewi. Dia duduk di kursi yang sejajar dengan kursi Dewi. Diraihnya kedua tangan wanita itu. Ditatapnya matanya.
“Dewi, aku membatalkan lamaranku padamu.” Suara Panglima terdengar bergetar. Dewi bingung. Dia tak percaya apa yang didengarnya. Dia telah mengambil keputusan, dan sekarang Panglima membatalkannya.
“Dengarkan aku, Dewi. Kau memiliki suami yang luar biasa. Dia sangat mencintaimu. Dia mendatangiku dan minta aku untuk tidak mengganggumu. Ketika aku mengajaknya beragumentasi, dia malah memukul wajahku dan hampir membunuhku dengan pisau yang dibawanya.”
“Ben? Dia melakukan itu pada Bapak?” Dewi sulit percaya suaminya memiliki nyali sebesar itu. Melawan seorang Panglima? Sendirian?
“Ya, Ben, suamimu. Kamu tahu risikonya menyerang seorang Panglima? Hukuman kurungan penjara beberapa tahun, dan itu ditempuhnya demi mempertahankan kamu. Dewi, aku… aku merasa kecil di hadapannya.” Mata Panglima berkaca-kaca. Belum pernah Dewi melihat laki-laki tegar itu dalam ekspresi semacam itu. Wajahnya penuh luka dan matanya penuh duka. Dengan gemetar diangkatnya jari-jarinya, disentuhnya mata Panglima. Diusapnya airmata yang hampir menitik itu, sementara airmatanya sendiri jatuh.
“Kembalilah padanya. Engkau beruntung mendapatkan suami yang begitu berjiwa ksatria. Mungkin aku tak dapat mempertahankan kamu sebagaimana Ben melakukannya. Dia benar-benar seorang perwira. Aku cukup bahagia mengetahui kau berada di tangan orang yang benar. Aku tahu, kau aman,” ujar Panglima.
Dewi termangu. Dia tak pernah menyadarinya. Betapa berharganya seorang Ben, yang senantiasa melimpahinya dengan cinta dan kasih sayang, memberinya kepercayaan, mengizinkannya menjadi dirinya sendiri. Panglima menyadarkannya, bahkan dengan rela melepaskannya. Sesuatu yang tentu berat juga baginya. Dewi dapat merasakan getar jari-jari Panglima di tangannya. Panglima berat melepaskannya, tetapi itu hal yang harus dilakukan.
“Sekarang di mana dia, Pak?” tanyanya lirih.
“Di kamar belakang.”
“Apakah Bapak akan …?”
“Tentu saja tidak. Tak ada yang perlu dilaporkan. Anggap tak ada kejadian apa-apa. Setelah ini kalian pulang diantar Pak Jusuf. Kami akan terbang ke Jakarta sore ini. Mungkin kita tak akan bertemu lagi.” Panglima terdiam sejenak. Dia tampak ragu-ragu.
“Ya, saya kira sebaiknya begitu,” akhirnya dia memutuskan.
Panglima berusaha tidak menampakkan emosinya. Dia segera berpaling, kemudian bangkit.
“Terimakasih atas apa yang pernah kau berikan padaku, Wi. Kini, tengoklah dia.”
“Pak ….” Wajah Dewi basah oleh airmata. Dia sangat mencintai Panglima, tetapi Panglima telah membuat keputusan yang baik bagi mereka. Dia tak dapat membayangkan hidupnya tanpa Panglima lagi, tapi itu patut dicoba.
Ben meringkuk di sebuah kamar kecil yang hanya berisi sebuah meja dan 2 kursi. Dewi mengenalnya sebagai ruang interogasi, yaitu tempat para pimpinan redaksi, wartawan, tokoh politik, pimpinan pemuda dan mahasiswa, seniman, dan kalangan masyarakat lainnya dimintai keterangan bila ada hal-hal yang disinyalir akan mengganggu keamanan. Keadaan Ben lebih buruk daripada Panglima. Mukanya babak belur. Dewi dapat membayangkannya, ketika ia menyerang Panglima, tentu beberapa tentara yang tengah bertugas jaga mendengar keributan itu. Panglima tentu saja tak dapat mencegah para pengawalnya memukuli Ben, kemudian mereka menyekapnya di ruangan ini.
Ben tampak kesakitan. Ketika didengarnya pintu terbuka, dia membuka mata. Memandang ke mata Ben, Dewi seperti menemukan tempatnya berlabuh. Segera dia melabuhkan tubuhnya di pangkuan Ben, dan menangis di pundaknya. Ben memeluk dan menciuminya.
