BBM vs Teh Botol


 

Apa hubungan antara Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan teh botol? Perbandingan menarik ini diungkapkan Angky Camaro, Managing Director PT HM Sampoerna, di Stikosa-AWS Kamis pekan lalu. Angky mengatakan, media massa kurang memberi pemahaman kepada masyarakat mengenai proses produksi BBM yang sangat panjang, rumit, dan mahal. Untuk melokasi bakal kilang minyak saja, diperlukan biaya jutaan dolar. Lalu, dilakukan pengeboran, dan belum tentu minyak yang diharapkan, ditemukan. Bila ditemukan, diperlukan pekerjaan eksplorasi, produksi,  penyaringan, lalu distribusi, sampai kepada konsumen. Dan harga dari semua proses itu adalah 1 liter = Rp 2400, sementara teh botol 1 liter = Rp 6000. Artinya, kata Angky, negara kita ini negara paling aneh di dunia, karena air teh yang proses produksinya mudah dan ongkos produksinya murah harga jualnya lebih mahal daripada bensin!

 

Iklan layanan masyarakat satu halaman penuh di harian Kompas, dimana para tokoh masyarakat dan kaum cerdik cendekia membela keputusan pemerintah menaikkan BBM, dikecam banyak kalangan, di antaranya kaum cerdik cendekia lainnya. Kalangan pro-kenaikan BBM mengatakan, tidak masuk akal kalau harga bensin lebih murah daripada harga teh atau air minum kemasan. Harga BBM di Indonesia jauh lebih rendah dari harga pasaran dunia, dan itu dapat terjadi karena pemerintah sudah lama mensubsidi BBM.

 

Kalangan anti-kenaikan BBM, yang tentu saja sama pintarnya, mengatakan bahwa selama ini pemerintah tidak benar-benar mensubsidi BBM. Semua data yang dikemukakan itu tidak riil. Selama ini yang disubsidi adalah para pejabat dan pegawai yang berkecimpung di dunia perminyakan. Artinya, subsidi masuk kantung berupa standar gaji yang fantastis dan tidak peka pada krisis ekonomi bangsa. Lebih dramatis lagi propaganda kalangan anti-kenaikan: naiknya harga BBM akan membunuh para nelayan dan menambah jumlah orang miskin!

 

Bila dipikir secara nalar, yang dikatakan Angky Camaro masuk akal. Bagaimana kita bisa menerima kenyataan harga bensin lebih murah daripada teh dan air kemasan? Kalau rakyat bisa membeli teh botol dan air minum dalam kemasan yang begitu mahal, mengapa keberatan dengan naiknya harga BBM? Agak diragukan juga argumentasi kalangan anti-kenaikan bahwa nelayan akan mati dan rakyat akan makin miskin. Kata Angky, 80% pengguna BBM adalah kalangan ‘the haves”, yang bisa beli mobil seharga Rp 500 juta, bahkan Rp 1 milyar. Sebagian besar rakyat kecil, terutama nelayan, menggunakan minyak tanah, yang masih disubsidi pemerintah.

 

Saya sendiri juga heran kepada para mahasiswa demonstran anti-kenaikan BBM. Mereka ini jarang sekali demo atau protes bila terjadi kenaikan harga pupuk atau jatuhnya harga gabah. Padahal para mahasiswa itu disokong oleh orangtua yang bertani di daerah, yang sangat terpukul dengan anjlognya harga gabah dan naiknya harga pupuk. Di desa-desa, banyak petani yang bahkan tak mendapatkan sisa dari selisih ongkos produksi dan harga jual gabah. Petani semakin miskin, tapi bukan karena naiknya harga BBM. Sementara anak-anak mereka yang sekolah di kota-kota sibuk demo membela para pengguna BBM, golongan “the haves”.

 

Saya masih tidak tahu apakah harus pro atau anti kenaikan harga BBM. Yang lebih penting adalah pemenuhan janji-janji pendidikan dan kesehatan gratis atau murah untuk rakyat, dua hal mendasar bagi sebuah bangsa yang besar. Bagaimana bangsa bisa besar bila rakyat kurang pendidikan dan tidak sehat? Untuk memenuhi dua hal pokok ini, sebetulnya memang tidak semata-mata dengan menaikkan harga BBM, wong itu sudah tercantum dalam Undang-undang, dan berkali-kali menjadi janji kampanye presiden dan wakil presiden. Jadi, sebetulnya, tak ada hubungan antara memajukan pendidikan & kesehatan rakyat dengan naiknya harga BBM. Tapi kalau sekarang digembar-gemborkan lagi, kita tunggu saja, apakah dana “kompensasi” itu benar-benar turun ke bidang pendidikan & kesehatan? Bila tidak, para tokoh pendukung kenaikan harga BBM itu akan ikut menanggung dosa pemerintah kepada seluruh rakyat Indonesia.

 

Sirikit Syah

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s