Naik Kereta Api


 

Zaman sekolah dulu, kita semua menghafalkan lagu “Naik kereta api tut tut tut, siapa hendak turut? Ke Bandung, Surabaya ….”. Nah, inilah pengalaman saya naik kereta api. Biasanya kalau bepergian jauh, saya naik pesawat terbang. Tetapi kalau ke Bandung, saya memilih naik kereta api, karena pemandangan darat masuk dan keluar kota Bandung sangat indah. Keindahan yang tak saya dapat bila masuk keluar kota Surabaya atau Jakarta.

 

Saya suka melihat-lihat pemandangan. Agak kuno ya? Sudah sering ke luar negeri, tetapi di negeri sendiripun suka sekali memandang ke luar jendela kereta, melihat gunung, sawah menguning, petani memanen, anak-anak berlarian. Setidaknya, ini mengingatkan saya pada “keindahan masa lalu” ketika masih membaca buku-buku SD tentang “menengok paman di desa”.

 

Tentu saja saya naik KA kelas eksekutif. Namun ternyata, meskipun interiornya bagus dan nyaman, begitu kereta berjalan, karena relnya tua, rasa guncangannya sama saja dengan naik kereta api kelas ekonomi. Ketika dibagi makanan selepas Magrib, meja makan kecil yang seharusnya terlipat rapi di lengan kursi, tidak ada. Saya tanya penumpang samping, depan, dan belakang, meja lipat mereka juga hilang. Jadi, kami semua harus makan dengan nampan yang dipangku secara riskan.

 

Ketika petugas kereta lewat, saya bertanya, “Pak, mejanya kemana, kok copot semua?”

Dijawab dengan enteng, “Nggak tahu tuh, penumpang.”

“Apa pak? Apakah penumpang yang ambil meja itu?”

“Siapa lagi Bu? Kereta ini kan jalan terus, isinya ya para penumpang.”

“Aduh pak, kok kebangeten, penumpang kelas eksekutif mencuri meja makan mungil yang jelas tak berguna dipakai di rumah masing-masing. Lagipula, kok ya kompak penumpangnya …”

“Maksud ibu apa?”

“Apa bukan karena kelalaian petugas?”

“Maksud ibu menuduh kami, para petugas?” Dia marah, padahal tadi dia menuduh penumpang.

“Bukan pak, bukan menuduh petugas mencuri. Tapi yang jelas, petugas tidak merawat kereta dengan baik. Waktu kereta istirahat kan diperiksa, ada yang copot, mestinya diganti. Ini sampai copot semua. Dibiarkan.”

 

Begitulah naik kereta api eksekutif Surabaya – Bandung. Yang menjengkelkan, ketika kami berpuasa. Belum buka petugas sudah mondar mandir menawarkan berbagai macam hidangan yang statusnya “jual beli”, bukan layanan. Begitu kira-kira saat buka (Magrib), tidak ada yang lewat, apalagi menawarkan air putih gratis, bahkan tak ada pengumuman bahwa kini sudah tiba waktu buka. Kami para penumpang yang berpuasa sampai bertanya-tanya, apakah sudah Magrib atau belum. Sekian belas menit kemudian, baru petugas lewat, dan ketika kami tanyai, dia menjawab enteng: “Ya, sudah buka dari tadi bu.” Hidangan yang termasuk ongkos kelas eksekutif belum keluar, dan ditunggu untuk berbuka, baru keluar menjelang pukul 7.

 

Beberapa penumpang terkecoh cara petugas KA Eksekutif menawarkan hidangan restorasinya. Dengan ramah dan senyum manis, para petugas menawarkan makanan dan minuman, tanpa menyebut bahwa itu “harus dibeli”. Yang belum berpengalaman naik KA Eksekutif akan mengira itu “diberi”, maka diambilnya yang ditawarkan, dimakan dengan lahap. Orang-orang ini akan terkejut menerima tagihan: nasi rawon atau nasi goreng Rp 25 ribu! Kopi Rp 15 ribu! Siapa bilang gratis?

 

Saya juga pernah naik KA Depok-Jakarta yang padat bukan main. Untung saya naik pada jam tidak sibuk, sehingga masih bisa mengamati perilaku orang-orang, dan menikmati perjalanan sebagai rakyat kecil. Teman saya yang setiap hari ngantor naik KA Depok-Jakarta bercerita: “Saat jam sibuk, pagi hari, gerbong sudah penuh sesak. Atap gerbong dan sambungan antar gerbong berjejal. Saya maksa masuk gerbong. Orang-orang bilang pada saya, tak usah sungkan pak, injak aja kaki kami, gak apa-apa kok. Maklum. Maka, kami semua saling injak kaki dan berimpitan. Bisa dibayangkan, keluar di Gambir, mesti mandi lagi.” Hebat, bahkan muncul solidaritas saling injak kaki di kereta padat penumpang.

 

Sayup-sayup kita masih mendengar lagu “Naik kereta api tut tut tut”, tetapi saat ini disertai rasa miris. Takut tertipu (karcis mahal, layanan kelas rendah), takut kecelakaan, takut kecolongan –ya, kehilangan masih terjadi bahkan di kereta kelas eksekutif. Teman saya kehilangan hand phone, lap top. Bahkan kerata api kehilangan meja makan di tiap-tiap kursi!

 

Naik kereta api di Indonesia tentu tak sama dengan pengalaman saya naik kereta dari New York ke LA (tiga hari) atau dari London ke Edinburgh (setengah hari). Keretanya cepat, bersih, taripnya sangat terjangkau (apalagi kalau pp, ada perbedaan tarip yang signifikan). Rasanya, kita tak pernah mendengar rencana besar pemerintah kita tentang infrastruktur transportasi kita. Padahal dengan jumlah penduduk yang terus meningkat, kepadatan jalan raya yang semakin menyesakkan, kereta api mestinya telah menjadi “Grand Design” bagi masa depan Indonesia, setidaknya pulau Jawa.

 

 

24 April 2006

Sirikit Syah

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s