Buku Terbaik yang Saya Baca tahun 2007


Oleh Sirikit Syah*

 

Tak banyak buku yang saya baca pada tahun 2007. Padahal, membaca adalah modal utama seorang pengarang. Mustahil kita menjadi pengarang/penulis, bila kita tidak membaca karya-karya orang lain. Tanpa membaca, khasanah pengetahuan kita kosong, otak kita tumpul, dan daya imajinasi buntu. Maka, meskipun saya sibuk tahun 2007 lalu, setidaknya saya membaca 4-6 buku yang cukup baik. Beberapa lainnya tidak ingat lagi karena mungkin tak terlalu berkesan.

 

Di antara buku-buku yang saya baca itu, buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata saya nobatkan sebagai buku terbaik yang pernah saya baca, tidak saja pada tahun ini, tapi selama beberapa tahun belakangan ini. Saya membaca buku itu agak terlambat. Baru dua bulan yang lalu sahabat saya Mohammad Qodari (direktur lembaga survai Indobarometer) bertanya ketika kami minum kopi di rumah saya: ”Buku apa yang terakhir kamu baca?”

Saya jawab: ”Dracula” (ini buku tentang kisah sejarah Pangeran Dracula yang kejam dan bengis, pembantai umat Islam, yang oleh cendekiawan dan seniman barat diselewengkan menjadi tokoh rekaan dalam film-film horor; mungkin untuk menghapus jejak sejarah?).

 

”Kamu harus baca Laskar Pelangi,” kata Qodari yang suka mentraktir saya buku bila saya berada di Jakarta.

”Mengapa?” tanya saya. ”Bukankah itu buku untuk anak-anak remaja?”

”Baca saja.” Karena saya percaya pada selera baca sahabat saya itu, saya cari buku itu di rak buku saya (kami sudah membelinya beberapa bulan sebelumnya, tapi saya kira itu bacaan untuk anak-anak saya). Setelah membacanya, saya menarik nafas panjang. Hidup menjadi begitu indah, dan saya lebih positif dan optimistis memandang Indonesia.

 

Laskar Pelangi (PT Bentang Pustaka) adalah buku yang memberikan ’good feeling’. Kita sudah terlalu lama dijejali buku (fiksi maupun non-fiksi) yang berisi kritik, kecaman, bahkan caci maki pada sistem pendidikan dan para guru kita. Andrea Hirata menampilkan hal yang selama ini luput dari perhatian kita. Bahwa sistem dan sarana pendidikan yang amburadul-pun bisa menghasilkan hal-hal positif. Bahwa guru yang seadanya-pun mesti dihormati dengan sepatutnya. Bahwa ada guru-guru yang tulus mendidik murid-muridnya. Bahwa ada anak jenius yang drop out dari sekolah karena miskin, dan itu bukan bencana. Bahwa ada anak-anak yang dulu tampak tidak bisa apa-apa, ternyata bisa jadi orang hebat. Bahwa selalu ada ilmuwan, seniman, dan trouble maker di antara kawan-kawan sekolah kita. Dan bahwa ’there is nothing like a friendship’.

 

Saya sering tertawa-tawa saat membaca buku ini, dan terpaksa saya bacakan keras-keras pada anak-anak yang penasaran mengapa saya tertawa-tawa. Bagaimana kita tidak tertawa membaca tentang orangtua siswa membelikan anaknya pinsil yang dua ujungnya berwarna biru dan merah, pinsil khusus para penjahit? Bagaimana pula saya dapat menahan tawa, membaca kisah karnaval seni yang merupakan ’pengalaman traumatis” bagi siswa-siswa sekolah miskin itu? Sementara siswa-siswa sekolah PN Timah menampilkan profesi keren (sesuai kostumnya) seperti dokter, insinyur, astronot; anak-anak sekolah miskin ini mengenakan kostum penjaga pintu air, nelayan, buruh kasar PN Timah, buruh yang sedang cuti (karena baju terusannya yang sederhana dan tak jelas mewakili profesi apa). Seorang murid malah digambarkan Andrea ”tak jelas profesi apa yang diwakilinya. Di mataku dia tampak seperti orang yang diusir mertua”.

