Bangga sebagai bangsa Indonesia


 

 

Sudah sering saya menulis, dan juga membaca, tentang betapa kecewanya kita sebagai bangsa Indonesia. Negara yang konturnya rumit (berpulau-pulau), penduduk yang luar biasa banyak, kekayaan alam yang entah kemana larinya, para pemimpin yang tidak amanah. Ternyata pemimpin generasi tua sama saja dengan Orba, dan pemimpin dari generasi muda ternyata masih mengecewakan, tak bisa diharapkan.

 

Duh, banyak sekali keluhan. Saya bersyukur ada isu-isu Malaysia. Dengan maraknya konflik Malaysia, saya mulai melihat bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang lumayan. Maksud saya, bicara pada tataran bangsa, bukan orang per orang. Tentu ada pejabat koruptor dan ada TKI jadi maling, tetapi itu pada tataran (level) individu. Indonesia, sebagai bangsa, tidak pernah memakai lagu-lagu orang lain sebagai lagu nasional dan lagu promosi wisata. Bangsa kita juga tak pernah mempromosikan pulau-pulau yang masih menjadi sengketa dua negara sebagai tujuan wisata. Bangsa kita tak punya milisi atau preman sebagai penegak keamanan. Bangsa kita tak punya kebijakan mencuri karya-karya orang lain sebagai hak cipta mereka. Mungkin ada beberapa orang Indonesia mencuri, tetapi tidak sebagai bangsa.

 

Sebaliknya, mari kita lihat apa yang dilakukan Malaysia. Ketika pulai Simpadan dan Ligitan masih disengketakan, Malaysia sudah ”ngopeni” pulau-pulau itu dan penduduknya: diberi KTP, dipasangi bendera, dibangun, dipromosikan sebagai tujuan wisata. Beberapa orang kita kagum pada Malaysia: ”Hebat mereka, ngopeni. Pemerintah kita lalai dan abai pada rakyatnya nun jauh di sana. Salah kita sendiri.”

 

Saya melihatnya berbeda. Di mata saya, Malaysia memanfaatkan kelemahan Indonesia. Ibarat tetangga, ketika istri tetangga tidak ”diopeni” oleh suaminya, dia masuk dan ”ngopeni”, lalu meng-claim itu sebagai miliknya. Ini adalah seburuk-buruk perilaku. Oleh sebab itu, ketika banyak orang kita menerima dan membiarkan Malaysia menjorokkan perbatasannya di Kalimantan Utara (Sabah & Serawak) ke wilayah Kalimantan Indonesia (Barat, Tengah, dan Timur), dengan cara ”ngopeni” dan membangun, saya memandangnya sebagai perilaku yang tidak etis sebagai tetangga.

 

Lihat juga penggunaan lagu Rasa Sayange dalam promosi wisata mereka. Argumentasi mereka cuma: ”Ini lagu nenek moyang kita bersama.” Katakanlah argumentasi itu dapat dibenarkan, bagi saya tetap saja: Malaysia tidak cukup punya daya kreatif untuk menciptakan lagu-lagunya sendiri, sampai-sampai tega memakai lagu-lagu yang belum jelas asal usulnya. Malaysia –menurut laporan mahasiswa dan pegawai pemerintah RI di banyak negara- sering menggunakan ikon-ikon Indonesia dalam festival-festival budaya mereka (alat musik, lagu daerah, masakan daerah, kerajinan tangan). Kita mesti menyadari bahwa Malaysia memang negara yang masih muda, hampir tak punya budaya sendiri.

 

Setiap kali perdebatan Indonesia-Malaysia mengemuka, orang-orang Malaysia selalu melemparkan kesalahan pada para ”maling”, ”perampok”, ”pemerkosa”, ”pendatang haram” dari Indonesia. Argumen yang tidak nyambung, menurut saya. Yang namanya kriminal, ya dihukum. Kita ikhlas saja kriminal-kriminal itu dihukum. Persoalannya, Malaysia sebagai bangsa telah melakukan gerakan melecehkan Indonesia secara terang-terangan. Menangkap turis Indonesia, istri diplomat, menggerebeg rumah mahasiswa Indonesia, memukuli wasit Indonesia. Itu semua sama sekali tak dapat dibenarkan, apalagi dengan sekadar alasan ”berjaga-jaga”, ”curiga”, atau ”biasanya”. Apa beda Malaysia dengan Israel yang menerapkan kebijakan ’pre-emptife action’ (tindakan pencegahan) pada bangsa Palestina?

 

Lebih dalam dan mendasar dari itu, pemerintah Malaysia telah merestui gerakan milisi yang disebut RELA, untuk melakukan penggerebegan dan pemeriksaan kepada siapa saja yang dicurigai. Malaysia juga tidak pernah menindak pengusaha-pengusaha atau majikan-majikan Malaysia yang lebih suka memakai pendatang haram (dengan sengaja) agar kedudukan TKI haram ini lemah dalam hal upah dan jaminan kerja. It takes two to tango. Diperlukan dua orang untuk menari tango. Tak mungkin ada pendatang haram bila tak ada demand. Ada permintaan, didasari pada prinsip ekonomi (upah murah, minim jaminan, bisa diperlakukan semena-mena). Para TKI ilegal selalu dihukum, namun kita tak pernah mendengar Malaysia menghukum para pengguna TKI ilegal.

 

Saya pernah kagum dan bangga pada Malaysia. Isu-isu belakangan ini membuat saya sadar, kita masih bangsa yang lebih besar daripada Malaysia. Kita menjalani demokrasi dengan relatif aman. Kita memiliki media yang bebas, pemilihan umum langsung, kreativitas seni yang sangat tinggi. Di Malaysia, mencuri telah direstui bahkan dilakukan oleh negara. Pulau-pulau, lagu-lagu, batik, keris, telah diambil oleh bangsa Malaysia. Sejelek-jeleknya Indonesia, sungguh, saat ini saya bangga menjadi bangsa Indonesia, bangsa pencipta, bukan bangsa peniru apalagi pencuri.

 

Sirikit Syah

Oktober 2007

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s