Selasa lalu saya diajak berbuka puasa oleh Tantowi Yahya. Saya ajak Qodari, Direktur Indobarometer. Kami berbuka di Urban Kitchen, Senayan City.
“Bagaimana perasaanmu tentang kekalahan Helmi?” tanyaku pada Tantowi.
”Perasaanku, hmmm. Sebagai saudara, prihatin ya. Tapi kemenangan Golkar menyejukkan,” katanya terus terang. Tantowi pendukung Cagub Golkar di Sumsel dan sedang maju caleg DPR RI 2009.
Melalui Indobarometer, Qodari banyak melakukan survai di berbagai pilkada daerah. Dia mengaku sudah menduga hasilnya. ”Dua bulan sebelum diumumkan, saya sudah memberikan prediksinya,” katanya dalam bahasa Palembang. Dua orang Palembang ini, uniknya, baru bertemu setelah saya pertemukan, dan mereka asyik bercakap dalam bahasa mereka.
Tentang putaran kedua di Jatim, Qodari menyebut Khofifah yang akan menang. Profesi peneliti dan pengamat politik memang tak jauh beda dengan paranormal. Meskipun tanpa didahului survai atau polling, orang seperti Denny JA, Saiful Mujani, M. Qodari, bisa meramal dengan mantab.
Kami kemudian membincang Khofifah di sela-sela riuh rendah suasana buka puasa di Urban Kitchen. Menurut Qodari, modal paling signifikan kandidat pemimpin daerah adalah tingkat popularitas, dan itu bisa diraih melalui promosi gencar. Sepertinya tak sia-sia poster dan baliho besar Khofifah yang tersebar di seantero Jatim. Tak percuma pula tim Khofifah menggelontor dana besar untuk iklan di media massa. Tantowi yang tadinya sangat yakin Helmi Yahya sangat populer di Sumsel, terpaksa menerima teori Qodari.
“Salah satu faktor kelemahan Sohe di Sumsel adalah kurang gencar berpromosi,” ujar Qodari. Promosi, iklan, menurut dia, sangat ampuh mengangkat eksistensi dan citra kandidat. Persis seperti yang dilakukan Khofifah. Meski masuk terlambat, dan polularitasnya jauh di bawah Soekarwo pada saat start, gelontoran promosi membuat sang pendatang baru nyalip pemain lama. Soal darimana dana promosi, jangan tanya. Toh itu akan kelihatan setelah Gubernur baru menjabat. Siapa mendapat proyek apa, siapa penasehat atau pembisik paling dipercaya, itulah kira-kira pemodalnya.
Nasehat Qodari lainnya adalah: jangan pernah maju tanpa didahului survai. Secara tidak langsung, dia sedang berjualan: gunakan jasa surveyor. Tingkat pengenalan di bawah 30%, lebih baik mundur. Di pertandingan olah raga, ada yang dapat medali perak dan perunggu. Di pilkada, yang ada cuma pemenang dan kliping koran. “Kok kliping koran?” Tantowi penasaran.
Kliping koran itu ’kenang-kenangan’ bahwa dia pernah ikut pilkada, dan kalah. Survai bisa menyelamatkan milyaran rupiah itu dari kesia-sian. “Intinya, yang gila kekuasaan, jangan sampai jadi gila beneran,” kata Qodari. Dan kami sepakat sepenuhnya dengan petuah ‘dukun’ pilkada ini.
Sirikit Syah
20 September 2008