 

Andrea Hirata, yang baru pertama kali menulis buku, sangat piawai mengoyak emosi pembaca. Selain tertawa-tawa hingga keluar airmata, saya juga kerap termenung, menangis dalam hati, membaca beberapa penggalan kisah anggota Laskar Pelangi yang dramatis dan bahkan tragis. Saya juga sangat kagum pada sindirannya yang halus namun telak, yaitu ketika Andrea menggambarkan betapa terpencilnya pulau tempat mereka tinggal, sampai koran saja datang beberapa bulan sekali, hingga 30 tahun, dan mereka tak merasa ketinggalan apa-apa, ”Toh kepala negaranya tetap yang itu-itu juga”.

 

Sebagai sesama pengarang, saya dengan tulus angkat topi pada gagasan Andrea yang orisinal (tak ada duanya, di tengah chicklit, teenlit, dan fiksi seputar kelamin yang mendominasi rak-rak toko buku belakangan ini), dan penuh ketulusan. Andrea menulis buku ini benar-benar untuk menghormati guru-gurunya. Bila saya gurunya, saya akan merasa sangat tersanjung dan mendapat kehormatan luar biasa. Sebagai penyambung rasa hormat saya pada para guru dan mendorong para guru untuk mengajar dengan ketulusan seperti digambarkan dalam novel Laskar Pelangi, saya suka menghadiahkan beberapa novel ini kepada beberapa guru pada beberapa kesempatan.

 

Buku lain yang saya anggap patut dibaca dan dikoleksi adalah buku Ali Alatas, mantan Menteri Luar Negeri RI, A Pebble in the Shoe (dalam bahasa Inggris). Buku ini memaparkan kisah Timor Timur dari kacamata seorang diplomat Indonesia. Membaca buku ini, kita akan menemukan banyak ketidaksamaan dengan informasi yang selama ini kita dapatkan dari media massa internasional (dan Indonesia) yang mengutip diplomat PBB, Portugis, pejuang HAM, tokoh agama, bahkan Ramos Horta dan tokoh politik lain. Terserah kita hendak percaya kepada pihak mana. Bagi saya, cukup melegakan membaca perspektif Indonesia untuk isu yang pernah menorehkan luka di hati bangsa Indoensia. Timor Timur, seperti kata Ali Alatas, adalah kerikil di sepatu kita.

 

Di penghujung tahun, muncul buku Bahasa, Sastra dan Budi Darma, yaitu kumpulan tulisan guru yang saya kagumi dan teladani, disunting oleh Djoko Pitono dan diterbitkan oleh JP Books. Saya baru selesai membaca buku yang lumayan bagus ini, terutama untuk menambah wawasan kita dalam dunia sastra dan bahasa.

 

Buku Prof. Muchlas Samani, Menggagas Pendidikan Bermakna (SIC) menyentuh kesadaran saya tentang pentingnya kontribusi dan komitmen kita di dunia pendidikan. Buku yang mengulas integrasi Life Skill – KBK – CTL – MBS ini ditulis dengan bahasa yang renyah dan gampang dimengerti, untuk sebuah isu yang sebetulnya cukup pelik. Karikatur sebagai cover buku dan ilustrasi di beberapa halaman sangat menarik dan mengena. Di cover, misalnya, ada gambar dua orang nelayan berbincang-bincang:

”Kenapa anakmu tidak sekolah? Kan kasihan?”

”Lho, apa sekolah bisa memberikan bekal hidup sukses?”

Jangan salah sangka, Prof. Samani tidak anti-sekolah. Justru melalui buku yang menggelitik ini, mantan PR IV Unesa dan kini Direktur Ketenagakerjaan Depdiknas RI ini hendak menyampaikan pentingnya pendidikan bermakna. Buku ini juga layak patut dibaca oleh para guru kita.

 

Beberapa buku lain yang saya baca adalah Detik-detik yang Menentukan (BJ Habibie, THC Mandiri) yang menghebohkan itu. Buku ini menarik di bagian awal, tetapi agak membosankan di tengah-tengah. Saya juga membaca beberapa buku berbahasa Inggris, di antaranya This Heated Place (Deborah Campbell) tentang kehidupan di Israel-Palestina. Saya berminat menterjemahkannya, seandainya ada penerbit yang berminat.

 

*Penulis adalah pengarang dan pecinta buku, tinggal di Surabaya

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s