Kegilaan anak muda akan Harry Potter


 

Sangat mencengangkan, hanya dalam 24 jam, buku Harry Potter seri ke-7 telah terjual sebanyak 8,3 juta copy. Sulit membayangkan, berapa juta copy lagi JK Rowling akan menjual bukunya dalam kurun waktu tiga bulan atau satu tahun, di seluruh dunia.

 

Sebagai perbandingan, buku saya terjual 2000 copy dalam 2 tahun, lalu sekitar 10 ribu dalam waktu 5 tahun (Harga Perempuan). Buku terlaris saya adalah terjemahan Karen Armstrong –Muhammad Sang Nabi- yang bisa cetak ulang sampai belasan kali, dan mungkin terjual di atas 100 ribu copy, dalam waktu 4-5 tahun.

 

Patut dicatat dari fenomena ini adalah pemberitaan mass media yang besar-besaran atas peluncuran perdana ’Harry Potter and the Deathly Hallows” ini. Beberapa hari sebelumnya, media sudah memberitakan rencananya. Sehari sebelum Hari-H, media memberitakan, dengan mewawancarai para penggemar dan calon pembeli. JK Rowling, sang pengarang, bahkan diundang talk show di TV Amerika, jauh-jauh didatangkan dari Inggris.

 

Pada Hari-H, media dipenuhi berita tentang penjualan buku yang sangat ’heboh’ itu. Namun saya terkesan ketika koran tempat saya bekerja (Brunei Times) melarang pemuatan besar-besaran event tersebut. Seorang rekan akan memuat segala sesuatu tentang Harry Potter sebanyak satu halaman penuh di halaman feature. Dia menyiapkan semalaman. Pukul 9 malam, seorang pimpinan datang ke mejanya. ”Batalkan rencana halaman Anda. Kita tak boleh terlalu memuja ”magic”.” Teman saya, redaktur asal Malaysia terbengong-bengong. Dia salah satu penggema berat Harry Potter, dan telah susah payah merancang halamannya. Harus diubah dalam waktu 1-2 jam sebelum naik cetak? Dia berusaha berargumentasi. Akhirnya management mengijinkan, ”Baik, setengah halaman saja. Kalau bisa seperempat. Kalau Anda kesulitan, kami sediakan materi pengganti.” Materi pengganti adalah iklan layanan masyarakat tentang ”jangan merokok”, ”jagalah lingkungan” dan sejenisnya. Saya betul-betul terkesan.

 

Anak muda dulu, jaman saya, pasti juga suka baca Karl May, atau Tin Tin, atau tokoh lainnya. Namun ’kegilaan’, ’over-fanaticism’ seperti ini belum pernah ada. Saya menduga, ini disebabkan pemberitaan media. Satu karakter di film Die Hard 4 berkata tentang news, ”Media is manipulated, to make us buy something that we actually don’t need to buy.” Ya, media bisa saja ‘manipulated’ oleh konspirasi penerbit buku atau korporasi besar apapun. Tapi bisa juga media itu ‘manipulative’ berdasarkan agenda-agendanya sendiri.

 

Saya bertanya-tanya, mengapa anak-anak muda kita tergila-gila pada Harry Potter? Mungkin juga karena pengarang-pengarang kita tidak cukup produktif atau kreatif, sehingga anak-anak muda mencari pemenuhan kebutuhan membaca pada pengarang asing. Bayangkan, catatan tahun 2000: Indonesia hanya menerbitkan 2000 buku (untuk 203 juta penduduk), sementara negara tetangga Malaysia menerbitkan 15.000 (untuk 21 juta penduduk). Betapa memprihatinkan. Negara-negara maju lebih jauh lagi: Inggris menerbitkan 100.000 judul per tahun, Jerman 80.000, Jepang 65.000.

 

Kita memang tak bisa hanya menyesali dan merasa prihatin pada kecenderungan anak muda kita membaca Harry Potter. Di Indonesia, tak ada alternatif. Beberapa buku yang ditulis oleh anak-anak muda sendiri (berumur antara 19-29 tahun) adalah buku roman picisan, chicklit yang berisi cara berpacaran atau cara bersaing dalam pacaran. Sementara pengarang dewasa Indonesia -JK Rowling, pengarang Potter, berusia 40an- sibuk menulis buku yang berisi protes atau kekesalan peribadi, dipoles dalam bentuk novel pemberontakan atau sastra reformasi, di antaranya tentang komunitas lesbian, gay, dan penjaja sex di klab-klab malam. Tak ada satupun pengarang berusia 40an yang menulis untuk remaja dengan tema yang menggugah, memacu, dan mengilhami.

 

Saya bukan penggemar Harry Potter, namun mau tidak mau kagum pada daya imajinasi sang pengarang, yang membuat anak-anak kita terpaku membacanya. Saya juga prihatin pada fanatisme anak-anak kita pada bacaan asing yang berisi ’magic’, namun menyerah karena tak ada alternatif lain. Ada baiknya kita mulai berpikir tentang budaya membaca generasi yang akan datang. Bagaimaapun, perintah Allah yang pertama pada kita adalah untuk membaca.

 

Sirikit Syah

Juli 2007

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s