Berpuasa di negeri asing


 

Sirikit Syah

 

            Bulan Ramadhan tahun ini saya mengalami puasa di Boston, AS. Sebelum berangkat, saya sempat bertemu Basofi Sudirman di acara selamatan pembangunan gedung di Stikosa-AWS. Basofi Sudirman adalah Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Wartawan Jawa Timur, yang menaungi Stikosa. Saya mantan Wakil Ketua Stikosa, dan sampai sekarang masih menjadi dosen.

 

            Basofi mengomentari gerakan pemaksaan penutupan warung dan restoran pada siang hari. “Kata mereka (pelaku gerakan), ini untuk menghormati yang berpuasa. Coba kita tanya pada kaum berpuasa, apakah mereka minta dihormati?” ujar Basofi. Pesan moralnya: bila semua godaan ditutup, apa ujian orang berpuasa? Basofi melanjutkan dengan pertanyaan: ”Pernah berpuasa di negeri orang? Dimana orang makan minum seenaknya di depan kita? Kalau kita tetap berpuasa, kita lulus dengan nilai A. Kalau di Surabaya berpuasa, klub malam ditutup, warung dan restoran juga tutup, rapat-rapat tak lagi pakai suguhan, kita bisa lulus juga, tapi nilainya B.”

 

            Saya selalu mengingat wejangan itu. Ketika tujuh fellow IDEAS (diantara 29 fellow) berangkat dari Bandara Soekarno Hatta, saya bertekad terus berpuasa. Namun, di tengah perjalanan, mungkin di langit India atau Saudi Arabia, waktu menjadi membingungkan bagi sebagian di antara kami. Apakah ini waktu puasa atau waktu buka? Jam di dalam pesawat ikut waktu keberangkatan atau tujuan? Akhirnya, saya dan kawan-kawan tidak berpuasa di atas pesawat. Fellow Rachmat, manager PT Nissan Indonesia, berkilah: ”Musafir tidak wajib berpuasa.” Namun Gumilar Sumantri, Rektor UI, tetap berpuasa sepanjang masa penerbangan.

 

            Di Boston, kami akan menjalani kursus mengenai social technology dan U-Theory di MIT (Massassuchets Institute of Technology). Ilmu ini akan menjadi bekal bagi kami dalam berperan di masyarakat untuk membangun bangsa. Di Boston, waktu imsyak sekitar pukul 6 pagi, waktu magrib (buka) hampir pukul 7 malam. Sebetulnya dari panjangnya masa puasa, juga dari cuaca yang sejuk, tidak ada persoalan untuk berpuasa. Namun ada hal yang sangat mengganggu kami.

 

            Setiap hari kami wajib hadir di kelas pukul 8 pagi, pada waktu sarapan. Kuliah baru akan dimulai pukul 8.30. Ingin sekali saya protes atau usul, agar yang berpuasa tak perlu datang pukul 8. Tapi karena busnya mesti bersama-sama, saya tak bisa protes. Maka, kaum berpuasa mesti menemani orang-orang menikmati sarapan pagi. Siang hari lebih mengganggu lagi. Makan siang disediakan di ruang sebelah kelas. Aromanya sangat mengundang selera, apalagi kalau sudah menu India atau Timur Tengah. Meskipun kami berpuasa, kami tidak diijinkan meninggalkan tempat (misalnya mencari warnet atau toko buku barang 1 jam). Seusai sholat dzuhur di sebuah ruang sempit, kami tetap wajib hadir di tengah-tengah fellow dan tamu lain, karena ada ’guest speaker during lunch’ yang wajib kami ikuti. Selama masa yang menyiksa ini (jujur saja, aroma masakan dan pemandangan orang makan di kanan kiri saya betul-betul mengganggu), saya selalu teringat nasehat Basofi Sudirman: ”Kau akan lulus dengan nilai A”.

