Dalam launching Klub Guru dan seminar “Menjadi Guru Profesional” Sabtu 8 Desember kemarin, Prof. DR. Muchlas Samani, Direktur Tenaga Kependidikan Depdiknas, menyampaikan puisi Rendra ”Seonggok Jagung di Kamar”. Puisi yang ditulis tahun 70-an itu terasa masih relevan hingga sekarang. Puisi itu berkisah tentang seorang pemuda yang bingung menatap seonggok jagung di kamarnya. Hendak diapakan?
Itulah kritik seniman terhadap sistem pendidikan kita. Pendidikan yang hanya dijejali kurikulum yang super padat, dimana para siswa diharuskan menghafal, dan tak pernah terjun ke lapangan. Ketika siswa lulus dari SMA, dia tak tahu harus bagaimana atau berbuat apa? Di Indonesia lebih parah, lulus S1-pun, tak tahu harus berbuat apa, selain menunggu pengumuman pe-recruitan PNS. Lulus S2 juga masih bingung, kecuali orangtuanya menempatkan atau menitipkannya ke kerabat dan handai tolan. Lulusan kita, sekolah menengah, sarjana atau pasca sarjana, tak dibekali kemampuan berwirausaha dan tak terasah daya kreasinya.
Kadang-kadang kita menasehati anak-anak kita untuk sekolah supaya tidak menjadi sampah masyarakat. Padahal para pemulung (pemungut sampah) yang tidak sekolah itulah yang justru memunguti sampah-sampah yang kita (orang berpendidikan) produksi. Lalu, ada yang menasehati anaknya untuk bersekolah agar tidak jadi maling. Mantan presiden Amerika Theodore Rooselvet (1858-1919) pernah menyatakan hal yang cukup telak: “A man who has never gone to school may steal from a freight car; but if he has a university education he may steal the whole railroad.” Seorang yang tak pernah bersekolah bisa mencuri di sebuah gerbong kereta api. Namun seorang terdidiklah yang bisa mencuri (mengkorupsi) perusahaan kereta api.
Maka, pertanyaan kita, apa gunanya sekolah? Bukankah ibulah madrasah terbaik bagi anak-anak kita? Pertanyaan ini mestinya menggelitik para penentu kebijakan pendidikan di pusat, di Depdiknas RI. Sudah lama dikeluhkan bahwa kurikulum anak-anak kita, dari TK sampai SMA, sarat mata pelajaran yang tak terlalu perlu di dunia nyata. Pelajaran Sejarah hanya membuat orang piawai memanipulasinya. Pelajaran Matematika membekali para calon pejabat dengan keahlian mengubah angka-angka. Pelajaran Budi Pekerti yang membuat manusia berbeda dengan binatang atau dengan manusia belum beradab, malah dihapuskan. Tak heran bila generasi kita kehilangan sopan santunnya, tidak bisa antri dengan tertib, suka menyerobot, suka menyuap dan disuap, tidak toleran, dan lebih parah lagi: kehilangan sense of honesty, rasa kejujuran.
Baru-baru ini terungkap, lebih dari 200 siswa di Surabaya putus sekolah. Para pejabat Diknas malah terkesan ”memarahi” anak-anak yang putus sekolah itu. ”Tak ada alasan untuk tidak sekolah,” hardik para pejabat, yang mungkin terusik rasa malunya. Seharusnya pejabat turun ke lapangan, melakukan survey, mengapa anak-anak putus sekolah. Bisa jadi karena mereka harus bekerja membantu orangtua, dan orangtua tak memiliki biaya. Bisa pula dana BOS (Biaya Operasional Sekolah) yang sejatinya untuk menghapus anak putus sekolah malah mengucur ke kantung para bos. Atau, mungkinkah karena kurikulum sekolah sagat berat, membosankan, dan tak mengajari apa-apa, sebagaimana disiratkan puisi ”Seonggok Jagung di Kamar”?
Terutama saat ini, ketika para guru sibuk mengurusi diri sendiri (mengejar sertifikat), siswa seperti terabaikan. Dalam seminar yang dihadiri sekitar 600an guru itu juga terungkap, para guru bahkan melakukan penipuan dan mengabaikan kejujuran dalam upaya mencapai kesejahteraan. Mereka memalsu berbagai sertifikat untuk memenuhi portofolio yang disyarakatkan untuk mendapatkan sertifikasi guru, yang ujungnya adalah kesejahteraan material. ”Bila guru saja sudah menipu, siapa lagi yang bisa kita percayai?” tanya Prof. Muchlas Samani, setengah menyindir, setengah putus asa. Pertanyaan selanjutnya: ”Bagaimana kualitas para anak didik, bila gurunya saja menipu?”
Persoalan mendasar dalam proses belajar juga karena para guru lebih menghargai siswa yang menjawab benar, meskipun mencontek. Ini bahkan didorong saat UNAS. Guru tidak suka pada siswa yang menjawab salah. Siswa macam ini sering kena marah guru. Padahal, ini berarti membunuh proses pembelajaran: bahwa untuk mencapai kebenaran, seseorang melalui jalan panjang, di antaranya melalui/berbuat kesalahan-kesalahan yang akan dikoreksinya. Siswa dan guru model jalan pintas adalah mereka yang langsung benar. Tak pernah dan tak perlu belajar salah. Kalau perlu: mencontek atau menjiplak.
Alangkah indahnya bila para guru menyadarai nilai-nilai mendasar tentang perlunya pendidikan, dan betapa signifikan proses pembelajaran pada pembentukan karakter anak didik, untuk selanjutnya karakter bangsa. Seorang guru bertanya pada pembicara seminar ”Menjadi Guru Profesional”, dan pertanyaan ini pantas kita renungkan bersama, terutama oleh para pembuat kebijakan di Jakarta: ”Budaya macam apa yang akan timbul dari program sertifikasi guru ini?” Kita semua punya andil untuk menjawabnya.
Sirikit Syah
Pengamat media dan pendidikan
(atau sebut saja ”Penulis”)