Tak banyak orang tahu, di Amerika Serikat, sebuah pertunjukan teater dilarang pentas di New York. Teater itu memainkan lakon “Namaku Rachel Corrie”, berkisah tentang tewasnya perempuan Yahudi Amerika, Rachel Corrie, di Palestina. Aktivis Hak Asasi Manusia ini, bersama kawan-kawannya, menghadang buldozer Israel yang akan menggerus rumah-rumah warga sipil di Gaza.
Malang benar nasibnya, tentara Israel, seperti tak lagi memiliki rasa kemanusiaan, melindasnya hingga tewas. Toh, pelindas sesama manusia itu berkilah. Corrie dituduh menghalang-halangi upaya membasmi sarang teroris. Beberapa tentara Israel bahkan mencemooh: “She may not get 70 angels in heaven, but she got what she wanted.” Ini ejekan bermata dua. Para pengebom bunuh diri ‘diejek’ dengan menggunakan ‘iming-iming’ mereka sendiri: janji 70 bidadari di surga. Karena Corrie bukan Muslim, maka dia tak akan mendapatkan 70 bidadari. Ejekan kedua terasa dalam ungkapan “She got what she wanted.” Tewasnya Corrie dianggap sebuah kelayakan.
Melanggar HAM hanya dilakukan oleh negara-negara di Afrika dan Asia, demikian persepsi Amerika. Bahkan tahun 2004 lalu Malaysia pernah mendapat julukan “negara pelanggar HAM berat karena tidak memberi kebebasan beragama”. Ada-ada saja. Di Malaysia saat Natal, pohon-pohon Natal raksasa menghiasi pertokoan dan tempat-tempat umum. Klenteng Konghucu tampak di sana-sini di antara bangunan-bangunan masjid. Bagaimana Malaysia dianggap “melanggar HAM karena urusan agama”, sementara Perancis dan Turki yang melarang siswi atau mahasiswi berjilbab untuk bersekolah dan berkuliah, dianggap tidak apa-apa?
Melanggar HAM paling banyak dilakukan oleh negara Israel. Israel tak hanya merusak kebun-kebun zaitun, anggur, dan jeruk milik penduduk Palestina, mereka juga merampas tanah pemukiman, menelanjangi laki-laki di pos penjagaan, menyuruh perempuan hamil menunggu di bawah terik matahari. Bahkan kepada rakyatnya sendiri, Israel telah merampas rasa nyaman dan aman yang seharusnya diberikan, mengingat itulah janji para Bapak Bangsa ketika mereka mendirikan negara Israel.
Isu adanya bom pemusnah massal terus menerus dihembuskan kepada rakyat. Setiap penduduk wajib memiliki masker gas untuk persiapan serangan senjata kimia dan biologi dan berhak memiliki senjata api. Rombongan wartawan internasional yang hendak meliput perang Israel-Palestina mendapatkan paket keamanan, di antaranya masker anti senjata kimia & biologi. Israel, seperti halnya saudara tuanya Amerika, menciptakan teror bagi warganya sendiri, seperti yang tergambar dengan apik di film “V for Vendetta”.
Demonstrasi umat Yahudi yang berkabung atas tewasnya Rachel Corrie di bawah roda buldozer Israel, tidak menggema, hilang ditelan angin. Banyak hal-hal lain lebih penting. Corrie cuma sebuah angka. Dan ada angka lain yang hitungannya lebih besar. Batalnya pertunjukannya di New York tidak menimbulkan goncangan di dalam negeri. Itu hanya satu dari sekian pertunjukan teater yang dilarang.
Bermain-main dengan angka, itulah yang dilakukan para elite politik. Israel menyerang membabi buta karena satu orang prajuritnya ditawan. Sebagai bayarannya, ratusan rakyat Palestina tak berdosa tewas. Hizbullah di Lebanon selatan menawan dua lagi tentara Israel. Israel membalas, ratusan penduduk sipil di Lebanon tewas. Korban di pihak Israel hitungannya “hanya” dua digit. Perlombaan angka korban tampak menjadi game yang menyenangkan bagi kedua belah pihak. Masing-masing menikmati permainannya. Tokoh Hizbullah makin populer, pemerintah Israel makin menemukan alasan pembenar untuk tindakan brutalnya.
Sebetulnya yang dilakukan kedua belah pihak cuma memelihara bisnis. Bisnis Israel adalah rasa takut yang mencekam warganya akan serangan dari “teroris Palestina”. Bisnis bangsa Palestina dan orang-orang Lebanon Selatan adalah rasa kebencian yang terus dipupuk terhadap pemerintah Israel. Tanpa adanya rasa takut warga, kontrak pembangunan dinding-dinding setan yang membelah Palestina tak akan berjalan, para pedagang senjata dan masker gas di Israel akan gulung tikar. Di sisi lain, tanpa rasa benci yang terus ditumbuhkan oleh para pemimpin, tidak ada eksistensi Palestina merdeka dan tak ada Hizbullah. Kebencian terhadap Israel yang dipelihara, itulah yang menarik perhatian anak-anak muda untuk menjadi martir: mengebom diri sendiri dan orang-orang lain.
“Namaku Rachel Corrie” tak pernah kita saksikan. Namun kisah tentang kekejaman itu berjalan terus dari mulut ke mulut, menambah jumlah umat Yahudi di seluruh dunia, termasuk di negara Israel, yang mulai mempertanyakan. Pertanyaan mereka: kapan umat Yahudi mendapatkan rasa aman dan tentram? Ulah Israel jelas tidak menjamin kebutuhan mendasar itu.
Sirikit Syah, 2006