Potensi Indonesia


 

Pekan lalu, saya beruntung disponsori Eisenhower Fellowships mengikuti konferensi internasional di Singapura, setelah tahun lalu ditraktir jalan-jalan selama dua bulan bersama suami di AS –tentu saja dengan kunjungan-kunjungan profesional. Padahal kalau bayar sendiri, biaya konferensi 3 hari itu lumayan mahal, tak terjangkau oleh kocek dosen seperti saya, meskipun sudah menjadi ketua KPID.

 

Pesertanya sekitar 200 orang dari seluruh dunia, dan semuanya alumni EF, termasuk pembicara-pembicaranya. Profesinya berbeda-beda, kalangan pengusaha, pejabat pemerintah, aktivis HAM, insinyur tata kota, pengacara dunia hiburan, tokoh pers, sampai seniman. Yang hendak saya ceritakan di sini bukan asyiknya konferensi dengan sesama alumni, dengan topik-topik diskusi yang menarik (dari persoalan Tsunami sampai masa depan Asia). Saya ingin menceriterakan tentang potensi Indonesia.

 

Tahukah pembaca, bahwa ekspor ikan hias dari Indonesia ke pasar Eropah hanya 9% dari total ekspor ke wilayah itu, sementara dari Singapura 25%? Bahkan, dari 25% ekspor Singapura itu, 70-80%nya adalah ikan-ikan hias Indonesia yang dikelola dan diekspor oleh orang Singapura? Aduh. Padahal Indonesia negara kepulauan, ribuan kali lebih luas dibanding negara pulau atau negara kota Singapura yang mungil itu. Apa yang salah?

 

Berbicara tentang kelautan, separuh armada kapal dunia melewati perairan Indonesia. 50 ribu kapal dan sepertiga armada tanker minyak dunia melintasi Selat Malaka –selat terpenting di dunia setelah Selat Hormut di Teluk Persia- dalam setahun. Separuh dari 130 trilyun dolar AS nilai barang dalam setahun ditransportasikan melalui perairan kita, dari Samudra Atlantik ke Pasifik dan sebaliknya. Betapa hebatnya potensi laut kita, toh bangsa kita masih saja berebut rezeki di tanah yang cuma 20% luas wilayahnya. Di Indonesia yang kaya raya gemah ripah loh jinawi ini, kita masih impor beras dan gula.

 

John Sommer, Direktur Program Eisenhower Fellowships, juga tak habis pikir, mengapa setiap tahun Indonesia “terlalu minim” mengirimkan kandidat fellow, sehingga kantor pusat di Philladelphia mengalami kesulitan memilih. “Masak dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta, Indonesia tak dapat mengirimkan kandidat lebih dari tiga orang setap tahun?” Beberapa alumni EF misalnya Marie Pangestu (Menteri Perdagangan), Yuli Ismartono (Tempo), Agung laksono (DPR RI), Laode Ida, Nabil Makarim, dll. Tahun ini Indonesia mengirimkan Tantowi Yahya, yang membuktikan kehebatannya karena dia diundang lagi tahun depan oleh organisasi lain di AS untuk mengadakan pertunjukan musik countrynya.

 

Ada juga Budi Liem, insinyur tata kota yang lari bersama keluarga ke Singapura tahun 1998, lalu membantu pemerintah Singapura menata kotanya. Baru belakangan dia bekerja kembali di Indonesia, meskipun keluarga masih berdomisili di Singapura. Ada juga dari Yogya, DR. Laretna Trisnantari Adishakti, dosen arsitektur UGM yang membidangi pelestarian warisan budaya. Bu Sita ini tergolong top: dia diundang mengajar di Wina, sekadar makan malam di Paris, rapat di Swiss, kunjungan ke Jepang, China, dst.

 

Namun puncak kebanggaan kami sebagai fellow dan bangsa Indonesia adalah penampilan Ibu Marie Pangestu. Da bukan saja bintang fellow Indonesia, tetapi juga bintang seluruh fellow. Pidatonya yang sangat fasih dan bernas, diselingi humor-humor kecil, kejujuran tentang keadaan Indonesia, harapan dan optimismenya, serta undangannya pada para saudara alumni untuk kembali menengok Indonesia dan menjalin kerjasama dalam berbagai bidang, sangat mengagumkan. Semua fellow memberikan applause panjang. Sebetulnya banyak juga alumni yang menjadi duta besar, wakil menteri, menteri, bahkan presiden sebuah negara, namun Marie Pangestu memiliki ‘charm’, daya pesona, yang tidak biasa. Cantik, anggun, cerdas.

 

Ketika para peserta konferensi menanyai saya, “Berapa banyak menteri seperti dia yang dimiliki Indonesia?” saya memang agak gelagapan menjawabnya. “Hmm… mungkin tiga atau empat,” jawab saya agak ragu-ragu, teringat cerita Tantowi Yahya semalam sebelumnya –ketika kami duduk semeja- pengalamannya dengan menteri-menteri zaman sekarang.

 

Berbicara tentang potensi Indonesia, kita memiliki potensi kelautan yang luar biasa, dan SDM yang luar biasa pula banyaknya. Mutunya? Mesti dimulai dengan pendidikan. Indonesia memerlukan lebih banyak Marie Pangestu, yang mungkin dapat “menjual” potensi kelautan dan bumi Indonesia ke pasar dunia secara lebih layak dan bermartabat.

 

 

Sirikit Syah

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s