Menduduki Kursi Orang


 

 

Biasanya saya selalu membeli tiket pesawat dari biro perjalanan, dan beberapa hari sebelum bepergian. Namun siang itu saya terpaksa membeli di bandara, hanya beberapa jam sebelum keberangkatan, karena undangan mendadak. Saya membeli tiket pada seorang calo bandara, dan mendapatkan boarding pass pada menit-menit terakhir.

 

Ketika menunggu di Waiting Room, saya iseng-iseng melihat boarding pass dan tiketnya. Ternyata, di situ tertera bukan nama saya. Itu nama ornag lain, laki-laki (pakai sebutan Mr.). Saya termenung. Banyak hal terpikirkan seketika: bila terjadi kecelakaan, saya tak akan teridentifikasi karena nama saya tak ada dalam daftar; namun lebih dari itu, saya telah mencuri hak orang lain. Saya menduduki kursi orang.

 

Saya membayangkan, betapa si pemilik hak atas kursi penumpang pesawat itu telah tiba di bandara dengan tergesa-gesa karena terlambat, mungkin jalanan macet. Tiba di depan counter check in, dia ditolak karena datang terlambat (meskipun sebetulnya belum saat boarding). Seat telah diberikan kepada orang lain, penumpang-penumpang seperti saya. Saya membayangkan, betapa kecewanya calon penumpang yang dibatalkan secara sepihak itu.

 

Saya sendiri berkali-kali mengalami hal serupa. Bila pesawat terlambat, calon penumpang diminta maklum. Bila kita yang terlambat …. seat bisa hilang! Atau, tambah sekian ratus ribu rupiah! Penumpang juga bisa kehilangan seat hanya karena tidak konfirmasi. Di bandara Makassar saya ditolak naik Lion karena belum konfirmasi. Padahal tiket saya menyatakan oke dan tiket baru dibeli kemarinnya. Kapan Lion mengharapkan saya konfirmasi, karena sehari setelah tiket dibeli tiket itu langsung digunakan dan statusnya oke? Saya baru bisa naik dengan membayar tambahan sekian ratus ribu rupiah.

 

Kadang-kadang saya beruntung, meskipun belum konfirmasi atau dalam keadaan terlambat, bisa masuk juga. Itu ketika saya mengenakan tas punggung bertulisan Tempo atau jaket berlogo Metro TV. “Baru pulang dari Aceh ya Bu” tanya petugas check in ramah. Saya tersenyum saja. Tidak mengiyakan atau membantah. Sakti juga tas dan jaket  wartawan itu.

 

Membayangkan betapa kesalnya penumpang yang seat-nya sedang akan saya duduki, saya diam-diam berjanji pada diri sendiri agar lain kali lebih organized, lebih well-planned dalam mengatur perjalanan, sehingga tidak “mencuri” jatah orang. Juga, supaya tidak “tercuri” oleh orang lain (yang dapat terjadi bila kita datang terlambat).

 

Lebih jauh dari sekadar persoalan kursi pesawat, saya memikirkan, bagaimana perasaan orang-orang yang tak berkemampuan dan tak berhak, namun berambisi menduduki jabatan-jabatan di eksekutif dan legislatif? Saya cuma berharap, ada sedikit rasa sungkan. Reformasi telah berjalan 6 tahun. Mestinya kita semua telah semakin dewasa dan bijaksana, dan tidak mengalami ‘euphoria’ kebebasan berpolitik, siapa saja boleh dan bisa duduk di kursi-kursi basah dan empuk itu. Ada orang-orang yang lebih berkemampuan, lebih berhak, atas kursi-kursi itu. Marilah kita hentikan kebudayaan “menyerobot” kursi orang lain itu.

 

 

Sirikit Syah

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s