“Kau sangat mencintaiku bukan, Ben?”
“Aku akan membuatmu mencintaiku lagi, Wi. Aku berjanji. Aku percaya, kau akan dapat melupakannya bila kau tak lagi bertemu dengannya.”
“Kau memaafkan aku, Ben?”
“Maafkan aku karena aku tak pernah mengajakmu berdansa,” kata Ben.
Dewi terisak. Ben memaafkannya. Dia malah minta maaf. Sebuah awal yang menjanjikan.
Mereka masih berpelukan ketika Nyonya Panglima masuk membawa dua cangkir teh hangat. “Minumlah, nak,” katanya lembut. Setelah menatapnya sesaat, Dewi memeluk wanita arif itu. Ia tersedu.
“Engkau memiliki orang yang sangat mencintaimu. Tinggallah bersamanya. Aku tak punya siapa-siapa lagi selain Panglima. Biarlah aku menemani dan dan merawatnya di hari akhir kami,” kata Nyonya Panglima, kemudian dia berlalu.
Panglima menatap ke layar monitor. Ruang interogasi itu memang dipasangi kamera yang merekam gambar dan suara. Wanita yang dicintainya itu kini berada di pelukan suaminya sendiri. Dia akan sangat kehilangan. Betapa perih rasanya kini. Namun melalui Ben, Tuhan telah menyadarkannya bahwa Dewi bukan miliknya. Dia bersyukur pernah mengenyam kebahagiaan bersama perempuan istimewa itu. Dua tahun yang sangat berharga. Ketika Nyonya Panglima memasuki ruang itu, untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, ia mendengar suaminya terisak.
**End**
Sirikit Syah
1993
Mbak Sirikit. Saya tidak di Medan, tapi di Padang, Sumatera Barat. Konon, Sumatera Barat gudangnya penulis, khususnya sastra. Tapi dulu, seperti masa Hamka, Sutan Takdir Ali Syahbana, Rosihan Anwar, dll. Entah sekarang, karena di tingkat nasional nama-nama penulis sastra asal Sumatera Barat makin terbenam. Oya, saya pengagum tulisan-tulisan Mbak Sirikit. Saya selalu setia membaca tulisan Mbak yang bernas, baik di milis ataupun di Sabili, sebab saya kebetulan koresponden Sabili untuk wilayah Sumatera Barat. Oya, saya kira novel ini bukan yang terakhir. Saya menunggu novel Mbak lainnya, untuk saya ‘kunyah-kunyah’, bahwa saya juga perlu banyak belajar dari seorang Sirikit Syah. Salam untuk keluarga.
Sebuah novel yang bagus. Cukup menyentuh. Tapi ada kalimat yang sedikit mengganggu. “Mencium mulutnya”, agak rancu. Mungkin lebih menarik, “mencium bibirnya”. Namun saya kira, Mbak Srikit punya alasan memilih diksi itu. Dunia wartawan, memang, penuh romantika. Novel Mbak mengingatkan banyak wartawati teman saya yang mengalami hal serupa. Namun cerita ini, saya kira, bukan pengalaman pribadi Mbak. Salam kenal dari Ranah Sumatera Barat. aan_mm@yahoo.com, 081374442075.
Salam,
terimakasih apresiasinya. Novel ini saya tulis tahun 1993. Jadul banget ya? Pernah saya ikutkan sayembara novel femina, tidak menang. tiap tahun saya perbaiki. Dibuang sayang. Belum pernah diterbitkan. Detil di kisah ini fakta: ruang-ruang di kantor Pangdam, kapal angkatan perang, hotel di sarangan, dll. maklum, berdasarkan pengamatan sendiri. Kisah-kisah para wartawan juga berdasarkan curhatan teman-teman seprofesi. kalau soal tokoh wartawati dan panglima …. hehehe, itu mah cuma khayalan. kebetulan saya pernah dekat/bersahabat dengan seorang pangdam, lalu berkhayal, bagaimana ya kalau ada wartawati pacaran sama Pangdam, lalu saya mereka-reka. Namanya juga pengarang! Thanks masukannya. Tentang “mulut” saya kira itu pilihan diksi yang saya sengaja.
Salam untuk para wartawan di Medan, sampaikan saja kisahku ini kepada mereka. Saya berempati kepada para wartawan yang terjebak cin-lok. Emangnya cuma artis yang kena cin-lok?
sirikit