“Saya sendirian memperjuangkan hal-hal yang benar,” ujar Saleh Mukadar, pada suatu pagi di rumahnya yang tergolong sederhana di kawasan timur Surabaya. Rumahnya cukup bagus, dan berada di kawasan elite yang dipagari dan dijaga satpam 24 jam. Namun untuk seorang Saleh Mukadar, perabotan di rumahnya tergolong sederhana.
Sambil mencicipi kue bikinan sang istri, kami ngobrol tentang perkembangan Pilgub Jatim, Pemilu 2009 dan Pilkada Surabaya 2010. Saleh tampak kecewa dengan terjadinya putaran kedua Pilgub. “Bukan pilihan terbaik,” ujarnya. Bicara tentang kebenaran, setiap orang memiliki ukuran sendiri-sendiri, termasuk Saleh Mukadar, mantan wartawan yang kini menjadi politikus. Kabarnya, dialah ‘king maker’, yang menjadikan. Tak hanya Walikota Bambang DH dia jadikan, rumor bahkan menyebutkan dia punya andil tentang siapa yang perlu dicopot dan siapa diangkat di lingkungan Pemkot Surabaya.
Siapa yang akan dia jadikan dalam putaran kedua Pilgub mendatang? Dia menyebut satu nama dari dua kandidat, namun dengan mimik wajah tidak puas. ”Betul-betul pilihan buruk. Apa boleh buat. Satunya lebih buruk lagi,” ujarnya. Bagaimana dengan Pilkada 2010, apakah dia mau nyalon seperti yang sering saya dengar?
”Hahaha, bisa saja kau,” elaknya, tidak membantah, tidak mengiyakan. Saingannya di kursi Walikota Surabaya ini, kabarnya, La Nyala dan Arief Affandi.
Kembali pada persoalan ”merasa sendirian”, dia menceriterakan, bahkan di kalangan PDIP, dia mengalami ketidaksepahaman. Saleh menginginkan kandidat dengan suara terbanyak yang akan jadi untuk anggota legislatif, sementara tradisi partai menyatakan mesti sesuai nomor urut. Di sinilah peliknya. Nomor urut mengapresiasi loyalitas, suara terbanyak merefleksikan demokrasi. Ini juga dialami banyak partai lainnya, di tingkat daerah maupun pusat.
Bila sistem suara terbanyak yang dipilih, maka para artis muda akan mendominasi kursi DPR. Bila sistem nomor urut dan loyalitas, para sesepuh partai (sebagian memang benar-benar sepuh) yang mendapat tempat. Arek Suroboyo Indah Kurnia, manager Persebaya itu, memiliki keunikan posisi. Dia bisa disebut artis dan akan meraih banyak suara (dia kan penyanyi?), dia juga loyalis PDIP. Besar kemungkinan dia akan jadi. Kecuali, muncul kandidat lain yang lebih berpengaruh di daerah pemilihan yang sama. Inilah, tampaknya, yang akan menjadi kejutan, dan yang menjadi pikiran Saleh.
Beberapa hari kemudian, saya bertemu mantan gubernur Basofi Sudirman. Dalam hal putaran kedua Pilgub, Basofi mengemukakan hal yang sama dengan Saleh Mukadar. Suara ini juga saya dengar di tingkat bawah, di kalangan rakyat. Tampaknya, pilihan Gubernur sudah mengerucut. Namun bisa saja rakyat berbalik, seperti terjadi tahun 2004, yaitu mencoblos yang kelihatan lemah. Bagaimanapun, kedua kandidat kita harapkan tak hanya siap menang, tetapi juga siap mental untuk kalah. Gak enak kan kalau melihat Pakde Karwo atau Mbak Khofifah lari dari RSJ setengah telanjang, seperti calon bupati Ponorogo yang gagal itu?
Sirikit Syah
29 Agustus 2008