Oleh Sirikit Syah
Tahun 1970 hingga 1980-an, tak banyak karya sastra perempuan terbit di Indonesia. Buku novelis perempuan yang sering didiskusikan adalah karya-karya NH Dini. Tentu saja, waktu itu ada juga La Rose, Titis Basino, dll, tetapi ‘kekuatan’ NH Dini sebagai pengarang perempuan sangat menonjol dibanding yang lain-lainnya. Pada masa itu, bila orang membicarakan Dini, yang dibicarakan adalah ‘kekuatan’ ceritanya, meskipun pemberontakan keperempuanannya cukup signifikan untuk dicatat, dan mungkin merupakan cikal bakal gerakan feminisme dalam sastra di Indonesia. Pada saat bersamaan, ada juga beberapa novelis yang produktif menulis sastra ‘manis’ yang menghibur, seperti Marga T, namun karya mereka jarang menjadi perbincangan di forum-forum sastra.
Hal ini berbeda dengan kondisi belakangan ini, dimana para pengarang perempuan muncul bersamaan, umumnya masih muda-muda, dan memiliki kekuatan –bahkan selera- yang hampir sama. Gaya tulisan mereka –dengan beberapa perkecualian- mengingatkan saya pada Motinggo Busye episode pertama (kita semua tahu, ada Motinggo Busye episode dua). Benar, membaca novel pengarang perempuan yang menonjol (atau ditonjolkan?) sekarang, saya tak dapat membandingkannya dengan NH Dini, melainkan lebih mengingatkan saya pada Motinggo Busye, bukan hanya dari segi pengungkapan seksualitas, tetapi juga pemilihan latar perkotaan dan tokoh-tokoh yang berasal dari kalangan masyarakat menengah-atas.
Awalnya adalah Saman
Mengakhiri abad 20, dunia sastra Indonesia dikejutkan oleh lahirnya Ayu Utami dengan novelnya Saman. Semua empu sastra memujinya habis-habisan, kecuali Pramoedya Ananta Toer, yang mengatakan, “Saya tidak dapat membaca karya sastra yang titik komanya saja salah tempat.” Ketrampilan berbahasa, sebagai alat mendasar sebuah karya sastra, menurut Pram, kurang dikuasai Ayu Utami. Namun empu yang lain memuji-muji gaya berceritanya yang baru, pilihan kata (choice of words) yang tidak lazim, dan pesan ceritanya yang mendobrak kejenuhan tema-tema klise yang banyak ditulis pengarang perempuan lain pada zamannya. Padahal, gaya bercerita tidak linear dengan dua angle (sudut pandang) itu tidak baru. Mariane Katoppo memulainya lewat novelnya Raumanen (tahun 80-an). Lalu tahun 90-an saya pakai juga dalam cerpen ‘Pilihan’ (Harga Perempuan, 1997-1999), yang menggambarkan pergulatan batin/pikiran suami homoseks dan sang istri. Kecuali kata-kata yang melanggar taste and decency di sana sini, cerita Saman sesungguhnya enak diikuti, dan membawa pesan yang penting pada zamannya.
Kritik saya terhadap Ayu Utami justru pada ‘rencana besar’nya yang sudah terlanjur di-blow up dalam serangkaian wawancaranya di berbagai media massa kala itu, yaitu bahwa Saman hanya bagian kecil dari romannya yang berjudul Layla Tak Mampir ke New York. Perhatikan kejanggalan dalam apa yang disebut roman dan bagian dari roman. Frasa ‘Layla tak mampir ke New York’ bukan sebuah judul yang cocok untuk sebuah roman. Itu justru mencerminkan sebuah fragmen atau episode dari sebuah kisah panjang -mungkin saja tentang Saman atau tentang Layla.
Oleh Ayu Utami, logika ini dibolak-balik. Tak ada pemikir sastra yang keberatan dengan penjungkirbalikan istilah dan pemaknaan itu, meskipun dapat dibayangkan, betapa repotnya para guru sastra di sekolah-sekolah bila siswanya menanyakan perihal ‘Saman’ yang dianggap ‘fragmen’ dan ‘Layla Tak Mampir ke New York’ yang disebut ‘roman’. Tunggu punya tunggu, Layla Tak Mampir ke New York yang sudah dipromosikan itu, sampai sekarang tidak muncul juga. Ayu bahkan menelurkan buku lain, yaitu Larung, yang meski diisi cerita lain, tetapi melanjutkan petualangan seksual beberapa tokoh dalam Saman.
