Menggawangi media berideologi islam


 

 

Saya tak pernah mengira akan menjadi TKW di negeri orang. Tapi di sinilah saya sekarang, di kota Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam. Saya dipercaya menjadi salah seorang redaktur di koran yang baru berdiri setahun lalu, Brunei Times. Koran ini didirikan dengan tujuan menjadi ”bendera” negara Brunei, seperti Kompas di Indonesia atau the Straight Times di Singapura. Itu sebabnya, para pendiri mengundang konsultan dari Kompas dan the Jakarta Post. Kompas untuk pengalamannya berbisnis koran dan keahliannya di percetakan, Jakarta Post untuk redaksional, mengingat Brunei Times adalah koran berbahasa Inggris.

 

Dunia media di Brunei memang tak secanggih di Indonesia. Sebelum Brunei Times, tanggal 1 Juli ini berulangtahun pertama, ada juga tabloid Permata yang milik pemerintah kerajaan, berbahasa Melayu. Selain itu ada Borneo Bulletin, tabloid berbahasa Inggris. Boleh dikata, Brunei Times adalah “harian berkualitas yang pertama” di negeri Brunei. Tampilan dan redaksionalnya seperti the Jakarta Post.

 

Saya yang pernah bekerja di Jakarta Post pada tahun 1996-2000 cukup familiar dengan editorial stylenya. Saya sendiri ditarik oleh teman-teman Jakarta Post, yang memang harus segera kembali ke “kandang”nya. Saya senang karena banyak alasan, tetapi terutama karena Brunei Times berideologi islam. Meskipun tampilannya sangat moderrn seperti layaknya koran internasional umumnya, namun spirit dan ruh Brunei Times adalah islam, sesuai ideologi negara Melayu Islam Beraja (MIB).

 

Teman-teman mewanti-wanti saya supaya tidak kaget karena di sini tak ada demokrasi seperti di Jakarta Post, Surabaya Post, SCTV, RCTI, media yang pernah saya ikuti. Setelah dua minggu di sini, saya merasa tak apalah tak ada demokrasi, yang penting ada harmoni dan kesejahteraan. Bukankah nenek moyang kita, yang beratus-ratus jumlah suku bangsanya, mewariskan falsafah ”tepa selira” (toleran), ”rukun” (harmoni)? Bayangkan kalau semua bangsa di dunia ini toleran (tidak melakukan hal yang kau tak suka orang lain lakukan kepadamu) dan harmoni (tidak mengumbar kebebasan individu). Pasti kita mengalami dunia yang damai.

 

Unik juga bekerja di perusahaan media yang sangat modern, namun dengan ideologi yang sangat ”tradisional”. Pemred dan reporter memang mesti orang Brunei, namun pengelola halaman, para redaktur, semua orang asing. Ada banyak orang India, Pakistan, Malaysia, Filipina, Lebanon, Singapura, menduduki meja-meja redaktur dan IT. Saya satu-satunya orang Indonesia. Kami semua menjalankan tugas profesional sebaik-baiknya, dan patuh pada ideologi.

 

Saya terkejut diberitahu ”tak boleh ada ayat Quran di halaman surat kabar”, dan itu termasuk lukisan kaligrafi, spanduk, judul buku, dll. Bahkan ketika pejabat negeri Arab Saudi berkunjung, foto-foto para pejabat yang ada benderanya, benderanya dikaburkan. Maklum, bendera Arab Saudi kan pakai huruf Arab. Atau, fotografer ambil angle yang tidak kena benderanya. Redaktur Olah Raga juga kena tegor ketika memuat gambar perempuan dalam pakaian renang, meskipun itu atlet yang mau nyebur kolam renang dalam lomba renang. ”Lain kali kita muat gambar tangannya aja menggapai-gapai ke atas dari dalam kolam,” canda sang redaktur. Aneh, lucu, tapi …… tidak ada salahnya, bukan? Fotografer liputan kolam renang harus ekstra kreatif mencari angle, dan itu ujian/tantangan bagi profesionalisme, bukan?

 

Saya juga pernah kena tegor ketika dalam tulisan saya (selain menjaga halaman, tulisan opini saya dimuat hampir setiap hari), saya lupa menuliskan pbuh (peace be upon him) di belakang nama Nabi Muhammad. ”Setiap kali menulis nabi kita, harus ada pbuh,” Pemred wanti-wanti. Suatu bentuk penghormatan yang sangat ”tradisional” untuk ukuran media yang begitu modern di abad 21 ini.

 

Tentu saja gambar Sultan dan Pangeran senantiasa ada di halaman satu. Kami semua tak keberatan dengan itu. Wong memang kegiatan mereka layak muat semua, dan mereka adalah public figures. Istilah jurnalistiknya prominence, name makes news. Apapun yang mereka lakukan, layak muat.

 

Banyak orang bertanya pada saya, mengapa mau jauh-jauh ke Brunei, meninggalkan keluarga? Selain karena ibadah, mencari nafkah bagi keluarga, saya membayangkan bekerja di sebuah media yang tidak akan sembarangan memuat propaganda media barat tentang islam, yang hati-hati ketika hendak menaruh kata ”teroris islam” atau ”islam fasis”, yang tak percaya dan tak memuat begitu saja omongan para musuh-musuh islam. Bukankah kelemahan umat Islam selama ini adalah pada opini publik? Bila umat islam protes atau demo atas sesuatu yang menyerang islam, kita dianggap ngamukan, emosional, tidak beradab. Sementara mereka terus menerus mengumabr kebiadaban (menimbulkan kebencian, menghasut, memfitnah, menyebarkan pornografi, rasisme, dll) melalui media. Alatnya beradab (media lebih beradab daripada demo jalanan) namun isinya jauh dari adab kesopanan berbangsa. Sayang, orang-orang islam sendiri –termasuk yang memegang kendali di media di Indonesia- tidak peka terhadap hal itu, tidak turut menyelamatkan opini dan citra islam.

 

Mungkin bagi sebagian orang dari negara yang industri medianya maju seperti Indonesia, Brunei Times membosankan. Isinya banyak menganjurkan pendidikan, moral, warisan bangsa, hal-hal baik lainnya. Mungkin sebagian malah melihat sebagai kemunduran. Hari gini? Bikin media isinya nasehat-nasehat? Tapi saya senang terlibat di dalamnya. Saya senang masih diberi kesempatan menyampaikan kebaikan nilai-nilai manusia. Ideologi saya sendiri: toleransi, harmoni, etika, kebebasan dalam batas dan tanggungjawab, menemukan tempatnya di sini. Apalagi, dalam hal kecanggihan dan profesionalisme jurnalistik, perusahaan mengikuti dengan dana tanpa batas. Alhamdulillah.

 

Seandainya teman-teman Muslim yang sedang mendapat amanah mengendalikan media di Indonesia bisa berpikir ulang tentang peranannya dalam menegakkan citra islam dan membangun opini positif, Insya Allah islam akan kembali mengalami masa kejayaannya. Media adalah alat paling powerful dalam menyampaikan pesan Quran dan Hadits. Semoga. Saya berharap dari jauh, dan bila tiba masanya saya kembali ke Indonesia, saya siap menjalankan media semacam itu.

  

 

Sirikit Syah

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s