 

            Alhasil, selama enam hari di Boston, saya tidak membatalkan puasa. Apalagi, kami terhibur oleh suasana sahur yang amat menyenangkan. Ritualnya biasanya begini: pukul 4 pagi saya mengetuk kamar Pak Rektor atau Pak Rektor menelepon kamar saya. Di kamar Pak Rektor, kami mulai memasak beras yang dibawanya dari Indonesia, sambil menelpon teman-teman lain (ada 12 fellow yang berpuasa). Selain nasi, tersedia pula indomie, dendeng, abon, sayuran, dll. Saat sahur kami seperti ”berpesta’, membalas dendam pada ”kesengsaraan” sepanjang hari tadi.  

 

            Meskipun Pak Rektor sudah menyediakan kelengkapan sahur, ada saja teman yang membawa makanan ke ruang 401 hotel Le Meridien Boston itu. Endy Bayuni, pemred The Jakarta Post, pernah membawa masakan Yahudi kiriman bekas tetangganya (Endy pernah tinggal di Boston, kuliah di Harvard University, dan masih menjaga hubungan baik dengan sang tetangga Yahudi). Maya, Vice President Erricson Indonesia yang amat cantik, membawa ayam goreng satu kotak penuh. Arko, dosen UI, membawa masakan Cina. Rofiqoh, dari Bisnis Indonesia, membawa nasi goreng. Bupati Tapanuli Selatan malah membelikan daging.

 

            Beberapa teman, seperti Emir dari LEAD, kadang-kadang menghilang dari acara sahur bersama. Ternyata dia bersahur di sebuah masjid di dekat hotel. Katanya, di masjid itu juga disediakan makanan. Teman-teman juga kadang ikut buka puasa di masjid, dan selalu ada makanan yang melimpah. Ada pengalaman menarik, ketika kami naik taksi. Beberapa kali kami mendapatkan sopir asal Timur Tengah. Mengetahui kami Islam, musafir, dan sedang berpuasa, mereka menolak dibayar. Tentu saja kami memaksa membayar taksinya.

 

            Pada akhir hari keenam, kami mengucapkan terimakasih pada Pak Rektor. Bukan sekadar penganan yang disediakan, tetapi suasana kebersamaan yang diciptakannya. Ada yang berkata: ”Pak Rektor pahalanya besar nih, memberi makan orang yang berpuasa.” Pak Rektor menjawab: ”Yang paling berbahagia dan menerima pahala besar adalah istri saya. Dia memaksa saya membawa rice cooker dan beras, meski saya tolak. Ternyata ada manfaatnya.”

 

            Ini bukan pertamakalinya saya berpuasa di negeri orang. Tahun 1994 saya berpuasa di Syracuse, AS juga, di musim dingin bersalju. Tahun itu pertamakalinya Hari Raya Idul Fitri menjadi hari libur kampus (tanggal merah). Sebelumnya hari libur umat Islam tidak diakui di kota yang mayoritas penduduk dan mahasiswanya beretnis Yahudi ini. Saya yang sedang magang di WHTV-5, TV lokal afiliasi CBS, malah dijadikan konsultan untuk peliputan kegiatan Ramadhan. Maka saya atur liputan TV di masjid Syracuse pada saat masyarakat Indonesia menyediakan ta’jil: selain religi, ada liputan kuliner.

 

Tahun 2001 saya berpuasa di London. Karena ini tahun pengeboman WTC, banyak saat tidak menyenangkan terjadi karena prasangka (saya pernah dimaki-maki orang di jalanan kota Edinburgh, Scotlandia) –mungkin karena saya berjilbab. Yang paling mengesankan dalam berpuasa di negeri asing adalah kebersamaan yang erat antar sesama orang Islam-Indonesia. Kami lebih aktif mengadakan pengajian, dan –yang paling penting bagi golongan mahasiswa: lebih banyak tersedia makanan lezat.

 

Oktober 2008

             

           

One comment on “Berpuasa di negeri asing

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s