Siapa yang tidak ingin pulang? Rasanya tidak ada. Semua orang ingin pulang. Pulang memiliki makna kehidupan yang sangat mendasar: kita akan menghirup udara yang sama dengan udara yang kita hirup saat kita dibesarkan, kita merasakan perlindungan dan kenyamanan di rumah sederhana tempat kita dilahirkan, kita menjumpai wajah-wajah ramah yang kita kenal hampir seumur hidup kita –kalau saja kita tidak terseret arus urbanisasi.
Seminggu yang lalu, ada wajah buruh menangis di layar kaca. Sementara teman-temannya protes dengan garang menuntut THR pada perusahaan yang nyaris bangkrut, perempuan ini cuma menangis terisak-isak, memelas. Ketia diwawancarai, kalimatnya amat sederhana, ”Saya tidak bisa pulang.”
Semua kerepotan masyarakat dalam minggu-minggu terakhir ini berpusat pada keinginan untuk pulang. Para buruh menuntut THR yang dijanjikan, para sopir angkot menggenjot pedal gas makin kencang, pedagang warungan tetap buka di bulan puasa, karyawan kantoran ’tirakat’ sebulan tidak njajan, para mahasiswa sudah bermimpi makan ’masakan ibu’ yang tak ada duanya.
Dua kali saya Lebaran tidak pulang. Ketika tinggal di Amerika tahun 1994-1995 dan di Inggris tahun 2001-2002. Pada Hari-H, rasanya sedih sekali. Di London, usai sholat Ied di lapangan dekat KBRI, kami yang berstatus ’bujangan’ (tanpa keluarga) bertangis-tangisan. Kesedihan agak terhibur dengan makan ketupat lebaran di kediaman Pak Dubes yang mewah dengan makanan berlimpah. Tapi sesudah makan-makan, sedih lagi, rindu suasana kampung halaman.
Di Amerika lain lagi, saya berada di komunitas Muslim yang amat heterogen. Di Syracuse, negara bagian New York, Muslim Indonesia merupakan minoritas. Selain didominasi warga Yahudi, di Syracuse juga banyak mahasiswa Muslim dari negara-negara Teluk, yang pada umumnya membawa sanak keluarga lengkap. Yang membedakan Muslim Indonesia –terutama dalam barisan perempuan- adalah mukenanya yang seragam: putih bersih. Muslim non-Indonesia umumnya sholat dengan mengenakan baju yang dikenakannya, yang beraneka warna, pakaian terindah yang dimiliki untuk menyambut Hari Raya. Karena jauh dari Konsulat atau KBRI, kami akan makan-makan seusai sholat di kediaman sesama warga Indonesia.
Sahabat saya, seorang dokter di Surabaya, tahun ini malah pergi ke Australia untuk merayakan Lebaran. Dua anaknya besar di sana, dilepas sejak SMP, kini sudah menikah dan bekerja. Mungkin dia ingin merasakan Lebaran yang damai, yang jauh dari kehebohan para pembelanja dan lalu lintas macet di jalan-jalan luar kota. Terutama, dekat dengan anak-anaknya. Bila anak tidak pulang, orangtua mana yang tak ingin menyambangi ke tempat sang anak di Hari Raya?
Namun membaca koran-koran harian dan menonton berita televisi, saya sedih dengan makin parahnya kondisi lumpur di Sidoarjo. Sudah lima bulan berjalan, dan lumpur bukannya menyurut, melainkan semakin meluber. Keadaannya sudah nyaris ”uncontrolable”, tak terkendali. Berapapun dana yang terserap, solusi tampak masih jauh di awang-awang.
Warga Jatim, sebagian besar pasti menggunakan jalur jalan Porong Gempol (tol maupun non-tol), akan sangat terganggu. Bisa dibayangkan kemacetannya. Mungkin di hari yang fitri itu mereka mesti meluangkan waktu berjam-jam di jalan macet. Betapapun malangnya nasib para pemudik, masih ada yang lebih malang lagi: para penduduk korban lumpur. Mereka hendak pulang kemana? Rumah, sawah ladang, tambak, sudah tenggelam. Semalang-malangnya kita dengan gangguan transportasi lebaran dan kesulitan ekonomi, kita mesti berempati pada rakyat korban lumpur Lapindo yang tak punya tempat untuk pulang. Mari kita doakan mereka agar dikaruniai kesabaran dan kebahagiaan, meski dalam keadaan darurat.
Sirikit Syah
Oktober 2006