Kesenian dan Janji Presiden


 

 

Berada di antara 300-an seniman dari seluruh pelosok Indonesia, memang beda suasana. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menarik dengan semangat berkarya yang tinggi. Namun jangan salah, para senimanpun bisa bertengkar. Malah jago ribut-ribut. Lebih heboh dari kisruh partai di DPR. Kongres Kesenian Indonesia yang diselenggarakan pekan lalu di Padepokan Pencak Silat Jakarta, memang diwarnai protes dan demonstrasi.

 

Sekitar 30 seniman Jakarta yang tidak diundang oleh panitia kongres memasang poster-poster, menginterupsi acara pembukaan yang dihadiri Menteri Kebudayaan & Pariwisata, memaki-maki panitia, dan melecehkan para peserta. Kata mereka, yang datang ‘bukan seniman’ dan datang hanya karena mau makan gratis dan makan uang rakyat. Tentu saja peserta daerah marah. “Kami datang bayar sendiri. Kalau mau makan gratis, ada apa jauh-jauh datang ke Jakarta?” Adu fisik nyaris terjadi.

 

Sebagian panitia panik, atau marah. Budi Darma, empu sastra Indonesia yang berada di sana, cuma tersenyum. “Bagi saya, seniman berulah begitu sudah biasa. Beda pendapat, tak cocok dengan hatinya, berulah. Itu biasa,” katanya kalem. Komentar Nungky Kusumastuti yang cantik lain lagi: “Kita ini harus membuktikan dengan kerja dan karya. Kalau cuma tarung wacana, lalu mengajukan tuntutan, nggak laku. Buktikan dulu kesenimanannya.”

 

Cak Kandar, pelukis bulu asal Surabaya, yang bersama pelukis Hardi mengaku ‘mendalangi’ protes dan demo, malah ketawa-ketawa ketika saya dekati. “Ah, ini kan happening art,” kilahnya. Dia dan kawan-kawan hanya cemas kongres kesenian ini dipakai sebagai kendaraan melegitimasi “ambisi” Ratna Sarumpaet membentuk Dewan Kesenian Indonesia. DKI yang wacananya dicetuskan di Papua beberapa waktu lalu, masih diwarnai pro-kontra di kalangan dewan-dewan kesenian di Indonesia.

 

Begitulah seniman. Demo dengan kata-kata kasar (konon isi toilet keluar semua dalam aksi tersebut) dianggap “happening art”. Lucu juga, setelah aksi ribut hari pertama dan kedua, hari ketiga dan keempat yang protes dan yang diprotes sudah duduk bersama merumuskan hasil-hasil sidang dalam kongres.

 

Senyampang di Jakarta, selain berbicara di kongres dan bergaul dengan para seniman daerah, saya menyempatkan diri menonton “Tribute to Teguh Karya”, sebuah retrospeksi musik film karya Teguh, yang didominasi karya-karya Idris Sardi dan Eros Jarot. Yang main Twilite Orchestra, yang membawakan acara di antaranya Rima Melati dan Tora Sudiro. Pertunjukan di Balai Kartini ini dipenuhi kaum “the haves” di Jakarta. Bagaimana tidak, teman saya mentraktir saya tiket paling murah, yaitu Rp 250 ribu. Yang mahal Rp 1 juta. Selain “the haves” mereka juga “the beautiful”, dan “the VIPs”. Dimana lagi saya bisa ngobrol dengan Jendral Wiranto dalam suasana musikal? Bertemu saat ‘cocktail’ pra-pertunjukan, saya sempat bertanya “Mencalonkan lagi, pak?” Wiranto menjawab, “Jangan bicara itu sekarang. Suasananya lagi sensitif, banyak prasangka.”

 

Mengapa saya memaksakan meninggalkan kongres dan menonton pertunjukan mahal itu? Karena pertunjukan macam ini tidak mungkin main di Surabaya. Juga, karena saat remaja saya tumbuh bersama film-film Teguh Karya dan lagu-lagu dari musiknya. Saya ingin bernostalgia. Di tangan Twilite Orchestranya Adhie MS, musik Idris Sardi dan Eros Jarot terdengar begitu indah, nyaris lebih indah dari aslinya yang memang sudah indah. Masih ingat lagu-lagu Cinta Pertama, Satu-satu, Badai Pasti Berlalu, Semusim? Bayangkan lagu itu dinyanyikan oleh para penyanyi aslinya: Berlian Hutauruk dan Anna Mathovani. Lalu ada Dewi Yull, Harvey Malaiholo, Chritopher Abimanyu, Ruth Sahanaya, Aning Katamsi, penyanyi papan atas semua. Slamet Raharjo diperkenalkan sebagai “penyanyi baru yang suaranya lebih bagus dari Broery Pesulima tapi sedikit di bawah Wiranto”, berduet dengan adiknya, Eros Jarot, dan terbukti suaranya memang asyik. Idris Sardi memukau dengan biola solonya. Semua penampil membawa sepenggal cerita nostalgia tentang Teguh Karya. Ada sentuhan haru.

 

Kata Teguh Karya “Kreativitas tidak boleh mati”. Maka, meskipun dia telah tiada, rekan-rekannya terus berkreasi. Menyambung omongan Nungky Kusumastuti bahwa seniman perlu unjuk karya, jangan cuma perang wacana, tampaknya orang-orang Teater Populer tanpa banyak gembar-gembor menjalankan semangat itu.

 

Diah Hadaning, penyair peserta kongres kesenian mengingatkan bahwa Persiden Yudhoyono telah mencanangkan tahun 2005-2006 sebagai tahun Kebudayaan. So? Apa yang telah dilakukan pemerintahan Yudhoyono untuk mewujudkan Tahun Kebudayaan ini? Apakah menyelenggarakan kongres ini cukup? Sebagian seniman bilang, “Presiden itu, kalau nggak tahu mau berbuat apa dengan kebudayaan, tak perlulah lempar slogan Tahun Kebudayaan segala.”

 

Itulah sekelumit kisah perjalanan pendek merambah Jakarta, menghayati dinamika para seniman, menikmati pertunjukan musik indah dan mahal, bersosialisasi dengan “the haves and the beautiful”, dan merenungkan apa sesungguhnya yang telah dilakukan Presiden Yudhoyono. Barusan saya lihat di televisi seorang yang diwawancarai mengatakan, “Lha daripada saya diberi subsidi Rp 100 ribu, lebih baik BBM tidak usah naik, pak.” Itu komentar orang awam. Dan Presiden serta para menteri cuma bisa komentar, “Kami sudah berpikir, merenung, tasyakur, berdoa, bagi kebaikan rakyat Indonesia … bla..bla..bla….” Masak sih mereka tidak tahu bahwa tugas mereka bukan mendoakan rakyat, melainkan membuat rakyat sejahtera, atau minimal … tidak menyusahkan rakyat? Mendoakan itu tugasnya Aa Gym. “Coba kita bertanya pada rumput yang bergoang,” kata Ebiet G. Ade.

 

 

3 Oktober 2005

Sirikit Syah

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s