Saat ini pemirsa televisi Indonesia tengah dimanja oleh program infotainment (information-entertainment). Bayangkan, bangun tidur, infotainment, sarapan infotainment, agak siang sedikit infotainment, sore infotainment, kadang malam infotainment lagi. Bila rata-rata sebuah statiun televisi menayangkan infotainment tiga kali sehari, maka seluruh channels televisi Indonesia menayangkan 36 program sehari, 252 kali seminggu.
Saking banyaknya slot waktu, dan miskinnya ide liputan, sebagian tayangan adalah tayangan ulangan, atau itu-itu juga, atau seragam/kembar antara satu channel dengan channel lainnya (karena kebetulan PH yang memproduksi tayangan itu sama). Yang paling parah, informasi yang disampaikan tak lagi bermuatan informasi. Ada yang disinformasi, non-informasi, rekaan, khayalan, informasi mentah, bahkan ghibah, dan fitnah atau pencemaran nama baik.
Apa manfaat menonton infotainment? Sebetulnya, dari asal katanya, mestinya ini program informasi yang disampaikan secara menghibur. Atau makna lain: informasi tentang dunia hiburan. Menuruti makna sebenarnya, informasi yang layak tayang antara lain perkembangan karir seorang artis, kritik pengamat atas album baru penyanyi, review film baru, trend busana, kisah sukses dan/atau kegagalan seniman, aliran baru musik dunia, dan sejenisnya. Semua info itu boleh saja disajikan dengan cara menghibur, tidak seserius berita non-hiburan. Jadi, memang sesuai dengan fungsi media televisi, program infotainment dimaksudkan untuk menghibur pemirsanya. Manfaatnya? Kita, pemirsa terhibur (semoga).
Namun, sekali lagi karena miskin ide, belakangan ini infotainment didominasi berita yang tak jelas juntrungannya. Sepasang artis baru jalan bersama dua bulan, dikatakan “serius” menjalin hubungan. Artis datang sendiri ke pesta kawinan, dibilang “tanda-tanda perceraian”. Artis kedapatan jalan dengan kolega sesama artis yang bukan suami, dikatakan “bibit perselingkuhan”. Infotainment kini didominasi berita artis berpacaran-putus-nyambung-kawin-cerai-rujuk-bertengkar-narkoba-selingkuh. Alih-alih terhibur, kita jadi ikut geregetan-gemes-marah-jengkel-kasihan-sedih-antipati-bahkan memaki-maki. Tayangan itu menjadi sangat provokatif.
Informasi yang menghibur, tidak lagi. Informasi yang baru dan penting, misalnya tentang karya film-album-design-novel, juga tidak ada. Informasi dalam program infotainment kini –seperti kata DR. Tjipta Lesmana- infosetan. Memanas-manasi, memprovokasi, bahkan memfitnah. Apakah masih ada manfaatnya tayangan semacam ini bagi kita? Aneh tapi nyata, sebagian besar dari kita masih terhibur dengan berita-berita tragedi rumah tangga artis dan berita rekayasa itu. Kita masih setia menonton infotainment.
Pengaruh infotainment pada kehidupan kita cukup mengerikan. Kawin cerai, perselingkuhan, dianggap sebagai gaya hidup baru yang baik ditiru. Kalau tidak cocok dengan pasangan, ya cerai saja. Berusaha akur dan minta nasehat orangtua-tua? Tidak penting. Kuno. Lebih baik lapor pada infotainment. Lebih seru. Bisa lebih terkenal. Mengapa para artis itu mau saja diliput oleh infotainment, di antara kita tentu bertanya-tanya. Jawabannya: karena mereka memerlukan media pendongkrak popularitas.
Bila lama tak ada beritanya, sang artis akan mengadakan jumpa pers. Alasannya macam-macam: mau umroh, ulang tahun anak, jadian sama pacar baru, mulai pakai jilbab, ulang tahun perkawinan, arisan antar artis, bhakti sosial. Kalau tak ada hal-hal positif yang layak liput, mereka akan tawarkan info-info negatif: putus hubungan pacaran, rencana bercerai, pengakuan berselingkuh, protes pada agen/manager, berhenti di sinetron anu, dan sejenisnya. Ada saja. Mengapa artis mau saja diliput infotainment? Karena mereka memerlukannya. Tak pernah ada artis melaporkan “pencemaran nama baik” atau “perbuatan tidak menyenangkan” para awak infotainment yang mengejar-ngejar mereka dan membuat hidup mereka seperti sirkus. Mayangsari malah ekspose ketika dirinya mitoni, melahirkan, memberi nama anak dengan nama belakang Trihatmojo, keluar rumah setelah dilabrak Halimah, merayakan ulang tahun Bambang T, ulang tahunnya sendiri, dll. Mayangsari memang sengaja menarik perhatian media pada dirinya.
Selaku konsumen media, kita mesti betul-betul selektif memilih program tontonan. Mentang-mentang tidak membayar, jangan semua asupan televisi kita telan. Kita juga mesti berpikir kritis. Dalam kasus Sarah Azhari, misalnya, mari kita berpikir: siapa yang melakukan “perbuatan tidak menyenangkan”: awak infotainment yang memaksa mewawancarai dan mengambil gambar, atau Sarah Azhari yang telah menolak dan akhirnya jengkel? Meskipun saya bukan penggemar Sarah Azhari, dalam kasus ini, seharusnya Sarah yang melaporkan awak infotainment dengan perbuatan tidak menyenangkan (terus-terusan mengganggu dan melanggar privasinya).
Ketika kita terhibur oleh tayangan-tayangan infotainment itu, coba kita berpikir, seandainya itu terjadi pada diri kita atau keluarga kita. Dan mari kita timbang lagi: manfaat dan mudhorat menonton infotainment.
Sirikit Syah
Agustus 2006