Berprasangka Baik di Bulan Ramadhan


 

Dua hari lalu saya berada di Manado, reuni dengan mitra saya Henry Subiakto. Henry dan saya mendirikan LKM di awal tahun 2000, dan menjalani suka duka bersama dalam memberdayakan konsumen media dan meningkatkan kualitas jurnalisme Indonesia. Di antara dua hal itu, tak jarang kami menerima serangan dari kalangan pers yang tak suka dikritik atau diawasi.

 

Sekarang Henry sudah menjadi staf ahli Menteri Kominfo. Suatu ketika dia SMS, sedang berada di sebuah pulau terpencil di sebelah tenggara Timor Timur (lebih dekat ke Australia) yang masih wilayah NTT. Untuk kesana mesti pakai helikopter. Minggu depan, dia mesti ke Talaud, sebuah pulau di utara Manado, dekat Filipina Selatan.

 

Dia juga kadang melakukan perjalanan ke luar negeri. Inilah oleh-olehnya dari luar negeri: “Bangsa kita itu terlalu berburuk sangka dan terlalu pesimis pada pemerintah dan bangsa sendiri.” Kalangan pers, misalnya, sedikit-sedikit merasa terancam kemerdekaannya. Dilurug massa, tidak mau, minta proses pengadilan. Dibawa ke pengadilan, curiga pada putusan pengadilan.

 

“Padahal pers kita itu sangat berwibawa,” kata Henry, di hadapan audience seminar.  “Kalau dulu pemerintah kita sangat phobia terhadap wartawan asing, kini orang asing yang ngeper melihat sepak terjang pers Indonesia. Ramos Horta ditembak anak buahnya sendiri, yang dituduh pers Indonesia (Metro TV). Mantan PM Singapura, Lee Kuan Yew, mengatakan beberapa perjanjian Indonesia-Singapura batal atau terancam batal karena “tajamnya pena pers Indonesia”.

 

Menteri Penerangan Malaysia baru saja menghadap Menkominfo dan Henry turut menjumpai. Ternyata mereka mengimbau agar pers Indonesia jangan terlalu keras menyoroti peristiwa-peristiwa politik Malaysia. Mereka benar-benar gentar. Lha kok di tanah air, para wartawan pada cengeng, sedikit-sedikit merasa kebebasannya terancam. “Pers tidak selalu benar dan pemerintah tidak selalu salah,” kata Henry, yang sekarang menjadi suara pemerintah.

 

Henry, wong Yogja yang sudah jadi arek Suroboyo sejak tahun 80-an itu juga menceriterakan kondisi rakyat di Singapura dan Malaysia yang tak punya kebebasan berpendapat. Di Myanmar lebih menyedihkan lagi, mereka sangat miskin, yang tercermin dari gubug-gubug tempat mereka tinggal dan hidup mereka sehari-hari. “Mereka lebih miskin dari rakyat Indonesia yang paling miskin,” kisahnya. Dia heran, bagaimana orang-orang Myanmar itu bikin anak di gubug sempit. Rata-rata mereka punya anak enam sampai delapan. Selain miskin, rakyat Myanmar tidak berani bicara. Kalau salah bicara, bisa hilang. Maklum, ada junta militer di sana. Di sini, rakyat ngomong sak karepe dingklik. Asal mengo. Tidak apa-apa.

 

Kita memang mesti lebih berprasangka baik. Kalau kita selalu berprasangka buruk pada seseorang (atau pada pemerintah), orang itu atau pemerintah bisa menjadi buruk seperti prasangka kita. Kalau kita berprasangka baik, yang kita prasangkai bisa menjadi baik. Itulah kekuatan enerji pikiran. Seperti doa.

 

Kini harga minyak dunia merosot dan kita boleh berharap pemerintah akan menurunkan harga BBM. Kalau ada yang masih nyeletuk:  “Mimpi kali’…..” maka ini bisa jadi mimpi sungguhan. Daripada sinis dan pesimis begitu, mari kita doakan yang baik-baik para pemimpin kita. Mumpung bulan Ramadhan. Bersihkan hati. Bangun prasangka baik. Insya Allah habis lebaran harga-harga turun lagi.

 

Sirikit Syah

13 September 2008

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s