Awal Januari 2008, Surabaya Academy, dimana saya salah satu anggotanya, memberikan penghargaan kepada tiga orang Surabaya (yang satu almarhum). Yang pertama adalah Bung Tomo almarhum, pahlawan arek Suroboyo dan bangsa Indonesia yang –sayangnya- tak diakui kepahlawanannya oleh pemerintah Indonesia. Yang kedua Cak Kartolo, seniman ludruk Surabaya. Yang ketiga Tri Rismaharini, birokrat Pemkot Surabaya (mantan Kadis Kebersihan & Pertamanan).
Tidak mudah memutuskan pemilihan sosok-sosok yang dianggap pantas menerima penghargaan Surabaya Academy. Para anggota Academy berdebat cukup keras. Saya dan Pak Johan Silas (profesor, pakar perkotaan, dari ITS) kurang setuju pemberian penghargaan pada Bu Risma. Alasan kami, ”Seorang birokrat dan aparat yang melaksanakan tugasnya dengan baik, tak perlu diberi penghargaan. Karena dia dibayar untuk itu, menjalankan tugas dengan baik adalah syarat dasar yang harus dilakukannya. Mengapa mesti diberi penghargaan?” Dalam pandangan kami, yang patut mendapat penghargaan adalah seseorang yang bukan aparat dan birokrat, tidak dibayar oleh pemerintah, namun melakukan hal-hal yang baik bagi Surabaya dan masyarakatnya. Seperti Didit Hape dari SanggarAlang-alang yang mendidik anak-anak jalanan dalam bermusik. Atau, Esthy Susanti, perempuan yang giat memberantas HIV di Surabaya, dan Tunas Hijau, anak-anak muda yang peduli lingkungan hidup. Mereka adalah sedikit di antara penerima Surabaya Academy Award di tahun-tahun sebelumnya.
Beberapa waktu sebelumnya, saya juga ingin protes pada Kepala Polisi di Surabaya yang memberi penghargaan kepada anak buahnya yang berhasil memberangus Roy Martin dkk yang sedang mengkonsumsi narkoba. Saya pikir: ”Mengapa polisi menjalankan tugas kok diberi penghargaan? Memangnya selama ini polisi tidak bekerja?” (Jangan-jangan memang selama ini polisi kurang bekerja dengan baik, sehingga ketika menjalankan tugas yang biasa-biasa saja itu –yaitu menangkap pengguna narkoba- petugas langsung diberi penghargaan).
Namun setelah menerima penjelasan dari para anggota Surabaya Academy yang lain, terutama dari Pak Kresnayana Yahya yang mengamati kinerja aparat pemkot, saya sadar bahwa memang perlu memberi penghargaan kepada mereka yang bekerja dengan baik. Bila yang bekerja buruk dikejar-kejar, dihukum, dan diekspose, mengapa yang berbuat baik tidak diberi reward/penghargaan, diakui, dan diberi applause? Lebih dalam dari itu, memberi penghargaan kepada pelaku perbuatan baik tak hanya penting bagi penerima penghargaan, tetapi juga pada orang lain. Penghargaan ini bisa menjadi pendorong, penyemangat, serta menularkan perbuatan baik kepada lebih banyak orang.
Pada malam penghargaan itu, Bu Risma dengan rendah hati mengutarakan hal-hal tepat seperti argumen saya ketika keberatan atas pemilihannya: ”Saya ini cuma menjalankan tugas. Mengapa mesti diberi penghargaan? Wong saya ini dibayar. Semua yang saya lakukan, biasa saja. Saya menyapu jalan, orang-orang heran. Mengapa heran? Wong saya ibunya tukang sapu. Menyapu adalah hal paling wajar yang dapat saya lakukan sebagai petugas pertamanan dan kebersihan.” Kerendahan hati Risma itulah yang jarang dimiliki oleh aparat/birokrat sekelas dia. Tak sedikit aparat/birokrat berprestasi, tetapi mereka juga sibuk menonjol-nonjolkan prestasinya untuk diliput wartawan atau untuk dijadikan modal naik pangkat dan naik jabatan. Risma tidak. Dia berprestasi karena dia merasa harus. Dia dibayar oleh pemerintah, menggunakan uang rakyat. Melihatnya menerima penghargaan malam itu dan mendengarkan pidatonya, saya mensyukuri bahwa Surabaya Academy tidak salah pilih sasaran untuk diberi penghargaan. Dia memang layak/patut menerimanya.
Kita sebagai bangsa rasanya mesti lebih menghargai jasa-jasa pahlawan dan siapapun yang telah berprestasi dan berdedikasi pada Surabaya. Kata Nany Wijaya dari Jawa Pos, yang lebih dulu memberi penghargaan pada Risma, ”Kalau saja Indonesia punya 15 saja birokrat seperti Risma, bereslah pembangunan perkotaan di kota-kota di Indonesia.” Nany yang suka mengagumi taman-taman di Jakarta bila sedang berdinas di Jakarta, kini mengagumi taman-taman di kota kita sendiri, Surabaya. Berkat tangan dingin Risma, Surabaya kembali memiliki taman bermain dan taman berkumpul bagi warga.
Bung Tomo, meskipun kepahlawanannya belum juga diakui oleh pemerintah nasional, dia tetaplah pahlawan di hati kita semua. Dialah yang menggelorakan semangat pejuang bonek (tanpa senjata berarti) lewat pidatonya yang menggelegar di radio, tak kalah dengan pidato presiden Soekarno, sahabatnya. Bung Tomolah yang menanamkan tekad bulat ayah-ayah kita untuk ”Merdeka ataoe Mati”. Kiprahnya di masa perjuangan yang tanpa pamrih patut mendapat pengakuan dan penghargaan. Bila bukan kita sendiri, warga Surabaya yang memberinya penghargaan, kita menunggu siapa?
Cak Kartolo yang melestarikan kesenian tradisional ludrukan juga patut dihargai karena kesetiaannya di jalur tradisi, di tengah arus globalisasi kebudayaan yang melanda bangsa kita melalui information super highway dan jaringan televisi internasional.
Dengan penghargaan ini, Surabaya Academy berharap semangat baik ini menular ke masyarakat luas agar tercipta Surabaya yang lebih baik. Aparat pemkot lebih menyadari fungsi dan perannya sebagai pelayan masyarakat, anak-anak muda terilhami semangat juang Bung Tomo melawan penjajah, dan para seniman tak ragu memelihara kesenian tradisional di era modern ini. Ternyata memang perlu memberi penghargaan pada aparat/birokrat yang berbuat baik. Senang sekali membaca kabar-kabar kebaikan, di tengah gelontoran berita aparat/birokrat didera kasus skandal seks, korupsi, suap, dan hal-hal buruk lainnya. Sesungguhnya, mungkin ada lebih banyak orang yang berbuat baik di sekitar kita, di antara para aparat dan birokrat maupun wakil rakyat. Mereka itu layak di-ekspose dan diakui, agar kita semua meneladaninya.
Sirikit Syah
Pengamat Media dan Ketua Klub Guru Jatim