Cerita Saman menarik, gaya ‘jurnalisme sastra’nya -mungkin karena saya seorang jurnalis- benar-benar membuatnya enak dibaca. Apalagi, temanya hampir belum pernah diangkat oleh novelis Indonesia sebelumnya, yaitu tentang ‘pekerja tambang’, ‘pastur merangkap aktivis’, ‘pemikiran-pemikiran feminis’, dan lain-lain. Ayu Utami kemudian dianggap sebagai ‘tokoh feminisme’, yang melakukan ‘pemberontakan seksual’ melalui novelnya (belakangan dia malah bersusah payah menerbitkan kumpulan esai yang isinya cuma pembelaan diri mengapa tidak berminat pada perkawinan, tentu saja sambil menyerang kesana kemari).
Meskipun demikian, saya agak risih dengan bagian-bagian dimana Ayu mengumbar ungkapan-ungkapan seksualnya. Agak sulit menerima kenyataan bahwa ekspresi-ekspresi sejorok dan secabul itu dapat keluar dari pemikiran seorang perempuan. Saya mungkin dianggap kuno. Tapi dalam sastra ada cara-cara yang jauh lebih baik dalam mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan Ayu dalam Saman atau Maesa Djenar dalam beberapa cerpennya. Yaitu, bahwa sastra adalah persoalan keindahan bahasa, yaitu bahwa sastra bukan pelajaran biologi, dan kata-katanya tentu tak sama dengan kata-kata dalam buku-buku stensilan yang dijual di bus-bus kota.
Memang, selalu ada perubahan nilai-nilai seksualitas dan moralitas dari zaman ke zaman. Gejala ‘keluar dari persembunyian’ ini tak hanya terjadi di Indonesia. China telah mendahuluinya dengan Shanghai Babynya yang menghebohkan itu. Di Indonesia, kalau zaman NH Dini dulu pemberontakan yang dilakukan adalah pemberontakan pikiran, pergulatan batin, sekarang pertarungan kekuasaan yang bersifat fisik yang ditonjolkan (bahkan seorang tokoh Djenar memukuli lawan seksnya di sebuah toilet sampai babak belur).
Pengarang sekarang juga terkesan ‘celebrate’ (merayakan, memberi applause) pada hubungan homoseksual & lesbianisme, perselingkuhan, dan seks bebas. Yang menyedihkan dan mungkin dapat menyesatkan generasi muda, semua ini dilakukan atas nama kebebasan, hak asasi manusia, kesetaraan gender, dan pemberdayaan perempuan.
Romantisme Dee dan seksualisme Ayu dan Djenar
Setelah Ayu Utami, dunia sastra Indonesia kemudian dikejutkan oleh kehadiran Dee dengan Supernovanya. Dee sangat piawai dalam pilihan ‘kosa kata’. Kata dan rangkaian kalimatnya lebih puitis, romantis, dan tidak ‘gagah’ seperti laki-laki. Ada kesalahan fakta dalam karya Dee, yaitu rumus-rumus atau teori-teori yang digunakannya untuk memperkaya nuansa novel ternyata ‘menyimpang’ atau ‘keliru’, dan banyak dikritik orang. Namun ceritanya bagus dan tokoh-tokohnya menarik. Tokoh perempuan dalam Supernova ‘misterius’ dan Dee mampu menjaga suspense hingga ke halaman-halaman terakhir. Tokoh ini juga menunjukkan keberdayaannya –bila keberdayaan ini yang menjadi target pencapaian para penggerak feminisme. Namun Dee tetap menggambarkan adegan seksual yang indah (romantisme perselingkuhan sang wartawati dan sang pengusaha). Sangat perempuan.
Ini berbeda dengan perempuan-perempuan dalam novel Saman yang berbicara dan berperilaku cenderung ‘maskulin’, baik dalam perjuangan sosial politik maupun dalam berhubungan dengan laki-laki dan sesama manusia. Juga tokoh-tokoh ‘aku’ dalam karya-karya Djenar yang suka mengkritik perilaku orang lain, lalu membalas perilaku orang lain dengan cara yang sama atau bahkan lebih dahsyat.
Memang belum pernah ada ‘banjir’ sastrawan perempuan di Indonesia seperti saat ini. Tak lama Dee jadi bahan pembicaraan, muncul Ayu Maesa Djenar. Entah mengapa dia disebut ‘sastra wangi’, apakah bau tubuhnya wangi, atau dia berasal dari kelas atas yang senantiasa berbau wangi? Konon, selain piawai dalam mengarang cerpen, Ayu yang satu ini memang ayu tenan, modis, dan bergaya ‘celebrity’. Setting cerpen-cerpennyapun tak jauh dari urusan-urusan seks. Ada juga Dinar Rahayu dengan Ode yang tak jelas apa pesan dan tujuannya selain mengumbar kata-kata dan adegan tasteless, Fira Basuki dengan triloginya, dan lain-lain.
