“Jangan beli ikan di pasar, banyak yang pakai formalin,” kata suami saya.
“Baik, saya akan beli di supermarket saja. Mungkin lebih terjamin,” jawab saya.
“Sama saja, supermarket juga mem-formalin ikan-ikannya.”
“Kalau begitu kita mesti beli ke nelayan langsung, atau ke tambak.”
“Saya dengar berita, bahkan ikan di Tempat Pelelangan Ikan dan yang baru turun dari perahu, juga sudah diformalin,” kata suami saya bersikeras. Coba, sebagai ibu rumah tangga, apakah saya tidak pusing dengan pesan-pesan semacam itu?
Sahabat saya, Henry Subiakto, sambil jagongan bersama kawan-kawan di rumah saya, memutuskan: “Sebaiknya kita makan kambing saja. Kalau sapi, bisa kena penyakit sapi gila. Ayam, kena flu burung. Ikan, kena formalin yang ujung-ujungnya kanker. Yang tampaknya aman ya kambing. Kambing tak punya penyakit apa-apa.”
“Ada pak, kambing hitam,” sahut suami saya. Kami semua tergelak.
Beginilah kalau rakyat seperti kami berusaha mensiasati keadaan yang sesungguhnya memerihkan. Bayangkan, bahkan makan tahu dan ikan asin saja sudah mencemaskan, karena tahu dan ikan asinpun diformalin. Lalu, kita makan apa ya, yang aman? Malang benar nasib kita. Mau makan pakai uang keringat sendiri saja takut tercemar. Mereka yang makan dengan uang hasil korupsi atau sogokan, tenang-tenang saja (mungkin udang dan ikan yang disantap diimpor dari Jepang atau Thailand?).
Jengkelnya lagi, Badan Pengawasan Obat & Makanan (B-POM) yang mencuatkan isu ini dan mestinya bertanggungjawab, tak dapat memberikan solsui apa-apa. Juga kepolisian. Pelaku tidak ditangkap. Formalin tetap dijual bebas. Ini bisa saja terulang. Dan memang, bukankah isu ini sudah lama? Sama sekali bukan hal baru, dari dulu kita semua sudah tahu adanya isu makanan berbalut ‘formalin’. Ekspose isu ini secara besar-besaran di akhir tahun malah menimbulkan kepanikan dan keresahan, bahkan menyulut kecurigaan. Ada apa ini?
Saking seringnya suami mengingatkan soal ‘hati-hati beli ikan’ (padahal saya paling suka ikan), saya menjadi skeptis. “Oke, oke, banyak makanan diformalin. Tapi itu kan sudah lama? Dan terus akan berlanjut. Maksud saya, so what? Yah, kita makan saja. Nggak usah termakan isu dan nggak usah terlalu dipikir,” saya berontak pada keadaan. Anak gadis saya terkesima, “Kok ibu begitu sih, kalau kena kanker bagaimana?”
Malang benar nasib rakyat. Cuma ditakut-takuti. Tak ada solusi. Tak ada penjelasan sejauh mana mengkonsumsi tahu atau ikan asin setiap hari (yang mengandung formalin), misalnya, dapat berakibat pada serangan kanker? Bagaimana sebenarnya konsep negara ini dalam melindungi warga negaranya?
Saya jadi teringat kasus-kasus perlindungan konsumen di luar negeri: nenek yang mendapat ganti rugi karena kopinya yang dibeli di MacDonald terlalu panas dan menyebabkan luka di paha ketika tertumpah, restoran yang ditutup karena seorang pelanggan melihat ada seekor kecoa lewat, pedagang buah yang menyingkirkan dagangan yang sedikit membusuk. Di negeri kita tercinta, para pedagang mencari keuntungan tanpa memikirkan keselamatan pembeli/orang lain, dan badan pemerintah telah menimbulkan kepanikan dan keresahan luar biasa tentang makanan berformalin, dan toh tak dapat melakukan apa-apa untuk melindungi kita yang sudah kadhung ketakutan.
Inilah ironi bangsa kita, bangsa bahari, negara kepulauan, hasil laut berlimpah. Namun hasil laut (ikan, udang) adalah ‘barang mewah’ bagi sebagian besar dari kita. Menyantap sepiring nasi goreng murahan (dari restoran China) di Duppont Circle, Washington, D.C., kami takjub pada banyaknya udang yang menghiasi nasi goreng itu, mungkin 40% dari porsi. Udang yang cukup besar untuk ukuran nasi goreng, dan segar. Murah, bukan barang mewah, dibeli di restoran kecil sederhana. Padahal Amerika bukan negara lautan dan tentu ketersediaan udang tak semudah di Indonesia.
Di Indonesia, dalam seporsi nasi goreng mungkin hanya ada 5 ekor udang kecil-kecil. Kalau mau udang lebih banyak dan lebih besar, hanya ada di restoran atau hotel mahal, yang akan menguras separuh dari gaji bulanan kita, pegawai kebanyakan. Kemana ikan-ikan dan udang-udang kita? Mengapa kita, rakyat Indonesia, pemilik lautan dan isinya, tak sanggup membelinya? Malah, membeli ikan yang diasinkan pun (bukan ikan segar) kini dicekam ketakutan bahaya formalin.
Kita makan apa ya tahun 2006 ini? Mungkinkah sebaiknya kita cuek saja pada isu-isu yang mengganggu selera makan kita itu? Artinya, kita cuekin saja apapun kata badan pemerintah? So what gitu loh!?
2 Januari 2006
Sirikit Syah