Saya sulit menjawab jika ditanya, apakah enak menjadi perempuan? Saya tidak punya pembandingan, karena belum pernah menjadi laki-laki. Namun saya dapat menjawab dengan tegas provokasi seperti ini: “Bila laki-laki boleh berpoligami, mengapa perempuan tidak boleh bersuami dua?” Jawaban saya sederhana: “Memang kurang kerjaan, mau pelihara dua suami? Satu saja sudah repotnya luar biasa.” Yang bertanya biasanya memang aktivis gerakan kesetaraan perempuan yang “kebacut” dan belum pernah merasakan hidup dalam sebuah perkawinan.
Menjadi perempuan tak bisa lebih terasa signifikan dibanding saat ini, dimana suami-suami tak lagi lelaki dan istri-istri tak lagi perempuan. Saingan kita tak lagi perempuan yang lebih muda dan lebih cantik (Ray Sahetapy saja menikahi perempuan yang lebih tua), tetapi juga laki-laki yang dapat berfungsi dan berperan sebagai perempuan. Banyak negara sudah mengizinkan perkawinan sesama laki-laki atau sesama perempuan.
Di mana sesungguhnya posisi perempuan Indonesia saat ini? Di saat Siti Nurhaliza tampil dengan anggun di Royal Albert Hall di London (dengan kostum, tarian, bahkan lagu berbahasa Melayu!), Inul ditolak pentas di Malaysia karena goyangnya dianggap tidak sopan. Sementara itu, puluhan penyanyi dangdut masih memutar-mutar bokong dan wilayah “Miss V” di layar kaca (sulit membayangkan, bagaimana goyangan mereka di panggung pertunjukan yang tidak menggunakan ranah publik).
Belakangan ini pemirsa televisi Indonesia disuguhi acara baru berjudul “Joe Millionnaire”, sebuah acara perebutan bujangan kaya oleh serombongan gadis-gadis cantik dan seksi yang cita-citanya cuma “punya suami kaya dan tampan”. Acara yang –seperti lainnya- diadopsi dari tayangan sejenis di televisi Amerika itu (Fox), telah menimbulkan protes dan perdebatan. Di acara itu, para perempuan diekspolitasi sedemikian rupa, diambil gambarnya dari segala angle dan berjenis shot (ada yang Extreem Close Up wajah, bibir, mata, leher, belahan dada, paha, perut, dll). Mereka digambarkan seperti perempuan yang “ngiler” terhadap laki-laki bernama Joe, bujangan jutawan yang sedang mencari istri, dan siap melakukan apa saja.
Saya pikir, perempuan Indonesia sedang berada di persimpangan. Di satu sisi, dia ingin dianggap berdaya, berhak sepenuhnya atas tubuhnya (argumentasi Nursyahbani Kacasungkana membela goyang Inul di televisi). Bahkan Gadis Arivia dari Jurnal Perempuan menyerang Presiden SBY yang mengimbau ‘jangan umbar puser di televisi’, dengan tulisan panjang berjudul “Puser SBY memang tidak menarik dipertontonkan”. Isinya, pembelaan terhadap para pengumbar puser, belahan dada, dan paha bagian atas, yang adalah hak si pemilik tubuh.
Di sisi lain, perempuan Indonesia masih sering berteriak akan terjadinya kekerasan dan pelecehan pada dirinya. Argumen para pembela puser bahwa bila ada puser lewat lalu laki-laki bersiul itu yang jorok adalah laki-lakinya, sulit dipahami oleh kalangan yang mengutamakan kesopanan dalam berpakaian. Kalangan ini bahkan mengatakan: “Pengobral puser itu jelas mengganggu dan menimbulkan perasaan tidak nyaman pada orang lain di sekitarnya.”
Isu yang paling menarik belakangan ini adalah tentang sholat Jumat yang dipimpin oleh seorang imam perempuan. Adalah Amina Wadud, profesor studi Islam di Virginia Commonwealth University, yang mengajak sekitar 100 umat Islam bersholat Jumat dengan dipimpinnya. Karena beberapa masjid menolak, sholat Jumat itu dilakukan di sebuah gereja anglikan di New York. Bagi saya –yang bukan ahli agama- aneh juga keinginan kaum Muslimah untuk turut bersholat Jumat yang sunnah, sambil meninggalkan sholat Dzuhur yang wajib. Lalu, mengapa sholat di gereja?
Namun hal paling hakiki dari tema “kedudukan perempuan” adalah bahwa standar kita masih ditentukan oleh kedudukan laki-laki. Bila laki-laki bisa jadi insinyur pertambangan, mengapa kita tidak? Bila laki-laki memimpin sholat Jumat, mengapa kita tidak? Tidak ada yang bertanya kembali: mengapa harus sama? Apakah harus sama? Siapa yang mengharuskan?
Saya sendiri, meskipun saya bekerja dan suami sudah pensiun dan lebih banyak menjadi house-husband, dia tetap kepala rumah tangga. Dia pemimpin di rumah. Namun secara diam-diam, saya kerap berbisik kepada teman-teman dekat saya, “Biarlah dia menjadi kepala, saya kan lehernya….” Nah, yang menggerakkan kepala adalah leher, bukan? Ah, itu sebetulnya rahasia saya, namun saya bagi dengan Anda dalam suasana mensyukuri Hari Kartini, hari kebangkitan perempuan Indonesia. Saya tidak bisa menjawab, apakah enak menjadi perempuan, tetapi saya tidak keberatan dan tak ingin berganti gender.
Sirikit Syah