Pengarang perempuan yang paling mengejutkan bagi saya adalah Herlinatiens. Anak muda ini (ketika menulis novelnya, usianya masih 19 tahun) dengan berani mengupas kehidupan lesbian dalam Garis Tepi Seorang Lesbian. Novelnya bermuatan perjuangan eksistensi dan gugatan kaum lesbian. Namun ada kelemahan fatal Herlienatiens, yaitu inconsistencynya sebagai konseptor. Pada halaman xiv dia menulis, ‘Saya selalu percaya dan yakin, Tuhanlah, yang dengan kuasaNya menciptakan banyak jenis dan macam ragam hubungan sesama di dunia. Dan kita tak berhak mengejek dan mencemooh ciptaan Tuhan, apalagi menindasnya’. Pada halaman sebelahnya, xv, dia menyatakan hal yang bertolak belakang, ‘Hidup adalah pilihan, seperti halnya pilihan kita untuk hidup, pilihan orangtua kita untuk membiarkan kita hidup, jadi kenapatidak kita hargai pilihan orang lain?’ Di sini tampak Herlienatiens tidak tegas memutuskan apakah homoseksualitas/lesbianisme itu ‘kehendak Tuhan’ atau ‘pilihan manusia’.
Lebih jauh dari itu, Herlienatiens yang di bagian awal ‘undermine’/menyepelekan lembaga perkawinan, di bagian akhir membuat tokoh-tokohnya (pasangan lesbian) menggugat ketidakadilan peraturan yang tak mengizinkan pasangan lesbian menikah. Dasar berpikirnya sebagai pengarang, tampak tidak konsisten dan ini mengesankan ketidakmatangan pengarang pada konsep yang ditawarkannya.
Keterbukaan seksual yang kita saksikan sekarang lebih ekstrim daripada Lady Chatterley’s Lover pada zamannya. Pada zamannya, Lady Chatterely dilarang terbit di negerinya sendiri, sampai mesti terbit dan beredar bertahun-tahun di luar negeri. Mirip Shanghai Baby, yang terbit di Amerika dan pengarangnya tak dapat pulang ke China karena dianggap mempermalukan bangsa China. Para pengarang Indonesia beruntung, tak pernah ada larangan terbit pada novel-novel yang bermuatan seks yang tak patut (untuk menghindari julukan ‘pornografi’). Di sini, pemerintah lebih suka menyensor novel-novel bermuatan politis dan membiarkan novel-novel seks merajai pasar buku.
Yang menarik dicermati adalah, para penulis laki-laki justru tampak tak berminat pada eksploitasi seksual. Tak ada Motinggo Busye laki-laki di dunia sastra kita sekarang. Seno Gumira, Veven Wardana, Afrizal Malna, bahkan Hamsad Rangkuti, dll, menulis juga tentang perempuan, atau hubungan laki-laki perempuan, tetapi tidak semata-mata berkisar di wilayah vagina, selangkangan, penis, gaya bermain dari belakang, menyedot penis, mengendus kelamin, kenikmatan diperkosa, dan sejenisnya. Seorang pengarang perempuan menurunkan derajad hubungan badan menjadi ‘perkelaminan’ (Catatan: bayangkan kalau bercinta adalah make love dan bersetubuh adalah have sex, apa padanannya perkelaminan? Apakah ‘have my penis/vagina?)
Ironisnya, ketika seseorang mengomentari karya-karya sastra yang bernuansa seks seperti ini, ada saja yang memlintir komentar ini menjadi ‘kemunafikan, sok moralis, sok suci’ dan seterusnya. Mengutip tulisan Faruk di MI, Minggu 26 Oktober 2003, ‘Sikap normatif terhadap seksualitas dapat berubah menjadi kemunafikan dan manipulatif sebagaimana yang terjadi dalam kasus Inul. Isu moral dilontarkan bukan demi kepentingan terpeliharanya komunitas, melainkan demi kepentingan politik dan ekonomi pribadi ataupun kelompok yang sektarian’. Pertama, Faruk –tanpa dasar- menuduh sikap normatif berubah menjadi kemunafikan dan manipulatif. Kedua, kasus Inul bukankah telah terbukti menurunkan moral bangsa? (Simak dangdut di televisi kita!). Ketiga, Faruk menuduh penyeru moral sebagai berkepentingan politik, ekonomis, individu, dan sektarian, padahal kenyataannya justru seksualitas di media massa (termasuk buku dan televisi) yang jelas-jelas ditunggangi kepentingan kapitalis. Banyak orang dianggap setuju dengan Emha Ainun Najib bahwa ‘Pantat Inul adalah Wajah Kita’, atau Ayu Utami bahwa ‘Pantat Inul tidak merusak bangsa’. Djenar mengatakan hal yang sangat normatif, ‘Lebih mudah ngebor gaya Inul daripada ngebor kemunafikan’, dan itu dianggap pernyataan hebat, sampai dikutip di sampul buku. Bila kalimat itu diucapkan oleh seorang Kyai, sang Kyai akan dituduh ‘sok moralis’ atau ‘munafik’.
