Keseriusan Wakil Rakyat


 

Rabu lalu saya makan siang dengan dua orang staf Kongres AS. Mereka masih muda-muda, salah satunya perempuan, keturunan Asia Timur. Mereka baru berkeliling di Asia Pacific; dari Australia sampai Jepang, Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Masa reses bagi anggota Kongres AS adalah seminggu setiap bulannya. Pada bulan Agustus, reses sebulan penuh. Saat inilah anggota Kongres mudik ke daerah pilihannya masing-masing, dan para staf memantau ‘apa yang dilakukan pemerintah AS dengan dana yang telah dianggarkan’.

 

Jessica J. Lee dan Cobb Mixter bekerja untuk anggota Kongres yang membidangi foreign affairs. Mereka memantau berbagai proyek AS di luar negeri.

”Laporan kami akan menjadi bahan laporan anggota Kongres pada rakyatnya di daerah (negara bagian) pilihan,” ujar Cobb, sambil menyantap gurame dan salad mangga muda.  

Dengan laporan yang akuntabel, anggota Kongres tak segan-segan menaikkan pajak rakyat. Bila rakyat bertanya untuk apa, jawabannya ada: untuk subsidi pertanian atau kesehatan, untuk membantu negara miskin (Indonesia termasuk negara miskin ya?), dan lain-lain. Karena Jessica dan Cob bekerja untuk anggota Kongres yang membidangi luar negeri, maka yang mesti dipertangggungjawabkan kepada rakyat adalah berbagai proyek bantuan atau kerjasama dengan negara asing.

 

Caryn McLelland, Konsul Jendral AS di Surabaya, antusias menjadi pemandu bagi dua orang staf Kongres ini dalam meninjau beberapa proyek di Jawa Timur. Siapa tahu anggaran bantuan untuk Jawa Timur ditingkatkan tahun depan, karena pemanfaatan dan keberhasilan pelaksanaannya?

 

            Saya bertanya-tanya, apakah anggota Dewan kita juga serius seperti itu dalam mengawasi anggaran? Jangan-jangan para wakil rakyat itu hanya serius ketika proses penganggaran, dan lebih serius lagi saat ada ‘negosiasi’ penunjukan pejabat atau pelolosan undang-undang (yang belakangan ini berbuntut suap menyuap). Tiba proses pelaksanaan dan evaluasi, mereka tak peduli lagi. Beberapa rekan anggota Dewan memang kerap reses ke dapil masing-masing, terutama belakangan ini, tapi tujuannya bukan untuk memantau anggaran, melainkan: nyalon lagi. Mencari atau membeli suara.

 

            Seorang anggota DPR RI yang kebetulan saya jumpai di perhelatan pengukuhan guru besar seorang kawan, tanpa segan-segan berbicara di hadapan banyak orang: “Laopo serius-serius mikiri negoro? Presidene ae gak serius …”

Ketika saya kejar, “Lha sampeyan serius gak, Cak, sebagai anggota DPR?”, dia mengelak menjawab. Malah dia terus terang mengatakan: “Politicians always lie. Hanya ukurannya saja yang beda-beda. Wong lie itu kadang diperlukan kok untuk mencapai sasaran.”

 

            Saya terkesima, wah, ngono yo ngono ning mbok yo ojok ngono. Maling kok ngaku? Bagaimana bentuk pencapaian yang didasari lies alias ngapusi? Pantesan banyak aturan atau undang-undang saling bertabrakan atau bermasalah, sehingga memancing uji materi atau judicial review.

 

            Eh, tapi dari sudut pandang lain, ini bisa merupakan kejujuran yang langka dimiliki anggota Dewan, bukan? Jadi, ceplas ceplosnya Cacak kita yang anggota Dewan yang Terhormat asal Lamongan ini agaknya patut juga diapresiasi.

 

Sirikit Syah

23 Agustus 2008

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s