Bagaimana perasaan Anda, kalau Anda orang Kebraon, lalu di wilayah Anda didirikan sebuuah pasar bernama Pasar Induk Keputran Baru? Sing bener ae, Cak! Iki Kebraon, duduk Keputran! Mungkin begitu reaksi Anda. Saya yang bukan orang Kebraon dan Keputran saja bingung: Pasar Keputran kok di Kebraon?
Kebingungan ini tampaknya menjadi ‘trade-mark’ kota Surabaya tercinta. Masih bingung kan, dengan Darmo Trade Centre yang menggantikan nama Wonokromo? Apa salahnya dengan nama Wonokromo? Wonokromo Trade Centre. Wonokromo Plaza. Mall Wonokromo. Menarik, bukan? Membangkitkan nostalgia, mencerminkan kekhasan daerah. Lha wong Darmo dan Wonokromo saja beda kecamatan kok, nama pusat perbelanjaan di Wonokromo diganti menjadi Darmo.
Tapi pengusaha dan pemerintah kita tampaknya tidak peduli pada rasa budaya, apalagi rasa sejarah. Maklumilah, bila mereka tidak tahu sejarahnya Wonokromo. Apa arti kata Wonokromo saja mungkin tidak tahu. Mengapa dinamai demikian? Pengurus kota Surabaya ini punya selera yang agak nyeleneh. Jalan raya bernama bagus “Jl. Dr. Soetomo”, dibagi dua: satu bagian dinamai “Jl. Polisi Istimewa”. Saya sampai penasaran, apa sih istimewanya polisi? Mengapa tidak Guru Istimewa. Atau Petani Istimewa, Nelayan Istimewa, Pedagang Istimewa. Mengapa Polisi Istimewa? Tidak pernah ada penjelasan. Anak-anak kita tercerabut dari sejarahnya. Seseorang berkata, “Mungkin karena di pojokan Dr. Soetomo itu kantornya polisi, maka dikasih nama Polisi Istimewa.” Aduh, malu lah ya, kalau meng-istimewakan diri sendiri.
Untunglah ada orang-orang seperti Johan Silas dan Suparto Brata. Dua tokoh yang ingatan dan catatan sejarahnya diakui dunia internasional ini mungkin tak terlalu digubris oleh pengurus kota kita. Merekalah yang mengatakan, bahwa Polisi Istimewa ada sejarahnya, yaitu sekolah St. Louis itu dulu markas Polisi Istimewa di jaman perjuangan.
Oke. Selesai pertsoalan Jl. Polisi Istimewa. Bagaimana dengan Tambak Rejo yang menjadi Tambah Rejo? Menurut sejarahnya, kan di situ dulu daerah tambak yang “rejo” (ramai). Eh, diganti Tambah Rejo (maksudnya “tambah ramai” begitu?). Suka-suka Walikota mengganti nama jalan dan wilayah. Apalagi sekarang akan ada Pasar Grosir Kembang Jepun di Tambah Rejo (aduh, saya masih lebih suka menyebutnya Tambak Rejo). Bagaimana sih, proses penamaan jalan/wilayah, proses pengubahan nama? Apakah pakai rapat DPRD, melibatkan sesepuh kota, sejarahwan, ahli master plan kota? Atau hanya permintaan bernilai sekian ratus juta dari pengusaha yang “hoki”nya tetap pakai nama Darmo, Kembang Jepun, dan Keputran? Dimanapun letak pasarnya, pokoknya nama yang membawa ‘hoki” itu harus dipakai.
Di ruang-ruang kelas perguruan tinggi banyak perdebatan yang sampai meruncing tentang kesadaran baru civil society atas identitas mereka. The politis of identity (bukan political identity lo!). Politik jati diri ini secara konkret merambah wilayah konflik antar etnis, kerusuhan antar agama, pecahnya (separatisme) sebuah negara, bahkan larangan berjilbab, pakai peci Yahudi, pakai surban Sikh, pakai kalung salib besar di dada. “Identitas yang mencolok dan mengancam” harus dimatikan di negara-negara yang menjunjung sekularisme. Saya sampai sekarang tidak mengerti, bagaimana negara sekuler yang emoh bicara tentang agama, malah ngurusi cara orang pakai busana? Betul-betul paradoksal. Nggak mau ngurusi agama tapi ngurusi cara berbusana yang berkaitan dengan agama (karena cara busana yang tak berkaitan agama: misalnya pamer pusar, dada, pantat, celana dalam, tidak jadi masalah di negara sekuler).
Kesadaran akan jati diri ini, berdasarkan etnisitas, agama, geografis, budaya/tradisi, terus menguat sejalan lajunya arus globalisasi. Semakin negara tak berbatas (borderless), semakin menguat identitas politik seseorang. Informasi bisa saja melanda berbagai belahan dunia, merasuki pelosok-pelosok kampung, membuat semua anak muda berpakaian seragam (jeans di Afrika sampai China) dan memainkan musik yang sama (rap African-American atau rap Arab-Muslim), tetapi jati diri memberontak semakin menguat. Semakin ditekan, dicemooh, dikecam, anak-anak muda Islam di Amerika dan Eropah semakin bermunculan. Semakin besar pengaruh Hollywood, film-film India dan Taiwan semakin mendesak ke permukaan.
Rekan Suparto Wijoyo (bukan pengarang Suparto Brata itu, yang ini kritikus lingkungan), toh mencemaskan jati diri warga kota Surabaya. Dia mencemaskan, bagaimana di jarak sekian meter dari monumen Tugu Pahlawan dibangun sebuah gedung yang patung bergaya Romawinya lebih tinggi dari Tugu Pahlawan? Bagaimana pula ada Patung Liberty di Kenjeran? Mengapa Pasar Induk di Kebraon tidak pakai nama Pasar Kebraon saja? Meskipun kecil skalanya, orang Kebraon juga punya jati diri yang mesti diakui, bukan?
13 Maret 2006
Sirikit Syah
Bisa sedikit bercerita seputar sejarah pasar wonokromo Bu..?
Ma,af, tidak bisa