Orang tua yang anaknya tengah duduk di bangku kelas enam SD saat ini pasti sedang dirundung kecemasan. Minggu depan anak-anak menjalani Ebtanas. Danemnya harus tinggi, agar dapat diterima di sekolah favorit. Untuk itu, tidak sedikit bapak dan ibu yang menambah jam belajar anaknya, yang semula 1 jam serhari menjadi 3 jam sehari, dan itu dilakukan sejak beberapa minggu belakangan ini.
Memang, kebanyakan dari kita, orang tua, ingin anaknya mencapai prestasi setinggi mungkin. Kita selalu mempersiapkan anak untuk menang. Untuk masuk ranking, untuk menjadi juara. Untuk menambah daftar kebanggan kita setelah lelah pamer jumlah rumah, jumlah mobil, dan jumlah perhiasan. Pernahkah kita mempersiapkan anak kita untuk kalah, untuk keluar dari rangking, untuk tidak menjadi juara?
Di kalangan ibu-ibu teman anak saya, pembicaraan di sekitar ini cukup hangat. Ketika berkumpul di SD untuk sebuah pertemuan misalnya, Ibu A akan bercerita bahwa siswa B yang mendapat rangking 1 itu sebetulnya tidak lebih pintar dari anaknya. “Betul lo Bu, nilai anak saya jauh lebih bagus-bagus. Anak saya sampai menangis dan mogok belajar, mogok makan karenanya,” katanya bersemangat.
Anak-anak yang mudah down karena rangkingnya bergeser atau kalah dalam perlombaan itu mungkin tidak pernah diajari oleh orangtuanya bagaimana mensikapi kekalahan. (Jangan-jangan malah diprovokasi untuk ngambeg dan justru para or-tu yang gigih mengobarkan semangat untuk tidak dapat menerima kekalahan. Di antaranya dengan membodoh-bodohkan anak atau memaki-maki pemenang lain yang dianggap tidak layak menang).
Anak saya yang sekarang sudah kelas 2 SLTP bukan anak yang sangat cerdas, tetapi dia rajin dan tekun. Alhamdulillah, ketika Ebtanas, Danemnya mencukupi untuk masuk SLTP 12 yang menjadi idamannya. Di antara kawan-kawannya satu SD, ada yang diterima di SLTP 1 Pacar yang bergengsi itu. Lalu ada pula yang harus “minggir” dulu ke SLTP di luar kota (Sidoarjo), kemudian pindah ke SLTP 1 ketika menginjak kelas 2. “Anak ini kemudian terisolir di kelasnya di SLTP I. Anak saya kan tahu kemampuannya, wong sesama teman SD. Tapi karena orangtuanya mampu, dia masuk sekolah favorit juga. Tapi ya, kasihan juga. Dia sulit mengikuti,” cerita seorang ibu yang anaknya sekolah di SLTP I. Itulah antara lain contoh ambisi orang tua.
Pendidikan untuk selalu menjadi pemenang, mencapai rangking, berdanem tinggi, ini memang sangat bagus. Tetapi tak kalah pentingnya adalah mempersiapkan anak-anak untuk kalah dengan anggun. Alangkah indahnya kalau anak yang tergeser rangkingnya, bukannya menangis dan ngambeg, tapi malah mendatangi temannya dan menyalaminya? Anak saya yang pintar menggambar beberapa kali saya ikutkan lomba melukis, dan selalu kalah. Hebatnya, dia tidak kelihatan kecewa atau putus asa. Lama-lama dia menyadari bahwa lukisannya memang beda (bukan lebih jelek atau lebih bagus).
Dia melukis sketsa, dengan pinsil atau bolpoin hitam, dan tidak suka warna. Sementara semua juri lomba melukis akan melihat warna dan bentuk-bentuk lukisan yang nyaris “seragam” karena para peserta umumnya produk sanggar-sanggar melukis yang diakrabi oleh para juri. Anak saya dan kami sekeluarga memutuskan, dia melukis bukan untuk konsumsi lomba. Coretan-coretannya yang begitu hidup kami simpan dan kami pamerkan pada tamu-tamu yang datang ke rumah.
Lalu, bagaimana kalau anak kita Danemnya rendah? Sebagai orangtua sebaiknya kita tidak memarah-marahi sang anak. Berapapun Danem anak, kan selalu ada sekolah yang dapat menampungnya, bukan? Sebaiknya kita menanamkan pemahaman bahwa semua sekolah baik. Yang penting bagaimana siswa menjalaninya. Kalau ada kekurangan di sekolah, bisa berprestasi di luar sekolah, misalnya.
Perlu diketahui agaknya bahwa milyuner pemilik industri komputer terbesar didunia, Microsoft, yang bernama Bill Gates, adalah drop out dari perguruan tinggi. Ted Turner, pemilik CNN, juga hanya lulusan SMA. Bill Gates dan Ted Turner ini kemudian mempekerjakan orang-orang pintar, termasuk master dan doktor.
Nah, kita memang wajib berusaha semaksimal mungkin. Namun bila gagal, mari kita ajari putra putri kita untuk menerima kegagalan dan kekalahan dengan anggun, dan dunia tidak kiamat dengan kegagalan/kekalahan tersebut. Dengan memiliki jiwa besar, anak-anak akan menjadi politikus-polikus masa depan yang tidak mudah “ngamuk” kalau partainya kalah lalu mengerahkan massa untuk mengobrak-abrik fasilitas rakyat.
Sirikit Syah