Saya baru saja melakukan perjalanan ke Boston, Amerika Serikat, selama satu minggu tepat menjelang Lebaran lalu. Ini hanya satu episode dari program fellowship selama setahun ke depan. Kami, 29 orang Indonesia dari tiga sektor (swasta/bisnis, pemerintah, dan LSM/media), selama seminggu itu belajar mengenai social technology di MIT (Massassuchets Institute of Technology).
Di antara sekian banyak cerita yang dapat saya bagi dengan pembaca, ada sebuah peristiwa kecil yang mengesankan saya. Di antara kami ada para CEO perusahaan besar, pimpinan atau middle manager perusahaan multi-national, Bupati Tapanusi Selatan, Rektor Universitas Indonesia, Andy F. Noya (Kick Andy), pemimpin redaksi beberapa media, akademisi, ahli negosiasi dari Departemen Perdagangan, dll.
Di antara 29 fellow Indonesia, yang berangkat dalam jadwal penerbangan yang sama ada 7 orang. Ketika tiba di Bandara Logan, Boston, Minggu 21 September, kami bersiap-siap mencarter taksi dengan metode patungan. Tujuh orang dengan kopor besar-besar ini kemudian terbagi menjadi dua taksi. Biaya taksi US$40, setara dengan Rp 380 ribu. Di taksi saya ada 4 fellow, dan otomatis kami siap patungan @ US$10.
Namun begitu taksi tiba di hotel, Rachmat Susetyo, Manager di Nissan Indonesia, buru-buru membayar total $40 dolar pada sopir taksi. “Biar saya saja yang bayar, Bu.” Kami semua berusaha menolak, “Lho, jangan. Supaya adil, kita patungan saja,” kata kami. Rachmat bersikeras. “Tidak, biar saya saja. Nanti biaya taksi saya ini diganti oleh perusahaan,” katanya, sambil minta bukti biaya taksi pada sopir.
Tampaknya ini peristiwa biasa saja. Tetapi ini mengingatkan saya pada peristiwa tahun 1993, ketika saya (dari SCTV-RCTI) bersama rombongan rekan media televisi (TPI, Indosiar, dll) dalam perjalanan ke Paris. Kami diundang oleh Menteri Kebudayaan Perancis untuk melihat-lihat festival produksi siaran televisi. Tentu, harapannya, para programmer televisi Indonesia yang sedang naik daun ini akan melakukan transaksi: membeli program-program yang ditawarkan untuk disiarkan di televisi Indonesia.
Waktu itu saya masih staf Programming. Di antara kami ada yang sudah level manager, bahkan direktur. Ketika kami makan siang bersama, kami memesan dan membayar sendiri-sendiri. Namun setelah kami membayar sendiri-sendiri, bill atau tagihan diminta oleh seorang direktur statiun televisi swasta. “Ini nanti bisa saya tagihkan ke perusahaan.” Saya sangat terpukul. Bukan karena rugi membayar sendiri dan tagihan itu di-claim oleh seorang direktur televisi ke perusahaannya. Saya sangat terpukul karena bisa-bisanya seorang berjabatan (dan bergaji) direktur, tidak mentraktir kami yang staf rendahan, tetapi malah mengambil bill-nya untuk ditagihkan dan masuk ke kantungnya. Itu sama saja dengan dia makan gratis dan memanipulasi pengeluaran kami untuk kepentingan pribadinya. Pengalaman seperti ini sulit kita lupakan.
Kejujuran kita memang teruji setiap saat, di mana saja. Tak perlu pada skala besar seperti saat dihadapkan pada upaya suap, atau tengah digoda upeti, bahkan ketika ada peluang memanipulasi angka pembayaran pajak dengan berkonspirasi dengan petugas pajak. Ujian tak perlu dengan angka milyaran atau ratusan juta. Saat kita makan bersama kawan-kawan dengan nilai sekian puluh ribu rupiahpun, kadar ujiannya sama saja. ”Apakah kau akan meng-klaim tagihan kepada kantor, padahal kau tidak membayari teman-temanmu?” Juga, ”Apakah kau cuma patungan $10 dalam membayar taksi, lalu bill senilai $40 kau reimburse ke kantor perusahaan atau pemerintah?”
Prof. Yohanes Surya, Rektor Universitas Multi Media Nusantara, yang berhasil mendorong siswa-siswa Indonesia menjadi Juara Olimpiade Fisika Dunia, juga tergolong jujur dan murah hati. Dia membayari taksi dan makan kami ketika kami berjalan bersama. ”Jangan kuatir, kawan, saya mendapat uang saku cukup banyak dari kantor, yang tak perlu saya pertanggungjawabkan.”
Indonesia memerlukan orang-orang yang jujur sepertu Rachmat dan Prof. Surya. Indonesia tak perlu orang tamak dan culas seperti direktur televisi yang membawa pulang tagihan makan untuk di-reimburse, mencari keuntungan secara manipulatif. Kejujuran mesti dibiasakan mulai dari peristiwa kecil, dalam skala kecil. Bila generasi kita sudah terlambat belajar dan menerapkan kejujuran, mari kita ajarkan pada anak-anak kita. Semoga mereka menjadi generasi yang lebih jujur daripada generasi kita.
Sirikit Syah
Oktober 2008