Kita sebagai orangtua, adakalanya mesti belajar pada anak. Kadang-kadang kita tak sadar akan melakukan sesuatu yang kurang baik. Beruntunglah para orangtua yang memiliki anak-anak yang mengerti tata karma kehidupan, sehingga dapat mengingatkan orangtuanya. Ini pernah saya alami.
Pada suatu hari saya mesti berangkat pagi-pagi sekali ke Bojonegoro untuk membuka Klub Guru cabang Bojonegoro. Karena mobil masuk bengkel, sore hari sebelum Hari-H, saya pinjam kakak. Kakak meminjami saya mobil sedannya yang berwarna abu-abu dengan plat nomor Angkatan Laut. Tiba-tiba anak saya mengingatkan, ”Ibu kok pakai mobil dinas sih? Bukan milik ibu lagi. Nggak baik itu, Bu.”
”Tapi ibu perlu sekali. Kalau naik bus, jam berapa sampai di sana, nanti terlambat. Padahal ibu mesti membuka acara. Ibu akan hati-hati sehingga tetap menjaga citra Angkatan Laut”
”Biar perlu, tetap tidak baik Bu. Ibu kan yang ngajari kami tidak menggunakan mobil dinas untuk keperluan pribadi? Waktu ibu bawa mobil KPID, aku atau Mbak tidak boleh pakai, kan?” Mereka mengingatkanku pada suatu masa dimana saya membawa mobil dinas KPID Jatim dan mereka tidak boleh pinjam sama sekali.
Saya bimbang. Syukur Alhamdulillah, di tengah gundah gulana semacam itu, seorang sahabat yang menjadi sopir taxi menelepon, mengatakan akan menjemput dan membawa saya ke Bojonegoro besok, atas perintah sahabat kami yang lain. Subhanallah. Allah Maha Tahu, semua ternyata sudah ’diatur’. Saya terhindar dari meng’korupsi’ mobil dinas Angkatan Laut milik kakak saya.
Itu sebabnya saya tak habis pikir, bagaimana seorang kepala Bulog bisa menyimpan setumpuk uang di dalam ember cuci pakaian di kamar mandi, plus menyalurkan simpanan dana ke rekening tabungan adik-adik dan anak-anaknya? Seorang ibu muda bahkan senang-senang saja ketika ayahnya menghadiahi bayi lahir ’procot’ itu sebuah pompa bensin di Jakarta. Apalagi nenek si bayi adalah Presiden RI. Kok tidak risih, begitu maksud saya.
Baru-baru ini, seorang jaksa terbaik tertangkap tangan menerima uang Rp 6 milyar di rumah seorang tersangka yang telah dibebaskan. Alibinya: ”Jual beli berlian.” Berlian yang dimaksud tidak kelihatan, dan, bukankah rangkap profesi yang aneh antara jaksa dan pedagang berlian? Mending kalau jaksa dan pengajar, guru merangkap wartawan, atau pegawai kecamatan merangkap dagang pulsa. Tapi: jaksa dan dagang berlian? Istri sang tersangka, yang juga jaksa, akhirnya menyembunyikan diri dari penglihatan publik. Lha, selama ini apa dia tidak pernah mengingatkan suaminya? Atau malah dia yang mendorong?
Mengapa para anak, para adik, dan para istri tidak pernah bertanya kepada pelaku korupsi: ”Darimana uang sebanyak itu? Halalkah?” Orang bisa tergoda, terpaksa, khilaf, dan menerima suap atau upeti yang tergolong penyelewengan. Kalau anggota keluarga sedikit lebih kritis, dan tidak mabuk kenkmatan kemewahan, tindakan itu bisa dicegah. Seperti yang dilakukan anak saya, meski hanya sekadar persoalan menggunakan mobil dinas. Juga, seperti yang dilakukan istri pegawai Departemen Keuangan yang selama dua tahun menyimpan amplop-amplop pemberian atasan suaminya. Selama dua tahun, mereka mengira terjalin persahabatan tulus antara suami dan atasan, dan setiap atasan memberi amplop untuk anak, diterima. Namun diam-diam sang istri menyimpannya saja, tidak membukanya, apalagi memakainya.
Dua tahun kemudian, sang pegawai dipanggil atasan karena ’terlalu kencang’ menegakkan pemeriksaan penggelapan pajak di satu perusahaan. Padahal, perusahaan itu sudah ’main mata’ dengan pimpinan kantor Depkeu tempat sang pegawai bekerja. Puncaknya, sang atasan yang dikira sahabat baik itu malah mencaci maki sang pegawai dengan kata-kata ”Munafik”, karena selama ini menerima amplop-amplop hadiah bagi anaknya.
Di rumah, tumpah tangis sang pegawai karena malu. Kepada istrinya, diceriterakanlah pengalamannya hari itu. Subhanallah, sang istri buru-buru membuka laci lemari dan mengeluarkan seluruh amplop yang pernah diterima dari atasannya, masih utuh dalam keadaan tertutup. Maka sang pegawai kembali ke kantor, masuk ruang atasan, mengembalikan semua amplop itu. Selain berhasil membersihkan nama baiknya, sang pegawai bertahan dalam jihad anti-korupsi.
Seandainya sang istri tak memiliki benteng pertahanan moral yang luar biasa, pegawai kita ini mungkin akan menanggung malu. Dia mungkin tak punya peluru untuk bertahan di perang moral, di mana mereka yang berkorupsi tidak suka melihat orang-orang di sekitarnya bersih. Dengan segala daya upaya, kasar atau halus, mereka akan mengajak kita keluar dari ’zona bersih’ dan bersama mereka masuk ’lumpur para koruptor’. Ini sebuah kisah nyata, di mana lakon utamanya baik-baik saja bekerja di departemen yang dikenal basah itu (apalagi bila urusannya dengan para penggelap pajak). Tentu saja, meski tidak disuka atasan dan lingkungannya, memecat pegawai negeri tidak mudah. Paling jelek pangkatnya tidak naik-naik. Dan itu sudah dialaminya dengan baik-baik saja.
Tidak mudah melawan godaan korupsi. Utamanya adalah pada keluarga kita sendiri. Kadang bukan keluarga inti, melainkan kerabat dan handai tolan. Mereka yang suka minta bantuan dengan memandang pangkat dan jabatan kita seolah-olah kita ini ’pabrik uang’ dan ’bisa menempatkan sispa saja di perusahaan mana saja’. Tak jarang cemooh di kalangan kerabat pada kita yang berusaha bersih, mulai dari ’pelit’, ’tidak bisa cari koneksi’, ’terlalu jujur’ (yang identik dengan ’goblog’), dan sebagainya. Saya kira, itulah tantangan terbesarnya. Dimusuhi anggota keluarga terasa lebih berat daripada masuk koran atau masuk penjara.
Mudah-mudahan pembaca belajar dari kisah nyata di atas. Syukurilah saudaramu atau keluargamu yang berjalan di jalan yang bersih. Dukunglah, jangan menuntutnya lebih dari kemampuannya. Dengan begitu, hubungan kekeluargaan akan lebih damai, tenang, dan penuh barokah.
Sirikit Syah
Surabaya, Maret 2008