Paradoks Peradaban dan Kebiadaban Manusia


 

 

Kita telah banyak mendengar atau membaca bahwa kekayaan bukan jaminan kebahagiaan. Dalam indeks kebahagiaan yang berstandar dunia dan diukur setiap tahun, negara-negara yang rakyatnya paling berbahagia bukanlah negara-negara kaya seperti Jepang, Inggris, Amerika; melainkan Filipina, Indonesia, Meksiko.

 

Baru-baru ini kita dikejutkan oleh berita yang membuat akal dan nurani kita terusik. Di negeri super maju dan super kaya, Austria, seorang lelaki memperkosa anaknya sendiri selama 25 tahun hingga melahirkan 7 anak, satu di antaranya tewas lalu mayatnya dibakar di tempat sampah. Ini sebuah peristiwa kemanusiaan yang di luar akal sehat dan hati nurani manusia manapun.

 

Saya merenung sejenak dan menilik kembali ‘kejahatan-kejahatan keluarga’ yang dapat dilakukan oleh orang-orang miskin dan bodoh di Indonesia. Orang Indonesia yang miskin dan bodoh melakukan “kejahatan keluarga” juga, seperti: ibu melakukan bunuh diri bersama anak-anaknya karena tak tahan hidup miskin, suami istri saling membakar dan menambak karena cemburu, ada juga ayah yang menodai anak kandungnya hingga hamil. Kasus terakhir agak mirip dengan kasus Austria. Namun di Indonesia, tak ada yang bisa menyembunyikan “kebiadaban” semacam itu hingga 25 tahun. Orang-orang di sekitar kita, masyarakat lingkungan, masih peduli pada nilai-nilai moral. Ada penolakan, ada pelaporan, ada pencegahan atau pemberantasan. Semiskin-miskinnya dan sebodoh-bodohnya rakyat Indonesia, tak akan terjadi pembiaran “kebiadaban’ seperti yang terjadi di Austria.

 

Rakyat miskin di Pakistan atau India juga banyak yang melakukan “kejahatan keluarga”: menjual anak gadis di bawah umur untuk dkawinkan dengan orang kaya, membunuh saudara perempuan yang dianggap memalukan karena berselingkuh atau berzina, bahkan ada yang –saking bodohnya- menikah dengan monyet, ular, atau anjing, karena menganggap itu ‘jodoh’ mereka.

 

Austria adalah negara paling makmur di Eropah, bahkan dunia. Tidak ada orang bodoh dan orang miskin di negara ini. Jumlah turisnya lebih banyak dari jumlah penduduknya. Austria tak punya kebun coklat tetapi menghasilkan coklat terbaik di dunia. Ayah yang memperkosa dan menyandera anak perempuannya itu bukan orang miskin dan jelas orang kaya karena tinggal di apartemen besar, yang sebagian ruangnya dihuni oleh keluarga ’nyata’nya, kerabat lainnya, dan di bawah tanah: keluarga ”tersandera”nya.

Orang bodoh tak mungkin bisa se-piawai itu menyembunyikan kebiadabannya.

 

Di sinilah pertanyaan kunci tentang nilai-nilai kemanusiaan kita: apakah kita manusia yang beradab atau manusia yang tengah mundur ke pra-peradaban alias kebiadaban? Sulit sekali kita bayangkan bagaimana seorang ayah tega memperkosa anak kandungnya sendiri selama 25 tahun hingga melahirkan 7 orang anak. Bagaimana ayah itu tega memenjarakan perempuan obyek seksualnya dan anak-anak yang dilahirkan hampir seumur hidup mereka? Bagaimana dia menghadapi perempuan dan tiga anaknya yang bagai mayat hidup di bawah tanah itu, setiap kali dia datang untuk menggauli sang perempuan? Pertanyaan selanjutnya adalah: bagaimana dia bisa mengelabui semua orang yang tinggal di apartemen yang sama dan masyarakat di sekitar mereka?

 

Pertanyaan yang lebih tajam dari saya sebetulnya: benarkah semua orang itu tidak tahu, ataukah terjadi tindak kebiadaban berjamaah? Bayangkan saja: siapa yang membantu proses kelahiran tujuh anak, siapa yang membantu belanja bahan makanan setiap hari, dan siapa yang mengelola sampah yang dihasilkan para ”penghuni bawah tanah”? Apakah tak terbersit sedikitpun kecurigaan selama 25 tahun itu?

 

Jawaban yang paling mengerikan dari pertanyaan tajam saya di atas adalah: bila memang ada kemungkinan para penghuni apartemen mengetahui tindakan biadab itu dan masyarakat sekitarnyapun tahu tetapi tak melakukan apa-apa. Betapa rendahnya nilai-nilai kemanusiaan manusia semacam itu. Di sinilah paradoks itu terjadi: di negara beradab seperti Austria, terjadi kebiadaban di luar peri kemanusiaan.

 

Paradoks peradaban dan kebiadaban itu juga mulai menular di wilayah kita. Seseorang yang mengenakan pakaian tertutup rapat dijuluki ”preman berjubah” atau ”terpengaruh Arab”, sedangkan yang terbuka 70% auratnya dikatakan ”mengalami proses kemajuan dengan menjalankan kebebasan berpakaian atau tidak berpakaian”. Akal sehat kita akan terusik dengan paradoks primitivisme dan progresitas. Dalam hal cara berbusana masyarakat sekarang, yang mana yang primitif, dan yang mana yang perupakan progres keberadaban? Pertanyaan ini tentu sulit dijawab oleh kaum liberalis dan feminis yang menganggap perempuan berjilbab adalah perempuan tertindas dan tertekan.

 

Peristiwa Austria itu, dimana seorang ayah ”memakan” anak kandungnya sendiri selama puluhan tahun, dan mungkin ”disaksikan” oleh orang sekitarnya, adalah contoh kemunduran peradaban manusia yang paling nyata. Contoh yang lain sudah tak terhitung jumlahnya: lelaki perempuan menolak lembaga perkawinan dan memilih seks bebas (sebagaimana nenek moyang primitif kita melakukannya), namun di lain pihak homoseks dan lesbian malah menuntut izin perkawinan (yang adalah melanggar hukum agama).

 

Mudah-mudahan saja kita semua bangsa Indonesia segera disadarkan dari arus gaya hidup modern yang sebetulnya mundur ke era primitif ini.

 

 

Surabaya, 19 Mei 2008

Sirikit Syah           

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s