Feminisme atau Maskulinisme?
Banyak pengarang perempuan yang sangat ‘kuat’, tetapi luput dari perhatian para empu sastra dan redaktur budaya di media massa. Di antaranya Oka Rusmini (Bali) dan Ratna Indraswari Ibrahim (Jatim). Beberapa kritikus di Jawa Timur bahkan suka mengolok-olok Ratna sebagai ‘cengeng’ dan ‘mudah menyerah’. Memang tokoh-tokoh perempuan Ratna seringkali tetap kalah pada akhirnya, namun yang penting bukankah proses perjuangan itu sendiri dan bagaimana perempuan menyikapi kemenangan ataupun kekalahan? Bahkan tokoh-tokoh Ratna dapat disejajarkan dengan tokoh Pramoedya (misalnya Gadis Pantai), yaitu perempuan yang menjadi korban keadaan, korban tradisi, kebudayaan, ekonomi. Namun simak, betapa gagahnya perempuan-perempuan itu menghadapi kesulitan: penuh dignity (martabat & harga diri). Bila akhirnya kalah, dia kalah dengan gagah, jauh lebih gagah daripada laki-laki yang mengalahkannya, yang malah tampak sebagai pengecut, tak bertanggungjawab, atau kehilangan nyali.
Pramoedya dapat disebut sebagai pengarang feminis Indonesia, karena menokohkan perempuan yang gagah perkasa –bukan fisik tetapi jiwanya- dan jauh dari semangat eksploitasi seksual. Bandingkan dengan tokoh-tokoh perempuan sastrawan ‘ayu’ tadi yang menawarkan seksualitas (tubuh)nya sebagai alat perjuangan, alat tawar menawar, bukti eksistensi diri, dan toh tetap kalah pada akhirnya. Kekalahan perempuan adalah sebuah realitas nyata yang sulit diabaikan dalam realitas sastra. Sulit bagi pengarang untuk mengarang perempuan yang menang bila di sekitarnya banyak perempuan kalah. Kelihaian pengarang, dengan demikian, adalah bagaimana membentuk karakter tokoh perempuannya agar kalah dengan gagah dan penuh martabat, atau menggambarkan tokoh laki-laki menang secara licik/culas. Yang penting sebetulnya bukan siapa menang, tetapi bagaimana orang menyikapi kemenangan atau kekalahan.
Sebagai sesama wanita, saya menilai, yang tengah dikemukakan oleh kebanyakan pengarang wanita sekarang sudah melampaui gerakan ‘feminisme’ yang bertujuan mendapatkan kesetaraan kesempatan pendidikan, pekerjaan, dan hak-hak politik. Yang terjadi sekarang adalah tuntutan pengakuan akan kesamaan gender (suatu hal yang musykil karena gender jelas tidak sama) atau pengakuan bahwa gender perempuan ‘lebih segala-galanya’ dari gender laki-laki, atau ‘gender ketiga’ perlu mendapatkan hak yang sama di masyarakat. Dalam medium sastra karya mereka, tuntutan itu digambarkan dalam perilaku dan karakter maskulin para tokoh wanita, baik dalam hubungannya dengan sesama gender, maupun dan terutama dengan kaum laki-laki. Perempuan sekarang ingin mendeklarasikan bahwa ‘kami lebih kuat dari laki-laki’, ‘kami memimpin’, ‘kami lebih pandai’, ‘lebih hebat’, dll.
Kita semua menunggu munculnya pengarang sekelas Arundhrati Roy dari Indonesia, dan harapan saya besar kepada Oka Rusmini. Suatu hal yang tidak musykil, karena yang ‘dijual’ Roy banyak kita miliki, yakni kekayaan antropologi, keragaman etnis & tradisi, kemiskinan, ketertindasan dan sekaligus daya tahan perempuan. Kita memiliki modal yang sama, namun mungkin SDM atau kesempatan yang belum setara. Sayang sekali, dan itu pekerjaan rumah buat kita semua.
Oktober 2003
Sirikit Syah adalah penulis dan pengamat media, tinggal di Surabaya