Baru-baru ini saya membaca berita tentang Rahardi Ramelan, intelektual yang menjadi korban politik Golkar. Matan Kabulog itu akan menjalani hukuman 2,5 tahun penjara –sementara Akbar Tanjung lolos. Ramelan menyatakan siap menjalani kehidupan penjara asalkan diperbolehkan membawa laptop. Dia akan menulis buku selama di penjara.
Yang menarik dari kisah Rahardi Ramelan ini adalah kutipannya saat diwawancarai (Tempo, 21-27 Agustus 2005), “Akademisi bisa dan boleh salah, tetapi dia tak boleh bohong. Politikus sebaliknya, bisa bohong tapi tak boleh salah.” Itu sebabnya, kesimpulan saya sendiri, Habibie dan Akbar Tanjung harus dijaga “kebenarannya”, dan intelektual seperti Ramelan, yang tak mahir berbohong dan lemah berpolitik, boleh “salah” (baca: boleh dipenjara).
Lalu, apa hubungannya kisah ini dengan judul tulisan saya? Seniman juga tidak boleh bohong. Karyanya buruk, atau gagal, boleh; tapi seniman pada umumnya jujur. Bahkan kalau dia cuma “ngarang” atau “ngayal”, dia jujur berkata bahwa dia memang sedang mengarang atau berkhayal.
Dua malam berturut-turut pekan lalu saya berjalan bersama Pak Suparto Brata, penulis Surabaya yang paling produktif dan tiga kali menerima penghargaan Rancage (penghargaan tertinggi tingkat nasional dalam pelestarian dan pengembangan sastra daerah). Pertemanan saya dengan Pak Parto dimulai sejak saya masih SMA, waktu dia masih staf Humas Pemkot Surabaya. Kata Pak Parto malam itu, “Orang yang paling sulit diatur adalah: nomor satu orang edan, nomor dua seniman, nomor tiga wartawan.”
Lha, itu kan aneh, sebab baru saja dia menceriterakan kegiatannya sehari-hari yang menunjukkan, betapa teratur hidupnya. Pada usia 74 tahun, Pak Parto bangun setiap pagi sekitar pukul tiga, langsung mengetik. Setelah shubuh, jalan kaki. Pukul 6, kembali ke rumah, sarapan. Usai sarapan, membaca koran, lalu mengetik lagi hingga pukul 12 siang. Usai makan siang, istirahat. Sore mengetik lagi. Malam hendak tidur mengetik lagi. Kadang-kadang bepergian, menghadiri acara-acara sastra dan budaya di Surabaya, atau menghadiri undangan di Jakarta dan kota-kota lain di Indonesia. Seperti saya, Pak Parto suka naik bemo kemana-mana. “Enak, bisa menikmati kota dan mengamati penumpang-penumpang lain. Siapa tahu bisa jadi karya,” katanya.
Siapa bilang seniman tidak disiplin? Budi Darma, yang baru saja menerima penghargaan dari Freedom Institute, sangat rajin menulis. “Kalau sedang menulis, saya tidak boleh diganggu, atau tulisan saya berhenti dan tidak jadi,” katanya. Ratna Indraswari Ibrahim, pengarang perempuan dari Malang, meskipun tangan dan kakinya tidak berfungsi, juga disiplin mendiktekan karya-karya cerpennya untuk diketikkan oleh asisten. Ratna adalah salah satu pengarang perempuan Indonesia terhebat saat ini, bersama Oka Rusmini dari Bali (setidaknya menurut versi saya sendiri).
Saya juga bertemu Zoya Herawati malam itu di Dewan Kesenian Surabaya, yang seperti oasis di tengah hiruk pikuk metropolitan (salut pada teman-teman seniman yang bertahan menghidupkan kompleks Balai Pemuda dengan kegiatan-kegiatan kesenian dan kebudayaannya). Zoya, yang, ketika saya sudah terkenal sebagai penulis cerpen tahun 90-an, masih terengah-engah meniti karir kepenulisannya, kini bukunya terus terbit secara beruntun. Sebuah bukunya ada yang ditulis selama 10 tahun! Penulis yang “kekiri-kirian” dan “agak feminis” ini kini melejit jauh meninggalkan saya –yang terlalu banyak urusan. Sehari-harinya Zoya adalah guru sebuah sekolah menengah. Di tengah-tengah pekerjaannya sebagai guru, dia menulis cerpen atau novelnya dengan tangan di kertas-kertas yang ditemuinya. Sampai di rumah, kertas-kertas itu diserahkan pada asistennya untuk diketik.
Gila! Pengarang punya asisten juru ketik! Saya bangga sekaligus iri pada Zoya. Mewah sekali dia, seorang guru, dan pengarang, bisa menggaji asisten demi kepengarangannya. Saya betul-betul bangga pada kawan saya yang satu ini. Sebetulnya, Zoya bukan bermewah-mewah menyisihkan sebagian pendapatannya untuk menggaji asisten, melainkan dia bersungguh-sungguh dalam profesi kepenulisannya.
Bergaul dengan seniman memang menyenangkan. Tak ada intrik atau politik. Paling “sengit” adalah pamer karya atau olok-olokan (saling kritik) soal karya. Semua kegiatan para seniman berporos pada “apa karyamu?” Sesuatu yang sangat konkret. Orang yang mengaku-aku sebagai seniman namun bukunya tidak pernah terbit atau tidak pernah pameran lukisan, akan tergilas dengan sendirinya. Tak ada seniman yang membeli atau punya ijazah palsu. Ijazah palsu untuk sok-sokan itu tidak laku di dunia seniman. Seniman sangat PD (percaya diri) dengan kemampuannya dan tak memerlukan segala embel-embel itu (mohon jangan samakan Anwar Fuadi pemain sinetron itu dengan seniman yang saya maksudkan di sini).
Maka, jangan ditanya apa kontribusi seniman pada negara, tetapi bertanyalah apa yang diberikan pemerintah dan penguasa kepada para seniman? Nyaris tidak ada. Bila ada seniman mewakili negara karena prestasinya di luar negeri (misalnya Garin Nugroho, Christien Hakim, Elfa Secoria), mereka berangkat atas biaya sendiri atau biaya pengundang. Para senimn sangat mandiri dan mereka tidak pernah cengeng mengemis dana dan perhatian. Tanpa gembar-gembor, seniman menyumbangkan nama baik baik negara.
Betul juga kalau dikatakan, bangsa kita ini mestinya mulai memperhatikan sektor kreatif. Sebuah bangsa yang kreatiflah yang akan survive di tengah arus globalisasi. Bangsa yang produktif hanya akan mengekspor TKI & TKW, memperbanyak kelas buruh atau pengangguran, sementara pos kerja kelas menengah atas yang membutuhkan kreativitas (misalnya dunia periklanan, penyiaran, marketing, industri film & sinetron, public relations) dimasuki pekerja-pekerja (dengan jabatan konsultan) asing.
Pak Parto, dua puluh lima tahun yang lalu, sudah kreatif. Sementara rekan-rekannya main catur atau baca koran, di kantor Humas yang sumpeg itu Pak Parto mengetik cerpen. Meskipun sekarang sudah menjadi pengarang terkenal, dalam kartu namanya Pak Parto tidak menyebut diri “author”, melainkan “story writer”. “Saya cuma tukang cerita, kalau Pak Budi Darma itu author,” kata Suparto Brata rendah hati. Itulah seniman. Sulit diatur, katanya, tapi setidaknya mereka tidak mengacaukan negara.
Sirikit Syah
September 2005