Di Teheran, Iran, saat ini beredar SMS berbunyi “Wisata gratis: apartemen, kebab, hiburan, pakaian, dan …. tiket pulang gratis. Caranya: langgar batas wilayah Iran!”
Itu suatu sindiran pada apa yang terjadi baru-baru ini antara Inggris dan Iran. Lima belas pelaut Inggris tertangkap saat melanggar –masuk tanpa izin- batas wilayah Iran. Ditahan selama dua minggu, para pelaut itu diperlakukan dengan baik, sangat baik malah, seperti turis kelas satu. Sandang, pangan, papan disediakan. Sementara pimpinan kedua negara bernegosiasi lewat jalur diplomatik dan retorika media, lima belas tawanan itu bebas bermain catur, membaca majalah, nonton VCD, apa saja yang mereka sukai untuk melewatkan waktu. Setelah negosiasi selesai, pemerintah Iran kemudian memulangkan mereka dalam keadaan sehat walafiat, tak kurang suatu apa.
Bisa membayangkan kemungkinan lainnya? Seperti yang biasa diembuskan oleh politikus dan media barat, bisa saja lima belas tawanan itu disiksa sedemikian rupa, pulang dalam keadaan cacat, atau pulang tinggal nama. Namun, itu tak terjadi. Betapapun hebatnya propaganda Inggris menjelek-jelekkan pemerintah Iran selama dan pasca pemulangan lima belas tawanan, orang tak dapat memungkiri faktanya: bahwa para pelanggar batas negara itu pulang dalam keadaan sehat walafiat.
Dan, adakah media barat yang menyoroti dua orang diplomat Iran yang ditangkap di Irak? Mereka sudah pulang tanpa publikasi, dalam keadaan cacat kaki dan lemah fisik.
Lalu, bagaimana para pelaut Inggris itu bisa bercerita sebaliknya? Kabarnya, mereka menjual ceritanya kepada media. Aneh bin ajaib, Departemen Pertahanan yang biasanya ketat pada hal-hal yang mencakup keamanan –apalagi yang memalukan seperti kasus itu- memberi mereka ijin bicara pada media. Apa agenda settingnya, bila bukan kesengajaan? Dephan menggunakan ke-15 pelaut itu sebagai corong propaganda mereka!
Apa sesungguhnya yang terjadi? Menurut analisis saya sebagai orang yang awam politik, propaganda dimaksudkan untuk meraih simpati khalayak. Dengan demikian, mustahil pemerintah Iran melakukan penyiksaan terhadap ke15 tawananannya. Tindakan itu akan kontra-produktif pada upaya Iran meraih simpati dunia, berkaitan dengan isu pengayaan nuklirnya. Justru mereka memperlakukan para tawanan dengan sebaik-baiknya, dengan tujuan propaganda (meskipun sesuai agama Islam, bisa saja itu murni niat baik pemerintah Iran dalam menjamu para tawanan yang dianggap sebagai tamunya).
Di lain pihak, pemerintah Inggris kesulitan mencari bahan propaganda, karena apa yang diasumsikan tidak terjadi. Tawanan dipulangkan dalam waktu relatif cepat, dan dalam keadaan sehat. Apa lagi yang hendak dijual untuk menjelek-jelekkan Iran? Maka, Dephan mengijinkan para pelautnya bercerita kepada media, yang ternyata sebagian dengan bayaran (dan media mau membayar mahal untuk berita yang sensasional). Syukurlah, tak semua pelaut mau membuka diri pada media. Mereka menyembunyikan pengalaman pribadi mereka, apapun bentuknya.
Semestinya para pelaut dan pemerintah Inggris bersyukur. Apalagi bila dibandingkan dengan para tawanan di penjara Abu Gharib dan Guantanamo. Umat mulsim, apapun kebangsaannya, ditangkap hanya berdasarkan prasangka, lalu ditahan tanpa proses pengadilan, bahka tanpa dakwaan, selama bertahun-tahun. Betul-betul penjajahan semena-mena atas hak asasi manusia.
Kita tak perlu menyesal mengapa Iran selunak itu. Mengapa tidak membalas saja perlakuan kejam pihak barat pada saudara-saudara muslim kita. Saya kira ada yang lebih dalam dari itu, yaitu bahwa kasus 15 pelaut ini telah membuktikan pada dunia bahwa Iran telah mengungguli Inggris dalam hal a) kecerdikan mengatur siasat/strategi pencitraan, b) kesantunan berdiplomasi, c) dalam propaganda internasional, dan yang paling penting, dalam d) adab memperlakukan tawanan (Iran menunjukkan sebagai bangsa yang beradab). Jauh lebih beradab daripada Inggris dan Amerika yang memperlakukan tawanan seperti mereka bukan manusia.
Apapun yang digembargemborkan di Inggris dan dunia internasional oleh media barat, umat manusia tak mudah ditipu lagi. Kita tahu faktanya.
Sirikit Syah
April 2007