Perempuan-perempuan yang Disakiti


 

 

Pekan lalu kami, Forum Perempuan Peduli, mengunjungi Nila dan Lisa. Nila adalah perempuan yang diteror oleh mantan pacarnya, bahkan setelah dia menikah dan berkeluarga. Mantan pacar ini bergitu terobsesi sehingga terus menguntit Nila dan suaminya, mengganggu dan mengancam kehidupan mereka. Pada saat terakhir, Nila disiksa di pagi buta, diseret, dipukul, ditelanjangi di depan publik. Dalam perjuangan mempertahankan kehormatan dan nyawanya, Nila menusuk laki-laki itu dengan sangkurnya sendiri, dan laki-laki itu terbunuh.

 

Lisa adalah perempuan yang karena kecemburuan buta suaminya, wajahnya disiram air keras sehingga rusak total. Kini kulit wajah Lisa diganti kulit punggungnya, dan dalam dua tahun Lisa telah menjalani sembilan kali operasi. Lisa tinggal di sebuah kamar di rumah sakit selama dua tahun, dan kerap dengan wajah terbalut mask (semacam perban ketat), yang hanya menyisakan lubang hidung, mata, dan mulutnya.

 

Dua perempuan ini hanya puncak gunung es dari kasus-kasus penganiayaan perempuan yang dilakukan oleh orang-orang terdekatnya. Masih banyak kasus-kasus lainnya: seorang perempuan yang melaporkan pacarnya ke polisi karena diperkosa malah diejek oleh para polisi pemeriksa sebagai ”perempuan gampangan”. Seorang aanak gadis ditiduri ayahnya sendiri. Daftarnya terlalu panjang untuk diungkap di kolom ini.

 

Kekerasan terhadap perempuan banyak bentuknya, mulai dari kekerasan fisik seperti yang dialami Nila dan Lisa, kekerasan seksual seperti yang dialami perempuan yang diperkosa pacarnya atau anak yang dicabuli ayahnya sendiri. Selain itu, ada juga kekerasan verbal, yaitu perempuan/istri yang dimaki-maki, dikata-katai, dihina sedemikian rupa. Kekerasan fisik, seksual, dan verbal itu pada gilirannya dapat menjadi trauma psikis perempuan yang mengalaminya.

 

Istri yang terus-terusan dikatakan ”jelek” atau ”bodoh”, akan menjadi minder/rendah diri. Perempuan yang dikata-katai sebagai ”lonthe” akan ragu-ragu apakah dia bisa mentas dari fase hidupnya yang hitam itu? Perempuan yang dituduh berselingkuh, disumpahi, dan diumumkan ke publik (seperti Maia Estianty), pastilah memendam luka hati yang teramat dalam. Ada juga perempuan yang berkali-kali di’ceraikan’ (ditalak) di depan publik, namun digantung statusnya (Dewi Persik).

 

Katakanlah Maia dan Dewi bukan perempuan yang soleha, tak pantas menjadi istri dari laki-laki ”saleh” semacam Syaiful Djamil dan Ahmad Dhani. Katakanlah mereka berbusana dan berperilaku tak patut. Namun perilaku Syaiful dan Dhani pada istri-istri mereka lebih tidak patut lagi. Bila kau tak suka pada istrimu, didiklah, jadikan dia sesuai kesukaanmu. Bila kau gagal mendidiknya, jangan kau lampiaskan kegagalan dan kemarahanmu pada sang istri. Lepaskanlah dia dalam damai, dengan penuh itikad baik. Engkau tak bisa memaksa perempuan menjadi saleha dengan kekerasan, paksaan, dan caci maki, bukan? Bukankah Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, ”Haram hukumnya api neraka bagi suami-suami yang berperilaku baik dan bertutur lembut pada istri-istri mereka”? Mengapa para suami ”saleh” itu memperlakukan istri-istri mereka layaknya musuh?

 

Anna Maria juga perempuan yang teraniaya. Dia dengan penuh keyakinan mengatakan, ”Mas Roy tak mungkin melakukan itu.” Namun ternyata Roy terlibat narkoba dan masuk penjara. Anna memaafkan, dan mulai menyadari bahwa banyak yang tak diketahuinya tentang laki-laki yang puluhan tahun menjadi suaminya. Kini kebohongan suaminya terbongkar lagi. Anna Maria –dengan tangis kecewa seorang yang merasa dikhianat/dibohongi- menyatakan tetap setia dan mendukung. Anna Maria perempuan lemah? Mungkin justru di situlah kekuatan perempuan. Kesabaran dan daya tahan perempuan dalam menghadapi kekecewaan bertubi-tubi (kasus Anna), teror (kasus Nila), penghinaan (kasus Maia), kekerasan fisik (Lisa), ancaman perceraian (kasus Dewi), menunjukkan bahwa perempuan adalah makhluk kuat.

 

Sebuah statistik internasional mencatat, angka kematian lebih tinggi pada duda (lelaki tanpa istri) daripada janda (perempuan tanpa suami). Kita banyak melihat janda yang setia menjanda sambil membesarkan anak-anaknya, menjadikan mereka manusia berguna, dan sang janda dengan kekuatan misteriusnya, sehat dan panjang umur. Sebaliknya, sedikit sekali kemungkinan lelaki mengasuh anak-anaknya sendirian sampai jadi. Bila tidak menikah lagi, laki-laki ini akan meninggal dunia menyusul sang istri.

 

Di balik kelemahlembutan sikap dan kelemahan fisiknya, perempuan ternyata menyimpan kekuatan besar yang tak tertandingi oleh laki-laki se-macho apapun. Saat ini kita turut memperingati Hari Internasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan. Mari kita sayangi ibu, istri, saudara perempuan, dan anak-anak gadis kita. Mari menciptakan keluarga zero-kekerasan. Jangan pukul istri dan anak-anakmu. Jangan pula bohongi mereka. Allah telah menjanjikan, ”Jika kau mempunyai anak-anak perempuan dan memeliharanya dengan baik, Allah akan menyediakan tempat bagimu di surga.”

 

Sirikit Syah

November 2007

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s