Oleh: Sirikit Syah, anggota Surabaya Academy
Terlalu sering kita mendengar slogan “Suara Rakyat adalah Suara Tuhan”, atau “Konsumen adalah Raja”. Kenyataannya? Rakyat masih saja menjadi korban. Kali ini saya tak menyoroti dunia pendidikan (yang masih jauh dari menepati janji Wajib Belajar!), tetapi mari kita berjalan-jalan di kota Surabaya.
Pernahkah Anda masuk mall atau plaza, jalan-jalan barang 2-3 jam, lalu lelah dan ingin duduk? Lalu, mau duduk di mana? Saya sering sekali mengalami itu. Sama sekali tak ada tempat duduk yang memadai, apalagi melegakan dan nyaman, bagi para pengunjung mall dan plaza di Surabaya. Tentu ada yang akan bilang: “Duduk saja di Excelso, atau MacDonald.” Wah, kita tidak bisa duduk-duduk di situ tanpa beli secangkir kopi atau setangkup burger. Bukannya pelit, bagaimana kalau kita tadi, 1 jam yang lalu, sudah makan dan minum di salah satu restoran atau café di mall/plaza itu juga?
Mall dan plaza di Surabaya, mungkin juga di Indonesia, sangat tidak ramah kepada pengunjungnya alias konsumennya. Di luar negeri, misalnya di Inggris dan Amerika atau Jepang, di mall dan plaza, banyak sekali tersebar ruang kosong, ruang leluasa, dengan banyak tempat duduk, bagi para pengunjung yang lelah dan ingin istirahat tanpa harus membeli coca-cola atau iced coffee. Di sekitar tempat duduk bahkan ada taman, kolam kecil dengan air mancur. Di distrik (mirip kecamatan mungkin) Harrow di utara London, tempat duduknya tersedia di taman terbuka. Di Philadelphia, ada shopping mall yang tengah-tengahnya bertebaran tempat duduk, di dalam gedung tetapi dengan cahaya langit karena atap transparant. Di kota kecil Tampa, Florida, ada taman dan kolam kecil di dalam gedung, lalu ada tempat duduk yang dilengkapi tempat bermain anak. Tidak bayar!
(Tempat bermain atau penitipan anak di mall/plaza kita biasanya bayar).
Sebetulnya, apakah pengelola bisnis pertokoan ini mengerti arti kata mall dan plaza? Di Washington, D.C., yang disebut The Mall itu lapangan/taman luas dan terbuka, tempat rekreasi dengan banyak atraksi (ini daerah dekat sekumpulan musium Smithsonian). Bila mengerti, mall atau plaza itu mestinya lebih didominasi ruang terbuka, ruang untuk pengunjung berjalan santai atau duduk-duduk. Pertokoan kan hanya melengkapi sarana publik itu, sambil cari untung tentu saja.
Itu baru masalah fasilitas duduk di mall/plaza. Pernah berjalan di trotoir di Surabaya? Kalau tidak kita mesti turun ke jalan karena trotoir dipakai tambal ban atau pedagang kaki lima (Jl. Tunjungan dan Urip Sumoharjo), kita membungkuk-bungkuk karena pohon di situ sangat rendah (Jl. Yos Sudarso di luar pagar kompleks Balai Pemuda). Jangan membandingkan dengan Orchard Road di Singapore atau Champs de Ellyse di Paris.
Lalu, pernah mengembalikan barang belian yang cacat? Bila tidak ditolak, mungkin dipertimbangkan tetapi dengan kata-kata kasar atau prosedur berbelit-belit. Di luar negeri, pembeli benar-benar raja. Barang yang telah dibeli boleh dikembalikan, terlepas itu cacat atau tidak. Kita bisa saja tak suka warnanya, atau ternyata kekecilan atau kebesaran, atau yang kita beri hadiah, sudah punya barang yang sama. Tapi, sungguh, kita tidak harus/perlu menjelaskan alasan kita mengembalikannya. Kita tinggal antri saja di counter pengembalian. Tunjukkan barang dan bukti pembayaran, petugas akan bertanya, mau diganti uang atau barang lain. Dalam pengalaman saya menjadi konsumen di luar negeri, saya tidak pernah mendengar pertanyaan: “Mengapa Anda mengembalikan barang ini?” Di Indonesia, bahkan barang cacatpun dilihat-lihat dengan pandangan tidak percaya oleh petugas di toko bersangkutan (lalu biasanya memanggil manager, lalu dipertimbangkan beberapa hari , lalu ….).
Demikianlah nasib rakyat, konsumen, di Indonesia. Mengapa rakyat enggan bayar pajak? Karena pajak tidak kembali ke rakyat. Misalnya dalam bentuk Wajib Belajar (artinya bebas SPP!), angkutan kota yang memadai (belum bilang ‘nyaman’ lo), sarana jalan yang baik, trotoir yang betul-betul untuk pejalan kaki, tempat duduk di plaza atau mall, air PDAM lancar, listrik tidak byar pet, dan seterusnya. Kemana perginya pendapatan dari pajak itu? Pembangunan? Bukankah development di Indonesia dilakukan dengan dana pinjaman asing?
Academy Surabaya berencana memberikan penghargaan kepada warga Surabaya atau bukan warga Surabaya yang memiliki kepedulian terhadap kemajuan dan perkembangan Surabaya. Rasanya, kalau ada pengusaha mall atau plaza yang peduli pada rakyat konsumen, dia patut dipertimbangkan. Atau toko yang melayani pembeli dengan ramah, termasuk menerima pengembalian barang. Atau, wilayah yang trotoirnya paling enak dipakai jalan kaki (tentu akan jadi perdebatan, yang diberi penghargaan camatnya atau warganya? Nah, ini PR para anggota Academy).
Bagaimanapun, aspek ekonomi besar peranannya dalam menunjang kemajuan kota Surabaya, yang ujung-ujungnya adalah kesejahteraan penduduknya. Apa sih pentingnya tempat duduk di plaza atau mall? Lha, kalau konsumen kakinya sampai lemes tidak bisa duduk, kan sama saja dengan belanja di pasar tradisional atau toko kecil di ujung gang. Jalan, berdiri, pulang. Di mall dan plaza, orang kan tidak cuma datang, beli, pulang. Kami juga mau duduk-duduk, rekreasi (jauh-jauh dari Krian ke Delta Plaza, atau dari Perak ke Galaxi Mall). Makan? Ya, tentu saja, masuk café atau resto. Tapi 1-2 jam kemudian kan tidak ekonomis kalau mau duduk saja mesti masuk restoran lagi. Kalau konsumen plaza/mall kecewa, pengunjung berkurang, dampaknya akan seperti kartu domino. Toko sepi, PHK karyawan, dan seterusnya …..
Mohon, para pengelola plaza/mall, para penertib trotoir, dan yang berwajib memenuhi fasilitas bagi rakyat …. Buktikan bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan, atau konsumen adalah raja.