Oleh: Sirikit Syah
Kasihan juga ya para pemimpin kita itu. Semua aspek kehidupan kita, rakyatnya, menjadi persoalan. Mari kita mulai dengan persoalan beras dan petani. Dua orang sedang berbincang seperti ini:
Slamet: “Kita harus impor beras karena stok kita tidak mencukupi. Kata Pak Jusuf Kalla, itu penting, kalau-kalau terjadi bencana.”
Bejo: “Stok beras kita, kata Pak Siswono Yudo Husodo, mencukupi. Mengapa berpikir tentang bencana? Jangan-jangan itu cuma dalih supaya bisa impor.”
Slamet: “Tapi persediaan akan habis kira-kira bulan Maret.”
Bejo: “Bukankah Februari dan Maret nanti petani akan panen raya? Kalau panen berlimpah, lalu gudang Bulog sudah dipenuhi beras impor, beras petani mau dibawa kemana? Harga gabah anjlog lagi. Atau petani membakar gabah saking jengkelnya.”
Slamet: “Tapi sudah tanggungjawab Bulog untuk mengatur pengadaan beras dan menstabilkan harga. Rasa tanggungjawabnya itulah alasan untuk impor, untuk menjaga ketersediaan (stok). Sekarang saja, harga beras petani mahal, apalagi kalau beras sudah langka.”
Bejo: “Aneh juga ya, beras petani sendiri kok bisa lebih mahal daripada beras impor dari Vietnam. Ini yang salah yang jualan atau yang mengatur harga (Bulog)? Lagian, memang kenapa kalau beras petani mahal? Bagus, kan? Petani bisa sedikit lebih sejahtera.”
Slamet: “Tapi bagaimana dengan rakyat bukan petani? Mereka berteriak karena beras mahal. Lihat para buruh. Upah minimum hanya habis untuk transpor dan makan siang. BBM sudah naik. Listrik akan naik. Bebas SPP belum terealisasi juga. Bulog menjaga kesejahteraan petani saja atau rakyat secara umum?”
Bejo: “Yah, benar juga ya. Memang susah jadi pemimpin. Makanya tidak semua orang bisa menjadi pemimpin. Kalau sebagai pemimpin tidak memberikan solusi, melainkan semakin menambah persoalan, kan sama juga bo’ong?”
Slamet: “Makanya, jangan suka ngiritk saja. Coba kamu jadi Gubernur, atau Bupati, atau Kepala Dinas Pendidikan, atau Kepala Bulog, baru tahu rasa!”
Bejo: “Jangan begitu dong. Aku tahu diri, aku tak mampu, makanya tidak mencalonkan diri menjadi pemimpin. Yang sudah ‘ngotot’ jadi pemimpin itu loh, sudah amanat belum? Aku sependapat kalau menjadi pemimpin itu berat, menghadapi banyak dilema. Buruh sejahtera tapi perusahaan segera tutup, atau industri berjalan tapi upah buruh tidak naik; harga beras petani diterima dengan konsekuensi hidup buruh semakin sulit, atau impor beras dengan konsekuensi petani menangis. Yah, dilemanya cukup berat. Tapi pemimpin kita tampaknya tidak menghayati dilema itu, tidak kelihatan sulit tuh?”
Slamet: “Kok bisa sih, kamu ngomong begitu?”
Buruh: “Lihat saja, gaya hidupnya. Kalau pemimpin setelah menjadi pemimpin harta kekayaannnya diaudit tidak bertambah, atau malah berkurang, itu tandanya dia telah bekerja dengan baik. Kalau jadi pejabat semakin kaya, rumahnya terus bertambah, mobilnya ganti setiap tahun, rekeningnya membengkak; bagaimana kita percaya mereka menghayati dilema? Jangan-jangan mereka cuma sibuk menumpuk kekayaan untuk simpanan hari tua atau kesejahteraan anak cucunya, tak ada waktu untuk sungguh-sungguh mencari jalan keluar bagi pesulitan bangsa ini.”
Slamet: “Kalau kamu, bagaimana menunjukkan penghayatan dilema?”
Bejo: “Gampang. Dalam hal kasus buruh versus majikan/industri, pemerintah dan pejabat harus berkomitmen untuk menghapus biaya siluman yang menjadikan high cost biaya industri. Dalam hal kasus beras petani, tunjukkan bahwa komisi atas beras impor itu dikembalikan pada petani untuk beli pupuk, bukan masuk rekening para pejabat/pemerintah yang “ngotot” perlu impor beras itu.”
Dua orang ini terdiam, merenung. Ada yang salah dalam argumen mereka, ada yang benar dalam argumen lawan. Tiba-tiba si Bejo mengajak Slamet “jalan-jalan” ke Iran.
Slamet: “Mengapa ke Iran?”
Bejo: “Cuman ingin tahu, di manakah Presiden Ahmadinejad tinggal.”
Presiden baru Iran itu ternyata tetap tinggal di rumahnya yang jelek (dinding luarnya masih bata, belum diplester/ditembok), di sebuah jalan kecil yang tidak populer, di kawasan timur ibukota, Teheran. Para tetangga yang keluar masuk jalan itu memang terpaksa didata dan dimonitor untuk menjaga keamanan. Tetapi mereka tidak keberatan. Mereka malah takjub, presidennya tetap tinggal di situ, tidak di sebuah istana megah. Para tetangga juga senang karena ikut merasakan fasilitas keamanan. Lalu, sepatu Presiden Ahmadinejad belum ganti juga. Masih sepatu coklat kusam (hampir hitam) yang ada bekas lumpur karena sering mengunjungi wilayah-wilayah kelas bawah. Mau tahu apa isi press release pertama Presiden Iran ketika baru terpilih? Isinya: Semua pihak diimbau untuk tidak memasang iklan ucapan selamat di koran-koran, dan semua kantor dilarang memasang foto presiden! (Di Jawa Timur, sekarang saja kampanye sudah terang-terangan, padahal pemilihan baru terjadi tahun 2008!).
Bejo: “Bagaimana?”
Slamet: “Yah, kamu betul juga. Memang susah jadi pemimpin. Presiden Iran itu juga mengalami kesusahan: masih banyak rakyat miskin, banyak perempuan tak merasakan pendidikan, banyak pelanggaran HAM, terancam diembargo, dimusuhi masyarakat internasional. Tetapi karena sosoknya menunjukkan kesederhanaan dan keprihatinan, rakyat percaya padanya dan mendukungnya.”
Bejo: “Kita percaya nggak ya, bahwa pemimpin kita sedang mengalami dilema?”
Slamet: “Jangan-jangan pemimpin kita tidak tahu apa itu dilema, dan tak tahu bahwa dirinya mengalami dilema. Yang penting terima komisi impor beras, dan ongkos-ongkos siluman dari para industriawan tetap diterima, tak peduli petani dan buruh teriak-teriak. Tak ada dilema di kamus mereka. Jangan-jangan …..”
30 januari 2006