Dalam acara Ladies’ Lunch Selasa kemarin, terjadi diskusi yang hangat. Biasanya kami cuma makan-makan, berbagi informasi, atau merencanakan kegiatan bersama. Namun kemarin Bu Caryn McLelland, Konjen AS, memancing kami dengan pertanyaan: “Apakah Khofifah berhasil karena para perempuan memilih dia karena dia perempuan?”
Setelah melempar pertanyaan, dia mempersilakan kami makan. Wah, padahal sudah ingin menjawab pertanyaan provokatif itu. Seusai makan, kami berkumpul untuk mengutarakan pendapat masing-masing. Bu Diah Katarina buru-buru pamit. Alasannya, banyak kegiatan lain; tapi bisa saja dia menghindari pembicaraan berbau politik.
Saya mengawali dengan mengatakan, kemenangan Khofifah (setidaknya di urutan kedua) bukan karena perempuan memilih perempuan. Yang memilih dia tak hanya perempuan. Banyak laki-laki memilih dia. Jadi, dia dipilih karena a) intelektualitasnya yang begitu menonjol, b) kepatuhan Nahdliyin, terutama Muslimat, atas petunjuk para kyainya.
Ternyata, hampir semua perempuan (hanya satu dua yang merahasiakan pilihannya) yang bekumpul itu mengaku tidak mencoblos Khofifah. Juli, aktivis anak, malah mencoblos semua. Alasan mereka macam-macam dan masuk akal semua. Seorang perempuan Golput mengembuskan kabar: ”Khofifah kan istri kedua.” Perempuan lain protes: ”Wah, gak boleh itu, itu black campaign.” Saya menimpali: “Emang kenapa dengan istri kedua? Yang penting statusnya resmi, kan?”
Tokoh KPPD bercerita, hanya tiga kandidat yang menerima permintaan audiensinya. ”Khofifah menolak audiensi dengan kaum perempuan sebulan sekali kalau nanti jadi Gubenur, karena sudah dijadwal pertemuan dengan para pengusaha sebulan sekali. Dia menawar sekali dalam dua bulan.”
”Wah, pengusaha lebih penting dari perempuan?”
”Jelas toh? Dapat apa dari perempuan?”
Psikolog Astrid Wiratna cuma senyum-senyum saja mengikuti perdebatan itu. Ditanya pilihannya, dia menjawab diplomatis: ”Bukankah itu rahasia?”
”Yah, apapun, kita mesti siap memiliki Gubernur perempuan dalam lima tahun ke depan,” ujar saya. Tiba-tiba serentak suara kaum perempuan itu menggema: ”Belum tentuuuu …. .” Lalu para perempuan itu menganalisis kemungkinan putaran kedua dengan berbagai rasionalisasinya, yang intinya ”belum tentu” tadi itu.
Saya lihat Bu Caryn senyum-senyum saja. Jangkrik, saya misuh dalam hati. Kita dikerjain nih. Kita berdebat, dia menyerap. Saya langsung menelusupkan pertanyaan kepadanya di tengah riuh rendah diskusi teman-teman:
“Bu Caryn, kira-kira yang menang November nanti Obama atau McCain?”
“Wah, kami tak boleh berpendapat,” jawabnya.
“Mengapa?”
“Sebagai aparatur negara, kami tak boleh memihak, berkomentar, menggunakan resources negara, termasuk menggunakan email kami, untuk keperluan kampanye. Takutnya kami akan menguntungkan Partai Republik,” ujar aparat pemerintahan Republik itu.
Wow, kami semua terkesan. Pemerintah AS, Republikan, tidak menggunakan resources-nya dalam bentuk apapun untuk mempengaruhi opini publik. Bagaimana dengan pemerintah Indonesia? Dari Golkar, PKB, PDIP, sampai Demokrat?
Siang itu kami keluar dari rumah di Jl. Untung Surapati itu dengan perut kenyang, dan pikiran tercerahkan. Mendengar argumen politik 20an tokoh perempuan se-Jatim, bukan hal yang dapat dilupakan begitu saja.
Sirikit Syah
30 Juli 2008