Mewaspadai Tayangan Televisi


  

            Tahukah Anda bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang paling sedikit membaca? Kita lebih banyak menonton televisi. Bayangkan! Dengan 200 juta lebih jumlah penduduk Indonesia, setiap hari hanya ada sekitar 4 juta eksemplar koran. Kalau di Jepang satu orang membaca empat koran, di negeri kita satu koran dibaca 4-5 orang. Jumlah pesawat televisi jauh lebih banyak, sekitar 50 juta, hampir sepadan dengan jumlah rumah di Indonesia. Berarti setiap empat orang memiliki satu pesawat televisi. Bahkan kaum miskin perkotaan yang tinggal di pinggir sungai yang kumuh pun, memiliki pesawat televisi.

 

            Indonesia adalah surga: siaran televisinya paling bebas di dunia. Terdapat belasan saluran nasional yang dapat diakses bebas, ditambah siaran lokal yang juga bebas. Sex and the City, Desperate House Wives (sinetron yang meng-glorify seks bebas) dan video klip lagu-lagu dengan model setengah telanjang, bebas muncul di saluran televisi kita sepanjang hari. Termasuk, tentu saja, di jam-jam belajar anak-anak. Di Amerika sendiri, tayangan serial seperti Desperate House Wives dan Sex in the City, serta video klip khas MTV, tak bisa diakses bebas. Orang –dewasa tentunya- mesti membayar langganan TV Cable untuk mengaksesnya. Ini salah satu bentuk perlindungan anak-anak dari terpaan media.

 

            Indonesia memang luar biasa maju dalam hal kebebasan media. Film kartun di Amerika mesti dilanggani di saluran Disney Channel atau Cartoon Network. Di Indonesia, ini gratis. Anak-anak menontonnya dari pagi sampai sore. Seorang ibu menelepon pada acara interactive di Radio Suara Surabaya, anaknya suka membanting-banting kucing. Dikira kucing tak bisa terluka atau mati, seperti di film kartun.

 

            Sinetron Indonesia juga menyajikan hal-hal yang jauh dari fungsi mendidik. Ibu tiri atau ibu mertua selalu judes (kejam), ibu kandung selalu lemah tak berdaya, suami kalau tidak main kasar, berselingkuh. Para wanita karir digambarkan culas, sahabat berkhianat, istri-istri cerewet, para ipar bersekongkol, remaja rebutan pacar, anak-anak tidak menghormati guru, gadis-gadis hamil di luar nikah.

 

            Apakah itu gambaran masyarakat kita? Seorang tokoh feminist pernah berkata: ”Buruk muka jangan cermin dibelah”. Artinya, maksud dia, wajah masyarakat kita ini memang buruk. Jangan salahkan media yang memotretnya. ”Don’t shoot the messanger”, kata mereka. Tetapi lebih dari satu dekade yang lalu Marshal McLuhan telah mengatakan ”The Medium is the Message”. Penulis/saya menggarisbawahi, “the messanger has become the message”. Penyampai pesan adalah pesan itu sendiri. Sungguh, saya tidak yakin wajah masyarakat kita seburuk yang digambarkan dalam sinetron. Saya tidak percaya maraknya presenter banci atau kebanci-bancian di layar kaca kita karena masyarakat memang demikian. Justru saya menilai, dengan terpaan image ’banci adalah keren’ secara terus menerus, masyarakat mengikuti. Media bukan memenuhi kebutuhan/selera pemirsanya, atau memotret realita. Media mendiktekan trend.

 

Arswendo pernah meneliti di tahun 2006, setiap minggu ditayangkan 169,5 jam sinetron dan 354,5 jam film di televisi kita. Gratis. Bebas akses. Dapat dimengerti bukan, mengapa rakyat kita semakin jauh ketinggalan? Buku mahal, hiburan televisi gratis. Kita tidak membaca ilmu pengetahuan, sejarah, atau sastra. Kita menonton sinetron, reality show, infotainment, video klip. Apa dampaknya bagi generasi muda? Remaja kita semakin hedonis. Mahasiswi berkuliah dengan jeans ketat dan kaus kekecilan. Siswa SMP bawa HP dan SMSan dengan pacarnya sepanjang pelajaran di kelas. Guru yang menjewer murid yang nakal dilaporkan melakukan pelanggaran HAM, sehingga guru sekarang makin tak peduli dan murid makin seenaknya.

 

            Dampak buruk televisi tak hanya dirasakan di Indonesia. Di Brasil, angka kelahiran menurun. Para wanita ingin seperti di telenovela, tak punya banyak anak. Di Israel, semakin banyak rakyat mengikuti sesi terapi, seperti pemeran serial Treatment yang ditayangkan HBO. Israel juga makin toleran kepada pasangan homoseks. Pantai dan kolam renangpun disediakan khusus untuk mereka. Di AS, orang yang sering menonton tayangan operasi plastik ditengarai tertarik untuk melakukan hal yang sama. Di China, orang-orang muda meniru gaya hidup para tokoh dalam serial Friends.

 

Sebuah penelitian LIPI menyebutkan, tayangan pornografi di televisi menyebabkan meningkatnya kasus kehamilan tidak dikehendaki di kalangan remaja, kekerasan seksual, bahkan aborsi. Akan halnya dampak tayangan kekerasan, setiap hari kita membaca berita, anak-anak tewas karena meniru adegan Smacks Down atau Naruto.

 

Televisi memang menghibur. Namun bangsa ini tidak berjalan maju hanya dengan status terhibur, dan tidak tercerahkan. Ada banyak hal lain yang harus dikerjakan. Kata Randy Pausch (The Last Lecture) tentang televisi: “Inilah benda yang paling membuat waktu umat manusia terbuang sia-sia”. Oleh sebab itu, matikan televisi, dan …….. membacalah!

 

Sirikit Syah

8 September 2008

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s