“Dasar politikus. Koyok tikus. Ngendhus-ngendhus, entek-entekane nggedabrus.” Begitulah komentar sinis masyarakat yang biasa kita dengar. Banyak orang mengungkapkan kekecewaannya, kejengkelannya, bahkan ketidakpercayaannya, pada para politikus. Repot kan? Kalau kita tak lagi percaya pada wakil rakyat, kepada siapa lagi kita menggantungkan harapan?
John F. Kennedy saat dilantik menjadi Presiden Amerika Serikat tahun 60-an, dalam pidatonya mengatakan: “Politik mengotori dunia, puisi membersihkannya.” Untuk membuktikan kecintaannya pada dunia puisi itu, dia mengundang seorang penyair, Robert Frost, untuk membacakan puisi-puisinya dalam peristiwa sakral itu.
Para politikus tentu akan mencak-mencak disindir seperti itu. Mosok dipadakno tikus? Dibilang nggedabrus? Mengotori dunia? Biasanya, mereka lalu berdalih dan bersilat lidah: bahwa politikus menentukan arah negara, politikus berperan dalam kemajuan bangsa, tanpa politikus yang pandai melobi dan bernegosiasi, tatanan negara akan amburadul dan akan terjadi chaos.
Tapi saya sungguh-sungguh terkejut ketika suatu siang, seorang politikus, wakil rakyat di DPR RI, berkata dengan sungguh-sungguh: ”Politicians always lie.” Kami bertemu di acara pengukuhan guru besar sahabat kami berdua, DR. H. M. Zaidun, SH, M.Hum, di Kampus C Unair Sabtu siang lalu. Tanpa direncanakan kami tertarik magnet ’himpunan’ ke sebuah pojok dan bertukar informasi, dilingkungi rekan-rekan ’himpunan’ lain dari lintas almamater dan lintas profesi.
”Cak, sing bener ae. Mosok politikus mbujuk thok isine?” saya mengejarnya.
”Iya. Semua politikus begitu, hanya beda-beda kadarnya. Kadang ’mbujuk’ itu memang diperlukan untuk menggolkan tujuan, yang tentu saja demi rakyat. Nah, kredibilitas dan reputasi politikus dinilai dari tebal tipisnya ’lie’ itu tadi. Ada yang ’lie’nya ketebelen. Ada yang tipis saja …”
Menanggapi berbagai kasus anggota dewan belakangan ini, dia mengatakan: ”Yang penting, kita mesti menjaga omongan. Juga, menjaga jarak dengan persoalan. Jangan emosi, jangan ngamukan,” ujar arek Lamongan asli yang merintis karir politiknya dari Surabaya itu.
Seseorang menyindir peristiwa rebutan amplop antara Yenny Wahied dengan Muhaimin Iskandar. Dengan kalem dia bilang: ”Wis talah, PKB iku podo karo Indonesia.”
”Apa maksudnya, Cak?” tanya saya
”Ya sama saja. Tak membutuhkan pihak luar untuk merobohkannya.” Kami semua tertawa mendengarnya. Sindiran yang telak dari ’orang dalam’.
Tiba-tiba dia memutus percakapan yang gayeng itu, ”Sudah-sudah, gak perlu terlalu serius mikiri negoro. Laopo serius-serius, wong pemimpine ae gak serius kok?”
”Lha sampeyan serius gak, Cak?” tanya saya.
Saya berhak menuntut keseriusan wakil rakyat, kan? Bayangkan, kalau pemimpin tidak serius, wakil rakyat tidak serius, rakyat juga tidak serius, aduh, bagaimana jadinya bangsa ini? Politikus kita ini tidak menjawab pertanyaan itu. Mudah-mudahan lebih banyak wakil kita di Senayan yang lebih serius memikirkan bangsa yang sudah ketinggalan ini.
Sirikit Syah
14 Juli 2008