Kabar di Bulan Puasa


 

Alhamdulillah, di bulan puasa ini saya kembali berada di tengah-tengah keluarga. Saya bisa menyediakan santapan buka dan sahur untuk keluarga dan menjalankan ibadah bersama-sama. Tak ada nikmat yang melebihi saat-saat demikian, termasuk tarawih bersama para tetangga. Beberapa kali saya hidup di luar negeri dan menjalani masa puasa di luar negeri, saya selalu menangis karena kesepian.

 

Saat ini, di tengah kegembiraan saya berkumpul lagi dengan keluarga, saya teringat dan mendoakan rekan-rekan saya, para TKI dan TKW yang berada di Brunei dan negara-negara lain. Mereka yang ingin pulang, namun tidak bisa pulang, karena terikat kontrak dan belum cukup mengumpulkan uang. Semoga Allah memberi berkah dan rahmat pada mereka yang berjihad dalam mencari nafkah bagi keluarganya hingga ke negeri seberang.

 

Di Indonesia saya disambut berita tentang Nurdin Halid yang divonis hukuman penjara sebagai korupor, padahal baru saja dilantik menjadi anggota dewan yang terhormat. Baru tiga hari dilantik, vonis dijatuhkan. Yang menjadi keheranan saya, bagaimana seseorang dengan reputasi seperti Nurdin Halid bisa lolos seleksi KPU? Masak KPU tidak tahu, sedangkan orang awam sudah banyak yang tahu sepak terjang Nurdin Halid, kalau dia banyak masalah. Saya pikir, KPU lebih bertanggungjawab atas lolosnya NH menjadi anggota Dewan dibanding Partai Golkar sendiri. Partai Golkar wajar saja mengusulkan calon-calon favorit mereka, sekalipun calon favorit itu seorang terpidana. Bukankah filternya mestinya ada di KPU? Rakyat mana yang mau diwakili suaranya oleh seorang koruptor langganan pengadilan/penjara seperti Nurdin Halid?

 

Menjadi lebih trenyuh saya membaca sebuah berita dari Jepang. Menteri Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang, Takehiko Endo, menyatakan mundur dari jabatannya setelah menjabat cuma sepekan (enam hari). Penyebabnya, dia diberitakan pernah ‘mendongkrak’ angka kerugian perusahaannya di masa lalu –sebelum menjadi menteri- untuk mendapatkan bantuan pemerintah. Jumlah kerugian negara oleh Endo di masa lalu itu Rp 1,1 juta yen (Rp 90 juta). Bandingkan dengan nilai korupsi Nurdin Halid. Dan bila Nurdin Halid mesti diburu oleh penegak hukum, Endo malah dengan suka rela meletakkan jabatan yang baru disandangnya itu. Menunggu Nurdin mundur dari DPR? Kita coba saja.

 

Rasa malu agaknya telah terkikis dari karakter para pemimpin kita. Padahal menurut Islam, malu adalah bagian dari iman. Malu itu ada tiga, malu pada orang lain, malu pada diri sendiri, dan malu pada Tuhan. Bangsa Indonesia biasanya malu kalau ketahuan orang lain. Jarang sekali orang meletakkan jabatan atau mengakui kesalahan karena malu pada diri sendiri atau kepada Tuhan. ”Kalau gak ketahuan, terus saja,” mungkin begitu pedoman orang-orang yang krisis rasa malu ini. Sebuah hadits Nabi Muhammad SAW mengatakan (mungkin saking jengkelnya): ”Kalau kau tak punya rasa malu, berbuatlah sekehendak hatimu!” Padahal, meski tidak ketahuan orang lain, dan tak malu pada diri sendiri, bukankah Allah Maha Tahu?

 

Kita lihat pada bulan puasa ini, meskipun pusat pelacuran dan klub malam ditutup, masih ada saja peselingkuh yang tertangkap basah di hotel-hotel jam-jaman. Para peselingkuh tidak malu, koruptor juga tidak malu. Aneh, bila mokel (memecah puasa di tengah hari) kita akan merasa malu bila ketahuan orang. Namun ketika kita melakukan pungli (di jalan raya atau di kantor kelurahan), kita tidak malu. Demikian juga para pejabat bidang pendidikan yang menyelewengkan dana Bantuan Operasional Sekolah, atau guru yang meninggalkan muridnya karena merangkap mengajar di tempat lain. Mereka tidak malu.

 

Pada bulan puasa ini, selain mengasah rasa malu, kita juga mesti mulai menjiwai makna maaf-memaafkan. Sesuai tradisi kita, bulan puasa akan diakhiri dengan Hari Raya Idul Fitri, dimana diharapkan semua manusia kembali pada fitrahnya yang suci dan bersih. Meminta maaf adalah perbuatan yang mulia, namun lebih mulia dari itu adalah memberi maaf. Seperti firman Allah dalam surat Ali Imran (133-4), memberi maaf adalah salah satu ciri orang yang takwa dan muhsin yang dicintaiNYA. Sebelum orang meminta maafmu, maafkanlah mereka.

 

Mudah-mudahan kita semua mendapat karunia pada bulan suci ini dan betul-betul menjadi manusia yang suci pada hari Idul Fitri. Amien.

 

Sirikit Syah

September 2007

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s