Paradoks Bantuan Aceh


  

Belakangan ini, selain teror surat berisi serbuk putih di KBRI dan Kantor Perwakilan negara-negara asing lain di Australia, juga ada desakan agar bantuan Australia kepada Aceh dikembalikan. Gara-gara Corby, warga negara Australia yang tervonis hukum Indonesia karena terbukti membawa ganja. Kekanak-kanakan? Tampaknya bukan hanya orang Indonesia yang berkomentar demikian. Paul Kelly menulis di The Australian, 1 Juni 2005 “A fair trial, but not in our media” (Pengadilan yang adil, tapi tidak di media kita). Dia mengkritik kemunafikan bangsanya sendiri, yang mengecam pengadilan Denpasar Bali atas vonis kepada Corby, padahal sebelumnya mereka memberi applause pada pengadilan yang sama atas kasus bom Bali, dimana 3 di antara tersangka dikenai hukuman mati.

 

Saya bersyukur mendapat kesempatan ke Aceh, setelah mengimpikannya sejak bencana Tsunami. Mengantarkan sembilan wartawan Australia, saya bertemu dengan para korban bencana, beberapa organisasi penyumbang, dan beberapa pejabat, termasuk Pangdam NAD, Mayjen Supiadin AS. Melihat dari dekat dan mendengar langsung cerita para korban –yang harus saya terjemahkan sementara para wartawan me’roll’ kamera atau tape recorder- saya seperti berada di dunia lain. Saya sering harus berhenti dulu, bukan karena sulitnya menterjemahkan penderitaan mereka, namun karena emosi saya terkuras dan saya perlu menarik nafas panjang. Seorang ibu kehilangan lima anak gadisnya. Bapak membangun rumah dari puing bersama 2 anak lelaki, setelah istri dan 5 anak lain tewas atau hilang. Cerita seperti tiada berakhir.

 

Ribuan rumah hancur. Di bekas letaknya, ribuan tenda-tenda darurat menjadi pengganti tempat tinggal mereka. Angin barat sore hari itu begitu kencang, badan saya meriang, dan tenda-tenda tipis itu melambai-lambai diterpa angin. Saya sulit membayangkan bagaimana tingal di tenda itu pada malam hari, hujan, angin, basah. “Tenda kami kemarin diterbangkan angin,” kata seorang ibu yang duduk dengan ibu-ibu lain di sebuah masjid.

 

Ironis. Ketika mengunjungi kantor OCHA, di halaman kompleks perkantorannya, tersebar tenda-tenda yang luar biasa kuat dan bagus, bahannya tebal, bingkai pintunya dari stainless steel, ada pintu yang bisa dikunci, ada pengatur udara, ada lantainya. Sebagian tenda itu untuk relawan, sebagian lagi hanya untuk mengayomi dos-dos air mineral dan bantuan logistik lain. Apakah benda-benda ini lebih berharga dari nyawa keluarga-keluarga di tenda-tenda yang tak berlantai dan berpintu?

 

Kantor Oxfam ternyata sebuah hotel yang disewa. Di Oxfam dan di OCHA, belasan mobil-mobil keluaran tahun terakhir bersliweran, keluar masuk. Ada VW Combi, Nissan Terano, Kijang, Panther, Toyota Land Cruiser, semuanya ‘gres’ dan berperalatan canggih. Kesannya mewah dan nyaman. Memang, kalau Anda ke Banda Aceh, Anda akan sering sekali berjumpa di jalanan dengan mobil-mobil ber-stempel: UN, Oxfam, WFP, UNICEF, dll.

 

Saya berpikir, berapa persen dari bantuan asing yang sesungguhnya menetes ke korban bencana? Bukannya tidak berterimakasih. Tulisan ini tetap mengajak rakyat Indonesia untuk berterimakasih kepada para penyumbang. Namun tulisan ini juga memberitahu pada rakyat bahwa angka-angka yang “dipamerkan” dalam data sumbangan, itu bisa jadi bukan angka “riil”, karena sekian puluh persennya (mungkin lebih dari 60%) untuk membiayai honor pengelola sumbangan, fasilitas rumah, kantor, dan kendaraan, tranpsortasi Jakarta-Banda Aceh-Jakarta, dst. Seorang pengelola NGO semacam ini pernah bercerita, mereka selalu menggunakan penerbangan di kelas bisnis atau kelas utama. Honor mereka belasan sampai puluhan juta rupiah sebulan.

 

Pemerintah Amerika juga membantu dengan angka tinggi sekali, namun rakyat mesti tahu bahwa itu termasuk biaya helikopter, kapal induk, ratusan prajurit, dll. Saya sering bertemu para prajurit Amerika di hotel bintang lima, Four Seasons, di Jakarta. Konon, untuk mereka dibooking ratusan kamar di situ selama masa bantuan Tsunami. Tentara-tentara itu hanya beberapa jam mengirim bantuan ke Aceh –secara bergiliran, lalu kembali ke base (pangkalan) mereka, yaitu di Four Seasons, yang mewah dan nyaman.

 

Kita mesti berterimakasih kepada para penyumbang, namun rakyat mesti tahu kebenarannya. Jangan sampai angka bantuan yang digembar-gemborkan itu diduga dikorupsi oleh bangsa atau pemerintah sendiri. Memang jatuhnya menetes. Biaya untuk mengurusi bantuan itu menyerap porsi lebih besar. Bagaimanapun, kita mesti mensyukuri. Meski setetes, ada kepedulian membantu. Yang penting ikhlas. Persoalannya sekarang: apakah penyumbang Australia ikhlas? Atau menjadi munafik dengan adanya kasus Corby?

 

 

Sirikit Syah

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s