Kira-kira siapa yang akan menjadi Gubernur Jawa Timur 2008-2013? Pak Karwo yang santun, lembut tutur katanya, berpengalaman, dan memiliki ilmu yang memadai? Meski partai pendukungnya kecil, nama Pak Karwo sudah akrab di kalangan orang Jawa Timur.
Eh, ada Pak Soenaryo yang tak kalah familiernya. Maklum, Ketua Golkar Jatim dan Wagub Jatim ini juga dhalang. Apalagi, Bos JK tak akan mentolerir kekalahan pilgub lagi, apalagi di Jatim. Pak Hery Achmadi mungkin tak begitu populer di telinga rakyat Jatim. Namun, kalau kendaraannya bernama PKB, wah, yang lain mesti hati-hati.
Pak Tjipto kita kenal di awal tahun 90-an, ketika PDI-P berdiri dan melawan rezim Orde Baru. Kesetiaan Pak Tjip pada Bu Mega sudah teruji. Kesetiaan pada rakyat Jatim, tampaknya baru akan dibuktikan kalau dia terpilih nanti. Paman-paman saya di desa akan memilih Bu Khofifah, karena: ”Kalau perempuan rasanya lebih jujur dan adil.” Wah, soal itu, sebagai perempuan, saya akur saja.
Berat juga PR penduduk Jatim, pilihannya berkaliber setara semua. Semoga saja yang menang menepati janji, dan yang kalah legawa.
Saya sendiri sempat didekati seorang Kyai berpengaruh dari Jember, diminta membantu Bu Khofifah. Saya menolak karena tak berminat terjun ke politik. Apalagi kalau ’dipakai’ cuma karena gender saya perempuan. Ada juga ’lamaran’ dari kandidat independen, saya diusung menjadi pasangannya. Saya sedang menimbang-nimbang sebetulnya, tetapi ’saved by the bell’, karena UU tidak memungkinkan kandidat independen bertarung sekarang.
Yang paling menarik sekaligus menjengkelkan adalah ketika Soekarwo melakukan kontrak politik (komitmen) dengan Jaringan Perempuan Jatim. Ada begitu banyak agenda yang bisa diperjuangkan (kemiskinan, rendahnya pendidikan, lapangan pekerjaan, tarip listrik & BBM, dll), para perempuan ini malah minta janji Soekarwo perihal ”bayi perempuan jangan disunat”. Duh, itu kan persoalan privat, subyektif, dan tak seharusnya dikaitkan dengan aturan negara/pemerintahan? Untungnya Soekarwo menjawab dengan baik, tidak terpancing atau terhanyut, mengembalikannya pada tafsir AlQuran dan individu penganutnya.
Saya sendiri inginnya minta komitmen pada kandidat tentang dua hal saja: pendidikan gratis mbok ya jangan cuma slogan, dan guru-guru non-PNS mbok ya diopeni. Mereka warga negara juga kan?
Sirikit Syah
7 Juli 2008